Shinta keluar dari rumah menuju mobil Yoga yang Ia yakini masih disana karena Yoga tidak mungkin meningalkannya. Namun ketika melihat ke dalam mobil, Shinta tidak menemukan Yoga membuatnya sedikit cemas. Helaan nafas lega terdengar ketika sudut mata Shinta melihat Yoga sedang berdiri di bawah pohon seberang jalan.
"Apa yang Kau lakukan di sini?...." Tanya Shinta dengan gaya cueknya. Yoga melirik Shinta sekilas sebelum kembali mengalihkan tatapannya entah melihat apa.
"Kau sudah ingin kembali ke Jakarta?..." Sekali lagi Yoga tidak menjawab pertanyaan Shinta dan hanya melangkahkan kakinya menuju mobilnya.
"Jika Kamu ingin kembali, kembalilah sendiri.... Aku akan menginap di sini..." Ucap Shinta lagi. Yoga otomatis membalikkan tubuhnya menatap Shinta dan membulatkan matanya terkejut.
"Apa Dia benar-benar ingin mendekati Arbi...." Batin Yoga bertanya kesal.
"Tubuhku lelah sekali.... Kita sudah bolak-balik dari tadi dengan perjalanan yang lama...." Belum sempat Yoga mengungkapkan protes kekesalannya Shinta sudah lebih dulu mengungkapkan alasannya.
"Jadi Kalau Kau ingin pergi maka pergilah sekarang sebelum terlalu malam.... Aku akan di sini... Arbi juga sudah memberiku izin dan menunjukkan kamarku.... Aku masuk.... Sampai jumpa...." Tanpa mendengar ucapan Yoga, Shinta melangkahkan kakinya dengan santai kembali ke dalam rumah. Sedangkan Yoga hanya bisa mengepalkan tangan kesal penuh emosi sebelum melanjutkan langkahnya kembali memasuki mobil.
Shinta menghentikan langkahnya sebelum membuka pintu ketika menyadari Yoga tidak mengikutinya dan justru memasuki mobil. Tentu saja Shibta hanya main-main ketika menyuruh Yoga kembali ke Jakarta seorang diri karena Ia tahu Yoga tidak akan melakukannya apalagi harus meninggalkan Shinta.
"Kamu lelah?!.... Sepertinya Aku terlalu lama menggantungmu dalam hubungan ini...." lirih Yoga tepat ketika Shinta sudah memasuki mobil. Yoga menyadarkan kepalanya pada stir sembari memejamkan mata.
"Kau benar-benar berfikir Aku akan menggoda Arbi?!...." Tanya Shinta datar menghadap lurus ke depan.
"Kamu masih mencintaiku... Aku tahu... Kau yang mengidolakan Arbi pun Aku tahu..... Dia pria hebat.... Mungkin saja Kamu berniat membalasku dengan membuatku cemburu...."
"Itu yang Kamu fikirkan tentangku?..."
"Untuk saat ini iya...."
Shinta hanya menghela nafas tanpa membantah. Yoga saat ini sedang galau jadi wajar jika banyak fikiran negatif di benaknya.
"Dalam hubungan ini sepertinya Aku lebih banyak memberi penderitaan padamu.... Tanpa status yang jelas, seringkali orang menggunjingmu sebagai pelakor karena kedekatan kita, mendapat pandangan sinis dari keluargaku dan keluarga Raisa.... Aku bahkan tidak tahu pernah memberimu kebahagiaan atau tidak.... Kau banyak berkorban untukku... Demi Nuri... Demi Papa... Wajar jika Kamu lelah dan ingin membalasku...." ucap Yoga semakin lirih penuh kesedihan dan rasa bersalah.
"Apa Kamu sangat cemburu sehingga bisa berfikir bodoh seperti itu?..." Tanya Shinta santai dan sudah menghadap Yoga.
"Hmm.... Aku sangat cemburu... Apalagi saingannya pria seperti Arbi...." ucap Yoga kini dengan nada menggebu dan juga kesal. Sedangkan Shinta hanya bisa memutar matanya malas.
"Kamu.... Apa kau tidak pernah cemburu melihatku dan Raisa?....." Tanya Yoga menuntut karena selama ini Shinta tidak pernah protes mengenai kedekatannya dengan Raisa.
"Awwww..." Yoga berteriak saat tiba-tiba Shinta menarik tangannya dan menggigitnya kuat hingga berbekas.
"Itu agar Kamu sadar dari kebodohanmu... Tentu saja Aku pernah cemburu... dasar bodoh...." kesal Shinta. Sedangkan Yoga tidak menanggapi karena sibuk mengusap bekas gigitan Shinta ditangannya agar tidak sakit lagi.
"Aku bahkan pernah membenci Raisa..." kalimat Shinta berhasil mengalihkan pandangan Yoga padanya dengan penuh keterkejutan.
"Saat kita kembali bersama namun kalian belum bercerai, Aku berfikir itu keinginan Raisa karena Ia mencintaimu.... Karena itu Aku memonopolimu selama hamil dengan alasan anak kita padahal Aku yang ingin menjauhkan kalian...."
"Raisa tidak seperti itu.... Dia..."
"Aku tahu.... Karena itu Aku selalu merasa bodoh....Hingga Nuri lahir... Kita yang saat itu sangat bahagia hingga mengabaikan Raisa yang melihat kita.... Saat itu Aku ingin memamerkan pada Raisa jika kita adalah keluarga kecil yang bahagia dan sudah sempurna... Namun Aku melihat kesedihan di mata Raisa... Walau Dia tersenyum dan bahagia untuk kita namun Aku bisa merasakan kesedihannya.... Kesedihannya karena tidak bisa bersama pria yang Ia cintai apalagi memiliki keluarga kecil dan bahagia seperti kita....hikz...." Shinta mulai menangis karena perasaan bersalahnya. Yoga pun memeluk Shinta mencoba menenangkannya.
"Aku baru menyadari kebodohanku yang merasa cemburu pada Raisa saat tau penderitaannya berpisah dari Arbi dan Aku justru membuatnya kesepian karena menjauhkanmu darinya.... Aku benar-benar jahat....hikz... Aku egois....hikz...."
"Saat Aku menceritakannya tentangmu dan juga membawamu kembali, seharusnya Dia bisa bersama Arbi... Namun Ia tidak mau melakukannya dan membuat Arbi tetap bersamanya dalam hubungan yang tidak pasti karena Ibunya... Dia juga tetap mau merahasikan perceraian kami hanya agar Papa tidak kembali terkena serangan jantung... Dia terlalu memikirkan orang lain tanpa peduli akan kebahagiaannya... " Ucap Yoga.
"Hmm... Karena itu Aku berjanji untuk selalu menemaninya agar dia tidak kesepian... Aku mengizinkannya dekat denganmu dan Nuri... Aku memang sedih akan statusku yang dirahasiakan... Namun melihat Raisa yang tetap kuat meski berpisah dari pria yang Ia cintai membuatku juga berusaha kuat... apalagi Aku bersama pria yang kucintai dan juga mencintaiku.... Karena itu juga Aku tidak menuntutmu membawaku kepada keluargamu saat 2 tahun lalu Papamu meninggal... Aku ingin bahagia disaat Raisa juga bahagia bersama Arbi..." Yoga mengeratkan pelukannya pada Shinta merasa bahagia dan beruntung bisa memiliki wanita baik seperti Shinta.
"Dan inilah saatnya.... Kita akan berjuang untuk bahagia bersama-sama dengan Raisa dan juga Arbi..." Gumam Yoga dan diangguki Shinta.
~oO0Oo~
"Berhentilah menangis.... " Ujar Arbi mengusap kepala Raisa di sebelahnya. Raisa sesegukan dengan wajah merah karena menangis juga kesal.
"Mbak Shinta menyebalkan...." Gerutu Raisa sedangkan Arbi justru tersenyum geli.
Flashback
"Mbak.... Kak Arbi milikku.... " Ucap Raisa tegas sembari menjauhkan tangan Shinta dari Arbi yang otomatis membuat Arbi dan Shinta terkesiap. Namun tidak lama Shinta tersenyum santai sementara Arbi tersenyum simpul melihat reaksi Raisa.
"Memang itu yang seharusnya Kau lakukan.... Tegas dan sesekali Egois.... Bukannya rendah diri karena merasa tidak pantas lalu mendorong Arbi menjauh.... Jika ada yang mencintaimu dan Kamu pun mencintainya maka sambutlah.... Karena kesempatan tidak selalu datang.... Siapa yang akan tahu jika mungkin Arbi akan menyerah karena lelah memperjuangkanmu sedangkan Kamu justru mendorongnya menjauh...." Nasehat terlontar dengan lancar dari bibir Shinta membuat Raisa terdiam. Raisa tahu tadi Shinta hanya bercanda menggoda Arbi karena Ia tahu pasti seberapa besar cinta Shinta pada Yoga. Tapi Ia tidak menduga dengan semua ucapan Shinta.
"Aku sudah pernah mendorong Yoga menjauh saat Ia ingin memperjuangkanku di depan orang tuanya.... Aku justru pergi menghilang hingga aku sadar jika di rahimku sudah ada Nuri.... Sempat hidup tanpa seorang Ayah membuatku tahu bagaimana rasanya.... Jadi ketika Yoga kembali untuk mengajakku bersamanya Aku tidak menolaknya.... Mungkin perjalanan masih panjang dan berliku, namun Aku yakin dengan kekuatan cinta kami maka kami akan bisa melaluinya... " Ujar Shinta lagi sembari menerawang mengingat saat Yoga memohon padanya.
"Tidak direstui, dianggap menjadi orang ketiga, menjadi isteri tanpa diketahui orang lain,.... Bahkan status Nuri yang lebih dikenal sebagai anak Kau dan Yoga.... Awalnya sulit namun kami bisa melewatinya hingga saat ini...." Arbi dan Raisa menatap Shinta prihatin. Mereka merasa jika berpisah dengan orang yang dicintai merupakan penderitaan terberat namun ternyata Shinta juga menderita walau Ia bersama orang yang Ia cintai.
Terkadang kita merasa manusia paling menderita dan merasa iri dengan kebahagiaan orang lain. Namun tidak ada yang tahu jika dibalik tawa dan bahagia itu banyak juga masalah dan ujian yang Ia hadapi. Setiap orang pasti memiliki masalah, ada yang sama dan ada yang beda. Namun hal yang membedakan hasilnya adalah pilihan orang itu dalam menghadapi masalahnya yaitu meratapi nasib dan merutuk Tuhan atau menikmatinya dan bersyukur atas apa yang kita punya. Dan itulah yang dilakukan Shinta.
"Aku akan mencari Yoga yang kuyakin sedang merendahkan dirinya sendiri...." Ucap Shinta sebelum menghilang keluar rumah. Raisa pun menatap Arbi kemudian mulai menangis.
"Hei kenapa menangis?....." Tanya Arbi tanpa mendapat jawaban dari Raisa yang lebih memilih memeluk Arbi. Arbi yang merasa mengetahui alasan Raisa menangis memilih hanya memeluk Raisa tanpa banyak bertanya.
Arbi yang menunggu Raisa, tetap berjuang mendapatkan Raisa walau ada Prastiwi yang menentang juga Yoga yang dikira sebagai suami Raisa, namun Raisa justru mendorong Arbi menjauh dengan alasan mencintai Yoga. Terlebih Arbi yang bersedia melepas Raisa asal Raisa bahagia. Berjuang mendapat orang yang kita cintai memang berat, namun yang lebih berat Ialah melepaskan orang yang sangat kita cintai asal Ia bahagia.
Arbi melakukan itu semua untuk menunjukkan betapa besar cintanya pada Raisa asalkan Raisa bahagia walau Arbi merasa sakit dan hancur.
Namun Raisa tidak pernah melakukan apapun untuk menunjukkan cintanya pada Arbi. Mendorong orang yang Kau cintai yang berjuang untuk mendapatkanmu dengan alasan agar Ia bahagia bersama orang yang lebih baik bukanlah ciri pecinta sejati. Itulah yang Raisa lakukan yang justru menyakiti Arbi, bukannya membuat Arbi bahagia.
Kebahagiaan itu adalah pilihan masing-masing dan hanya Ia sendiri yang tahu apa yang akan membuatnya bahagia. Jika seseorang sudah berjuang untuk memperjuangkan cintanya berarti Ia sudah memilih jika cintanya itulah yang akan membuatnya bahagia. Tidak ada yang bisa mengatur bagaimana orang lain bahagia jika orang itu tidak menginginkannya.
Namun itulah yang Raisa lakukan. Berulang kali menolak Arbji dengan alasan Ia tidak pantas untuk Arbi dan Arbi tidak akan bahagia. Sedangkan yang terjadi justru Arbi yang merasakan kehancuran. Karena itu Raisa kini menangis sesegukan merasa bersalah. Raisa juga baru menyadari ketika Shinta menggoda Arbi, bagaimana takut dan sakitnya dia jika benar Arbi memilih Shinta.
Flashback End
"Aku mencintaimu Kak Arbi.... Jangan tinggalkan Aku.....hikz.... Kali ini Aku akan berjuang bersamamu....hikz" Ucap Raisa memeluk Arbi erat. Arbi tersenyum lebar dan membalas pelukan Raisa sesekali mengecup pucuk kepala Raisa.
"Aku juga mencintaimu.... Sangat.... Aku tidak akan pernah meninggalkanmu... Kita akan berjuang untuk bahagia bersama selamanya...." Ucap Arbi penuh tekad.
~oO0Oo~
Keesokan harinya mereka pergi untuk menemui orangtua masing-masing. Arbi dan Raisa akan menemui orang tua Raisa sedangkan Yoga dan Shinta akan menemui orangtua Shinta.
Akhirnya mereka tiba di rumah keluarga Raisa dengan sang Ibu yang menyambutnya dengan wajah datar namun matanya menunjukkan kemarahan. Sedangkan Sang Ayah hanya mengangguk mempersilakan mereka duduk.
"Langsung saja katakan apa mau kalian...." Ucap Ibu Raisa, Prastiwi ketus.
"Ibu..." Protes Raisa lirih.
"Sayang, sebaiknya berikan mereka minum.... Setidaknya Arbi....Raisa, buatka-...."
"Tidak perlu.... Langsung saja... Aku tidak ingin lama-lama melihatnya... " Ucap Prastiwi dengan penuh kebencian membuat Arbi berfikir jauh. Sejak dulu memang Prastiwi tidak menyukainya namun tidak pernah terlihat begitu membencinya seperti saat ini. Arbi mulai berfikir jika sesungguhnya Prastiwi menolaknya bukan hanya karena Ia orang miskin.
"Saya kemari untuk melamar Raisa dan memulai kembali hubungan kami yang sempat terputus.... " Ucap Arbi yakin penuh tekad menatap Prastiwi.
"Aku tidak akan pernah mengizinkannya sampai kapanpun... Kamu tidak pantas untuknya...." Ketus Prastiwi berdiri sembari menunjuk dan menatap Arbi tajam.
"Lebih baik kau pergi... Jika tidak-"
"Brukkk"
Semua orang terkejut ketika tiba-tiba Raisa bersujud di depan Ibunya.
"Aku mohon Bu....izinkan Aku bersama Kak Arbi... hikz... Dulu Aku sudah mengalah dan menikah dengan pria lain sesuai keinginan Ibu.... Hikz... Jadi sekarang Aku mohon Bu....hikz... Izinkan Aku bersama Kak Arbi....hikz..." Raisa memohon sambil terisak. Prastiwi terduduk lemah merasa bersalah melihat penderitaan puterinya.
"Tante.... Ku mohon izinkan Aku bersama Raisa... Aku akan melakukan dan memberikan apapun asal bisa bersamanya...." Arbi kini ikut bersujud.
"Kau tidak dendam padaku?..." Tanya Prastiwi pada Arbi yang hanya mendapat kernyitan dahi pertanda Arbi tidak mengerti maksud Prsatiwi.
"Kau tidak akan menyakiti Raisa untuk balas dendam akan perbuatanku?" jelas Prastiwi.
"Tidak... Aku bersumpah atas nyawaku... Aku tidak akan pernah ingin menyakitinya... Aku sangat mencintainya..." janji Arbi mantap.
"Baiklah... Kalian silahkan bersama..." ucap Prastiwi kemudian langsung berlalu meninggalkan Raisa, Arbi, dan Ayah Raisa di ruang tamu.
"Bangunlah kalian.... Walau Ibumu belum benar-benar setuju atas hubunganmu dengan Arbi... Setidaknya Ibu sudah memberikan izin kepada kalian untuk bersama..." hibur Ayah Raisa kemudian membawa So Eun ke dalam pelukannya.
"Kau sudah banyak menderita.... Maafkan Ayah yang tidak bisa banyak membantu... Ayah harap setelah ini Kau akan selalu berbahagia...." Ayah Raisa berusaha kuat dan tidak menangis karena perasaan bersalah yang tidak dapat banyak membantu Raisa dalam menghadapi masalahnya.
" Terima kasih Ayah...hikz..." Arbi hanya bisa tersenyum lega dan berharap ini adalah awal kebahgiaan mereka.