Mas Toha tampak terperanjat saat aku meminta hal tersebut padanya. Ia menatapku dengan raut wajah tak percaya.
"Dek, jangan bercanda. Ini Mas mau pergi. Pak Ridwan pasti sudah otewe," ujarnya menganggapku bercanda seraya melirik ke arlojinya yang ada di tangan. Padahal raut wajahku sangat serius, tidak ada senyam-senyum apalagi tertawa, malah dianggapnya lagi bercanda.
Aku menggeleng dengan muka datar. Tanganku masih terulur padanya.
"Aku minta ATM-ku, Mas. Memangnya nggak boleh?"
Mas Toha berdecak sambil menggaruk kepala yang kuyakini tidak gatal sama sekali. "Buat apa? Kamu nggak percaya sama, Mas?" Kepalaku refleks mengangguk, membuatnya tercengang. Bola matanya seakan ingin keluar saat mendengar jawabanku barusan.
"Mau cek dan ricek aja, Mas. Sekalian mau persiapan gaji karyawan kan?" Aku menjelaskan seperti itu meskipun bukan alasan sebenarnya.
"Ngapain sih repot-repot, Dek! Semua biar aku yang kerjakan, aku yang urus. Biasanya juga gitu. Kamu tinggal duduk manis di rumah sambil 'nyetok bikin bumbu rahasia dapur kita. Nggak usah capek-capek lagi pikirin restoran." Mas Toha masih keukeuh membuat alasan untuk menolak memberikan kartu ATM yang rekeningnya dibuka khusus untuk pemasukan dan pengeluaran restoran kami. Hal tersebut membuatku makin curiga. Kalau tidak ada apa-apa, kan tinggal kasih saja, kenapa harus banyak alasan? Hatiku berkata demikian.
"Sesekali mau lihat perkembangan restoran kita memangnya tidak boleh, Mas? Jangan bikin aku tambah curiga loh." Aku to the point. Mataku menelisik dalam seolah sedang mengintimidasinya.
"Astaga, Dek. Kamu keterlaluan! Kamu curiga sama Mas?" Tangan Mas Toha ke pinggang keduanya. Nada suaranya meninggi. Aku tahu dia marah.
"Sejak dua tahun belakangan ini Mas kerja keras mengembangkan restoran kita dan ini balasan kamu, Dek? Curiga?!" Gantian, Mas Toha yang tampak mengintimidasiku ingin mematahkan kecurigaanku padanya.
Aku diam, membiarkannya bicara.
"Nggak nyangka aku, Dek!" Sekarang ia menggeleng-gelengkan kepalanya menyesalkan tindakanku barusan.
Aku menghela napas sebentar sebelum bicara. "Santai Mas. Adek kan cuma nanya. Cuma mau tahu. Sesimpel itu kok. Bukan yang gimana-mana. Mas nggak perlu sampai narik urat segala buat menanggapinya. Ntar tekanan Mas naik lagi, loh." Aku mengubah nada bicaraku lebih lembut dan pelan untuk menurunkan emosinya. Kuusap juga dadanya berharap bisa meredakan amarahnya.
Tanganku disentaknya kasar. Badanku sampai terdorong ke belakang. "Nih, ambil! Mas bukan suami yang suka nilep uang istrinya. Kalaupun ada yang kepotong buat pribadi. Paling buat transfer Ibu dan uang kuliah Riyana!" Akhirnya kartu ATM itu diberikannya padaku. Namun dengan cara dilempar. Aku dengan menghela napas berat, memungut kartu berukuran kecil berbentuk persegi panjang tersebut di lantai, dekat kaki meja makan.
Apa aku sudah keterlaluan ya?
"Tunggu Mas!" Kembali kupanggil Mas Toha saat mendengar langkahnya ingin pergi. Untung saja aku tak larut dalam lamunan. Kalau tidak, Mas Toha keburu pergi. Dengan buru-buru aku mendekatinya yang terdiam dengan wajah masam, menatapku tajam.
"Apalagi?! Aku sudah ditunggu Pak Ridwan. Kalau sampai kerja sama catering kita ini gagal, itu bukan salahku, tapi kamu!" tudingnya sambil menunjuk ke wajahku. Belum pernah ia sekasar itu. Mas Toha selalu lembut saat bicara.
"Ponsel Mas satunya mana? Yang ada rekening Mbanking-nya khusus restoran kita?" Terpaksa dengan muka tebal kuminta hal tersebut padanya. Semua yang berurusan dengan restoran, Mas Toha yang menghandle-nya. Sedang aku hanya berurusan sama dapur. Baik bumbu dan kualitas makanan. Yang bagian manajemen, juga kuserahkan kepadanya.
Aku tahu dia pasti tambah geram dengan pertanyaanku barusan.
"Astaga, Dek! K–ka … mu …." Mas Toha sampai kehabisan kata-kata menanggapi ucapanku sebelumnya. Tangannya mengepal kuat seolah menahan amarah yang ingin meledak. Ia hanya meraup kasar wajahnya tanpa berkata lagi dan kemudian meraih sesuatu dari dalam saku tas punggungnya dengan kasar.
"Ini! Ada lagi yang diminta? Tidak sekalian saja ATM-ku, kartu kredit, sertifikat rumah dan toko?!" teriaknya dengan wajah memerah.
Aku menggeleng. Untuk kali ini cukup dimulai dengan ATM dulu. Kalau semuanya kuminta sekaligus di pagi ini, bakal memantik perang diantara kami. Aku penasaran dengan perkembangan usaha restoran kami. Setiap kutanya, katanya aman dan terkendali. Bahkan mengalami peningkatan pemasukan dan tambah banyak pelanggan yang datang membeli, dan aku selalu percaya.
Sejujurnya bisa saja kuiyakan apa yang barusan diteriakkannya di depan mata, tapi aku sadar kalau hal tersebut bakal memancing amarahnya makin besar. Pagi-pagi sudah disuguhi kemarahannya Mas Toha. Padahal pertanyaanku simpel, tapi seolah sulit dijawab Mas Toha. Dia menganggapku tidak mempercayainya. Andai tak ada chat pesan dari sang mantan, mungkin hal ini tidak akan terjadi dan aku tetap akan percaya padanya tanpa meragu.
Mas Toha pergi. Tanpa ucapan pamit dengan membawa kemarahan. Pintu rumah saja sampai ditutupnya dengan keras. Ia juga tak menengok lagi ke arahku. Aku hanya mampu mengurut d**a.
Setelah beberes rumah, aku duduk santai membuka ponsel Mas Toha. Bukan ponsel pribadinya karena tentu saja tak kan diberikannya dengan percuma. Melainkan ponsel kerja khusus urusan restoran. Mengecek apa saja pesan dan panggilan telepon di sana. Tidak ada yang mencurigakan. Namun anehnya tidak ada panggilan keluar atas nama Pak Ridwan. Bukankah pagi tadi Mas Toha izin sempat menelpon teman bisnisnya tersebut? Aku juga memeriksa akun rekening M-bankingnya dan jumlah yang tertera di sana tidak banyak mengalami kenaikan. Masih sama saja seperti tahun lalu. Aneh? Seharusnya ada peningkatan seperti yang sering disampaikannya padaku? Sepertinya memang ada yang tidak beres.
Kutengok jam di ponsel menunjukkan pukul sembilan pagi lewat sepuluh menit. Aku berinisiatif untuk pergi ke restoran kami. Mengecek keadaan di saja setelah dua tahun kutinggalkan dan diurus Mas Toha. Paling tidak, pasti ada perubahan yang lebih baik seperti yang dikatakannya. Kuharap demikian.
Aku bersiap-siap untuk berangkat ke restoran setelah selesai berdandan, tapi belum sampai kaki ini melangkah ke pintu utama, terdengar bell pintunya berbunyi lebih dulu menandakan ada yang datang berkunjung.
Keningku mengernyit mencoba menebak sambil kaki terus melangkah ke sana.
"Ibu?" seruku menyebut sosok wanita yang telah melahirkan suamiku. Ternyata ibu mertua yang datang. Mendadak seperti ini, ada apa?