4. Jangan Mati Dulu!

1705 Words
Mau tahu apa yang paling menyenangkan di kantor hari ini? Gajian? Nggak. Bonus tahunan? Lewat. Yang paling menyenangkan tentu saja jika si Bos nggak masuk. Rasanya pengen lari keliling kantor saking senangnya. Entah alasan apa yang membuat dia absen hari ini. Yang pasti jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, dan sosoknya belum juga muncul. Suasana lantai dua sudah mirip tempat pelelangan ikan. Suara riuh rendah dan tertawa penuh kebebasan menggema dimana-mana. Aku tersenyum bahagia sambil menatap layar komputerku yang gelap karena memang tidak kunyalakan. Syukurlah, aku tidak perlu bersusah payah memikirkan apa yang yang harus dibicarakan saat meeting nanti, mengarang nama-nama nasabah hanya agar si Bos nggak berwajah masam. Setelah beberapa jam termenung di depan komputer, kabar gembira pun datang. Betapa bahagianya hari ini. "Jadi hari ini kita mau ngapain, Mbak?" tanyaku pada Mbak Lana. "Karokean yuk," Alex berteriak dari kubikelnya. "Bosan," cetus Mbak Lana. "Giliran Bos nggak ada, kelakuan mirip anak TK," ujarku sambil terkikik. "Sarapan dulu aja yuk, nanti kita pikiran mau ngapain," usul Mbak Lana. "Ayo. Sudah lama kita nggak bisa sarapan bareng," timpalku. Semenjak Pak Revano ada, dia melarang segala bentuk usaha yang bisa menyia-nyiakan jam kerja. Dan sarapan di pagi hari termasuk. Menurutnya, sarapan itu dilakukan di rumah, bukan di kantor dan mengganggu jam kerja. Aku mengambil ponsel dan dompetku dengan tergesa. Mbak Lana dan Alex telah lebih dulu turun ke banking hall. Baru sedetik ponselku berada di genggaman, suara panggilan menggagetkanku. Pak Revano?! Astaga! Kenapa dia tiba-tiba meneleponku? Apa dia tahu jika di kantor sedang berbahagia karena ketidakhadirannya? Angkat, nggak, angkat, nggak. Aku berperang melawan kata hatiku. Dan yang terakhir dengan berat hati aku mengangkat teleponnya. "Pagi, Pak," kataku dengan nada formal. "Ke ruangan saya sekarang. Ambil bungkusan obat yang ada di laci pertama meja saya," sahut suara di seberang sana. Aku mengernyit bingung. Dia nggak lagi salah sambung kan? "Maksudnya, Pak?" "Ambil obat yang ada di laci meja saya. Minta antar Sapri ke rumah saya. Sekarang!" Suara tanpa jeda itu makin membuat aku kebingungan. "Bapak suruh saya?" tanyaku. "Iya, siapa lagi," sahutnya judes. "Ke...kenapa saya, Pak?" "Saya random aja telepon orang kantor dan kebetulan kamu yang angkat." Kalau dia ada di hadapanku, rasanya ingin kutusuk bola matanya dengan jariku. "Buruan, saya lagi nggak enak badan. Kamu mau tanggung jawab kalau mendadak ada apa-apa sama saya?" Dia masih melanjutkan bicaranya. Heran, katanya sakit tapi bicaranya masih sepanjang kereta. "Baik, nanti saya suruh Rohim yang antar, Pak." Bos aneh, memangnya aku ini apa, ajudan pribadinya? Seenaknya aja menyuruhku ini itu. "Rohim sedang saya suruh mengantarkan berkas ke kantor pusat." Hening beberapa saat setelah dia mengucapkan kalimatnya. "Saya tunggu sekarang!" Dan telepon pun mati. Demi Indonesia tercinta, kenapa ada Bos seperti dia? Kenapa nggak dimintanya saja Sapri, driver kantor yang mengambil obat dan mengantarkan ke rumahnya? Kenapa harus aku? Toh, nanti sama saja. Sapri juga yang akan mengantarku ke rumahnya. Aku beranjak dengan malas menuju ruangan Pak Revano. Menjalankan instruksinya dengan membuka laci paling atas dan mengambil bungkusan plastik berwarna bening berisi beberapa macam obat. Entah apa sakit yang dideritanya sampai harus bergantung pada obat ini. Mungkin gangguan jiwa. "Loh, kok nggak jadi sarapan?" Alex menahan langkahku saat aku menuju mobil kantor. "Apes banget deh gue. Nih mau ngantarin obat Yang Mulia. Bisulnya kumat kali," sahutku. Alex tergelak dengan kerasnya. Aku hanya bisa menatapnya sambil tersenyum masam. "Bilangin ke Mbak Lana ya, gue batal ikut." Aku masuk ke mobil dan melambaikan tangan pada Alex. "Ke rumah Pak Revano," ujarku pada Sapri. Dia mengangguk mengiakan dan menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Aku tidak tahu di mana rumah Pak Revano dan memang tidak mau tahu. Nggak penting banget ngurusin dia. Dari hasil menguping pembicaraan Marsha, katanya pak Revano tinggal sendiri di sebuah perumahan yang lumayan mewah. Statusnya yang masih single membuatnya selalu menjadi bahan pembicaraan Marsha. Jangan-jangan Pak Revano sudah pernah mengajak Marsha ke rumahnya. "Masih jauh ya?" tanyaku di tengah kebosanan dan rasa lapar yang melanda. "Sebentar lagi Mbak. Mbak belum pernah ke rumah Bapak ya?" tanya Sapri. Aku menggeleng. "Memangnya yang lain pernah?" tanyaku penasaran. "Setahu saya sih cuma saya aja yang pernah dibawa Bapak ke rumahnya," sahutnya sambil nyengir. "Dan Mbak orang kedua," lanjutnya. Aku tersenyum datar menanggapi pembicaraan Sapri. Aku enggak butuh rekor hanya gara-gara ke rumah Bos tukang suruh itu. "Sudah sampai, Mbak. Saya tunggu di mobil ya." Sapri menghentikan mobil tepat di depan sebuah rumah mungil bergaya minimalis. Dari desain rumahnya saja sudah bisa ditebak si pemilik rumah pasti mengeluarkan uang banyak untuk mendesainnya. Beberapa hari ini Pak Revano memang ngelunjak. Dia suka tiba-tiba menyuruhku menyeduh kopi untuknya ataupun memintaku menelepon restoran langganannya untuk memesan makan siang. Memangnya aku ini asisten office boy? Aku melangkah perlahan saat memasuki halaman rumahnya. Sepertinya aku nggak perlu menekan bel karena pintu depan terbuka sebagian. Lain kali jika Pak Revano nggak masuk kerja, aku akan mematikan ponselku agar dia nggak bisa menghubungiku. Aku mengintip dari celah pintu yang terbuka. Sopan nggak ya kalau aku langsung masuk aja? Tubuhku sudah masuk sebagian ke dalam rumahnya. Aku mengedarkan pandanganku dengan cepat. Aku bisa melihat dengan jelas seorang wanita dengan posisi membelakangiku sedang menyuapi Pak Revano yang berbaring di sofa. Sial! Dia malah asyik bermesraan sedangkan aku jadi pesuruhnya. Mati aja gih sana! Aku berjalan mundur dengan gerakan perlahan. Playboy cap teri itu benar-benar nggak tahu diri. Dikiranya aku ini jasa antar barang apa? Setelah beberapa langkah meninggalkan rumahnya, mendadak aku menghentikan langkahku. Kalau seperti ini aku mirip orang yang sedang memergoki pasangan selingkuh. Aku menarik napas panjang dan memutar langkah kembali ke rumah Pak Revano. Dengan gerakan yakin aku mengetuk pintu rumahnya. Awas saja jika orang yang berada di dalam rumah itu mendadak tuli. "Siapa ya?" Wanita yang tadi terlihat sedang menyuapi Pak Revano berjalan mendekatiku. Tepat seperti dugaanku, tipe wanita kesukaan Pak Revano memang enggak jauh-jauh dari ondel-ondel di depanku ini. Cantik, seksi, dan membuat mata yang melihatnya jadi bintitan. "Pak Revano ada?" tanyaku. Wanita itu melihatku dari ujung kepala hingga kaki dan kemudian menarik napas panjang. "Kamu siapa?" tanyanya dengan suara manja yang dibuat-buat. Aku berdehem dengan keras. Kenapa sih Pak Revano nggak bisa cari wanita yang normal aja. Cantik sih cantik, tapi kalau kayak gini, kan jadi pengen ngerokin punggungnya. "Suruh masuk aja." Terdengar suara dari dalam. Wanita itu melihatku sekali lagi, seolah-olah sedang memindai tubuhku agar terbebas dari kuman penyakit. "Kamu bawa obatnya, kan?" Pak Revano muncul dengan wajah lesu. Aku kira dia hanya mengarang cerita kalau sedang sakit. Wajahnya terlihat seratus kali menyebalkan daripada biasanya, apalagi dengan ondel-ondel hidup di sebelahnya. "Dia siapa? Sales obat?" tanya wanita itu dengan wajah meremehkan. "Bukan Mbak, saya sales panci," sahutku kesal. "Dia karyawan kantorku. Sudah kamu pulang aja sekarang." Pak Revano menepis tangannya dan kemudian berjalan mendekat ke arahku. "Kamu ambil di tempat yang benar kan?" tanyanya. Aku berguman menjawab pertanyaannya. Bungkusan lecek itu kuserahkan ke tangannya. "Tunggu apa lagi, kamu pulang sana." Kalau saja tatapan matanya tidak diarahkan ke wanita itu, mungkin aku mengira dia sedang mengusirku. "Saya juga mau langsung balik kantor, Pak," kataku buru-buru. "Tunggu dulu sebentar." Dia berbalik masuk ke dalam. Sementara wanita ondel-ondel itu sudah pergi setelah mengentakkan kakinya berkali-kali tanda dia tidak senang dengan permintaan Pak Revano. Aku menghitung detik-detik kemunculan Pak Revano. Apa maksudnya menyuruhku menunggunya? Memangnya dia mau ikut aku balik ke kantor? Tepat hitungan ke sepuluh, dia muncul dengan membawa laptop di tangannya. Tunggu...sepertinya aku mencium bau-bau penindasan kembali di sini. "Tolong kamu input data pencapaian kalian bulan ini dan email ke Area Manager," pintanya dengan suara lemah. Dia meletakkan laptopnya di meja dan memintaku duduk di sebelahnya. Oh tidak! Menyesal sekali aku menuruti permintaannya. Ini sih ibaratnya sudah dikasi hati minta jantung, terus lama-lama minta nyawa juga. "Tapi Pak...., saya ada janji dengan Pak Andre, pemilik show room mobil yang tempo hari saya bilang ke Bapak," kataku dan tidak beranjak dari posisiku. "Pak Andre biar Marsha aja yang handle," ujarnya dengan wajah tak bersalah. "Enggak bisa, Pak. Pak Andre sudah saya prospek dari sebulan yang lalu, masa sudah final gini diserahin ke Marsha." Aku berusaha menahan kekesalan yang sudah sampai ke kepala. "Oke...saya mengerti." Dia memegang keningnya seperti mau menjelaskan kalau sedang sakit parah dan butuh perhatian. "Sebentar saja, setelah itu kamu boleh kembali ke kantor. Kepala saya pusing sekali dan nggak bisa lama-lama menatap layar laptop." Suaranya mulai melemah. Aku mengembuskan napas perlahan, mencoba mengatur emosiku agar tidak meluap kembali. Kalau sedang sakit kepala dibawa tidur aja, nggak usah mikirin kerjaan. Gampang, kan? Wajah Pak Revano terlihat pucat. Tapi tetap aja aku nggak tersentuh dengan semua itu. Tuh lihat sekarang, kalau lagi sehat bisanya cuma menindas bawahan. Kalau sakit gini, nggak bisa apa-apa, kan. Aku menatap layar laptop tanpa berkedip. Sial! Aku malah disuruh mengerjakan hal beginian. "Apa yang harus saya ketik, Pak?" tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar laptop. "Terserah," sahutnya. Aku mengerling ke arahnya. Terserah apanya? Masa aku ketik pencapaianku luar biasa buat bulan ini? Sekarang Pak Revano malah terbaring di sofa sambil memejamkan mata. Aku menarik napas panjang. "Bapak mendingan tidur aja deh atau apa gitu," kataku sambil masih menatap laptopnya. Dia mengguman lemah. "Ambilin saya minum," pintanya dengan suara memelas. Luar biasa bos yang satu ini. Semakin diturutin kemauannya, semakin ngelunjak. "Minum?" tanyaku pura-pura bodoh. "Buat minum obat." Suaranya semakin melemah. Ah bos jago akting! Aku beranjak dari dudukku dengan malas. Entah dimana letak penyimpanan air minumnya pun aku enggak tahu. "Minum ini aja, pak. Masih bersih, belum saya minum." Aku menyerahkan botol air mineralku padanya. Dia membuka matanya perlahan dan menatapku dengan pandangan mata minta dikasihani. "Sudah saya email barusan. Saya boleh balik ke kantor ya, Pak," lanjutku. Dia membuka botol air mineral dengan susah payah, seperti tidak memiliki tenaga lagi. Baiklah, patut diakui aku memang karyawan super yang penuh perhatian pada bos. Mau bos sekejam apapun, aku tetap baik padanya. Aku mengambil botol air mineral dari tangannya dan kemudian membuka tutupnya. Lebih sulit cari nasabah dibandingkan buka tutup botol deh kayaknya. Tiba-tiba tangan Pak Revano menarik lenganku dengan gerakan pelan, napasnya terlihat memburu, bibirnya memucat dan bergerak dengan susah payah. "Tangan Bapak panas banget!" Aku menjerit dan berusaha melepaskan tangannya karena kaget. Duh Pak, jangan mati dulu! (*)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD