Saat pertama kali melihat Nariah, Dorman langsung terpikat. Wanita itu berdiri dengan anggun di hadapannya, mengenakan gamis longgar berwarna pastel yang membuatnya tampak semakin lembut dan menawan. Kulitnya kuning langsat, bersih, dan bercahaya dalam pencahayaan ruangan yang hangat.
Wajahnya manis dengan mata yang teduh, seolah menyimpan ketulusan dan kelembutan di dalamnya. Tubuhnya langsing, mungil, namun terlihat berwibawa dalam kesederhanaannya. Dorman nyaris lupa bernapas saat pandangan mereka bertemu sekilas.
Nariah menunduk malu, jemari tangannya saling meremas di pangkuan, menunjukkan rasa gugupnya. Sikapnya yang santun dan sopan semakin menambah pesonanya di mata Dorman.
"Subhanallah… cantik sekali," gumam Dorman dalam hati.
Ibunya yang duduk di sampingnya menyenggol lengannya pelan. "Nak, bagaimana menurutmu?" tanyanya dengan penuh harap.
Dorman menoleh ke arah ibunya, lalu kembali menatap Nariah yang tetap menunduk malu. Tanpa ragu, ia mengangguk mantap. "Aku setuju, Bu."
Wajah ibunya berseri-seri, sementara keluarga Nariah tampak lega dan bahagia.
Di dalam hati Dorman, ada perasaan hangat yang mulai tumbuh. Ia datang ke kampung ini tanpa harapan apa pun, tapi sekarang, ia merasa telah menemukan sesuatu yang selama ini ia cari—seorang pendamping yang bisa melengkapi hidupnya.
Setelah keluarga memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbicara berdua, Dorman dan Nariah duduk di beranda rumah dengan ditemani cahaya temaram dari lampu gantung. Suasana sedikit canggung di antara mereka, terutama bagi Nariah yang masih menunduk, memainkan ujung gamisnya dengan gugup.
Dorman, yang sudah dewasa dan lebih berpengalaman dalam berbicara, tentu memahami bagaimana mencairkan suasana. Ia tersenyum lembut, berdeham pelan sebelum membuka percakapan.
"Jadi, Nariah... bagaimana perasaanmu tentang ini?" tanyanya dengan suara tenang.
Nariah mengangkat sedikit wajahnya, matanya yang teduh menatap sekilas sebelum kembali menunduk. "Saya… saya sebenarnya kaget. Tapi, saya percaya dengan pilihan orang tua," jawabnya lirih.
Dorman mengangguk, mengerti bahwa bagi seorang wanita seperti Nariah, perjodohan ini tentu bukan hal yang mudah.
"Aku juga awalnya terkejut," katanya jujur. "Tapi saat pertama kali melihatmu, aku merasa… mungkin ini sudah jalannya. Kamu wanita yang baik, dan aku merasa kita bisa saling mengenal lebih dalam."
Pipi Nariah merona, jelas malu dengan kata-kata Dorman. Namun, ia tetap berusaha membalas dengan suara pelan, "Saya juga berharap begitu… selama ini saya fokus bekerja di luar negeri, dan sekarang saya ingin membangun rumah tangga yang baik."
Dorman tersenyum, semakin yakin dengan keputusannya. Ia bisa merasakan ketulusan dalam ucapan Nariah.
"InsyaAllah, kalau kita sama-sama berniat baik, Allah akan memudahkan segalanya," katanya mantap.
Percakapan mereka berlanjut, dan perlahan suasana menjadi lebih nyaman. Meskipun masih ada rasa malu-malu, Nariah mulai lebih terbuka, dan Dorman semakin tertarik pada kelembutan serta kesederhanaan wanita itu.
Di dalam hati, Dorman semakin yakin, perjodohan ini bukanlah kebetulan, melainkan jalan yang telah digariskan untuknya.
Setelah keluarga menyepakati tanggal pernikahan, Dorman segera kembali ke kota untuk mengurus pekerjaannya. Setibanya di kantor, ia langsung menemui supervisor untuk mengajukan cuti menikah.
Di ruang kerja sang supervisor, Dorman menyerahkan surat cuti yang telah ia tulis dengan rapi. Supervisor, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun, mengangkat alisnya sambil membaca surat itu.
"Cuti menikah, ya? Wah, akhirnya kau mau menikah juga, Dorman!" katanya dengan nada bercanda.
Dorman tersenyum. "Iya, Pak. Keluarga di kampung sudah menjodohkan saya, dan saya rasa ini saat yang tepat."
Supervisor mengangguk, lalu meletakkan surat itu di mejanya. "Bagus kalau begitu. Kau sudah lama bekerja di sini dengan baik, jadi aku akan menyetujui cutimu. Berapa lama kau butuh?"
"Saya minta cuti dua minggu, Pak. Setelah menikah, saya ingin sedikit menghabiskan waktu bersama istri di kampung sebelum kembali bekerja."
Supervisor tersenyum sambil menandatangani surat itu. "Dua minggu? Baiklah, aku setujui. Tapi setelah kembali, jangan lama-lama beradaptasi jadi pengantin baru, ya. Kami masih butuh operator andalan di sini!" katanya sambil tertawa.
Dorman ikut tertawa. "Siap, Pak! Terima kasih banyak."
Dengan hati lega, Dorman keluar dari ruang supervisor. Ia kini semakin yakin bahwa semua sudah berjalan sesuai rencana. Tinggal menghitung hari sampai ia benar-benar menjadi seorang suami…
Keluar dari kantor dengan surat cuti yang sudah disetujui, Dorman merasakan perasaan lega dan bahagia yang sulit diungkapkan. Setelah sekian tahun hidup sendiri sebagai duda, akhirnya ia akan kembali membangun rumah tangga.
Langkahnya terasa lebih ringan, senyum tak bisa lepas dari wajahnya. Ia teringat bagaimana dulu ia sempat berpikir untuk tetap sendiri, mengubur dalam-dalam keinginannya untuk menikah lagi. Tapi kini, semuanya berubah.
Nariah. Nama itu kini memenuhi pikirannya. Wanita sederhana dengan wajah manis dan sikap lembutnya telah membuat hatinya yang lama kosong kembali terisi.
Setibanya di rumah kontrakannya, Dorman duduk di kursi kayu di teras, menatap langit sore yang mulai jingga. Ia membayangkan kehidupan barunya nanti menjalani hari-hari bersama Nariah, memiliki seseorang yang menyambutnya ketika pulang bekerja, berbagi cerita, dan mungkin… membangun keluarga kecil yang harmonis.
Sebuah harapan baru tumbuh di hatinya. Ia tak tahu bagaimana perjalanan rumah tangganya nanti, tapi satu hal yang pasti, ia akan berusaha menjadi suami yang baik.
Sambil tersenyum, Dorman berbisik dalam hati, "Bismillah… semoga ini benar-benar awal yang baru."
Hari yang dinantikan pun tiba. Pernikahan Dorman dan Nariah dilangsungkan dengan sederhana, namun penuh khidmat. Di rumah orang tua Nariah, tamu-tamu dari keluarga dan tetangga sekitar mulai berdatangan, membawa doa dan harapan baik untuk pasangan yang akan memulai kehidupan baru.
Dorman duduk di depan penghulu dengan wajah tenang, meskipun hatinya berdebar. Ia mengenakan kemeja putih bersih dipadukan dengan sarung dan peci hitam. Sementara itu, di ruangan lain, Nariah tengah bersiap dengan riasan yang sederhana namun tetap memperlihatkan kecantikannya yang alami.
Saat akhirnya ia keluar, semua mata tertuju padanya. Nariah tampak begitu anggun dalam balutan kebaya putih dan hijab senada. Wajahnya yang manis terlihat bercahaya, meskipun ada sedikit rona gugup di pipinya. Dorman menatapnya sekilas, hatinya kembali bergetar. "Subhanallah… cantik sekali."
Akad nikah berlangsung dengan lancar. Dengan satu tarikan napas, Dorman mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan tegas. Semua yang hadir mengucapkan "sah!" diikuti doa-doa kebaikan untuk keduanya.
Saat Nariah menyalami tangan Dorman untuk pertama kalinya sebagai suami-istri, Dorman merasakan sesuatu yang berbeda. Ada kehangatan, ada ketenangan, dan ada harapan baru yang tumbuh di hatinya.
Hari itu, di bawah langit cerah, Dorman dan Nariah resmi menjadi pasangan suami istri. Sebuah awal yang sederhana, namun penuh makna.
Malam pertama di rumah Dorman seharusnya menjadi awal yang indah bagi mereka sebagai suami istri. Namun, saat Dorman mencoba mendekati Nariah dengan lembut, wanita itu tampak gelisah dan menjauh perlahan.
"Maaf, Bang… perutku sakit," ucap Nariah dengan suara pelan, tangannya memegangi perutnya seolah menahan rasa nyeri.
Dorman mengerutkan kening, rasa khawatir langsung menyelimuti hatinya. Ia bukan tipe laki-laki yang memaksa, apalagi jika istrinya benar-benar merasa tidak enak badan.
"Sakit apa, Nariah? Dari tadi sudah terasa?" tanyanya lembut.
Nariah mengangguk kecil. "Iya, tadi siang sebenarnya sudah terasa, tapi aku pikir hanya masuk angin atau kecapekan."
Dorman menghela napas, lalu segera bangkit. "Kita ke klinik aja kalau gitu, biar aku panggil ojek atau bawa motor sendiri."
Nariah buru-buru menggeleng. "Tidak usah, Bang. Aku cuma butuh istirahat, besok pasti membaik."
Dorman menatap istrinya sejenak, mencoba menelaah apakah benar ia hanya kelelahan. Akhirnya, ia mengalah. "Baiklah, kalau kamu butuh sesuatu, bilang sama Abang, ya?"
Nariah mengangguk pelan.
Malam itu, Dorman tidur di sisi ranjang dengan jarak yang cukup jauh dari istrinya. Meskipun ia ingin memberikan kehangatan sebagai suami, ia tak ingin memaksakan apa pun.
Namun, di dalam hati kecilnya, terselip rasa aneh sebuah firasat yang belum bisa ia pahami sepenuhnya.
Setelah beberapa hari di kampung, Dorman dan Nariah akhirnya berpamitan untuk kembali ke kota. Dorman harus kembali bekerja setelah cuti pernikahannya berakhir.
Di pagi yang cerah, mereka berpamitan kepada keluarga besar yang mengantar kepergian mereka dengan penuh haru. Ibunda Dorman menatap anak dan menantunya dengan mata berkaca-kaca.
"Jaga diri baik-baik di kota, Nak. Nariah, jadilah istri yang baik untuk Dorman," pesan ibunya sambil menggenggam tangan menantunya dengan erat.
Nariah tersenyum kecil dan mengangguk. "InsyaAllah, Bu."
Setelah mengucapkan salam, mereka pun berangkat. Dorman mengendarai motornya dengan Nariah duduk di belakang, memegang pinggang suaminya dengan ringan. Perjalanan menuju kota terasa cukup panjang, namun Dorman merasa tenang karena kini ia memiliki seorang istri yang menemaninya.
Setibanya di kontrakan, Dorman membantu Nariah membawa barang-barang ke dalam. Ia tersenyum melihat rumah kecilnya kini terasa lebih hidup dengan kehadiran seorang istri.
"Mulai sekarang, ini rumah kita berdua," katanya sambil menatap Nariah penuh harap.
Nariah tersenyum tipis, namun ada sesuatu di matanya yang sulit Dorman tafsirkan. Ia mengira istrinya hanya masih beradaptasi dengan kehidupan baru mereka.
Tanpa mereka sadari, kehidupan rumah tangga yang baru saja dimulai ini akan segera menghadapi kenyataan yang tak terduga…
Hari demi hari berlalu tanpa ada malam pertama bagi Dorman dan Nariah. Setiap kali Dorman mencoba mendekatinya, Nariah selalu mengeluh sakit perut. Dorman yang penyabar memilih untuk mengerti dan tidak memaksa. Ia berpikir, mungkin istrinya masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan kehidupan barunya.
Namun, suatu malam, suasana berubah drastis.
Saat Dorman tengah tertidur lelap, tiba-tiba ia terbangun oleh suara jeritan kesakitan. Ia langsung bangkit dan melihat Nariah meringkuk di tempat tidur sambil memegangi perutnya.
"Aduh, sakit… Bang, perutku sakit sekali!" Nariah merintih dengan wajah pucat.
Dorman panik. Ia segera duduk di samping istrinya, menggenggam tangannya dengan cemas.
"Sakit kenapa, Nariah? Sejak kapan?" tanyanya dengan nada khawatir.
Nariah hanya menggigit bibirnya, peluh membasahi dahinya. Napasnya tersengal-sengal, tubuhnya sedikit menggigil.
Dorman tak mau menunggu lebih lama. Dengan cepat, ia meraih ponselnya dan bersiap memesan transportasi ke rumah sakit.
Namun sebelum ia sempat bertindak lebih jauh, sesuatu yang tak terduga terjadi. Nariah tiba-tiba menegang dan mengerang lebih keras.