Janur berjalan tanpa ia sadari, setengah berlari. Berkali-kali ia mengusap air mata dengan hati penuh amarah. Meski ia sadar jika apa yang terjadi mungkin adalah takdir dari Tuhan, tetap saja semua ia tentang dalam hati. Selama ia hidup, Janur tidak pernah mempertanyakan kenapa jalan takdirnya begitu kelam dan menyedihkan. Semua ia terima dengan penuh syukur dan ikhlas. Namun baru kali ini, dirinya merasa terkecoh, tertipu oleh semua anggapan tinggi pada dua sosok yang hebat. Saat kedua kakinya mulai melemah oleh emosi dan luapan kecewa, Janur pun berhenti dan menjatuhkan diri di dalama kegelapan yang begitu pekat. Dalam dingin, tubuh Janur menggigil. Namun ia tidak merasakan itu semua. Pikirannya begitu fokus pada emosi yang masih belum cukup puas untuk ia keluarkan. Mendadak, dari j

