Merias Diri

1381 Words
Pagi masih sangat dini. Udara terasa dingin, dan suasana rumah begitu sunyi. Dari dalam kamar, terdengar lirih suara Nariah melantunkan doa setelah menunaikan sholat subuh. Di hadapannya, cermin kecil berdiri sederhana. Tak biasanya… pagi itu Nariah duduk lebih lama di depan cermin. Perlahan, ia merapikan hijabnya. Tangannya yang sempat gemetar kini bergerak lebih mantap. Ia mengambil sedikit bedak, meratakannya di wajah pucatnya. Lalu sedikit lip tint, cukup memberi warna pada bibir yang selama ini tampak kering. Tak berlebihan. Namun cukup… untuk menghidupkan kembali wajahnya. Seolah wanita yang kemarin hancur, perlahan mencoba bangkit. Matanya menatap bayangannya sendiri. Ada luka di sana… Tapi juga ada tekad. “Aku… nggak boleh terus begini…” bisiknya pelan. Di sisi ranjang, bayinya masih tertidur pulas. Nariah tersenyum tipis, lalu berdiri, merapikan pakaiannya. Ia memilih baju yang sederhana, namun bersih dan rapi—sesuatu yang sudah lama tak ia perhatikan sejak melahirkan. Tak lama, suara langkah kaki terdengar dari luar kamar. Dorman. Pria itu baru bangun, wajahnya masih terlihat lelah. Ia berjalan sambil mengusap tengkuknya, lalu tanpa sengaja menoleh ke arah Nariah. Dan langkahnya… terhenti. Untuk beberapa detik, Dorman hanya diam. Matanya menatap Nariah dari ujung kepala hingga kaki. Ada sesuatu yang berbeda. Wanita yang selama ini ia lihat dengan wajah lelah, pucat, dan tanpa semangat… kini berdiri di hadapannya dengan aura yang lain. Lebih hidup. Lebih… indah. “Nariah…?” gumamnya pelan, seolah tak percaya. Nariah menoleh. Tatapannya tenang, meski di dalam hatinya masih penuh luka. “Iya, Bang,” jawabnya lembut. Dorman terdiam. Ada getaran aneh di dadanya, perasaan yang sudah lama tak ia rasakan saat melihat istrinya sendiri. "Cantik."Itu satu kata yang terlintas di benaknya. Namun egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya. Ia berdeham kecil, mengalihkan pandangan. “Mau ke mana pagi-pagi begini?” tanyanya datar, mencoba kembali bersikap biasa. Nariah tersenyum tipis. "Enggak kemana-mana, Nariah cuma mau merapikan diri aja, biar suami enggak tertarik sama LC.” jawabnya pelan, namun penuh arti. Dorman mengernyit, tidak benar-benar mengerti… atau mungkin tidak mau mengerti. "Oh.: Nariah melangkah melewatinya dengan tenang. Aroma lembut dari tubuhnya sempat tertinggal, membuat Dorman tanpa sadar menoleh kembali. Untuk sesaat, ia memperhatikan punggung istrinya itu. Bahkan Selvi pun kalah cantik dari Nariah. Dan entah kenapa… Ada rasa takut yang tiba-tiba muncul di hatinya."Jangan-jangan....dia suka sama cowok lain?"Batin Dorman. Seolah… Wanita yang selama ini selalu menunggunya… perlahan mulai berubah. Dorman berangkat kerja seperti biasa. Setelah sarapan singkat, ia mengambil kunci motor dan melangkah keluar rumah tanpa banyak bicara. Nariah mencium tangan suaminya."Hati-hati ya Bang,"ujar Nariah. Suara mesin motor meraung memecah keheningan pagi. Namun berbeda dari hari-hari sebelumnya… pikirannya tidak benar-benar fokus pada jalan."Nariah..."Hanya Nariah yang ada di pikirannya. Angin pagi menerpa wajahnya, tapi bayangan itu terus muncul. Wajah Nariah. Bukan wajah lelah seperti biasanya… melainkan wajah pagi tadi—dengan riasan tipis, mata yang lebih hidup, dan senyum yang entah kenapa terasa berbeda. Dorman mengerjapkan mata, mencoba mengusir bayangan itu. “Kenapa gue jadi kepikiran…” gumamnya pelan. Tangannya semakin erat menggenggam setang motor..Selama ini… ia menganggap pernikahan itu hanya sebatas tanggung jawab. Bahkan meski sah sebagai suami-istri, ia belum pernah benar-benar menyentuh Nariah. Ada jarak yang ia ciptakan sendiri. Namun pagi ini… Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan. Nariah itu… cantik. Bahkan sangat cantik. Dan lebih dari itu…ia adalah istrinya. Motor melaju sedikit oleng saat pikirannya melayang lebih jauh. Bayangan Nariah berdiri di depan cermin… Nariah yang tersenyum lembut… hingga tanpa sadar, imajinasi Dorman mulai melampaui batas yang seharusnya. Ia langsung menggeleng keras. “Gila…” desisnya, mencoba menetralkan pikirannya. Perasaan itu terasa asing. Antara rasa penasaran… penyesalan… dan sesuatu yang lebih dalam, yang belum berani ia akui. Lampu merah membuatnya berhenti. Dorman menatap lurus ke depan, namun matanya kosong. Di benaknya hanya satu pertanyaan yang terus berputar. Kenapa baru sekarang… ia mulai melihat Nariah sebagai seorang wanita? Padahal selama ini… wanita itu selalu ada di sisinya. Suasana di tempat kerja pagi itu terasa sedikit berbeda. Dorman baru saja memarkir motornya, lalu berjalan masuk seperti biasa. Namun belum sempat ia benar-benar sampai ke mejanya, beberapa rekan kerjanya sudah saling bertukar pandang. Bisik-bisik mulai terdengar. “Itu dia…” “Iya, yang kemarin cuti…” “Lah, katanya istrinya baru melahirkan?” Dorman pura-pura tidak mendengar. Ia duduk, membuka tasnya, mencoba fokus pada pekerjaan. Namun suara itu justru semakin jelas. “Eh, bukannya dia baru ambil cuti dua bulan lalu ya?” “Iya… terus sekarang udah lahiran? Cepet amat…” Tawa kecil terdengar, diselingi nada curiga. Dorman menghela napas pelan. Rahangnya mengeras. Salah satu rekannya akhirnya mendekat, menepuk bahunya seolah santai. “Man, selamat ya… jadi bapak,” katanya sambil tersenyum tipis, tapi matanya penuh selidik. “Cuma… gue penasaran aja sih.” Dorman menoleh, menatap tajam. “Penasaran apa?” Rekan itu terkekeh kecil. “Istri lo kan baru nikah sama lo… belum lama juga. Tapi kok… udah lahiran?” ucapnya setengah berbisik, namun cukup keras untuk didengar yang lain. Beberapa orang langsung memperhatikan. Suasana mendadak terasa menekan. Dorman terdiam. Pertanyaan itu… bukan hal baru di kepalanya. Ia tahu. Ia sadar betul… bahwa waktu itu tidak masuk akal bagi orang lain. Karena memang… sejak awal, ia belum pernah benar-benar menyentuh Nariah. Tangannya mengepal di atas meja. “Urus aja hidup lo masing-masing,” jawabnya dingin. Namun bukannya berhenti, yang lain justru ikut menimpali. “Eh santai, kita cuma nanya…” “Iya, kali aja ada cerita seru…” “Atau…” salah satu dari mereka tersenyum miring, “anaknya bukan dari lo?” Kalimat itu… seperti tamparan keras. Dorman langsung berdiri. Kursinya bergeser kasar, menimbulkan suara nyaring. “Jaga omongan lo!” bentaknya, emosinya mulai meledak. Ruangan langsung hening. Semua mata tertuju padanya. Napas Dorman memburu. Dadanya naik turun, menahan amarah yang memuncak. Namun di balik kemarahannya… Ada sesuatu yang lebih dalam. Keraguan. Pertanyaan yang selama ini ia pendam sendiri… kini seolah diucapkan orang lain dengan terang-terangan. Dan itu… membuatnya semakin tidak tenang. Dorman mengepalkan tangan, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan pergi dari ruangan. Sementara di belakangnya, bisik-bisik itu kembali terdengar. Dan untuk pertama kalinya… Dorman mulai merasa, bahwa hidupnya tidak lagi bisa ia kendalikan semudah yang ia kira. Di depan rumah, deretan pedagang sayur keliling sudah ramai. Suara tawar-menawar bercampur dengan obrolan para ibu-ibu yang berkumpul seperti biasa. Nariah keluar rumah dengan langkah pelan. Di gendongannya, bayinya terlelap tenang. Dengan satu tangan, ia membawa dompet kecil. Sementara tangannya yang lain sesekali mengusap lembut punggung si kecil. Penampilannya berbeda dari biasanya. Lebih rapi… lebih segar… dan diam-diam menarik perhatian. Beberapa ibu-ibu yang sedang memilih sayur mulai melirik. “Itu Nariah, ya?” “Iya… yang baru melahirkan itu…” Bisikan mulai terdengar, pelan namun cukup jelas. Nariah tetap tersenyum pada penjual sayur. “Bu, bayamnya berapa?” tanyanya lembut. “Lima ribu, Neng,” jawab si penjual ramah. Namun di belakangnya, suara itu kembali muncul. “Cepet banget ya lahirannya…” “Iya… perasaan baru kemarin nikah…” “Hmm… ya namanya juga zaman sekarang…” Nada bicara mereka tidak keras, tapi cukup menusuk. Nariah terdiam sejenak. Tangannya yang sedang memilih sayur sedikit terhenti. Tatapannya menunduk… namun senyumnya tetap dipaksakan. “Sekalian wortel sama tomatnya ya, Bu,” ucapnya, berusaha terdengar biasa. Bayinya bergerak kecil, seperti merasakan kegelisahan ibunya. Nariah langsung mengayun pelan, menenangkan. Salah satu ibu mendekat, pura-pura ramah. “Anaknya lucu ya, Nariah…” katanya sambil tersenyum tipis. “Iya, Bu… makasih,” jawab Nariah pelan. “Tapi… umurnya berapa hari sekarang?” lanjutnya, nada suaranya seolah penasaran biasa… tapi penuh makna tersembunyi. Nariah menatap sebentar, lalu menjawab jujur. “Baru satu bulan 12 hari, Bu.” “Oh…” ibu itu mengangguk, lalu melirik temannya. Dia seperti memberi kode. “Sama kayak yang kita omongin tadi ya…” bisiknya, cukup keras untuk didengar. Tawa kecil terdengar. Hati Nariah seperti diremas, dia tahu para ibu-ibu itu sedang membicarakan dirinya. Namun ia tidak membalas. Ia hanya menarik napas pelan… lalu menyelesaikan belanjanya. “Ini, Bu uangnya,” katanya sambil menyerahkan uang pada penjual. Setelah itu, ia berbalik. Langkahnya tetap tenang. Kepalanya tegak. Meski di dalam… hatinya terasa perih. Setiap langkah menuju rumah terasa berat. Namun saat ia menatap bayinya yang kembali terlelap di pelukannya… Matanya berkaca-kaca. “Gak apa-apa ya, Nak…” bisiknya lirih. “Ibu kuat…” Dan meski dunia mulai memandangnya dengan penuh prasangka… Nariah tahu Ia tidak boleh runtuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD