Di rumah yang kini terasa lebih sunyi dari biasanya, Nariah duduk di tepi ranjang sambil menatap bayinya yang tertidur pulas.
Ponselnya masih ia genggam.
Pesan dari ibunya terus terbayang di pikirannya.
Keluarga Dorman datang… marah… bahkan mengancam.
Nariah menghela napas panjang.
Dadanya terasa sesak.
Ia tahu… ia harus pulang.
Harus ada di sana.
Untuk orang tuanya.
Namun…
Ada satu hal yang membuatnya ragu.
Dorman.
Tangannya meremas ponsel itu pelan.
“Harus bilang… tapi gimana…” gumamnya lirih.
Ia takut.
Takut Dorman salah paham lagi.
Takut pembicaraan mereka kembali berujung dingin.
Apalagi setelah pagi tadi…
Hubungan mereka baru saja mulai membaik.
Nariah menunduk.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku capek kalau harus jelasin semuanya sendirian…” bisiknya pelan.
Namun di sisi lain—
Ia tidak mungkin diam.
Ini tentang keluarganya.
Ia tidak bisa mengabaikannya.
Sementara itu, di tempat proyek—
Dorman berdiri sendirian di sudut area.
Meski tubuhnya di sana…
Pikirannya tidak.
Rendi sudah pergi.
Namun kata-katanya masih tertinggal.
Dan justru membuat hati Dorman semakin tidak tenang.
Ia mengusap wajahnya kasar.
Rasa kecewa itu masih ada.
“Kenapa dia nggak jujur semuanya ke gue…” gumamnya.
Meski Nariah sudah bercerita…
Tetap saja…
Ada bagian yang ia dengar dari orang lain.
Dan itu membuatnya merasa—
Dikesampingkan.
Tidak dipercaya.
Namun bersamaan dengan itu…
Rasa bersalah juga terus menghantui.
Karena jauh di dalam hati…
Ia tahu jawabannya.
Bukan karena Nariah tidak mau bercerita.
Tapi karena…
Ia sendiri belum cukup membuat Nariah merasa aman.
Dorman menghela napas berat.
Dua perasaan itu kembali bertabrakan.
Kecewa.
Dan menyesal.
Ia menatap ponselnya.
Nama Nariah ada di sana.
Ingin menghubungi.Namun gengsi itu,masih ada.Sama seperti tadi malam. Di dua tempat yang berbeda, Nariah dan Dorman sama-sama terdiam. Sama-sama memikirkan satu sama lain. Namun tidak ada yang melangkah lebih dulu. Terjebak dalam perasaan masing-masing. Yang perlahan.Bisa menjadi jarak.
Di kampung, suasana rumah keluarga Dorman jauh dari kata tenang.
Suara ibunya terdengar meninggi sejak tadi.
Wajahnya memerah, penuh amarah yang sudah sulit dibendung.
“Ini nggak bisa dibiarkan!” ucapnya keras.
Beberapa anggota keluarga hanya saling pandang, tak berani menyela.
“Mereka sudah menipu kita! Dari awal sudah tidak jujur!” lanjutnya dengan nada tinggi.
Ayah Dorman mencoba menenangkan.
“Sudahlah… kita bicarakan baik-baik—”
Namun ibunya langsung memotong.
“Baik-baik apa? Harga diri keluarga kita diinjak-injak!” tegasnya.
Tangannya mengepal di atas meja.
“Kalau Dorman tidak segera menyelesaikan ini… Ibu sendiri yang akan turun tangan!”
Tak lama, ia meraih ponselnya.
Dengan emosi yang masih membara, ia langsung menghubungi Dorman.
Di tempat proyek, ponsel Dorman bergetar.
Nama ibunya muncul di layar.
Dorman menghela napas pelan sebelum mengangkatnya.
“Assalamualaikum, Bu…”
Namun yang terdengar justru suara keras penuh emosi.
“Dorman! Kamu harus pulang sekarang juga!”
Dorman langsung menegang.
“Ada apa, Bu?”
“Ada apa? Kamu masih tanya ada apa?” suara ibunya meninggi.
“Mereka sudah menipu kita! Keluarga Nariah itu tidak jujur dari awal!”
Dorman terdiam.
Matanya sedikit meredup.
“Masalah ini harus diselesaikan! Jangan sampai keluarga kita dipermalukan!” lanjut ibunya.
Nada suaranya tegas, tak memberi ruang untuk bantahan.
“Kamu pulang aja ! Kita datang lagi ke rumah mereka kalau perlu! Ibu tidak terima!”
Dorman menggenggam ponselnya lebih erat.
Dadanya terasa semakin berat.
Masalah yang belum selesai di rumahnya sendiri…
Kini semakin membesar.
“Iya, Bu…” jawabnya akhirnya pelan.
Telepon pun terputus.
Dorman berdiri diam.
Menatap kosong ke depan.
Kini ia dihadapkan pada dua hal sekaligus.
Masalah dengan Nariah…
Dan tekanan dari keluarganya.
Ia mengusap wajahnya.
“Kenapa semuanya jadi kayak gini…” gumamnya lelah.
Di satu sisi…
Ia mulai memahami Nariah.
Namun di sisi lain…
Ia juga tidak bisa mengabaikan keluarganya.
Dan kini Ia harus memilih langkah.
Yang akan menentukan. Ke mana arah pernikahannya berjalan.
Pintu rumah terbuka agak keras.
Dorman masuk dengan langkah cepat, wajahnya tegang, rahangnya mengeras.
Aura dingin langsung terasa memenuhi ruangan. Nariah yang sedang menggendong bayinya menoleh.
“Abang … sudah pulang?” sapanya pelan.
Namun tidak ada jawaban.
Dorman hanya melewatinya begitu saja.
Diam.Dingin seolah sapaan itu tidak pernah ada.
Hati Nariah langsung terasa tidak enak.
Ia mengikuti langkah Dorman dengan pandangan bingung.
“Bang…?” panggilnya lagi, lebih pelan.
Dorman berhenti.
Namun tidak langsung menoleh.
Beberapa detik hening… sebelum akhirnya ia berbalik.
Tatapannya tajam. Penuh emosi yang sejak tadi ia tahan.
“Ada yang mau kamu ceritain lagi ke aku?” tanyanya dingin.
Nariah terdiam.
Jantungnya mulai berdegup tidak tenang.
“Maksudnya, Mas…?”
Dorman tertawa sinis.
Pendek.
Menusuk.
“Jangan pura-pura nggak ngerti.”
Langkahnya mendekat.
“Semuanya udah kamu ceritain?” lanjutnya dengan nada menekan.
Nariah menelan ludah.
“Aku sudah cerita semuanya…”
“Yakin?” potong Dorman cepat.
Nada suaranya mulai meninggi.
“Terus kenapa gue harus denger dari orang lain?” ucapnya tajam.
Nariah mengernyit.
“Orang lain…?”
“Rendi!” tegas Dorman.
Nama itu langsung membuat suasana semakin tegang.
Nariah terdiam.
“Apa lagi yang kamu sembunyiin dari aku?” tanya Dorman.
Suara beratnya menggema di ruangan.
“Apa hubungan kalian sebenarnya?” lanjutnya, kali ini lebih emosional.
Mata Nariah langsung berkaca-kaca.
“Bang… jangan bicara seperti itu…”
“Terus harus gimana?” bentak Dorman.
Untuk pertama kalinya—
Suaranya benar-benar meninggi.
“Lo pulang malam diantar dia! Dan dia tahu kondisi lo lebih dari gue!” lanjutnya penuh emosi.
Kalimat itu menusuk. Sangat dalam.
Nariah menggenggam bayinya lebih erat.
Air matanya jatuh.
“Karena Abang nggak ada di sana…” ucapnya pelan, namun jelas.
Dorman terdiam sejenak.
Namun emosinya belum reda.
“Itu bukan alasan buat nutupin semuanya dari gue!” balasnya keras.
Nariah menggeleng pelan.
“Aku nggak nutupin… aku cuma..” suaranya terhenti.
Ia menunduk.
Mencari kata.
“Aku cuma nggak kuat cerita semuanya sekaligus…” lanjutnya lirih.
Namun Dorman masih dipenuhi emosi.
“Dan Rendi?” tanyanya lagi tajam.
Nariah mengangkat wajahnya.
Menatap Dorman.
Kali ini dengan lebih tegas meski air matanya masih mengalir.
“Dia cuma nolong aku.”Hening.
Namun Dorman masih menatapnya dengan penuh konflik.
“Abang tahu aku hampir apa semalam…” suara Nariah bergetar.
“Tapi yang Abang pikirin malah itu?”
Pertanyaan itu membuat suasana berubah.
Sunyi. Namun luka di hati keduanya.
Sudah terlanjur terbuka. Dan kini, mereka berdiri saling berhadapan.
Bukan sebagai dua orang yang saling menguatkan.
Tapi dua hati yang sama-sama terluka.
Dan belum menemukan cara untuk saling memahami.
"Cukup.Aku enggak mau lagi dengar semua kebohonganmu Nariah. Dari awal kamu memang sudah membohongiku."
Suasana masih dipenuhi isak tangis Nariah.
Namun kali ini…
Dorman menarik napas panjang.
Seolah ada sesuatu yang akhirnya harus ia keluarkan.
“Nariah…” suaranya lebih rendah.
Tidak lagi membentak.
Tapi berat.
Nariah tidak langsung menatapnya.
Air matanya masih jatuh.
“Aku tadi ditelepon Ibu…” lanjut Dorman.
Kalimat itu membuat Nariah perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya merah.
“Ibu sama keluarga lagi di rumah orang tua kamu,” ucapnya pelan.
Nariah langsung menegang.
“Masalah kita… mereka tahu,” lanjut Dorman.
Dadanya terasa semakin sesak.
“Dan mereka ngerasa… keluarga kamu sudah bohong.”
Air mata Nariah kembali mengalir.
Ia langsung menunduk.
Merasa bersalah. Merasa tertekan.
Dorman mengusap wajahnya kasar.
Frustasi.
“Aku disuruh pulang ke kampung…” ucapnya lagi.
Suasana menjadi semakin berat.
“Disuruh nyelesain semuanya.”
Hening.
Beberapa detik terasa seperti berhenti.
Lalu Dorman menatap Nariah.
Tatapannya kali ini berbeda.
Bukan marah. Tapi penuh tekanan.Dan kelelahan.
“Kalau memang ini semua dari awal salah…” suaranya pelan, namun jelas.
Nariah menatapnya dengan perasaan tidak enak.
“Aku… bisa aja milih buat selesaikan semuanya sekalian.”
Kalimat itu menggantung.
Namun maknanya jelas.
Berpisah.Seolah dunia Nariah runtuh seketika. Matanya membesar.
Tubuhnya membeku. “Bang…” suaranya hampir tidak terdengar.
Air matanya jatuh semakin deras.
Ia tidak menyangka…
Bahwa kata itu akan keluar.
Dari Dorman.
“Aku capek, Nariah…” lanjut Dorman lirih.
“Masalah datang terus… dari kamu… dari keluarga kamu… sekarang dari keluarga aku juga.”
Kalimat itu menusuk.Tanpa sadar.
Tanpa ia sadari, Ia kembali melukai.
Nariah menunduk dalam.
Menahan tangis yang semakin pecah.
Hatinya terasa hancur."Maaf bang, Aku yang salah dari awal. Sepertinya...Saat ini, penjelasan apapun enggak akan ada gunanya buat kamu mas. Aku tetaplah seorang pembohong di mata kamu."Nariah terisak, dadanya sesak menahan tangis.
Bukan hanya karena masalah yang datang bertubi-tubi.Tapi karena orang yang seharusnya menjadi tempatnya pulang…
Kini justru berbicara tentang perpisahan.
Dan di titik itu.
Bukan hanya hubungan mereka yang diuji.
Tapi juga seberapa kuat mereka bertahan.
Atau memilih menyerah.
"Aku ikhlas bang, kalau abang mau menceraikan Aku."
"Deg."
Bersambung...