2. Mimpi Buruk

2372 Words
Mansion besar itu terasa seram, hanya terdengar dentingan jarum dan bantingan yang mengisi suasana malam penuh guntur itu. Teriakan kesakitan terdengar jelas dari sudut ruangan itu, menandakan sebuah kesakitan dan penyesalan yang dalam. “Arghhh maafkan aku,” Teriakan itu mengakhiri semua suara bantingan yang ada di ruang gelap itu, menyisakan satu sosok pria dengan tubuh tegapnya yang terkulai di antara pecahan –pecahan tajam yang mampu mengoyak tubuh. ***** Angkasa seakan memahami betapa berdukanya pria itu, sehingga tidak sekalipun angkasa mau menghentikan buliran air yang membasahi tanah yang selalu kering itu. Sosok itu mengalami duka yang mendalam, duka yang akan menghancurkan segala kepercayaan dan kesombongan yang selalu menjadi tameng kuatanya, ia lemah. Pria itu menatap wanita yang ia seret keluar dari hotel itu dengan murka. Ia abaikan rintihn kesakitan akibat tarikan kuat yang ia berikan pada lengan kecil itu, banyak pasang mata menatap mereka dengan penuh curiga dan prihatin. Brak Bantingan itu membuat sang wanita semaki takut, ia rapatkan tubuhnya ke pojok kursi berharap mendapatkan perlindungan dari monster yang sedang murka. Wajah bingung wanita itu mewakili betapa bingung dan takutnya wanita itu, tak urung membuat tangan wanita itu bergetar hebat bahkan rasa sakit yang ia rasa pada lenganya seakan tak terasa akibat rasa takut yang lebih mendominasi. Mansion megah terpampang jelas di depan mereka, tanpa menunggu lebih lama segera pria itu menyeret kembali wanita itu, namun bukan lagi lenganya yang menjadi sasarannya melainkan rambut pirangnya. Teriakan kesakitan memenuhi mansion besar itu, menimbulkan raut terkejut dan kasihan dari para maid yang sedang berjajar rapi. Prang Wanita itu mengekerut ketakutan, lebih mengkerut lagi melihat pria itu yang membanting guji besar seukuran tubuhny tanpa ekspresi sama sekali. Gelengan kuat ia berikan ketika pria itu semakin mendekat dengannya. Wanita itu menjerit ketakutan, ketkutan melihat pria yang biasanya tidak pernah bersifat kasar padanya mampu berbuat kejam. Srak Lemparan foto mengalihkan atensinya terhadapa pria itu, ia tundukan pandanganya dan meraih beberapa foto yang berjatuhan di kakinya. Netra kelabunya membola melihat apa yang terpampang di sana. Di foto itu terlihat jelas wajahnya yang bertelanjang dengan pria asing yang tidak sengaja ia temui di hotel tadi. “David_” ucapan itu terpotong dengan cengkraman erat di rahangnya. “Kenapa kamu melakukan ini.” Pria itu bertanya dengan wajah mengerasnya membuat sang wanita menggelengkan kepalanya dengan kuat dan liquid yang semakin deras ia keluarkan membasahi wajah pucatnya dan tagan kekar yang setia mencengkram rahangnya. “Akh aku_” “Apa kurangnya aku Catrina, Jawab.” Bentak laki-laki yang tak lain David itu dengan keras. Dengan keras david banting tubuh ringkih itu ke arah ranjang yang menambah rasa takut pada wanita itu. Wanita itu yang tak lain Catrina hanya mampu menangis dan memundurkan tubuhnya hingga ia terpojok pada ujung ranjang. David seperti predtor yang siap memangsa mangsanya. Seringai kejamnya mampu membuat Catrina yang selalu angkuh menggeleng ketakutan. “Apakah dia lebih memuaskanmu Catrina?” tanyanya dengan suara serak. Catrina semakin ketakutan buliran bening semakin kuat membasahi wajahnya, sehingga membuat penglihatanya buram. Ia tahu apa yang di maksud David dan ia takut . “David aku tidak pernah mengkhianatimu, aku tidak tahu bagaimana bisa wajahku ada di foto itu. Bisa jadi itu semua hanya editan, ku mohon percayalah padaku.” Catrine menangkupkan kedua tanganya mengharapakan kepercayaan atau sekiranya rasa iba dari David untuknya. David terdiam ada sebersit perasaan lega jika foto itu hanya editan, namun pertemuan Catrine dengan pria dalam foto itu membuat rasa percayanya hancur dengan seketika, mengingat posisi Catrune pada saat ia melihat secara langsung membuat ia tambah murka. Beraninya mereka berpelukan di tempat umum seperti itu, harga dirinya yang selalu menjujung kesetian dan kesucian tubuhnya terinjak-injak. “Bagaimana kau bisa menjelaskan tentang pertemuanmu dengan selingkuhanmu, bagaimana bisa kau menjelaskan tentang pelukan itu.” tanya David Catrina menegang mendengar David yang memanggil dirinya kau, itu pertanda betapa murkanya David. Dengan kasar Catrina menghapus pipinya dan mengerjapkan mata beberapa kali, berharap pandanganya tidak memburam lagi. “Aku bisa jelaskan David.” Tegasnya. “penjelasan? Penjelasan apa yang akan kau berikan kepadaku. Apakah kau akan berkata jika kau tidak puas dan bertemu dengan pria yang lebih perkasa dan kuat dariku. Begitu?” bentakan itu membuat Catrina menggigil, pipnya kembali basah dan matanya kembali buram, ia gelengkan kuat kepalanya sebagai penyangkalan dari tuduhan David. “Tidak David, aku tidak kenal sama sekali dengan laki-laki itu, pelukan itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Saat itu dia tidak sengaja menabrakku dan ia menarikkku sampai aku berada di pelukanya. Sungguh aku berkata jujur.” Catrine berkata dengan terbata-bata namun tegas. “ Ha ha ha apakah aku harus percaya dengan alasan murahanmu?” tanyanya dengan nada mencemooh. Catrine tertegun mendengar jawaban itu, wajahnya semakin pucat pertanda ia yang kelelahan dan ketakutan. Srek  Suara robekan pakaian itu membuat matanya menatap David tidak percaya. “Akhhhh david sakit.” Catrine menatap David tidak percaya, David memperkosanya. Seakan menghiraukan teriakan Catrine David tetap melanjutkan kegiatanya, sehingga ucapan Catrine membuat David menghentikan gerakan berutalnya, namun tetap tidak melepaskanya. Catrine berharap David tidak melukainya karena ada nyawa yang harus ia jaga, nyawa anak yang selalu mereka harapkan meskipun tidak pernah mereka ucapkan. Namun gerakan berutal dan ucapan David selanjutnya membuat ia menegang dan tersakiti baik fisik maupun batinya. “Beraninya kau hamil dengan laki-laki itu. Brengsek.” David mengamuk tapi tetap melnjutkan kegiatanya bahkan kini lebih kasar lagi. Catrine hanya mampu memohon agar David melepaskanya dan tidak menyiksanya seperti ini. Sungguh ia tidak kuat. Beberapa saat kemudian David selesai, meninggalkan Catrine yang menagis dan mencoba meraih pakaianya yang berserakan di lantai, ia tertatih, setiap langkah kakinya ia sertai dengan ringisan dan air mata. Netra abu-abu itu menatap pakaian yang sudah tidak layak itu dengan nanar. Tanpa menunggu waktu lama lagi ia segera memakai pakaian yang sudah robek di bagian lenganya. Ceklek David keluar dari kamar mandi dan menatp Catrine yang menundukkan kepalanya di lipatan kakinya. Ia mendengus melihat Catrine memakai pakaian yang sudah robek itu dan tidak layak ia pakai. Catrine mendongak melihat David yang menatapnya, dengan sisa-sisa keberanian ia mendekati David berharap David mempercayainya, mengingat pernikahan mereka yang sudah berjalan tiga tahun, setidaknya itu harapan terakhirnya. Brak Sekali lagi David mendorongnya, membuat ia jatuh bersimpuh tepat di bawah kakinya. David seakan menunjukan di mana tempatnya seharusnya. “Kau tahu Catrine, kau sama dengan wanita itu.” David berucap dengan lirih, sarat akan rasa sakit dan kecewanya. Ia hancur, hancur sedalam-dalamnya oleh makhluk yang sama. Catrine terdiam, ia tahu siapa wanita yang di maksud olehnya. “ Kenapa aku harus selalu mengalami penghianatan Catrine? Kenapa? Jawab aku? Apakah aku tidak pantas bahagia?” David menggoyangkan tubuh Catrine menyadarkan Catrine dari keterpakuanya. Catrine menggelang tanganya ingin meraih tubuh David yang rapuh itu. Ia sadar David melakukan semua ini karena rasa traumanya itu. Ia harus lebih bersabar dan berusaha meyakinkan David lagi. “ Tidak David, kamu layak bahagia.” ucapnya dengan tegas. Mendengar ucapan Catrine membut ia mendorong tubuh Catrine kasar sehingga Catrine tersungkur. Catrine menangis mendapatkan perlakuan kasar itu lagi. “Kau bohong, jika aku pantas bahagia kenapa kau menghianatiku?” tanya David dengan nada tidak percaya. “Tidak David aku tidak pernah menghianatimu, aku bersumpah.” Catrine menangis dengan kepala tertunduk. “Kau sama saja, semau wanita sama saja. Kalian semua hanya makhluk menjijikan.” Catrine tertegun dengan ucapan David, sebegitu rendahnya David memandang wanita, hanya karena kesalahn satu orang di masa lalunya. Apakah adil David berfikir seperti itu tanpa mempertimbangkan semuanya, bahkan sebelum ia mencari kebenaran dari apa yang ia lihat. “ Bagiamana?” tanya David tiba-tiba, membuat catrine mentapnya dengan kerutan pertanda ia tidak faham dengan pertanyaan itu. “Bagiaman permainanku, bukankah aku lebih bisa memuaskanmu di banding laki-laki itu?” Pertanyaan itu sukses menohok catrine, Catrine merasa harga dirinya terinjak-injak. Ia menatap David dengan berang. “Jawab aku catrine, apakah laki-laki itu lebih hebat dariku sampai-sampai kau mengandung anaknya? Berapa kali oh tidak maksudku sudah berapa lama kalian menjalani hubungan kotor ini?” Lagi-lagi ucapan David menghancurkan hati Catrine, berapa kali ia jelaskan dan butuh berapa kali agar permohonanya dapat diterima dengan baik oleh David. “Berapa kali aku bilang David, aku tidak pernah menghianatimu.” Teriakan Catrine membuat David tersentak. Lama ia tatap Catrina yang lam-lama tubuhnya menghilang seperti bunga Dendilion yang tertiup angin . David mengerjap , ia penjarkan pandanganya mengharap menemukan tubuh Catrine, namun kosong. Suara-suara mulai menggema mengisi kesunyian kamar yang berantakan itu. Suara itu bagaiakan suara ancaman yang mampu membuat jantungnya sakit bahkan seakan berhenti berdetak. “Aku harap kau tidak pernah menyesal dengan keputusanmu. ya anak ini bukan anakmu, tapi anak ini hanya anakku. Ku harap kau akan hidup diselimuti perasaan bersalah dan penyasalan yang mendalam, sehingga kau lebih memilih untuk mati.” David menegang, ia takut. Netra birunya semakin buram entah mengapa ia menangis. David berlari di pojok ruangan meringkuk di sana, berharap mendapat sebuah perlindungan dan keamanan. “Maafkan aku.” Tanpa sadar ucapan itu keluar dari bibirnya. “Arghhh maafkan aku.” ****** Mata yang terpejam itu kini terbuka memperlihatkan netra biru laut yang menyimpan banyak luka, di depanya kini terdapat wanita paruh baya, wanita yang pertama kali membuat dirinya terkhianati. Ia benci wanita itu. Mataya mencari keberadaan Catrine, kosong. Ia masih bisa merasakan detak jantungnya yang menggila akibat mimpi dan rasa takutnya. Ia berharap semua kejadian itu hanya mimpi. Ya ia yakin hanya mimpi. “David, kamu sudah bangun nak?” Pertanyaan itu membuat David menatap wanita itu tidak suka. Ia sungguh benci dengan perhatian wanita itu, kemana dirinya waktua ia masih butuh perhatianya? Ia malah sibuk mencari kesenangan dengan laki-laki di luar sana. “Di mana istriku?” Pertanyaan itu membuat tangis wanita paruh baya yang tak lain Dahlia Manov menangis tergugu. David menatap tidak suka, ia tidak butuh tangisan wanita itu, yang ia butuhkan hanyalah keberadaan istrinya sekerang. Ia butuh pelukanya guna menghilangkan rasa takutnya. “David_” ucapan Dahlia terpotong. “Sudah cukup pergi dari sini, saya tidak butuh anda. Yang saya butuhkan hanya istri saya, Catrina Baraqba.” ucapnya tegas. “Catrine, Catrine dimana kamu sayang?” teriakan itu semakin membuat tangisan Dahlia kuat, membuat David ferustasi mendengarnya. “Saya bilang diam? Tangisan anda menganggu pendengaran saya.” Davi berteriak tepat di depan Dahlia. Dahlia menatap anaknya David yang terpaksa ia tinggalkan dengan tatapan iba. David terusik dengan tatapan itu, perasaan seperti itu muncul lagi, takut, menyesal, kehilangan dan ksosong. Dahlia mengeluarkan benda kecil dari sakunya, menyerahkan kepada David. David terdiam melihat benda yang sangat tidak asing itu. “Bagiamana bisa anda membawa cincin pernikahan istri saya?” tanyanya dengan nada tajam dan bergetar karena melihat cincin itu berada di dalam klip dengan noda darah yang bahkan masih basah. Dahlia terdiam, hanya isak tangis kuat yang ia keluarkan, bahkan goncangan kuat tak mampu membuat suaranya keluar bibirnya tetap bungkam. “Jawab saya? apakah anda tuli hah?” Tok Tok Tok Ketukan itu membuat David meinggalkan Dahlia dan membuka pintu kamarnya dengan kasar. Di depanya berdiri Andre dengan pakaian dukanya, David menatapnya dengan murka. “Kenapa kau memakai pakaian seperti itu? dan di mana istriku?” David bertanya dengan tidak sabar. “Maaf tuan di depan ada dokter Dewi?” Penjelasan itu tidak mewakili jawaban dari pertanyaan David sama sekali. Mendengar nama Dewi yang tak lain dokter kandungan terkenal dan teman Catrine membuat ia mengernyit bingung, tak ayal rasa takut semakin menjalar kuat di hatinya. “Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” desis David tidak terima, mengabaikan pernyataan dari asistenya. Andre menghembuskan nafas, ia merasa tuanya lebih faham kenapa ia memakai pakaian duka sepeti ini. “Tuan jenazah nyonya Catrine akhirnya di temukan.” Penjelasan itu membuat tubuh David kaku, ia mengingat mimpi buruknya tadi. Ia yakin semua ini hanyalah mimpi, dan Catrine hanya pergi ke salon atau ke mall seperti biasanya. Ia tidak mungkin menjadi sosok laki-laki b******n seperti mimpinya itu. Ia tidak seperti itu. “Apa yang kau katakan, nyonyamu sedang pergi ke salon. Beraninya kau mengatakan nyonyamu sudah meninggal. Dia istriku tidak akan meninggalkanku.” Andre menghembuskan nafas lirih, bagaiaman bisa tuanya menganggap semua hanya lelucon. Nyonya Catrine sudah pergi bahkan ia sendiri yang mengusirnya karena sebuah kesalah pahaman. Apakah atasanya juga melupakan ia telah menggila beberapa hari ini. “Maaf tuan, sepertinya anda harus segera menemui dokter dewi segera.” Dengan kesal David menemui dokter Dewi yang telah menunggunya di ruang keluarga. Langkah David terhenti ketika melihat peti putih yang berada di tengah ruag itu. Netra birunya memerah, rasa takut itu muncul lagi. “Siapa di dalam peti itu?” pertanyaan itu membuat Andre terdiam. “Maaf tuan, kita hanya bisa menemukan sebelah tangan nyonya Catrine, di duga seuluruh tubuh nyonya habis ternakan hewan laut dan hanya menyisakan tangan dengan cincin di jari manisnya.” David membeku, ia tidak bisa menerima seluruh fakta itu. Satu hal yang pasti semua mimpi yang ia alami nyata. David terdiam entah mengapa tidak ada satu air matapun yang ia keluarkan. “Tuan_” suara itu menyadarkan David dari keterkejutanya. “Ayo kita temui dokter Dewi.” David meninggalkan Andre yang terdiam menatap iba dirinya. Helaan nafas Andre keluarkan berharap ia kuat menhadapi atasanya jika menggila lagi. ****** “Kenapa?” pertanyaan dengan nada angkuh itu membuat wanita dengan pakaian berwarna hijaunya mendongak, di sana terlihat wajah sembabnya pertanda ia telah lama menangis. “Maaf tuan, saya hanya ingin mengantarkan hasil kesehatan Catrine dan foto USGnya. Seharusnya semua ini Catrine sudah dapatkan kemaren, tapi entah mengapa Catrine tidak jadi menemui saya di hotel XXX ."”jelas Dewi. Dewi tidak mengetahui apapun yang terjadi dengan sahabatnya itu. David terdiam, kini ia tahu apa penyebab Catrine pergi ke hotel itu, hatinya semakin sakit sehingga satu air matapun tak sanggup ia keluarkan. “Saya turut berduka cita tuan.” Dewi yang melihat David yang memandang kosong foto USG itu meghela nafas berat. “Seharusnya kalian merayakan adanya si kembar.” Pernyataa itu membuat David terdiam, si kembar? Apakah Catrine mengandung anak kembar? Tapi David tetap bungkam dengan mata yang semakin memerah. “Mungkin tuhan lebih menyayangi mereka, maaf tuan saya harus kembali.” David terdiam, kini hanya dirinya dan peti putih yang berisi tangan Catrine. Ia terjatuh dengan meremas kuat foto USG itu. Ia menyesal sungguh apa yang di ucapkan Catrine sebelum meninggalkanya menjadi kenyataan. “Sayang, maafkan aku. Bolehkan aku menyusulmu?” pertanyaan itu membuat semua orang yang mengawasinya dari jauh terkejut, apalagi melihatnya yang mengeluarkan pistol dari sakunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD