Ryan pov
Aku puas melihat bangunan rumah kos ini. Lokasinya mudah ditemukan, namun cukup tenang. Lingkungannya terlihat nyaman dan welcome dengan anak kos. Buktinya, saat kami tiba, tetangga kanan kiri yang kebetulan sedang berada di depan rumah tersenyum ramah.
Gaya modern bangunan memuaskan mata. Tempat parkirnya cukup luas, saat itu ditempati dua buah mobil dan sederet motor. Jumlah kamar yang disewakan 20 dan statusnya saat ini penuh semua. Banyaknya penghuni rumah kos ini memperbesar kemungkinan Amy bisa mendapatkan banyak teman baru agar ia segera kerasan di kota ini.
Selama kami mengantar Amy, beberapa tetangga kamarnya mendekat dan mengajak kenalan. Nampaknya, mereka juga ada kekepoan ingin melihat kamar Amy. Sepertinya, kamar yang baru saat ini dibuka untuk penghuni baru sungguh misterius.
“Em, Masnya kakak Amy?” tanya salah satu gadis, disertai wajah kepo teman-temannya. Aku beri mereka senyum sekilas. Mereka nampak shock dan wajahnya bagaimana gitu. Aku jadi risih. Aku lewati gadis-gadis itu dan melangkah mendahului ketiga teman semobilku menuju kamar Amy di lantai dua.
Ada empat kamar yang dihuni pasangan suami istri. Ibu kos menempatkan mereka di lantai dua, pada sisi lain bangunan. Lantai tiga dikhususkan pria-pria single. Lantai satu khusus perempuan single. Setiap kamar memiliki kamar mandi, jadi pengaturan seperti ini sebagai upaya menjaga citra sosial saja.
Kamar Amy berada di lantai dua. Kamar lain di lantai itu luasnya standar, sebagaimana kamar kos lain. Kamar Amy istimewa, karena didesain untuk ditempati pemilik rumah. Kamar itu tidak hanya memiliki kamar mandi standar hotel, tetapi juga dapur. Di sampingnya ada kamar cadangan, yang dimaksudkan untuk tamu si pemilik rumah. Jelas Amy merasa canggung dengan kamar barunya, tetapi toh ia tidak perlu mengurangi gaji, sebab kamar itu fasilitas khusus.
Aku senang melihat ibu kos yang begitu baik kepada anak-anak kosnya, termasuk Amy. Meski ada sampingan yang dijalankannya dengan membuka kios makanan, menurutku selagi tugas utamanya sebagai pengelola terlaksana, bukan masalah. Malah bagus, ia bisa membantu anak-anak kos mendapatkan makanan dengan mudah.
Jangan dikira anak-anak kos tinggal berleha-leha sepulang kerja. Dengan ibu kos yang kalau urusan kebersihan seperti ibu tiri karakternya, maka anak kos punya jadwal piket setidaknya satu kali dalam satu bulan. Ada-ada saja.
Selesai mengantar barang-barang Amy dan makan malam nasi goreng kiriman ibu kos, kami pamit. Amy ikut turun. Beberapa penghuni rumah kos cewek cekikikan saat kami bertiga lewat. Hmm, akankah itu berlangsung seterusnya? Amy melepas kami di gerbang rumah kos. Kami tinggalkan wajah lelahnya.
Selamat beristirahat, Amy. Semoga besok kita bisa bertemu kembali.
“Mas, sering-sering nengok Amy, ya,” seloroh gadis-gadis yang sedang duduk-duduk di beranda lantai satu.
Kami bertiga tertawa pelan sambil masuk mobil. Kami merasa lucu karena dengan lugunya ibu kos mengira kami bertiga adalah kakak Amy. Sepertinya karena pesan dari pak Tri bahwa yang datang saat ini adalah anak-anaknya semua. Secara militer ibu kos memaksakan asumsinya itu kepada anak-anak kos yang lain. Bayangkan. Rasanya sama sekali tidak ada kemiripan diantara kami berempat. Aku 185 cm, kulit sawo matang gelap, rambut ikal, dan tidak terlalu berisi. Andri 160, rambutnya keriting, kulitnya putih, dan berisi. Sedangkan Han tingginya 170, kulitnya gelap, sangat kekar, dan rambutnya tegak berdiri. Amy berkulit sawo matang, tinggi 165, kurus, dan rambutnya lurus halus. Bersaudara dari Hong Kong?
“Sejak kapan kamu kenal Amy? Sepertinya tadi bukan pertemuan pertama?” tebak Han. Aku menoleh menatapnya yang duduk di kursi sopir. Saat itu posisiku di kursi penumpang depan. Andri duduk di jok tengah, alasannya pengen tiduran.
“Amy guide rombongan tur Happyland. Apa kamu ikut fam gath itu?” tanya Andri.
Kuanggukkan kepala.
“Pantesan. Beneran, Ryan. Amy itu secara alami mudah akrab dengan orang lain. Bertahun-tahun mengenalnya, dia tidak memberi ruang untuk urusan cinta-cintaan. Jujur saja, aku melihat sikap yang berbeda padanya ketika kalian ketemu di depan loket tadi. Apakah ada sesuatu di sini?” tanya Andri to the point.
Han terkekeh mendengarnya. Aku ikut tertawa pelan.
Mobil memasuki ruas jalan utama kota. Tidak lama lagi kami akan tiba di Happyland. Tadinya aku mau ngajak mereka makan dulu. Berhubung tadi sudah dijamu ibu kos, ya sudah. Saatnya kembali ke mes.
“Nggak boleh pedekate Amy ya? Dia ada yang punya?” tanyaku.
“She’s available. Tetapi jangan main-main. Aku jaga baik-baik gadis itu. Dia memang anak panti, tetapi bukan berarti dia bukan manusia bermartabat. Kalau boleh membanding-bandingkan, bagiku dia lebih berkelas daripada cewek-cewek borju atau calon sosialita yang taunya cuma gosip artis, belanja, dan skincare. Beda banget sama Amy yang paham banget urusan perjuangan hidup. Dia punya banyak cita-cita besar yang tidak hanya untuk dirinya sendiri. Jadi, jika kamu hanya berniat mempermainkan dia, sebaiknya kamu mundur dari sekarang atau aku akan buat hidupmu sangat sulit.”
Aku senyum.
“Jika sedemikian kamu mengaguminya, aku jadi curiga kamu cowoknya,” kataku.
Andri dan Han tertawa.
“Andri nggak doyan sama Amy. Sejak pakai popok Andri sudah tunangan dengan calonnya sekarang. Kalaupun dia pernah naksir, pasti Andri bakal segera insyaf karena segala bibit, bebet, dan bobot tunangannya sudah mantab banget,” jawab Han.
Kami tertawa.
“Kalian dulu kakak kelasnya atau bagaimana?” tanyaku pada mereka berdua.
“Andri kakak kelas Amy, beda jurusan. Konon sudah kayak amplop yang harus pakai perangko saja mereka berdua. Kompak. Sudah nggak ada rahasia gitu. Amy yang merekomendasikan Andri pada Bos. Kalau aku mengenal Amy sejak dia masih siswa magang. Aku sering jadi sopir rombongan yang dia ditugaskan. Sejak dulu, asyik banget anak itu, Ryan. Mulai manula sampai anak-anak bisa dia atasi.”
Aku manggut-manggut.
“Kalian akan lihat. Aku sangat serius. Jujur saja, aku tidak pernah jadian dengan perempuan manapun selama ini. Jadi dari segi pengalaman, aku nol. Tetapi nggak tahu kenapa, sejak pertama melihatnya, rasanya deg aja gitu. Ada sesuatu yang istimewa tentang dia. Aku nggak Cuma berniat pacaran, kok. Aku serius.”
Mereka berdua berdiam.
“Gaes, memang aku baru ketemu dia dua kali dengan hari ini. So, give me a chance. Give me time. Aku nggak main-main. Lagipula, apa definisi serius menurut kalian?”
“Kita sudah dewasa, Ryan. Amy sudah cukup umur untuk menikah. Kalau kamu tidak main-main, sebaiknya kami segera tahu kamu sudah siap menikahinya. Aku nggak mau lihat dia sedih, sakit hati, dan galau hanya karena pacaran. Sebaiknya keluargamu juga bisa menerima dia apa adanya. Dia tidak seperti gadis-gadis lain yang datang dari keluarga utuh. Yakinlah tidak semua keluarga mau menerima kondisi itu. Jika keluargamu tidak bisa menerimanya, untuk apa kamu memulai?” tanya Han.
Aku terdiam mendapati kenyataan trio ini sepertinya sangat dekat. Mereka melindungi Amy baik-baik, mungkin waktu sekolah merekalah walinya.
“Oke. Aku akan kerjakan PRku. Nanti, kalau aku butuh bantuan kalian urusan keluarga Amy, kumohon bantulah pejuang halal ini.”
Mereka bertatapan sekilas, lalu tersenyum sambil mengangguk-angguk. Kurapatkan rahang. Andri menepuk pundakku.