Anggara

1005 Words
Setibanya Aralin di depan unit apartemennya, dia bergegas membuka kunci pintu apartemennya. Rasa lelah dan lengket pada tubuhnya membuatnya tak sabar untuk membersihkan diri. Jarak antara apartemen dan mall bagi Aralin, tidak terlalu jauh memang. Tapi tidak bisa dikatakan dekat juga. Untuk berhemat dia memilih berjalan kaki. Mungkin kedepannya dia akan membeli sepeda saja agar tidak terlalu melelahkan. Atau kalau tabungannya masih ada dia akan mempertimbangkan untuk membeli sebuah motor bekas agar memudahkan dirinya ke mana-mana. Apalagi jika nanti dia sudah mendapatkan pekerjaan yang mengharuskan dirinya untuk tiba tepat waktu. Dengan adanya kendaraan, dia bisa lebih berhemat.  Aralin memasuki apartemennya dan melangkah menuju dapur setelah mengunci pintu kembali. Apartemen kecil tempatnya ini sangat ... sangat terasa luas karena tidak ada banyak barang yang memenuhinya. Kebanyakan barang-barang yang mengisi adalah peninggalan orang tuanya yang ada di rumah lamanya. Satu set sofa yang masih layak pakai, satu set meja makan, dua lemari pakaian, dua ranjang berukuran sedang yang dia tempatkan di dua kamar berbeda, sebuah kulkas, dan magic com. Juga beberapa set peralatan makan dan memasak. Sedangkan sisanya dia jual bersama rumah dan tanahnya. Yah, tidak terlalu mengenaskan. Dia masih punya tempat berteduh dan masih bisa makan dengan layak. Banyak kan, orang di luaran sana yang tidak punya tempat berteduh. Jadi memang sudah seharusnya Aralin bersyukur. Setelah menata bahan-bahan makanan di lemari kecil yang berada di dapur dan sayuran di kulkas, Aralin bergegas memilah-milah sayuran. Rencana untuk makan malamnya. Berfikir sejenak, dia memutuskan membuat telur orak-arik dicampur wortel. Mudah dan cepat tanpa harus banyak proses. Dia terlatih di dapur sejak kecil, namun semenjak menikah dengan Taufik dia tidak pernah menyentuh dapur. Taufik memang tidak tahu jika Ara pintar memasak karena memang setiap hari ada pembantu yang memasakkan makanan untuk mereka. Mantan ibu mertuanya merasa sebagai seorang yang berasal dari keturunan berdarah biru pun menyediakan seorang pembantu untuk rumah anaknya itu. Jadi jangan salahkan Aralin jika Taufik tak tahu. Begitu juga selama mereka pacaran. Tak ada moment yang melibatkan dapur saat mereka bersama. Untuk membantu di dapur saat di rumah mantan mertuanya pun dia segan karena baru menginjakkan kaki di dapur, mantan mertuanya itu akan menegurnya dengan kalimat pedas yang tidak enak didengar. Ah ... sudahlah. Lagipula itu hanya masa lalu. Buat apa dia mengingat-ingat sesuatu yang menyedihkan saat dia bisa memiliki hal-hal yang menyenangkan. Tak ingin lagi berpikir bodoh, dengan cepat dia menumis bumbu, setelah harum bawang tercium dia memasukan telur dengan cekatan. Tak butuh waktu lama untuk mematangkan masakan itu. Setelah mencicipi masakannya dan yakin rasanya pas, Aralin segera mematikan kompor dan memeriksa nasi di dalam magic com. Setelah memastikan semua matang, Aralin beralih pada tubuhnya yang terasa lengket. Dia butuh mandi dengan segera. Diambilnya handuk yang dia jemur di balkon apartemen dan menuju kamar mandi. Lelah juga hari ini dia berkeliling mencari kerja. Semoga besok dia mendapatkan lowongan. *** "Aduh. Capek deh!" seru Cindy heboh seraya melemparkan tubuhnya pada sofa di ruang keluarga. "Beringsik banget sih!" protes Indra kakak laki-lakinya. "Tauk tuh. Dasar jomblo mah bisanya cuma ribut." Keponakan laki-lakinya juga ikut-ikutan protes. Cindy tak terima diserang dua makhluk menyebalkan itu, tangannya meraih boneka angry birds milik Malika dan memukul kepala kakak laki-lakinya serta keponakannya yang asik tanding main game. Bughhh! Bughhh! Bugh!! "Rasain ... rasaiiin!!! kayak kalian berdua nggak jomblo aja. Hah?" "Aduh. Tante ...." "Ciiiin!!" Teriakan-teriakan ketiga orang itu memenuhi ruangan. Sepasang suami istri paruh baya tergopoh-gopoh datang dari lantai dua. Setelah sampai di ruang keluarga itu, pasangan paruh baya tadi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Hal yang sering mereka berdua lakukan jika ketiga tersangka itu ada di rumahnya dalam waktu bersamaan. "Rasainnn!!" "Cindy, awas lo!!" "Yaaaah, game over!!" Ketiga nya masih sibuk dalam dunia mereka sendiri-sendiri, mengacuhkan pasangan paruh baya yang menonton mereka. Cindy masih memukuli keponakannya, sementara keponakannya itu berusaha meraih tali yang ada di laci meja kecil untuk mengikat tantenya. "Ekhmm." Barulah ketiga orang itu mengalihkan perhatian mereka saat mendengar deheman keras dari tuan rumah. Ketiganya memisahkan diri dan duduk seakan tidak ada yang terjadi. "Kalian ini, selalu aja ribut kalau kumpul." Wanita paruh baya itu mengambil duduk di sofa. Bersebelahan dengan adik iparnya. "Mbak sih ... kenapa punya anak dan adik ipar nyebelin," adu Cindy manja. "Kayak kamu nggak nyebelin aja." Kakak laki-lakinya yang bernama Indra menyahuti. Wanita bernama Anisa itu tersenyum lembut. "Kalau bisa milih sih, Mbak pinginnya punya anak yang kalem. Tapi dapetnya yang aktif gitu." "Itu bukan aktif, Mbak. Tapi bengal." Protes Cindy yang dibalas julukan lidah keponakannya. Cindy bersiap melempar bantal sofa ke arah keponakannya itu. "Udah ... udah. kalian ini kayak anjing sama kucing aja," sahut Rudi Anggara menengahi. Jika tidak, maka bisa dipastikan perdebatan dan pertikaian mereka tidak akan berhenti. Paling tidak ada salah satu dari mereka yang terkapar kelelahan barulah mereka berhenti. Kebiasaan mereka sejak dulu.  "Pa. Adiknya tuh dijaga. Punya adik tuh, jangan yang rese dong," protes sang putra membuat wajah Cindy karuh. Cindy melotot tak terima. Keponakannya yang satu ini memang biang masalah. Di sekolah mencari masalah dengan para guru, di rumah dia mencari masalah dengan Cindy jika Cindy sedang berkunjung. "Dasar nyebelin." "Bodo amat!" balas sang keponakan tak peduli. Setelah puas beradu mulut dengan keponakannya, Cindy beralih pada sang kakak tertua. "Bang, di perusahaan ada lowongan nggak?" tanya Cindy tiba-tiba saat teringat akan pesan Aralin siang tadi. Rudi mengernyit mendengar pertanyaan adik bungsunya. "Ya tanya bagian HRD dong. Memangnya kenapa? Kamu kan sudah kerja di perusahaan." Rudi penasaran. "Ih ... bukan. Teman kuliah Cindy ada yang butuh banget pekerjaan." Cindy menjelaskan. "Lulusan apa?" tanya Indra tanpa menoleh. Laki-laki itu kembali pada permainan gamenya bersama sang keponakan. "S1 psikologi. Pekerjaan apa yang cocok ya?" "Di sekolah kamu ada lowongan nggak, Ndra?" tanya Rudi pada adik laki-lakinya. Indra mencoba mengingat-ingat sekolahnya. "Guru baru? Emm kalau guru kayaknya cuma ada lowongan di bagian guru ekonomi. Orangnya cuti melahirkan dan mau aku carikan pengganti sementara dari SMA Bhineka." "Itu aja!" seru Cindy semangat. Indra sebal dengan tingkah berlebihan adiknya. Suka sekali memotong pembicaraan. Mungkin dia akan berpikir untuk menyewa penculik, untuk menculik adiknya selama satu bulan agar dia bisa berlibur dari omelan Cindy. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD