Riko tahu kalau dirinya bukan anak kecil biasa. Ia bisa memprediksi masa depan lewat mimpi. Akan tetapi, akhir-akhir ini hatinya selalu tak enak jika memikirkan sosok kakak barunya yang bernama Mika Jonathan.
Ia masih ingat betul bagaimana perkataan Mika hari itu.
“Setelah itu, tolong lihatlah masa depanku. Apakah sebelum perang itu, aku sudah menghilang dari dunia ini?”
Mau dipikirkan bagaimana pun lagi, Riko sangat yakin jika dialog Mika kemarin sangat aneh. Seperti film drama yang biasa ditonton ibunya, anak ini ingat betul kalau ada seorang tokoh film yang berkata begitu, kemungkinan besar dia ingin memutuskan bunuh diri. Riko benar-benar bingung. Masa iya kakaknya itu akan mengakhiri hidup?
Ditambah fakta kalau Mika belum menghubungi Riko atau pun orang tuanya selama beberapa minggu terakhir membuat semuanya terasa semakin aneh. Berulang kali Riko memikirkannya, dia yakin kalau ada yang tak beres. Karena hari ini ibunya cuti, Riko pun bergegas pulang dari tempat les.
Kemarin, ia mendengar info dari ayahnya jika sang ibu berhasil menghubungi Mika. Hal itu terjadi seminggu yang lalu. Riko ingin mendengar semua informasi ini langsung dari ibunya. Ia mempercepat langkah kakinya karena ingin mencari tahu. Anak itu berlari pontang-panting di bawah teriknya matahari untuk menemui ibunya di rumah.
Berpindah dari desa menuju kepadatan Kota Jakarta, Mika yang saat ini bertanggung jawab di warung bakso milik Udin tampak bersantai. Ia duduk di salah satu kursi seraya mengipas-kipaskan tangan karena cuaca hari ini sangat panas.
Mata pemuda itu melirik ke arah jam dinding yang kini menunjukkan pukul 15.30. Sudah dua jam sejak Udin pergi dari warung ini. Beberapa pelanggan tampak datang silih berganti dan Mika bisa menangani semua itu. Melihat cuaca cerah yang muncul hari ini biasanya menjadi pertanda baik. Selama tidak hujan, warung bakso ini pasti akan laris seperti biasa.
Jujur Mika tak begitu mengerti. Sejak dia bekerja di sini, Udin bilang warung baksonya menjadi lebih ramai dari biasanya. Pria itu berkata kalau Mika sudah seperti pelaris. Setelah pemuda ini pikir-pikir lagi, kebanyakan orang yang datang ke sini adalah para gadis seusianya yang nongkrong bersama teman-teman mereka.
Mereka memang tampak aneh. Akan tetapi, Mika merasa para gadis itu sudah seperti gadis-gadis bangsawan di Kerajaan Mimika dulu yang begitu mengidolakannya. Bahkan tak jarang, beberapa dari mereka tahu kalau dirinya dulu adalah seorang pemulung. Ini sangat aneh.
“Pesan bakso empat ya!”
Mika tersentak oleh suara tadi. Dia melirik ke arah pintu masuk, di mana empat orang gadis baru saja datang. “Akan aku buatkan. Silakan duduk.”
Pemuda itu kemudian menuju dapur dan membuatkan empat porsi bakso. Di lain sisi, gadis-gadis berseragam SMA dengan jas almamater berwarna abu-abu itu tampak saling mengobrol sambil menunggu kedatangan Mika. Tanpa tunggu lama, pemuda itu segera mengantarkan bakso ke meja mereka.
“Silakan dinikmati. Empat bakso sudah—“
PRANG!
Suara mangkok bakso yang pecah langsung membuat keempat pelanggan Mika itu menjerit kaget. Salah satu di antara mereka tampak marah karena aksi ceroboh pemuda ini. Namun, setelah ia memandang pelayan bakso itu, matanya tertegun.
“Asa ...?”
“Hah? Mika?”
Mereka saling berpandangan dalam waktu lama. Mika sendiri begitu kaget melihat gadis yang ia jumpai di stasiun kemarin ada di hadapannya. Saking kagetnya, ia bahkan menjatuhkan mangkok bakso tanpa sadar. Gadis berambut panjang diikat dua itu memandang Mika dengan tatapan yang sama kagetnya.
Mika memandangnya tak habis pikir. “Tunggu, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah dulu kau turun di stasiun yang ada di Jakarta Pusat? Kenapa bisa ada di Jakarta Utara sekarang?”
“Kau mengenal, Mas-mas ganteng ini Asa?”
“Gila, dia sampai menjatuhkan mangkok bakso saat melihatmu.”
“Hihihi, aku mencium bau-bau asmara.”
Mendengar perkataan teman-temannya ini, wajah Asa langsung terasa panas. Dia melirik ke arah Mika. “Ceritanya panjang. Ayahku ditugaskan ke sini jadi aku pindah deh setelah seminggu ada di sana.”
Mika mengurutkan keningnya. Ia heran kenapa semua orang yang ia temui di Jakarta Pusat dulu seolah-olah mengikutinya pergi ke tempat ini secara kebetulan. Dulu Pak Udin, sekarang Asa di sini. Ia tak bisa mengira Asa sebagai penyihir karena tiba-tiba pindah ke sini. Lagi pula gadis itu juga menyebutkan alasannya.
“Apa kau—“
Mika langsung menghentikan niatnya untuk bicara saat ia menyadari ada kuah panas mengenai kakinya. Ia menunduk lalu melebarkan mata kaget saat melihat bakso yang dibawanya tadi hancur berkeping-keping saat ini.
Wajah Mika pun memucat. “Habislah aku.”
“Mbak-mbak, tolong tunggu sebentar ya. Aku akan membereskan kekacauan ini dulu lalu mengantar bakso pada kalian.” Mika mengatakan hal tadi sambil membungkuk beberapa kali sebagai permohonan maaf.
Dia dengan gesit mengambil sapu dan pel lalu membereskan semua itu. Gadis-gadis yang datang bersama Asa tadi tampak terkikik pelan. Mereka menertawai aksi Mika yang sangat lucu. Diam-diam, Asa yang memperhatikan itu semua juga turut mengukirkan senyum tipis.
Hatinya entah kenapa terasa hangat hari ini. Padahal dulu ia marah-marah tak jelas pada orang tuanya karena harus pindah rumah mendadak saat ia kelas 3 SMA. Tapi Asa pikir, sepertinya pindah ke sini tak buruk juga. Ia mendapatkan banyak teman baru, sekolahnya lebih bagus dari yang dulu, dan kini malah dipertemukan lagi dengan Mika.
“Satu bakso datang. Ini buatmu,” ujar pemuda itu seraya menyerahkan semangkok bakso pada Rika Angkasa.
Gadis itu tersenyum dan menerimanya. “Terima kasih. Aku masih tidak mengira akan bertemu denganmu di sini. Tadi soalnya aku merasa aneh melihat seseorang yang berwajah mirip sepertimu di toko yang ada di sana.”
Mendengar itu, Mika langsung tertegun. Kalau dipikir-pikir, jaket yang sekarang dikenakan oleh Asa memang mirip dengan jaket gadis aneh yang bermasker di toko tadi. Siapa yang mengira kalau orang tadi adalah Asa?
Karena Mika yang memang kesal dengan segala hal yang terjadi di toko itu, dia dengan ketus menjawab, “Aku tebak kau pasti salah orang. Aku tidak pernah bekerja di sana.”
“Ahahaha, mungkin kau benar.” Asa kemudian menatap ketiga temannya yang lain. Gadis itu tersenyum lebar. “Selamat makan, teman-teman!”
“Yeay, selamat makan!”
Mika yang melihat itu tanpa sadar tersenyum. Sejak awal ia bertemu dengan Asa di kereta dulu, gadis ini memang sudah menjadi seperti matahari bagi orang-orang di sekitarnya. Dia punya kepribadian bersahabat meskipun kadang menyebalkan. Tapi, Mika tak bisa mengungkiri jika ia cukup senang melihat Asa ada di sini.
“Mas, bakso dua ya!”
Mika pun menoleh ke arah pelanggan yang barus saja datang. Karena suasana hatinya yang cukup bagus, pemuda itu tersenyum. “Siap! Selamat datang dan silakan duduk.”
Saat pemuda itu berlalu dari meja Asa dan teman-temannya tadi, beberapa pelanggan lain mulai masuk silih berganti. Teman-teman Asa memperhatikan bagaimana Mika dengan gesit melayani pesanan orang-orang ini.
“Kalau dipikir-pikir temanmu itu tadi adalah Mas PK yang viral di sosmed kan, Asa?” tanya seorang gadis berambut panjang diikat satu dengan kacamata kotak di wajahnya.
“Rumor yang mengatakan kalau Mas PK bekerja di warung bakso ini ternyata benar ya? Kalau dipikir-pikir dia memang keren,” celetuk teman Asa yang lain. Gadis berambut sebahu dengan anting besar berwarna merah itu terus memperhatikan Mika.
Asa pun buka suara. Ia menyeruput kuah sembari berujar, “Mas PK yang kalian maksud itu apakah singkatan dari Mas Pemulung Keren?”
Sejujurnya Asa tak tahu harus merespons apa saat teman-temannya mengangguk. Kalau dipikir-pikir, Mika memang mirip dengan potret Mas PK yang viral karena temannya di Jakarta Pusat dulu memotretnya tanpa izin. Karena ingat kejadian di mal dulu, Asa pun jadi berpikir. Masa iya Mika adalah pemulung yang difoto teman-temannya dulu?
“Hei, jangan begitu kalian ini.” Seorang gadis berwajah mirip dengan saudara kembar yang ada di sampingnya itu tampak menceramahi dua orang tadi. “Apakah kalian tak tahu kalau anak itu sudah menjadi gebetan Asa?”
Sontak saja mereka semua tertawa terpingkal-pingkal, kecuali Asa yang memerah malu. Teman-temannya ini ada-ada saja mengucapkan hal tadi dengan sangat keras.
Mayoritas pelanggan di sini adalah murid SMA sama seperti mereka. Bagaimana pun juga, Mika telah menjadi idola di kalangan anak muda cewek sekarang. Mendengar temannya berkata tadi, pasti orang lain di sini merasa tak terima kalau Mika menjadi gebetan Asa.
“Ahahaha! Benar juga ya. Dia sudah jadi gebetan Asa!”
“Apa kalian tadi lihat wajah anak itu yang melongo saat memandang Asa hingga menjatuhkan mangkok bakso? Ahahaha, mereka berdua sangat lucu!”
Asa benar-benar malu melihat tingkah teman-temannya yang sangat usil ini. Padahal mereka baru berteman selama tiga minggu, tapi keakraban yang terjalin di antara mereka rasanya sudah sangat erat saja.
“Kalian ini, tolong hentikan. Jangan menggodaku seperti ini dong!” ujar Asa yang sudah tak tahu harus apa lagi. Pada akhirnya, mereka berempat tertawa bersama.
Mika yang samar-samar mendengar perbincangan Asa dan teman-temannya dari arah dapur hanya bisa menggaruk pipinya canggung. “Sebenarnya anak-anak itu ngomong apa sih? Aku merasa malu sendiri saat mendengarnya.”
Pada akhirnya, hari ini berjalan dengan lancar. Mika berhasil menangani orang-orang yang membludak di warung bakso milik Udin seorang diri. Siang pun berganti malam dan kini sudah menunjukkan pukul sepuluh. Ia segera menutup warung ini.
Mika menarik nafas dalam-dalam. Dia memandang langit berbintang yang muncul malam ini. “Sebentar lagi jam 12 malam. Semoga Pak Udin bisa lancar melakukan misinya.”