Tangan lentik Dayu mengelus perut yang kini kian membesar. Sudah sebulan lebih ia menjauh dari suaminya untuk sementara waktu.
Betapa menyedihkan, masa kehamilan yang seharusnya bisa menjadi momen kebahagiannya bersama Genta, kini harus mengalami hal pahit.
“Oh Tuhan ….” Desahan penuh rindu itu keluar begitu saja dari bibirnya.
Suaminya selalu menghindari topik yang menyangkut keluarganya semenjak ia kembali ke Bali. Mungkin Genta tidak ingin Dayu memikirkan hal berat selama kehamilannya tersebut.
Pembicaraan di telepon hanya berkisar mengenai kemajuan Trining dan Janur yang banyak membantu pekerjaan rumah.
Meski neneknya selalu menyindir dengan ketus tentang pernikahannya dengan Genta, tapi Dayu tetap bersikukuh ingin bertahan.
‘Aku terlalu mencintainya,’ batin Dayu dengan hati perih.
Memang keraguan terkadang menghampiri benaknya, tapi Dayu mencoba menyingkirkan jauh-jauh pemikiran tersebut.
Mendampingi Genta dalam suka dan duka adalah tekadnya yang paling kokoh dan tidak tergoyahkan. Pria itu menjadi cinta terakhirnya dan Dayu masih bisa merasakan debar menyenangkan setiap mengingat kisah percintaan mereka.
Perasaan itu semakin bertambah kian hari dan cintanya seperti tidak pernah padam sedikit pun.
Dirinya baru saja menyelesaikan kuliah dan sudah memulai pekerjaan sebagai wartawan lepas saat itu. Dokter tampan yang berwajah dingin dan selalu menunjukkan raut tidak bersahabat itu menjadi narasumber Dayu dulu. Dirinya ditugaskan untuk meliput satu kegiatan kampus dan Genta menjadi ketua panitia.
Sebagai dokter yang sedang menempuh pendidikan berikutnya untuk spesialis paru-paru, Dayu mengagumi cara bicara dan berpikir Genta yang sangat cerdas juga terbuka. Dayu selalu menyukai pria yang menghargai wanita dengan porsi seimbang. Pada masa modern ini, seharusnya wanita juga patut mendapatkan kesempatan yang sama.
Genta memiliki semua kriteria yang Dayu inginkan dari seorang lelaki idaman hatinya.
Dayu jatuh cinta pada pandangan pertama. Selama seminggu penuh keduanya terlibat dalam wawancara, akhirnya, tanpa diduga, Genta mengajaknya untuk makan malam bersama.
Dayu tidak pernah menyangka jika dokter tampan itu juga memiliki rasa yang sama.
Sikap Genta yang acuh dan pendiam selalu membuat Dayu tidak bisa menebak isi kepalanya. Setelah berpacaran dua tahun kemudian, mereka pun menikah.
Dirinya tidak sempat mengenal ayah Genta. Tapi sejak awal ibunya memang cukup menunjukkan sikap yang kurang ramah. Entah, apa pun alasannya itu, kini Dayu mulai bisa menebak.
Jujur Dayu menyimpan curiga pada Padmi, mertuanya.
Wanita itu pasti menyimpan sesuatu yang sangat penting dan menjadi kunci dari semua kemelut mereka sendiri. Yang Dayu tidak pahami, kenapa ibu mertuanya terkesan menyembunyikan dan enggan menguak padanya?
Kini ingatannya kembali pada hari pernikahan yang meninggalkan rasa penasaran hingga detik ini. Mertuanya mendatangi Dayu di kamar saat mereka selesai resepsi.
“Semoga kau tidak pernah menyesal menikahi anakku!”
Hanya kalimat janggal itu saja yang Padmi ucapkan pada Dayu. Mertuanya kemudian keluar kamar tanpa menunggu tanggapan, sementara Dayu tertegun.
Selama pernikahan mereka, Dayu menganggap ucapan itu terlontar karena dirinya bukan berasal dari keluarga keraton dan itu yang akan membuat Padmi memperlakukan Dayu dengan buruk.
Penyesalan itu memang tidak pernah mengisi hatinya.
Semua telah Dayu lalui dan ia membuktikan kesetiaannya dengan teguh. Di depan semua keluarganya, Padmi akan menjauh dan menarik diri.
Bahkan nenek Dayu sering mencetuskan komentar sinis mengenai sikap Padmi yang menurutnya angkuh.
Setelah mengenal dengan baik semua alasan yang mendasari sikap mertuanya tersebut, Dayu mulai paham. Padmi khawatir jika kemelut ini akan melibatkan dirinya.
“Dia tahu sejak awal …,” desis Dayu dengan wajah memucat.
Kaca yang memantulkan wajahnya tampak jelas menampilkan ekspresi Dayu yang kian menyadari keanehan yang sebetulnya sudah tersirat dari dulu.
Pintu kamarnya terkuak dan neneknya muncul dengan langkah pelan.
“Kamu mau sampai kapan di sini? Wanita yang sedang mengandung juga butuh suami yang mendampingi untuk dukungan mental juga moral.”
Kalimat itu jelas menyudutkan Dayu.
“Genta kan masih kerja, Nebin. Nggak mungkin juga dia bolak balik Semarang terus Bali dalam situasi sekarang.”
Neneknya duduk di sisi pembaringan dan menghela napas berat.
“Kamu tahu jalanmu nggak mudah, Yu?”
Dayu mengangguk lemah. Kepalanya tertunduk memandang gundukan di perutnya yang kini terlihat jelas.
“Dayu sadar dan paham, Nebin. Tapi pernikahan ini bukan sekedar buat senang-senang aja. Dayu harus menemani Genta dalam suka, duka dan cobaan.”
Neneknya kemudian menatap Dayu dengan tajam.
“Semua kejadian di sana pasti tidak luput dari pengamatanmu. Mustahil dari awal kamu nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, bukan?”
“Ya. Dayu mungkin tahu tapi nggak yakin.”
Wanita tua itu mengangkat dagunya sedikit dengan mata terpicing.
“Kami nggak mungkin mendesak dengan cara seperti ini, kalo masalah tidak menyangkut nyawa, Dayu. Jelas-jelas suamimu menyimpan sesuatu dari awal, tapi tidak mengatakan apa pun! Kamu yakin Genta tidak berniat menjadikanmu tumbal?”
“Nebin!” teriak Dayu setengah membentak.
Neneknya terkejut dan tidak menyangka cucunya berani melontarkan seruan tersebut.
“Dayu mencintai Genta dan itu juga yang terjadi sebaliknya! Kalo hanya karena kematian yang sekarang menimpa keluarga mereka terus Dayu memilih pergi, rasanya tidak masuk akal!”
“Tidak masuk akal juga kalo kamu bertahan, sementara nyawamu dan juga jabang bayi itu jadi sasaran berikutnya!”
Binari terlihat lepas kendali.
Dayu menatap wanita yang telah mengasuhnya sejak kecil tersebut.
“Ap-apa yang Nebin tahu? Ke-kenapa Nebin ngomong begitu?”
Binari menghela napas kembali dan mencoba mengatur napasnya yang kini mulai tersenggal.
“Petaka yang menimpa mertuamu, bukan sekedar menuntut tumbal. Selama yang iblis itu inginkan belum tercapai, satu persatu korban akan berjatuhan. Termasuk kamu,” sahut Binari dengan suara serak.
“Dayu nggak mungkin pergi ninggalin Genta, Nebin,” isak Dayu kini makin tersedu-sedu.
Neneknya memejamkan mata dengan prihatin.
Rasanya memang terlalu k**i jika meminta cucunya menceraikan Genta.
Ini semua harus mereka hadapi, meski ancaman terus mengejar.
**
“Aku hanya bisa mencintai seorang wanita dalam hidupku, Dayu. Semoga dengan segala hal yang akan kita jalani nanti, kau menjadi pedampingku hingga akhir hayat.”
Kalimat itu terlontar pada malam pertama. Dayu tersenyum bahagia dan membiarkan Genta membawanya ke puncak surga pertama.
“Hanya setia yang aku inginkan, Dayu. Berjanjilah untuk selalu setia padaku?” pinta Genta kembali usai melewatkan episode penuh gairah dengan istrinya.
“Jika Tuhan mengizinkan, aku akan tetap menjadi istrimu, Mas.”
Hanya itu yang Dayu katakan dengan ucapan penuh syukur. Dirinya adalah wanita paling beruntung karena mendapatkan segalanya. Suami yang tampan, memiliki pekerjaan mapan dan masa depan cerah.
Semua terlihat sempurna. Apa lagi yang ia inginkan?