Kedatangan Mantan Ibu Mertua

1170 Words
"Mama, Tasya mau sama mama juga papa," gadis kecil itu merengek dan berusaha mengangkat kepalanya dan menoleh pada mama juga papanya. "Tasya anak pinter, pulang ya, kasihan si mbaknya thu," Cahaya menciumi kepala bagian belakang Anatasya, "Tasya mau sama papa," tangan kecil dan gemuk itu mencoba meraih bahu kokoh Dirga, namun dengan cepat Cahaya menekuknya dan menyembunyikan tangan itu di ketiak pengasuhnya. "Nyonya, Tuan, kami pulang dulu," pamit sang pengasuh, yang di angguki oleh keduanya, "mbak tunggu," Cahaya memanggil mbak Sri kemudian mendekat dan menyerahkan tas plastik hitam yang berisi sop yang dia olah tadi dari dalam tas slempangnya, mata Dirga memincing menatap heran pada mantan istrinya. Dirga tercengang saat dari kejauhan netranya melihat wajah Tasya, mata itu, wajah itu, sepertinya dia familiar. Tapi wajah siapa? Tiba tiba tempurung kepalanya di penuhi pertanyaan siapa gadis kecil itu, kenapa dia mirip seseorang yang pernah dia lihat. "Tuan," Dirga tersentak lalu menoleh pada Cahaya yang menatapnya sedikit lebih dekat, "kamu apa-apaan, sih!" hampir saja Dirga mendorong tubuh Cahaya karena terkejut. Cahaya menarik wajahnya lalu menunduk dan menahan tawa, sungguh menggemaskan mantan suaminya itu. Mirip dengan Tasya jika kaget, matanya yang bulat dengan alis yang tebal dan menukik serta bulu matanya yang panjang, sungguh itu membuat Cahaya betah berlama-lama memandang wajah Dirga. Dalam perjalanan pulang, Dirga dan Cahaya hanya diam seribu bahasa, mereka diam dengan pemikiran masing-masing. Sejenak Dirga menarik nafas kasar lalu menghembuskan perlahan, ingatannya masih seputar gadis kecil yang memiliki mata dan wajah familiar, dan sepertinya dia pernah melihat wajah itu. Tapi, di mana? Tanpa sadar, Dirga memukul kemudi dan menyikut pintu yang berada di sebelahnya, Cahaya yang kaget refleks menoleh, "Mas, kamu kenapa?" tanyanya yang kemudian merubah posisinya menjadi menghadap kearah Dirga. Saat tatapan mereka bertemu, Cahaya sadar lalu menunduk, "maaf, Tuan," katanya yang kemudian kembali ke posisi semula, membuang pandangan keluar adalah jalan terbaik bagi Cahaya saat ini. Tadi sebelum mendengar bunyi seperti orang terbentur, Cahaya memikirkan keadaan putrinya, dan dia sangat yakin pasti setelah bertemu dengan Dirga, gadis kecil itu akan selalu merengek. "Mama, kenapa Tasya ngga punya papa?" "Mama, kenapa papa Tasya ngga pulang pulang?" "Mama suruh papa pulang, Tasya pengen di gendong," dan masih banyak rengekan serta pertanyaan gadis kecil itu dan membuatnya bingung untuk menjawab. Dan karena itu kini ia berada di sini dan ingin membuktikan dia tidak bersalah dan tidak pernah selingkuh. Setelah meminta mbak Siti pulang kampung terlebih dahulu dan dia menggantikan sementara. Walau mbak Siti pulang kampung dan tidak bekerja, wanita itu akan tetap mendapat bayaran seperti biasa. Dirga berpikir dan sedikit senang hari ini karena bisa menggagalkan pertemuan mantan istrinya dengan kakak lelakinya yang ia duga selingkuh. "Tadi asisten mama telepon, katanya dia sudah sampai di rumah. Aku harap kau bisa bekerja dengan baik, dan rawat mamaku selama dia di sana," dengan dingin dan nada memerintah Dirga berbicara, sedang Cahaya hanya mengangguk tanpa memandang kearah Dirga yang sedang mencuri pandang kearah dirinya. "Dengar apa yang aku katakan!!" Dirga berteriak kesal, kesal karena merasa tidak di perhatian, Cahaya akhirnya menoleh, mengangguk dan menjawab, "iya dengar, Tuan," dengan nada biasa walau hatinya kesal, dan di indera pendengaran Dirga jawaban Cahaya seperti mengejek. "Baru satu hari sudah bosan menggantikan mbak Siti?" kata Dirga yang bermaksud menyindir. Tapi, Dirga kembali kesal karena sepertinya Cahaya berpura pura tidak mendengar ocehannya. "Oya, tadi anak kecil itu kamu kasih apa?" Dirga ingat tadi Cahaya menyerahkan plastik hitam yang entah isinya apa, Cahaya yang merasa di tanya menoleh sebentar lalu menatap kedepan. "Hanya cokelat, saya 'kan begitu, kalau sedang sedih atau menangis pasti makan cokelat agar hati saya baikan, begitu juga anak itu. Semoga setelah makan cokelat yang saya beri, sedih di hatinya berganti dengan kebahagiaan," hati Dirga mencelos mendengar ucapan wanita di sampingnya yang seakan mengingatkan masalalu mereka, sebenarnya Cahaya tidak suka makan cokelat. "Makanlah cokelat ini, kata orang, jika sedang sedih dan makan cokelat ini akan kembali bahagia, karena ada kandungan bahan yang membuat yang memakannya merasa senang dan kembali bahagia," kata Dirga dulu saat pertama kali bertemu dengan Cahaya yang sedang menangis, bukannya tertawa Cahaya semakin memangis mendengar selorohan lelaki yang baru ia kenal itu. Berniat menghibur memang, tapi, dia menghindari cokelat karena berat badannya yang dulu terus meningkat dan membuat mantan pacarnya dulu mengejeknya dan akhirnya Cahaya diet, karena kebablasan akhirnya kini dia kurus dan pacarnya semakin mengejek, "apa kau tidak bisa mempunyai tubuh seksi? Perempuan kok punya badan selain gemuk trus kurus? Sudahlah, malas aku berpacaran dengan cewek kurus kaya kamu," gerutu dan protes mantan pacar Cahaya dulu yang membuat ia menangis dan malah mempertemukan dirinya dan Dirga. Karena sering bertemu dan ada ketertarikan akhirnya muncullah rasa pada keduanya yang pada akhirnya Dirga menyatakan perasaannya dan di sambut oleh Cahaya. Setelah berpacaran selama setahun, mereka memutuskan menikah. Perbedaan status keluarga membuat mama dari Dirga tidak menyukai dan tidak menyetujui pernikahan itu, dan mama Dirga malah sering menjodohkan Dirga dan Tiara, anak dari rekan bisnis suaminya. Hingga suatu hari puncaknya mama Dirga datang dan menyuruhnya menanda tangani surat gugatan cerai, saat itu Cahaya yang sedang hamil muda menolak dengan dalih mencintai Dirga dan anaknya membutuhkan ayahnya. Karena penolakan itu, ibu mertua Cahaya selalu menindas dan berkata yang sering menyakiti hati Cahaya, "dasar perempuan miskin, bisanya menegadahkan tangan saja pada suami, bisanya memeras uang kerja suami, apa kamu tidak kasihan pada anakku? Andai Dirga menikah dengan Tiara yang sederajat, pasti hidupnya akan selalu bergelimang harta dan bahagia. Dan kenapa kau dan anak yang berada di perutmu itu tidak mati saja, biar Dirga bisa menikah dengan Tiara," saat itu Cahaya yang penakut dan penurut hanya bisa diam dan menangis dalam diam, tidak berani menceritakan semua pada lelaki yang berstatus suaminya. Walau Cahaya tahu Dirga akan membela dirinya, hingga akhirnya ia meminta izin pada Dirga untuk bekerja. "Uang yang aku berikan kurang sehingga kamu pengen kerja?" tanya Dirga kala itu saat mendapati dirinya tengah meminta izin, dengan alasan bosan di rumah dan ingin melihat dunia akhirnya Dirga mengizinkan. Dan dunianya mulai hancur saat mantan kakak iparnya mencoba menggodanya, hingga menyatakan perasaannya dan berakhir pada penjebakan dan perpisahan yang saat itu di mana Dirga mengucapkan kata talak dan tidak mau mendengarkan penjelasannya. Dan setelah surat cerai itu turun, Cahaya memilih menghilang. Lalu membesarkan dan merawat janin yang kian hari tumbuh tanpa ayahnya ketahui. Mengingat itu hati Cahaya menjadi sedih kembali, "turun!!" Cahaya tersentak kaget karena Dirga berkata seperti sedang berteriak, Cahaya menatap sekitar dan ternyata mereka sudah sampai. Saat Cahaya keluar dari mobil, pemandangan pertama kali yang ia lihat adalah wanita paruh baya sedang duduk di atas kursi roda, dan di sampingnya berdiri seorang perempuan seumuran dengan dirinya sedang memegangi kursi roda itu. Dirga keluar dari mobilnya setelah mematikan mesin mobil itu, membuka pintu, berlari sambil merogoh kunci cadangan yang selalu ia bawa dan segera membuka pintu rumah, sedang Cahaya memilih menurunkan semua belanjaan yang tadi ia dan Dirga beli. saat menunduk dan mengambil barang-barang itu, ekor mata Cahaya tidak sengaja menangkap mantan mertuanya sedang menatap dirinya. "Mas, kok dia ada di sini, sih?" tanya Tiara berbisik sambil menunjuk Cahaya yang sudah berjalan masuk, kedua tangannya menenteng kantong plastik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD