Tubuh Genta masih membeku, sementara Janur juga tampak kebingungan saat ini. Dia tidak mengetahui siapa sosok siluman harimau yang tampak bijak tersebut. “Mohon maaf jika kami melangkah tanpa permisi dan izin. Niat kami hanya ingin menemui mbak Darmo, guruku.” Janur terdengar bergetar saat mengucapkan kalimat perkenalannya tersebut. Dengan tenang dan jinak, harimau itu membaringkan tubuhnya. “Siapa namamu, Nduk?” suara harimau itu ternyata sangat dalam dan berwibawa. Ada kebijakan dalam nadanya. “Janur, dan ini rekan perjalanan kulo, Genta. Jika tidak keberatan, kiranya memberitahu kami siapa kiranya dirimu, Harimau Bijak,” jawab Janur dengan kalimat yang jauh lebih tertata rapi. “Dwarapala Rogoselo, penjaga pantai ini. Aku lahir sebagai Baron Sekeber. Bangsawan dari negeri penjajah,

