“Kamu sudah mengatakan yang sebenarnya pada Irza?” tanya Ben setelah beberapa saat berada di kantor Jerome. “Belum.” “Mau nunggu sampai kapan, Jey? Kamu mau dia tahu dari orang lain?” Jerome memijat puncak hidung mancungnya. Kepalanya pening hebat. Sudah beberapa malam ini dia sulit tidur. Setiap malam ada momen dia teringat akan sentuhan-sentuhan lembut Irza, yang membuatnya terbangun meski sedang tidur nyenyak dan akan sulit untuk kembali memejamkan mata. Ada rasa aneh menggelenyar menyusup relung hati, serta rasa mendamba ingin disentuh seperti itu lagi. Malam setelah Irza menggodanya, Jerome memutuskan tidur di ruang kerjanya dan pagi-pagi sekali keluar dari rumah dengan alasan ikut penerbangan pertama ke Jepang. Nyatanya pria itu tidur di hotel sudah tiga hari ini. Dia hanya mengh

