Membawa wanita ke rumah

1316 Words
Langit malam tampak sunyi saat mobil Dorman berhenti di depan rumah. Mesin dimatikan, namun ia tidak langsung turun. Di sampingnya, Selvi wanita LC yang tadi menemaninya tersenyum tipis, memainkan rambutnya dengan santai seolah ini hal biasa. “Jadi ini rumah Mas Dorman?” tanyanya ringan. Dorman mengangguk singkat."Iya." Wajahnya datar, tapi sorot matanya gelisah. Ia sendiri tidak benar-benar paham kenapa ia menuruti permintaan atasannya… atau mungkin tekanan yang tak bisa ia tolak. “Ayo masuk,” ucapnya pelan. Di dalam rumah, suasana begitu berbeda. Aroma minyak rambut bayi masih tercium. Di ruang tengah, beberapa kerabat baru saja menyelesaikan acara potong rambut bayi tradisi sederhana yang dilakukan penuh doa. "Ada apa ini?"Tanya Dorman dalam batinnya, "apa acara syukuran?"kembali bertanya. Nariah duduk di kursi, masih lemah, wajahnya pucat namun dihiasi senyum tipis. Di pangkuannya, bayi kecil mereka terlelap, rambutnya sudah dirapikan. “Alhamdulillah… semoga jadi anak yang sholeh…” ujar salah satu kerabat sebelum pamit. Para tetangga dan ustadz mulai berpamitan. Nariah mengangguk pelan, meski matanya sesekali melirik ke arah pintu. Ia menunggu. Menunggu Dorman. Saat di depan pintu pak Ustadz mesjid terdekat menegur Dorman. "Eeeh, pak Dorman baru pulang?Wah...sibuk banget ya, sampe enggak hadir saat acara potong rambut anaknya." "Deg."Jantung Dorman berdegup kencang. Dia tercekat tenggorokannya seolah kaku tak bisa berucap. Dia tak menyangka Nariah benar-benar mengadakan acara syukuran bayinya. "Saya...ada kerjaan pak, enggak bisa di tinggalkan. Terimakasih ya Pak Ustadz."Dorman meraih tangan Ustadz tersebut. "Sama-sama, saya pamit ya."Sang Ustadz akhirnya meninggalkan rumah Dorman. Selvi masih bersembunyi di balik dinding pembatas pagar rumah Dorman. "Ayo...masuk."Dorman mengibaskan tangannya. "Aman bang?"Tanya Selvi. "Heum." Namun saat pintu akhirnya terbuka… Senyum di wajah Nariah perlahan membeku."Ehh, Abang udah pulang?" Dorman masuk. Dan di belakangnya… seorang wanita asing. Selvi melangkah masuk dengan percaya diri, matanya menyapu ruangan, lalu berhenti pada Nariah yang masih duduk dengan bayi di gendongannya. “Bang…” suara Nariah lirih, hampir tak terdengar. Dadanya terasa sesak seketika.Matanya berkaca-kaca, senyum yang mengembang lama-lama memudar. Dorman terdiam di ambang pintu. Untuk pertama kalinya, ia melihat langsung apa yang sedang ia hadapi, istrinya yang baru melahirkan, tubuhnya masih lemah, bayi mereka yang kecil… dan dirinya yang datang membawa wanita lain. Kontras itu terlalu nyata. Selvi justru tersenyum tipis, sedikit memiringkan kepala. “Oh… istri Mas ya?” ucapnya santai, tanpa rasa bersalah. Dorman mengangguk pelan tanpa bicara. Ruangan mendadak hening. Nariah menatap Dorman, matanya mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergetar, tapi tak ada kata yang keluar. Tangannya justru semakin erat memeluk bayinya, seolah mencari kekuatan.Nariah masuk ke kamarnya menaruh bayinya di tempat tidur. “Ini… siapa, Bang…?” akhirnya ia bertanya, suaranya pecah. Dorman membuka mulut… tapi tak ada jawaban yang mampu keluar."Euhhh," "Kenalin, saya Selvi, saya ...LC di tempat karaoke. Kebetulan saya yang menemani bang Dorman di sana. Tiba-tiba dia ngajak saya ke rumahnya. Maaf ya, bang Dorman enggak ngomong kalau sudah punya istri." Nariah mengangguk, "Ooh gitu."Nariah menatap Dorman. "Silahkan duduk, saya siapkan minum dulu."Nariah berusaha tegar . Dia sadar, bahwa Dorman sangat kecewa padanya. Langkahnya gontai menuju dapur, matanya berkaca-kaca, dadanya terasa sesak. Saat di dapur tubuhnya luruh di lantai bersandar di pintu kulkas."Apa yang kamu harapkan Nariah, bang Dorman berhak melakukan apapun, kamu hanya wanita kotor. Enggak pantas mendapatkan cinta dari suamimu."Batin Nariah. Sambil terisak. Di sudut ruangan, sisa-sisa acara masih terlihat gunting kecil, helai rambut bayi, dan doa-doa yang baru saja dipanjatkan. Namun kebahagiaan itu runtuh dalam sekejap. "Bagaimana bisa Nariah mengadakan acara syukuran ini, aku enggak kasih uang buat dia,"ucap Dorman dengan suara pelan. Sementara Selvi duduk anggun di sofa. Sesekali mengibaskan rambutnya. Tangis bayi tiba-tiba pecah, seolah merasakan ketegangan di udara. Dan saat itu juga, air mata Nariah jatuh. Bukan hanya karena lelah… Tapi karena hatinya baru saja dihancurkan, tepat di rumahnya sendiri. "Silahkan diminum mba, Abang, makan malam sudah siap. Saya ke kamar dulu."Nariah menunduk dengan mata sembab. Melihat itu, Dorman mematung, dia membenci dirinya sendiri yang kini menjelma menjadi orang jahat. "Iya mba, makasih ya,"ujar Selvi. Nariah bergegas menuju kamar. Dan langsung duduk menggendong bayinya sambil menyusui. Airmatanya mengalir tak terasa."Nak...ibu akan kuat, harus kuat, demi kamu. Kamu tidak salah, maafin ibu ya nak,"bisik Nariah mencium pipi sang bayi. "Selvi, ini uang untuk kamu, dan naik taksi, terimakasih ya sudah nemenin aku."Dorman memberikan beberapa lembar uang 100 ribuan. "Iya bang, sama-sama, sering aja begini."Selvi mengelus rahang Dorman. "Jujur, aku berharap kita bisa berlanjut bang, awal kita ketemu, aku langsung suka sama abang."Selvi memeluk tangan Dorman. Namun Dorman menepis nya. "Ya sudah, nanti keburu tengah malam, kamu pulang ya." "Bye, nanti kita ketemu lagi ya."Selvi memberikan kiss bye. Dia nampak berbinar dan senang saat melihat Dorman. Saat Dorman masuk ke kamar Nariah. Nampak pemandangan menyayat hatinya. Nariah menangis sambil duduk menggendong bayinya. "Dia ..sudah tidur?"Tanya Dorman. "Iya."Singkat Nariah. Suaranya nampak serak dan matanya sembab. Sisa-sisa Nariah yang menangis nampak terlihat. "Kamu...marah?"Tanya Dorman.Suaranya pelan namun tegas. "Enggak bang, Aku sadar, aku hanya wanita yang kotor dan penuh dosa. Aku pantas menerima perlakuan apapun dari kamu."Nariah dengan suara terisak . Dia tak mau menatap Dorman. "Baguslah, kalau kamu enggak marah. Oh iya, darimana uang buat acara ini?"Dorman mengernyitkan keningnya. "Maaf bang, kalau Nariah enggak ngomong dulu, kebetulan Nariah punya tabungan saat kerja jadi TKI, jadi Nariah pakai untuk acara syukuran."Nariah menunduk dengan suara pelan. "Ooh, jadi kamu ...banyak duit rupanya, apalah saya , cuma pekerja lapangan."Dorman menatap sendu wajah Nariah. "Bukan begitu bang, Riah sudah bilang beberapa hari lalu, sama abang. Riah sadar kalau Delisa bukan anak abang, Riah enggak mau membebankan Abang."Nariah meremas tangannya. Ada rasa takut jika Dorman marah dan berbuat kasar padanya. "Jadi begitu, pikiran kamu sama Aku. Aku kejam dan pelit begitu. Sampai enggak perlu ikut campur dalam acara anak kamu, begitu!"Dorman mulai menegaskan suaranya. Nariah langsung menatap ke arah ranjang. Memastikan bayinya tidak terbangun. "Bbukan begitu bang, maaf ...Riah salah, seharusnya Riah izin sama abang."Nariah menunduk dan menangis terisak. "Kenapa kamu selalu minta maaf Nariah, kamu juga enggak marah, kamu ...sebenarnya anggap saya apa, monster, kamu takut sama saya."Dorman menggeleng pelan. Dia mengacak rambutnya. "Jika menyakiti hati Nariah membuat luka abang sembuh, Riah terima bang, Riah sadar, seandainya abang mau meninggalkan Riah juga terima. Abang berhak memiliki istri yang cantik, yang baik, dan juga tidak memiliki aib seperti Riah."Nariah duduk di tepi ranjang. Tubuhnya luruh. Dia tak punya tenaga saat ini. Dorman merasa tertampar atas ucapan Nariah. Dia merasa sudah keterlaluan, tidak hadir acara penting anak Nariah. Bahkan dia malah membawa wanita lain ke rumah mereka. "Cukup, kita tak perlu bahas lagi, tidurlah."Dorman pergi meninggalkan Nariah di kamar. Dia menuju kamar tamu. Nariah membaringkan tubuhnya di samping bayinya. Dia belum makan, dari sore. namun dia saat ini tak merasakan lapar sedikit pun. Dorman menatap makanan yang terhidang di meja. Perutnya sudah teriak , dia merasa bersalah pada Nariah."Dia...memasak semua ini, bagaimana bisa, siapa yang menjaga bayinya?"Dorman mengernyitkan keningnya. "Apa Aku sudah keterlaluan sama dia?" Dorman mulai mengambil piring dan mulai makan. Dia mencicipi sedikit demi sedikit makanan yang tersaji. "Enak."Dorman nampak lahap. Dia berusaha melupakan kejadian hari ini. Sementara orangtua Dorman mulai mendatangi rumah keluarga Nariah. "Assalamualaikum," "Waalaikumsalam, eh besan datang."Jawab ibu Nariah. "Langsung saja enggak usah basa basi." "Ada apa ya ?"Ibu Nariah kebingungan. "Kalian keluarga penipu, bagaimana bisa anakmu menikah sama anakku dalam kondisi hamil?"Ibu Dorman berapi-api dengan emosi yang meluap. "Hahhh, itu... saya...minta maaf, kami bingung harus bagaimana " "Seharusnya kalian ngomongin aja terus terang, jadi kami enggak seperti membeli kucing dalam karung, baru 1 bulan sudah melahirkan, ini sebuah pembohongan besar bagi keluarga kami."Ibu Dorman nampak meradang. Dia hampir saja menjambak rambut ibu Nariah. "Bu, sudah ...jangan begini, semua sudah nasib anak kita."Pak Hasim menenangkan istrinya. "Nasib, seandainya saja mereka jujur, tentu nasib buruk takkan terjadi pada anak kita yah, mereka sudah merusak hidup anak kita. Kita sudah tertipu sama mereka."Dengan suara kencang Ibu Dorman memecah sunyi malam itu. Para tetangga beratangan. Bisik-bisik terdengar. Keluarga Nariah hanya bisa tertunduk malu. Mereka tak bisa lagi berkelit atau menyanggah kabar itu. Rahasia yang selama ini di tutupi harus dibuka .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD