Makan siang

2333 Words
Aku segera mengemasi buku pelajaranku ketika lonceng bunyi empat kali. Tanda kegiatan belajar mengajar telah usai. Di sekolah baruku ini jam belajar berakhir pukul 13.30. Jauh berbeda dengan sekolah lamaku yang menerapkan sistem belajar full day. Selesai memasukan semua buku-buku dalam tas aku segera bangkit berdiri. "Djian …" panggil Nina teman sekelasku. "Hari ini kita mau belajar kelompok, mau ikut gak?" Ada dua temanku yang lain di samping Nina. "Pengen sih, tapi … kayaknya lain kali deh, aku gak bisa ikut untuk saat-saat ini." jawabku sambil memasang wajah sedih. "Kamu kenapa sih, belakangan ini kayaknya jarang banget deh ikut belajar kelompok. Kamu sibuk apa sih?" Nina terlihat kecewa dengan jawabanku. "Aku sibuk bantu-bantu kakek di rumah." Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada teman-temanku. Bahwa aku sekarang ini sibuk jadi pembantu paruh waktu di rumah gedong yang tak jauh dari sekolahan. "Apa iya setiap hari kamu bantu Kakek jualan sayuran, kamu gak punya waktu lagi dong belajar kelompok sama kita-kita." "Ya mau bagaimana lagi. Kakekku sudah tua, jadi aku harus banyak bantu dia." Berharap teman-temanku percaya. "Oke deh Djian gak apa-apa kok, Nina kamu gak boleh maksa gitu. Djian benar dia harus lebih mementingkan bantu kakeknya." Sahut temanku yang lain. Dia bernama Fadil. "Aku gak bermaksud maksa Djian, aku hanya pengen dia bisa belajar kelompok bareng kita. Dia kan pintar." Nina menundukkan kepala. "Ahhh …. Sudah gak apa-apa, lain kali aku akan sempatkan untuk belajar bareng kalian oke," hiburku pada teman-temanku. "Kalau gitu aku duluan ya." Pamitku pada ketiga teman sekelasku. Mereka bertiga menganggukan kepala hampir bersamaan. Kemudian aku keluar kelas lalu berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda miniku. Aku tidak malu, sekalipun aku ini cowok tapi aku tetap percaya diri kemana-mana naik sepeda mini. Yang seharusnya lebih cocok untuk anak perempuan. Sejak hidup bersama Kakek aku belajar hidup sederhana dan apa adanya. Berbeda sekali ketika dulu masih hidup dengan kedua orangtuaku. Hidupku serba kecukupan. Sekarang aku tidak lagi hidup di kota jadi aku harus menyesuaikan diri. Aku mengayuh sepedaku, memutar arah tidak melewati jalan yang biasa aku lalui. Kali ini aku melewati jalan menuju rumah tempatku kerja sebagai pembantu. Kali ini aku tidak pulang dulu ke rumah Kakek, tadi pagi aku sudah berpamitan pada Kakek kalau kemungkinan besar aku tidak pulang dulu. Aku langsung menuju rumah tempatku bekerja. Aku harus mencoba cara ini, Karena pria sombong penghuni rumah itu selalu protes jika aku telat datang walau hanya lima menit saja. 'waktu itu sangat penting!!' itu adalah kalimat yang selalu diucapkan jika aku telat datang. Pria itu sama sekali tidak memikirkan aku juga butuh makan siang, butuh ganti baju dan lainnya. Oh ya aku sudah beberapa hari kerja pada pria sombong itu. Jangan tanya bagaimana dia. Semakin hari sikapnya semakin menyebalkan. Teriak-teriak tidak jelas. Marah jika aku melakukan kesalahan kecil saja. Satu lagi yang paling menguji kesabaranku, dia akan menyuruhku untuk mengulang pekerjaan jika apa yang aku kerjakan tidak sesuai dengan angan-angannya. Sesampainya di depan rumah Om Andaru aku berhenti sebentar, lalu aku menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada teman sekolah ada di sekitar sini. Setelah kupastikan aman, aku segera masuk halaman rumah. Aku tidak perlu mengetuk pintu, aku bisa masuk rumah besar ini kapan saja karena aku punya kunci cadangan. "Grekkk" pintu aku buka. Seperti biasa setiap aku datang om Andaru si pria angkuh itu pasti sedang duduk menyilangkan kaki di sofa ruang tamu sambil melihat layar ponselnya. Aku heran pada pria sombong itu. Apa sebenarnya pekerjaan Om Andaru, kenapa setiap kali aku datang di rumah ini posisinya selalu sama, di ruang tamu sambil sibuk menggeser layar ponselnya. Bahkan ketika aku datang lebih awal dia sudah duduk dengan angkuhnya di ruang tamu. "Sepertinya kamu mulai pintar. Seharusnya dari awal kamu seperti ini, pulang sekolah langsung datang kemari. Tidak perlu buang waktu dengan kamu pulang ke rumah Kakekmu terlebih dahulu." ucap Om Andaru, tanpa melihat ke arahku. Melihat wajah angkuhnya aku jadi malas. Namun, tiga bulan kedepan aku harus membiasakan diri melihat wajah angkuh itu. Tanpa basa basi untuk menyapanya aku melangkah masuk ke sebuah ruangan kecil dekat dapur. Mungkin ruangan itu didesain sebagai kamar pembantu. Karena di ruangan ini ada lemari kecil dan satu matras serta bantal dan selimut. Aku segera ganti baju, serta menyimpan peralatan sekolahku. Aku harus cepat ke dapur untuk menyiapkan makan siang terlebih dahulu. Setelah selesai ganti baju aku pergi ke dapur. Ternyata di dapur Om Andaru sudah berdiri disana menungguku. Pria itu membuka pintu kulkas mengeluarkan beberapa bahan makanan. "Kemari …" kata Om Andaru, memanggilku. Aku berjalan mendekat ke arah Om Andaru. Jika berdiri tepat di sampingnya seperti ini aku jadi menyadari betapa kecil dan mungilnya tubuhku. "Siang ini aku ingin makan tumis tahu tauco, ini bahannya." Om Andaru menyiapkan satu bungkus tahu putih, udang, buncis serta bahan-bahan lainnya. "Kamu bisa memasaknya kan?" "Cuma tumis tahu kenapa gak bisa." jawabku sombong. Dia hanya minta tumis tahu, jika hanya masakan biasa tentu saja aku bisa. "Bagus. Panggil aku di belakang jika sudah siap." ucapnya sambil berlalu pergi. Dia pasti pergi ke belakang halaman rumah untuk bermain dengan kucing kesayangannya. Sungguh pria pengangguran sukses. Setiap hari dia hanya mengurung diri dalam rumah, namun sepertinya dia itu pria kaya. Lihat saja, sekalipun rumah ini di bangun di sebuah desa, akan tetapi bentuk dan isi rumah ini sama seperti rumah di kota pada umumnya. Tapi dia itu kerja apa? Bisnis apa? Yang dilakukan setiap hari hanya berdiam diri dalam rumah saja. Ahhh bodo amat aku gak peduli dia itu kerja apa. Yang penting aku bisa melalui tiga bulan dengan selamat tanpa terkena tekanan darah tinggi karena sikap sombong dan angkuhnya itu. Aku kembali fokus pada bahan makanan di konter dapur, ada botol yang menarik perhatianku. Aku ambil botol itu. Aku baca dan amati kertas yang menempel di sekeliling botol. "Tauco paling enak sejagat." Aku membaca judul yang tertera pada botol. Siapa yang menjamin tauco ini paling enak sejagat. Dasar marketing lebay. Aku mulai memotong tahu dan buncis. Setelah itu menyiapkan bumbu. Si tuan angkuh lebih suka bumbu iris untuk tumisan. Setelah bahan dan bumbu sudah siap aku mulai menumis. "Ini berapa sendok ya … emang ini bumbu apa sih?" tanyaku pada diri sendiri. Bahan masakan tauco aku sering dengar tapi seingatku kakek tidak pernah memasak dengan bahan ini. Karena aku tidak mau membuang waktu banyak untuk berpikir, aku segera membuka tutup botol tauco. Lalu satu sendok, dua sendok, tiga sendok. Hingga hampir setengah botol aku tuangkan tauco itu dalam tumisan tahu campur udang dan buncis. Setelah menurutku tumis tahu yang aku masak sudah matang aku tuangkan tumisan itu di atas piring. Tanpa aku cicipi terlebih dahulu. Lalu aku sajikan di atas meja makan. Lengkap dengan nasi serta piring dan sendok. Aku bergegas mencari si tuan angkuh ke belakang. Siapa tahu dia sudah kelaparan. "Om … makan siangmu sudah siap." Panggilku. Aku berdiri depan pintu belakang. "Iya." Jawabnya. Seperti biasa tanpa melihat ke arahku. Selang beberapa menit om Andaru datang ke meja makan. Dia lalu duduk di kursi tempat biasanya pria itu duduk. Dengan hati-hati aku menuangkan air minum dalam gelas di depannya. "Krukkkkk" Ahh sial perutku berbunyi protes minta di isi, tapi kenapa juga harus depan pria ini. Bikin malu saja. Namun, tidak ada salahnya jika aku lapar. Aku memang belum makan siang. Sepulang sekolah aku langsung datang ke rumah ini tidak pulang lebih dulu ke rumah Kakek seperti biasanya. "Krukkkkk …." Perutku bunyi lagi. "Duduklah lalu makan." ucap om Andaru terdengar memerintah. "Nanti saja." Aku tidak mau makan satu meja dengannya. "Aku tidak mau Kakekmu menuntutku karena kamu sakit gara-gara telat makan. Cepat duduk di sana lalu makan." tegasnya. Mau gak mau aku menurut. Aku lalu duduk tak jauh dari Om Andaru dan mulai menuangkan nasi dan lauk di atas piring. Namun, sebelum aku menyuapkan nasi ke dalam mulutku, diam-diam aku perhatikan Om Andaru. Dia mulai makan. Entah kenapa aku penasaran dengan ekspresinya ketika makan masakanku. Aku harap dia menyukainya. Akan tetapi, apa yang aku harapkan tidak menjadi kenyataan. Karena ternyata ketika Om Andaru menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya. Om Andaru langsung memuntahkan makanan yang aku masak ke lantai. Dia keluarkan semua yang ada dalam mulutnya. Berkali-kali om Andaru minum air putih. "Djian!!!!" teriaknya ke arahku. Wajahnya merah padam. "Kamu mau racuni aku ha???!!!!" teriaknya lagi. "Ini apa yang kamu masak?? Kenapa rasanya seperti air laut. Asin!!!!" "Mana mungkin asin!" sanggahku. "Aku cuma pake garam seujung sendok teh!" Aku gak mau kalah, aku juga meninggikan suaraku. "Coba sini kamu!" Om Andaru menatapku tajam. Aku lalu bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke arahnya. "Kamu coba sekarang masakanmu ini." perintahnya. Dengan hati dongkol aku menyuapkan satu sendok nasi serta tumisan ke dalam mulutku sendiri. Dan ….. huek. Aku memuntahkan semua yang ada dalam mulutku ke lantai. Sama persis seperti yang Om Andaru lakukan tadi. "Gimana? Ini yang kamu bilang garam seujung sendok teh???" Aku tak langsung menjawab. Menyambar gelas terdekat. Gelas bekas Om Andaru. Aku minum dulu untuk menghilangkan rasa asin teramat sangat dalam mulutku. "Tapi benar Om aku cuma pake garam seujung sendok teh." "Lalu kenapa rasanya asin seperti ini. Lagian aku sudah siapkan tauco untuk apa kamu pakai garam lagi. Tauco itu sudah asin!" "Apa??" Aku melongo. Jadi tauco itu rasanya asin, dan tadi aku tuangkan setengah isi botol tauco. Pantas saja rasanya seperti air laut begini. "Kenapa ekspresimu kaget seperti itu. Jangan bilang kamu gak tau kalau tauco itu asin. Berapa sendok yang kamu pakai?" "Setengah botol, aku kan gak tahu kalau itu asin. Om juga gak bilang." cicitku. Aku menundukkan kepala tidak berani balas menatap ke arah mata tajam itu. "Lain kali kalau kamu gak tahu kamu harus tanya, sebelum kamu hidangkan di atas meja kamu harus cicipi dulu. Agar kamu tahu masakanmu layak atau tidak dimakan orang!" Omelnya. Aku tidak bisa menjawab. Sekalipun aku kesal mendengar dia berteriak padaku tapi ini juga salahku. Harusnya aku tanya jika tidak tahu, harusnya aku cicipi sebelum aku menyuruhnya untuk makan. Tapi walaupun begitu tidak bisakah dia bicara padaku baik-baik. Kenapa mesti berteriak. Seolah aku ini sungguh pembantu tak berguna saja. Harga diriku terluka. Aku makin tak suka pada pria sombong ini. "Bereskan dan buang makanan itu." Perintah Om Andaru. Aku mendongakkan kepala, "tapi sayang Om kalau dibuang," "Apa kamu mau makan makanan asin itu?" Sahut om Andaru tegas. "Gak mau …" jawabku lirih, kembali menundukkan kepala. "Duduk saja dan diam!" Perlahan aku kembali pada kursiku dan duduk di sana dengan diam seperti yang Om Andaru perintahkan. Pria angkuh itu menuju kulkas mengeluarkan bahan makanan yang masih tersisa lalu mulai memasak. Jika dia pandai memasak seperti itu lalu mengapa dia menyuruhku, harusnya dia masak sendiri sesuai seleranya. Dengan begitu aku bisa mengerjakan tugasku yang lain. Lihatlah berapa lama waktu yang terbuang dengan acara memasak ini. Bisa aku bayangkan jika aku tidak menyelesaikan tugas dalam daftar list harian, sisa pekerjaanku hari ini akan ditambahkan untuk esok hari. Akan sangat melelahkan. Jika melihat Om Andaru sibuk di dapur seperti sekarang ini aku jadi teringat Mama. Saat Mama masih hidup, Mama juga pandai memasak. Aku dan Papa akan menunggu dengan tenang di meja makan selama Mama memasak sama seperti yang aku lakukan saat ini. Bedanya saat ini aku sendiri tidak ada Papa di sampingku. Aku duduk sendiri. "Apa Yang kamu pikirkan kenapa kamu melihatku seperti itu?" Suara Om Andaru mengejutkanku dari lamunan. Pria itu ternyata sudah selesai memasak. Di meja makan tertata rapi tiga menu makanan ada telur dadar gulung, steam ikan dori dan tumis wortel campur brokoli. Melihat dari tampilannya sepertinya enak sekali. "Cepat makan dan selesaikan pekerjaanmu." Om Andaru kembali duduk di kursinya. Kami berdua mulai makan. Seperti yang aku pikirkan masakan Om Andaru enak sekali. Seperti masakan seorang chef restoran terkenal di kota tempat tinggalku dulu. "Kalau Om bisa masak enak seperti ini kenapa terus menyuruhku untuk masak?" "Memangnya kenapa? kamu pembantuku aku berhak menyuruhmu!" "Ya aku tahu! Tapi masakanku katamu tidak enak, kemarin gak ada rasa sekarang seperti air laut. Tapi kamu terus menyuruhku memasak." "Dari pada bertanya hal bodoh seperti itu lebih baik mulai sekarang kamu harus belajar memasak. Kamu seorang gadis, menggoreng telur saja masih gosong." Seketika aku berhenti mengunyah makanan. Aku melihat ke arah Om Andaru yang sepertinya masih ingin lanjut bicara. "Lihat dirimu …" pria dengan iris mata hitam gelap itu menatap ke arahku. "Kamu itu seorang gadis kenapa berpakaian seperti laki-laki. Aku tidak pernah melihatmu memakai pakaian perempuan." Lanjutnya sambil kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. "Apa maksudmu Om?" tanyaku menahan geram. "Apa?? Apa kamu tidak mengerti bahasa yang aku gunakan?" Dengan ekspresi wajah angkuhnya. "Kenapa Om selalu mengatakan aku ini seorang gadis?!" teriakku. Aku tidak peduli jika statusnya saat ini adalah majikanku. "Aku ini bukan seorang gadis, aku ini laki-laki sama sepertimu. Aku punya belut yang sama sepertimu!" teriakku lagi. "Uhuk … uhuk … uhuk …" Om Andaru terbatuk-batuk berulang kali, tersedak makanan yang baru saja akan ia telan. Aku bangkit dari duduk, dengan rasa kesal aku tuangkan air minum ke dalam gelasnya yang kosong. Ia langsung meminum air yang kuberikan untuk mengurangi rasa sakit pada dadanya. "Ja-jadi kamu laki-laki?" tanya Om Andaru terbata. "Apa perlu aku tunjukan milikku padamu?" sahutku cepat tentu saja karena aku kesal. Berulang kali dia mengira aku ini seorang gadis. Bahkan setelah beberapa hari aku kerap di dekatnya dia masih tidak menyadari jenis kelaminku. "Untuk apa aku liat milikmu, dan siapa bilang kita punya belut yang sama. Jangan asal bicara bocah! Lihat tubuh kecilmu ini. Punyamu pasti tak lebih besar dari cabai," ucapnya dengan suara rendah namun sarat akan nada mengejek. Kemudian ia melangkah pergi dari ruang makan. Hatiku panas. Aku merasa direndahkan lagi. "Gak ada jaminan tubuh yang besar juga memiliki senjata yang perkasa Om!" balasku, dan lihatlah pria angkuh itu hampir terjungkal. Hampir saja guci kesayangannya yang lain pecah karena hampir ditabrak. Ia menoleh ke arahku, dengan tatapan tak percaya. Bodo amat. Aku melengos gak peduli. Melanjutkan makan siang yang sempat tertunda. Sayang banget kalau gak dihabiskan. Biarkan saja Om tua yang tidak hanya sering melakukan body shaming itu, rupanya dia juga suka melakukan p***s shaming. Dasar pria sombong seantero jagat. Bersambung ….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD