Merasa Bersalah

1265 Words
Tanpa berkata apa pun lagi, Dorman berbalik dan masuk ke dalam rumah. Langkahnya cepat… penuh emosi yang belum reda. Sementara Nariah tetap berdiri sesaat di depan pintu, menahan napasnya yang terasa berat. Lalu ia melangkah masuk perlahan. Tidak ada tenaga untuk menjelaskan. Tidak ada kekuatan untuk berdebat. Yang ia inginkan hanya satu… Istirahat. Ia langsung menuju kamar, menidurkan bayinya dengan hati-hati di atas ranjang. Jemarinya mengusap lembut kepala kecil itu, memastikan sang buah hati benar-benar nyaman. Setelah itu, tanpa banyak berpikir, Nariah mengambil pakaian dan masuk ke kamar mandi. Air mengalir… Membasahi tubuhnya. Namun yang tak bisa hilang adalah rasa takut dan kejadian yang terus terulang di kepalanya. Tangannya sempat bergetar. Matanya terpejam lama di bawah guyuran air. Seolah ingin menghapus semuanya. Namun yang tersisa… Hanya lelah. Sangat lelah. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan pakaian sederhana. Wajahnya pucat, tanpa riasan, rambutnya dibiarkan terurai begitu saja. Ia tidak mencari Dorman. Tidak juga mencoba bicara. Langkahnya langsung menuju ranjang. Berbaring di samping bayinya. Memeluknya erat. Dan tanpa sadar… Air matanya jatuh lagi, perlahan. Hingga akhirnya, kelelahan itu menang. Nariah tertidur. Sementara di luar kamar… Dorman duduk di ruang tengah. Matanya kosong menatap televisi yang sebenarnya tidak ia tonton. Pikirannya kacau. Bayangan Nariah diantar laki-laki lain terus terlintas di kepalanya. Rasa cemburu masih membara. Namun di sisi lain… Ada sesuatu yang mengganjal. Ekspresi Nariah tadi. Tangisnya. Kalimat yang sempat terputus, “Mas… aku hampir…” Dorman mengusap wajahnya kasar. “Dia sebenarnya kenapa sih…” gumamnya pelan. Rasa penasaran itu semakin besar. Namun egonya masih menahan langkahnya untuk masuk ke kamar. Ia hanya duduk di sana… Terjebak di antara rasa marah… Dan perasaan yang mulai berubah menjadi khawatir. Pagi itu, rumah terasa lebih tenang. Aroma masakan memenuhi dapur. Nariah sudah berdiri sejak subuh. Kini ia tampak rapi dengan riasan tipis, wajahnya terlihat lebih segar… meski ada lelah yang tidak sepenuhnya hilang dari sorot matanya. Di meja makan, sarapan sudah tersaji. Seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Dorman keluar dari kamar dengan langkah pelan. Matanya langsung tertuju pada sosok Nariah di dapur. Ia diam sejenak. Memperhatikan. Ada sesuatu yang berbeda… Tapi ia tidak tahu apa. Dorman menarik kursi, duduk tanpa suara. Namun kali ini, ia tidak langsung makan. Tatapannya tertuju pada Nariah. “Aku mau tanya,” ucapnya akhirnya, suaranya datar namun serius. Nariah yang sedang menuang air hanya berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan. “Siapa yang nganter kamu semalam?” lanjut Dorman. Hening. Beberapa detik terasa panjang. “Itu… Rendi. Tetangga kampung,” jawab Nariah singkat tanpa menoleh. Dorman mengangguk kecil. Namun belum selesai. “Terus… kamu ke mana sampai malam?” tanyanya lagi, kali ini lebih dalam. Nariah terdiam. Tangannya berhenti. Sendok yang ia pegang tak lagi bergerak. Ia menarik napas pelan. Lalu berbalik, menatap Dorman. Matanya tenang. Terlalu tenang. “Aku ke mall,” jawabnya sederhana. Dorman mengernyit. “Ngapain?” “Beli keperluan bayi… sama pakaian,” jawab Nariah. Nada suaranya datar. Tidak dingin. Tidak juga hangat. Hanya… biasa. Dorman memperhatikan wajah Nariah lebih lama. Seolah mencari sesuatu. “Terus kenapa bisa sampai malam?” tanyanya lagi, mulai kehilangan kesabaran. Kali ini… Nariah terdiam cukup lama. Matanya menatap Dorman. Ada sesuatu di sana. Sakit yang tertahan. Namun ia tidak langsung menjawab. “Macet…” ucapnya pelan akhirnya. Satu kata. Singkat. Tapi jelas itu bukan seluruh cerita. Dorman tahu itu. “Cuma macet?” nadanya mulai menekan. Nariah menunduk sebentar. Lalu kembali menatapnya. “Mas mau dengar yang panjang… atau cukup itu saja?” tanyanya pelan. Pertanyaan itu membuat Dorman terdiam. Untuk pertama kalinya, Ia merasa ada jarak. Bukan jarak fisik diantara mereka.Dorman menatap Nariah lama, tatapan yang lebih dalam. Nariah tidak marah. Tidak membentak. Namun sikapnya seolah sedang menjaga dirinya sendiri. Dan Dorman mulai sadar. Ada sesuatu yang terjadi semalam. Yang belum ia pahami sepenuhnya. "Siapa laki-laki itu, kelihatannya Nariah kenal dan akrab."Dalam batinnya. Dorman sempat terdiam. Pertanyaan Nariah menggantung di udara. Beberapa detik terasa berat… hingga akhirnya ia menghela napas pelan. “Yang panjang…” jawabnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Nariah menatapnya sejenak. Lalu ia menarik kursi dan duduk di hadapan Dorman. Tangannya saling menggenggam. Berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Aku ke mall… beli baju buat bayi. Sama…” ia berhenti sejenak, “buat Mas juga.” Dorman langsung mengangkat wajahnya. Namun Nariah melanjutkan sebelum ia sempat bereaksi. “Pulangnya aku naik taksi online… awalnya macet. Terus aku ketiduran… sama bayi.” Suasana mulai berubah. Dorman yang tadinya bersandar, kini tubuhnya condong ke depan. Mendengarkan lebih serius. “Pas aku bangun…” suara Nariah mulai bergetar, “mobilnya udah di jalan sepi.” Dorman langsung menegang. Rahangnya mengeras. “Dia berhenti… lalu..” Nariah menunduk. "Lalu apa?"Dorman mengernyitkan keningnya. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Dia mau nyentuh aku, Bang.” Kalimat itu membuat dunia Dorman seolah berhenti. Sunyi,hening. Matanya membesar. “Aku… aku takut banget Bang, akhirnya aku semprot dia pakai spray cabai… terus aku lari… bawa bayi…” Suaranya semakin pelan. Tubuhnya sedikit gemetar saat mengingat kembali kejadian itu. “Aku jalan… sampai nemu tempat ramai, terus ke halte… nunggu bus… sampai akhirnya ketemu Rendi…” Air matanya terus jatuh. “Kalau aku telat bangun sedikit aja… aku nggak tahu apa yang bakal terjadi…” Dorman tidak bergerak dan tidak bicara. Namun matanya… berubah. Bukan lagi marah. Bukan lagi cemburu. Tapi penuh keterkejutan… dan rasa bersalah yang menghantam begitu keras. Ia mengingat semuanya.Bagaimana ia menuduh. Napasnya terasa berat. “Kenapa… kamu nggak bilang dari semalam…” suaranya lirih, nyaris tidak terdengar. Nariah tersenyum tipis. Pahit. “Mas semalam lagi marah,” jawabnya pelan. Satu kalimat. Namun cukup untuk membuat d**a Dorman terasa sesak. Ia kehilangan kata-kata. Untuk pertama kalinya. Ia merasa benar-benar bersalah. Dan menyadari, Wanita yang selama ini ada di sampingnya.Telah berjuang lebih kuat dari yang ia bayangkan. Dorman masih menunduk. Dadanya terasa sesak. Cerita Nariah terus terngiang di kepalanya… membuat semua emosi semalam berubah menjadi satu hal yaitu penyesalan. Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Menatap Nariah yang masih berusaha menenangkan dirinya. “Nariah…” suaranya pelan. Nariah menoleh. Untuk pertama kalinya pagi itu… Dorman terlihat berbeda. “Maaf…” Satu kata itu keluar dengan berat. Namun sangat jujur. “Aku… salah. Aku nggak ngerti apa yang kamu lewatin semalam… tapi malah nuduh kamu,” lanjutnya, suaranya serak. Nariah terdiam. Menatap Dorman. “Aku seharusnya ada di sana…” tambahnya pelan, penuh penyesalan. Suasana hening sejenak. Lalu Dorman melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih tegas. “Mulai sekarang… kamu jangan pergi sendiri lagi.” Nariah sedikit mengernyit. “Tapi Bang..” Namun Dorman menggeleng. “Aku yang akan antar. Ke mana pun kamu pergi,” ucapnya. Tatapannya lurus. Penuh kesungguhan. “Aku nggak mau kejadian kayak gitu terulang lagi.” Nariah menatapnya lebih lama. Ada kehangatan yang mulai terasa… Namun juga sedikit keraguan. “Mas nggak harus sampai—” “Aku harus,” potong Dorman. Nada suaranya tidak keras. Tapi pasti. “Karena kamu istri aku… dan itu tanggung jawab aku.” Kalimat itu sederhana. Namun kali ini… terdengar berbeda. Bukan sekadar kewajiban. Tapi ada rasa memiliki… dan ingin menjaga. Nariah menunduk pelan. Hatinya yang sempat retak… perlahan mulai menghangat. Meski belum sepenuhnya pulih. “Terima kasih…” ucapnya lirih. Dorman menghela napas, lalu berdiri dan mendekat. Ragu sejenak… Namun akhirnya ia mengulurkan tangan, menyentuh lembut bahu Nariah. “Dan… lain kali,” ucapnya pelan, “cerita ke aku, ya…” Nariah mengangguk kecil. Kali ini tanpa kata. Namun cukup untuk membuat Dorman merasa, Ia masih punya kesempatan. Untuk memperbaiki semuanya. "Alhamdulillah, bang Dorman enggak marah sama aku,"ucap Nariah dalam batinnya. Saat mereka keluar pintu rumah, terdengar bisik-bisik tetangga tentang kejadian semalam. Dorman nampak mengepalkan tangannya. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD