Berita yang baru saja Dayu terima, membuat wanita tersebut tidak lagi bisa menahan diri untuk mengacuhkan keluarga mertuanya. Walaupun ia tahu, jika kembali akan menghadapi terror yang menakutkan, tapi lebih membuat resah jiwanya saat membiarkan mereka terpuruk tanpa melakukan apa pun.
“Nebin, Dayu harus kembali ke Semarang,” pinta Dayu setengah memohon. Binari menghela napas berat dan rahangnya tampak mengeras.
“Kamu tahu resikonya jika kembali, Dayu!” tegas Binari kesal bercampur jengkel.
“Nebin ….”
Raut wajah Dayu tampak memelas dan memohon. Binari membuang muka dan mencoba mengacuhkan permintaan cucunya. Dia tidak memutuskan karena terlalu berat untuknya ikhlas melepas Dayu.
“Mana bisa Dayu berdiam diri? Mereka juga keluarga Dayu, Nebin,” keluh Dayu lirih. Bulir-bulir bening mulai mengalir deras.
“Tanya ayahmu!” tukas Binari menyerah dan berlalu dari ruang tengah. Dayu meremas jarinya dengan cemas.
***
Jetro baru saja meletakkan tas kerja. Dayu bergegas menemuinya dan menceritakan tentang ibu mertuanya yang kini dirawat di rumah sakit. Dengan tubuh lunglai, Jetro terduduk di sofa.
“Apa keputusanmu?” tanya ayahnya dengan wajah membeku.
“Kembali ke Semarang, Pa,” jawab Dayu dengan mantap. Jetro menghela napas berat.
“Sudah tanya Nebin?”
“Sudah. Nebin bilang, Dayu harus meminta ijin sama Papa,” jawab Dayu sendu. Jetro mengusap wajahnya dengan letih.
“Sudah menjadi kewajibanmu, untuk mengikuti permintaan Genta. Karena sebagai istri, bakti pada suami adalah menuruti perintahnya. Tapi jika Genta bijak, tidak seharusnya dia memintamu kembali,” ucap Jetro dengan wajah kelam.
“Mas Genta tidak pernah meminta Dayu kembali. Tapi jika situasinya seperti ini, apakah Dayu akan tinggal diam?” tanya Dayu tajam. Baru kali ini ia menentang ayahnya.
“Buatlah yang menurutmu pantas. Papa dan Nebin tidak perlu mengajari lagi, bukan? Kami sudah lebih dari cukup mendidikmu,” sahut Jetro akhirnya dengan lembut.
Putrinya memang pendiam dan tidak banyak bicara, tapi jika Dayu memiliki keinginan maka ia akan membuat itu terjadi. Pertimbangan Dayu juga cukup masuk akal dan adil.
“Berangkatlah. Biar nanti anak buah Papa yang belikan tiket,” pungkas Jetro dan meninggalkan Dayu yang menunduk serba salah.
***
Totok menjemput Dayu di bandara dan segera mengantar ke rumah sakit tempat Padmi dirawat.
“Dayu?!” seru Padmi masih lemah. Dayu tersenyum dan mencium tangan ibu mertuanya.
“Kenapa kamu kembali?” tanyanya bingung.
“Ibu sakit gini, masak Dayu nggak boleh pulang?” tanya Dayu pelan. Padmi terlihat terharu dan mengelus tangan menantunya.
“Terima kasih ya, Nduk,” ucapnya lirih. Dayu mengangguk dan kembali tersenyum lega.
“Ibu bangga, kamu memilih menantu yang terbaik,” puji Padmi pada Genta.
Pria itu tersenyum samar. Ada rasa khawatir yang begitu besar dalam hatinya. Setelah menemani Padmi sebentar di rumah sakit, Dayu dan Totok kembali ke rumah. Genta memutuskan untuk tetap di rumah sakit bersama ibunya.
Begitu melihat mobil masuk ke halaman, Trining yang duduk di teras bangkit berdiri. Dayu ke luar mobil dan memeluk wanita itu sekuatnya.
“Perut kamu makin membuncit!” pekik Trining gembira. Dayu tertawa senang. Tidak ada yang berubah banyak. Trining bahkan jauh terlihat sehat dan segar sejak tiga bulan yang lalu ia pergi.
“Sekarang kan sudah mau jalan lima bulan, Bulek,” ucap Dayu bangga. Trining mengangguk dan mengusap air mata bahagia.
“Ayo, kamu makan dulu. Bulek sudah masak pepes belut kesukaanmu!” ajak Trining sambil menuntun Dayu masuk.
Dayu langsung mencuci muka dan tangannya, serta duduk di meja makan dengan Trining dan Sri.
“Kangen banget deh sama Mbak Dayu!” cetus Sri seraya menuangkan nasi di piring Dayu.
“Ah, masa!” goda Dayu. Sri terkekeh senang.
Tidak lama, muncul Janur yang membawa tempe goreng yang masih hangat dan sambal bawang.
“Jangan kebanyakan makan cabai, kasihan bayinya nanti,” pesan Trining bersemangat.
“Justru kalo nggak makan yang agak pedes malah mual, Bulek,” keluh Dayu.
“Oh, gitu?” Mata Trining membulat. “Tapi tetap saja jangan berlebihan, ya?”
“Iya, Bulek yang cantik!” goda Dayu kembali.
Mereka melepas tawa yang terdengar begitu sumringah.
“Oh ya, ini Janur. Dia membantu Sri selama ini setelah Eti keluar.” Trining memperkenalkan Janur yang terlihat sungkan dan segan. Dayu mengernyitkan dahinya. Setelah ia amati dengan baik, wajah gadis itu tidak asing baginya.
“Pernah ketemu di mana ya?” cetus Dayu heran.
“Dalam mimpi mungkin,” sahut Janur kalem.
Dayu tercekat. Sendoknya hampir lepas dari tangannya.
“Be-benar!” balas Dayu gugup. Janur memberikan senyum manis dan terlihat tenang walau masih tampak sungkan.
“Salam kenal, Mbak Dayu. Akhirnya ketemu kita,” sapa Janur santun.
“Maksud kalian apa?” tanya Trining tidak paham.
Janur dipersilahkan Sri untuk duduk bersama mereka. Dengan sabar dan kalimat yang sangat jelas, Janur menemui Dayu lewat mimpi.
“Ka-kamu bisa melakukan itu?” tanya Trining kini tampak tercekat.
“Bisa, Bu,” jawab Janur masih dengan posisi kepala tertunduk.
“Jadi benar, kamu adalah murid mbah Darmo …,” desis Trining setengah bergumam.
“Leres, Bu,” sahut Janur.
“Ada baiknya, Mbak Sri mencari tambahan tenaga yang lain untuk bantu pekerjaan rumah. Sementara itu, Janur harus membantu kita mencari mbah Darmo.” Kali ini Dayu memberikan suaranya dengan tegas.
Trining tampak tidak yakin atau menyetujui ide tersebut. Setelah menahan diri untuk tidak berembuk lebih panjang, Trining segera meminta Dayu untuk melanjutkan santapannya.
***
“Itu apa, Dayu?” tanya Trining heran. Dayu meraba pergelangan tangannya.
“Gelang khas Bali untuk simbol pengingat cita-cita kita, Bulek,” balas Dayu.
“Simbol pengingat?”
“Iya. Jika cita-cita kita tercapai, gelang ini akan terputus.”
Trining manggut-manggut.
“Bulek, jadi dua sosok yang ibu lihat, sama dengan yang saya pernah deskripsikan, begitu?” tanya Dayu ingin meyakinkan cerita yang sempat Trining ungkapkan tadi siang. Buleknya mengangguk lesu.
“Mereka mendiang kakak Genta dulu,” sahutnya sendu. “Besok, kita adakan doa lagi untuk mereka-mereka yang sudah mendahului.”
“Kabar Sayekti?” Pertanyaan dari Dayu mengingatkan Trining akan ketenangan selama ini.
“Sejak dipasung, tidak ada teror darinya lagi.”
Dayu mengucapkan alhamdullilah dengan wajah penuh syukur.
“Semoga semuanya menjadi tenang,” harap Dayu.
“Tenang? Dayu, ini hanya jeda yang kita tidak tahu kapan teror akan kembali!” tukas Trining mendadak terdengar tajam. Dayu terkesima.
“Ma-maksud, Bulek?”
“Selama penyebab akar permasalahan ini tidak mengakui dan menyadari, ini akan terus terjadi dan berulang!”
“Siapa yang Bulek maksud?”
Hati Dayu makin berdebar keras dan tidak menentu. d**a Trining tampak turun naik dan bahasa tubuhnya terlihat cemas.
“Beri bulek waktu untuk memberanikan mengungkap semuanya,” balas Trining menjadi lirih.
Dayu memandang Trining dengan tidak mengerti. Ternyata memang benar! Ada rahasia yang mereka sembunyikan selama ini! Kenapa harus bungkam dan tidak mencari solusi jika mereka tahu dari awal?
Siapa sumber malapetaka sebenarnya? Dayu terlalu takut untuk berspekulasi.