Tiga puluh empat

1370 Words

Sisa perjalanan dari kantor penuh dengan keheningan. Irza malam ini tidak banyak bicara. Dia tidak berisik dengan umpatan dan sumpah serapah seperti biasanya. Harusnya Jerome merasa tenang dan nyaman melihat Irza dengan emosi terkendali seperti ini. Sayangnya yang dirasakan justru sebaliknya, ada yang kurang bila Irza tidak berisik seperti biasa. Namun dia enggan membahas apa pun saat ini. Pikirannya sendiri sedang kalut. Ucapan Ben yang rela menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya dan tetap setia di sisi Jerome selama apa pun, akan menjadi mimpi buruk mulai malam ini. Di satu sisi dia bahagia orang yang pertama kali mengajarkan tentang cinta padanya sudah kembali. Di sisi lain dia merasa bahwa Ben akan menjadi sebuah batu penghalang yang cukup mengganggu dalam kehidupannya. Jika dia bi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD