Ternyata setelah berhasil lepas dari kawat-kawat tajam itu, perjalanan mereka tak semulus apa yang dibayangkan. Mereka sudah membayangkan kalau tidak ada lagi bahaya yang menanti. Nyatanya masih ada banyak bahaya yang menanti, terutama sebuah bahaya yang tidak pernah terbayangkan akan menunggu mereka. Saat mereka berjalan menuju jalan tengah yang kata Justin di sana terdapat kekuatan yang tengah dicari, ada sebuah goncangan dahsyat yang mereka rasakan saat langkah mereka semakin masuk ke dalam jalan tengah itu. Bahkan mereka harus memegang tembok jalan gua itu sepanjang mereka berjalan. Meskipun ada goncangan yang begitu dahsyat, hal itu tak lantas membuat mereka gentar. Mereka akan melewati semua bahaya yang ada, meski bahaya itu mungkin akan mengancam nyawa mereka.
DUKK ... DUKKK ... DUKK ....
Goncangan itu terasa begitu kencang, seakan ada gempa bumi yang siap menghancurkan siapa saja dengan goncangan itu.
"A-apa hal ini juga ada di dalam mimpimu semalam, Justin?" tanya Dior pada Justin dengan susah payah. Ia agak kesulitan berbicara karena ia sedang berusaha menyelamatkan tubuhnya yang kecil dari goncangan maha dahsyat itu.
"Ada! Justru ini lah hal yang harus aku katakan pada kalian sebenarnya!" jawab Justin.
"Billy!" teriak Justin ketika Billy terlepas dari bahunya dan malah tergoncang dengan begitu dahsyatnya.
Tangannya kanannya berusaha menggapai Billy, sedangkan tangan kirinya bertumpu pada tembok gua.
"Kau tidak perlu khawatir, Justin. Aku baik-baik saja," ujar Billy.
"Panglima, lihatlah di depan sana!" teriak salah satu prajurit.
Baik Dior maupun Justin langsung menoleh ke depan sana, di depan sana ada raksasa dengan tubuh berwarna hijau. Mata raksasa itu merah, gigi raksasa itu nampak tak rata hingga raksasa itu terlihat sangat menyeramkan. Langkah raksasa itu semakin mendekati mereka hingga goncangan yang sedari tadi mengganggu mereka semakin terasa.
"RUARRRR!" Raksasa itu mengeluarkan suaranya, tubuhnya yang besar membuat suara itu begitu menggelegar. Bahkan mereka bisa merasakan napas raksasa itu yang berembus di depan wajah mereka.
DUKK ... DUKKK ....
Raksasa sengaja menggoncangkan tanah lagi dengan dua kakinya yang besar hingga membuat semua kurcaci semakin terguncang. Justin masih bisa mempertahankan posisinya tanpa terguncang karena tubuhnya lebih besar dari para kurcaci itu.
"Raksasa, kami izin melewati tempatmu ini ya." Justin berjalan mendekat ke arah raksasa itu.
"HUARRRR!" Justin memejamkan matanya ketika raksasa itu mengaum tepat di depan wajahnya, bahkan air liur raksasa itu mengotori wajahnya.
Para prajurit yang melihat itu bergidik jijik, tak percaya kalau si raksasa itu berani melakukan hal itu pada Justin. Namun, Justin nampak baik-baik saja meskipun wajahnya kotor terkena air liur, dengan santai ia langsung mengusap wajahnya dengan bajunya sendiri.
"R-raksasa, kami izin melewati tempatmu ya." Justin kembali bersuara dan lagi dan lagi ia mendapatkan hujan air liur itu, kali ini lebih dahsyat hingga membuat para kurcaci pun terkena imbasnya itu.
Raksasa itu nampak marah, kakinya ia naik-turunkan hingga mereka kembali merasakan guncangan yang dahsyat. Tiba-tiba saja raksasa itu menunduk, menatap para kurcaci dengan wajah yang terlihat bodoh. Tiba-tiba saja ada salah satu prajurit yang ujung bajunya diangkat oleh raksasa itu.
"Tolong! Tolong aku!" teriak prajurit itu sambil menggerakkan kakinya meminta turun.
Anehnya, melihat tingkah kurcaci, raksasa itu tertawa dan menggoyangkan tubuh kurcaci yang ia tangkap itu. Hal itu membuat kurcaci itu semakin meminta turun.
"Justin, kita harus melakukan sesuatu!" ujar Dior.
"Aku punya sebuah ide!" balas Justin.
"Kita harus mengalihkan perhatian raksasa itu, sepertinya juga ia tidak terlalu berbahaya. Ia seperti seorang anak-anak dengan tubuh raksasa, kita bisa melewati jalan ini kalau membuatnya senang." Justin menjelaskan.
"Biar aku saja yang mengalihkan perhatian raksasa itu, Justin," ujar Billy sambil menghampiri Justin.
"Baiklah, aku serahkan dia padamu, Billy." Billy mengangguk, boneka itu terbang menuju raksasa yang masih sibuk memainkan prajurit yang tengah ketakutan itu.
"Raksasa jelek! Raksasa jelek!" Billy sengaja meledek, memulai aksinya.
"WAAA? WOOOO!" Raksasa itu melepaskan prajurit di tangannya kemudian memperhatikan Billy dengan seksama.
"Raksasa jelek!" Billy menggoyangkan tubuhnya, membelakangi raksasa itu seakan tengah mengejeknya.
Raksasa itu nampak marah, dengan tangannya yang besar dan panjang itu ia berusaha menggapai Billy yang dengan cepat menghindar. Billy kembali meledek raksasa itu, ia semakin semangat menggoyangkan tubuhnya ketika melihat raksasa itu nampak marah.
"Ayo, kejar aku raksasa!" teriak Billy berlari cepat sambil terus menggoyangkan tubuhnya meledek si raksasa itu.
"Raksasa jelek! Raksasa bau! Raksasa buruk rupa!" ujar Billy.
"RUARRRRRR! HUAAAAAAHHHHAAAMM!"
DUKK ... DUKKKK ... BUKKKK ....
Dengan langkah lebarnya, raksasa itu berusaha mengejar Billy. Raksasa itu melewati Justin dan para kurcaci itu begitu saja, ia malah begitu tertarik dengan Billy yang sedari tadi meledeknya.
"Ayo! Sini raksasa jelek! Kau tidak ingin mengejar ku!? Yaah kau payah raksasa!" Ternyata, meksipun tidak bisa berbicara dengan benar, raksasa itu mengerti apa yang Billy katakan hingga ia terus mengejar Billy.
"Raksasa itu sudah pergi, lebih baik ayo kita segera pergi sebelum dia kembali!" ujar Dior yang diangguki oleh para prajurit.
"Kalian duluan saja, aku akan mencari Billy," ujar Justin.
"Tapi, Justin—"
"Tidak apa-apa, Dior. Aku pasti akan baik-baik saja." Justin berusaha meyakinkan Dior.
"Baiklah, kau harus hati-hati." Justin mengangguk hingga ia membiarkan Dior dan para prajurit itu segera pergi, sedangkan dirinya ikut pergi ke lain arah. Tepatnya ke arah di mana Billy berlari untuk memancing kepergian raksasa itu.
Justin terus berlari, mencari-cari keberadaan Billy yang tidak ditemukan. Mendadak ada pikiran negatif yang menghampiri Justin Justin takut terjadi sesuatu pada Billy. Meskipun Billy hanya sebuah boneka beruang hidup, tetapi Billy sangat berarti baginya. Billy selalu menolongnya dan tidak pernah menyusahkannya. Billy adalah boneka yang sangat baik hati, boneka ciptaannya yang pertama kali menemaninya dan membuatnya merasa kalau ia begitu berguna.
"Billy!" teriak Justin memanggil-manggil Billy.
"Billy!"
"Billy!"
"Billy, kau di mana!?" Lagi, Justin berteriak, kali ini terdengar begitu putus asa karena berkali-kali ia memanggil nama Billy, tetapi Billy sama sekali tidak menyahut.
Hingga tatapan Justin mengarah pada jalan depan sana, di sana ada sebuah lubang besar yang jelas tidak dapat dilewati oleh siapapun. Justin takut kalau ternyata Billy terperangkap di dalam lubang itu atau bahkan sudah tewas.
"Billy! Jangan membuatku takut!" Justin berjalan dengan cepat mendekati lubang itu.
"Billy!" teriaknya.
"Justin, aku ada di sini." Justin menoleh ke belakang ketika mendengar suara Billy.
Nampak jelas kelegaan di wajah Justin saat melihat Billy baik-baik saja, ia tadi sudah berpikir yang bukan-bukan. Beruntung Billy baik-baik saja.
"Aku pikir kau terperangkap ke dalam lubang itu, syukurlah kau baik-baik saja, Billy." Billy hanya tersenyum, sangat merasa senang karena tuannya begitu memperhatikannya.