Awalnya Genta ingin memberitahu Dayu mengenai rencananya mengunjungi Ki Sukmo seperti janjinya tempo hari. Tapi kemudian urung. Genta yakin setelah Dayu mendengar penjelasan ibunya bahwa mereka pernah bertandang dan berakhir Pram gila, istrinya akan melarang keras Genta.
Dengan alasan ingin bertemu Drajat untuk persiapan tugas minggu depan di RSUD, Genta pamit.
Dayu tidak menaruh curiga sedikit pun. Drajat adalah salah satu dokter yang juga bertugas di RSUD sebelum Genta sebagai dokter umum.
Genta berangkat setelah makan siang. Tidak makan waktu lama, Genta tiba di rumah Ki Sukmo yang terletak di puncak bukit yang dikelilingi perkebunan kopi. Rumah itu sangat rapi dan terawat.
Genta mendorong pagar kayu yang tidak terkunci dan menaiki tangga menuju rumah. Jalan menuju rumah Ki Sukmo memang harus mendaki undakan yang dibentuk mirip tangga, yang meliuk ke atas sepanjang seratus meter.
Dari atas, pemandangan tampak indah. Genta bisa melihat bukit bunga yang sangat terkenal di dusun Lendoh.
Rumah tampak sepi, namun ada sepeda motor dan sepeda onthel tua yang bersandar di dinding rumah. Genta kemudian naik ke atas teras. Jendela tertutup rapat dan tidak ada tanda-tanda ada orang di rumah.
“Assalamualaikum!” seru Genta cukup keras.
Tidak ada sahutan. Genta mengetuk pintu dengan pelan.
Tok … tok … tok.
Tidak lama pintu terkuak. Ki Sukmo muncul dengan wajah serius dan tampak terkejut.
“Mau apa kamu ke sini?” tanya Ki Sukmo tidak ramah. Genta menahan diri untuk tidak emosi mendengar sambutan dari pria berkumis lebat putih tersebut.
“Saya mau ada perlu dengan Ki Sukmo sebentar,” jawab Genta dengan sopan.
Ki Sukso terlihat bimbang dan menimbang sebentar.
“Masuk,” jawabnya dengan bahasa tubuh tidak menyukai kedatangan Genta.
Pria itu masuk dan duduk di kursi kayu. Suasana ruangan sedikit gelap dan suram. Benda-benda yang berada di ruang tersebut sangat kuno dengan berbagai koleksi keris menempel di dinding. Tidak ada foto sama sekali.
“Sudah lama kamu tidak kelihatan,” cetus Ki Sukmo dengan tatapan menyelidiki.
Genta tersenyum kaku. Ia tidak menyangka jika kalimat berikutnya tidak ada kesan ketus. Bahkan terdengar biasa.
“Terakhir kali aku lihat kamu sebelum berangkat ke Jakarta untuk lanjut studimu,” ucap Ki Sukmo kembali.
Genta terkejut. Kenapa ia tidak memiliki memori pernah dekat dengan Ki Sukmo?
“I-iya, Ki. Saya hanya pulang waktu bapak mangkat,” sahut Genta menunduk sendu.
Dalam hati ia masih mencoba mengingat tentang memori kedekatannya dengan Ki Sukmo. Tidak tergali dan semua seperti sebuah hal yang tidak pernah terjadi.
“Enak, Cokro sudah ndak pusing lagi …,” gumam Ki Sukmo mendadak terdengar tercekat.
Pria tua yang lekat dengan sebutan mengerikan tersebut tidak lagi Genta lihat sebagai penyebab terror. Tangannya meraih kotak tembakau dan mulai melinting.
“Mau apa kamu datang sowan (berkunjung)?” tanya Ki Sukmo melunak.
“Kulo mau menyampaikan permintaan maaf atas nama bapak, mengenai perjodohan saya dengan Sayekti, Ki,” ucap Genta sedikit gemetar.
Mendadak nyalinya menciut. Ki Sukmo menghela napas.
“Ya, ibumu sudah datang waktu itu dengan Prambudi,” sahut Ki Sukmo mulai membakar rokok tembakaunya. Suaranya dalam dan berat.
“Saya minta maaf karena mengecewakan keluarga Ki Sukmo dengan mangkir dari perjodohan tersebut. Bapak tidak pernah matur (bicara) apa pun dengan saya,” jelas Genta kemudian.
“Cokro memang tidak ingin sebenarnya. Semua itu di luar kendali kita,” timpal Ki Sukmo dengan wajah termenung. Genta kaget.
“Kendali gimana ya, Ki? Kok saya bingung.”
“Perjodohan ini bukan keinginan saya atau pun bapakmu.”
“Ma-maksud, Ki Sukmo? Jadi perjodohan ini bisa dibatalkan tanpa tuntutan?” tanya Genta dengan gembira. Kening Ki Sukmo mengernyit.
“Kamu belum ketemu sama mbah Darmo?”
“Belum, Ki. Saya kok makin nggak paham.”
“Padmi juga belum cerita?”
“Belum ibu menunggu Mbah Darmo untuk menceritakan hal ini, Ki.”
Ki Sukmo menghembuskan asap tebal yang berbau menyengat mirip bau kemenyan.
“Genta, perjodohanmu dengan Sayekti bukan perjodohan biasa! Bukan kami yang bersalah hingga ini menjadi terormu sendiri. Seandainya kamu mau MENGINGAT …,”
“Cukup!”
Keduanya terkejut dan menoleh. Sayekti muncul dari dalam dengan wajah dingin. Gaunnya yang berwarna gelap membuat kulitnya yang putih terlihat pucat.
“Sayekti, tidak ada yang menginginkan kehadiranmu sekarang! Masuk!” bentak Ki Sukmo dengan wajah berang.
Genta terkejut. Selain karena ucapan terakhir Ki Sukmo yang terputus, juga karena Sayekti terlihat diperlakukan dengan tidak baik. Dugaannya mungkin betul.
“Aku ndak perlu ijinmu lagi untuk menemui calon pengantinku, Sukmo,” sahut Sayekti dingin.
Genta kini berubah menjadi syok saat Sayekti memanggil Ki Sukmo dengan tidak hormat. Gadis itu tidak memanggil bapak melainkan nama dengan nada menghina.
“Aku ndak segan-segan mengurungmu, Sayekti!” tegas Ki Sukmo berbalik mengancam. Sayekti tidak peduli, ia mengacungkan telunjuknya pada Genta.
“Genta Aji Amandaru, perjodohan kita terikat oleh darah! Kau adalah pengantin abadiku, nikahi aku atau semua akan menerima resiko mengerikan!” raungnya. Genta bangkit dari kursi dan mundur dengan ekspresi kesal.
“Tidak ada yang pernah mengikat janji denganmu, dan aku sudah menikah!” tolak Genta dengan tajam.
“Kau mangkir!!” jeritnya histeris dan menerjang ke depan mencekik leher Genta.
Anehnya, Genta tidak mampu melawan dan hanya terpojok di dinding dengan napas tersenggal. Cekikan tangan Sayekti sangat kuat dan membuat dirinya sulit bernapas. Ki Sukmo menarik Sayekti dan melemparkan gadis itu hingga terpental serta menabrak dinding kayu.
“Aarrghh!” teriak Sayekti kesakitan.
Genta terengah-engah dan jatuh bersimpuh sambil memegang lehernya. Hidungnya dengan rakus menyedot udara segar mengisi kembali paru-parunya.
Ki Sukmo menyeret Sayekti dengan kuat.
“Pergi sekarang, Genta!” perintah Ki Sukmo dengan marah serta panik. Genta mengangguk dan bergegas membuka pintu dengan gugup.
“Larilah selagi kau bisa! Namun semua keluargamu akan menjadi tumbalku!!!” sumpah Sayekti sayup-sayup terdengar.
Genta tidak lagi peduli ataupun menoleh. Ia memacu kakinya menuruni anak tangga ke bawah. Tangannya mencari kunci motor dan dengan gemetar memasukkan ke lubang kunci. Beberapa kali kunci itu jatuh dan Genta pun menjadi lunglai. Dalam hati ia melafalkan ayat suci Al’quran dan lambat laun ia bisa menguasai diri. Genta melarikan motor dengan tidak berhenti berdoa di sepanjang perjalanan pulang.
***
“Mas Genta!” seru Dayu dengan wajah khawatir.
Genta memarkir motor dengan gugup dan berkali-kali istigfar. Dayu meminta Sri mengambil air putih untuk suaminya. Genta duduk di kursi teras dengan bahu lemas.
“Ada apa, Mas? Tadi Mas Drajat ke sini dan bilang nggak pergi sama kamu,” tanya Dayu tampak cemas. Trining dan ibunya muncul.
“Genta, kamu kemana saja?” tanya Padmi.
“Lehermu …,” desis Padmi kemudian.
Genta meraba lehernya yang masih terasa ngilu dan perih.
“Astaga! Kenapa lebam dan biru?!” pekik Dayu panik.
“Tenang semua!” seru Genta mencoba mengatur napas. Semua berdiri dengan wajah tegang.
“Aku mengunjungi Ki Sukmo.” Genta memulai penjelasannya.
“Apa?!!” pekik Padmi dan terlihat limbung.
Trining menyanggah dan menuntun kakak iparnya untuk duduk.
“Sayekti menyerangku. Dia melemparkan kutukan yang aku nggak pahami kenapa. Dia bilang perjodohan kami terikat oleh janji darah,” ucap Genta terbata-bata.
Ibunya tergugu dan membiarkan matanya berlinang oleh bulir-bulir bening.
“Ki Sukmo bahkan memintaku untuk mengingat sesuatu yang aku tidak pahami, Bu,” cetus Genta dengan wajah bingung.
“Kutukan apa yang Sayekti lontarkan, Genta?” tanya ibunya dengan bibir gemetar.
“Dia akan membunuh semua keluarga sebagai tumbalnya,” jawab Genta lirih.
Dayu dan Trining memekik kecil. Padmi memucat dan makin terisak dengan sedu sedan pilu. Wanita separuh baya tersebut bangkit dan berjalan meninggalkan teras tanpa berkata-kata. Padmi tampak terpukul dan Genta menyesal.
Ini semua karena ia terlalu ceroboh melanggar larangan ibunya untuk menjumpai Ki Sukmo. Apa yang akan terjadi nanti? Bagaimana nasib keluarganya? Genta meremas rambutnya dengan gusar.
Kini malapetaka seperti membayangi keluarganya. Apa yang harus ia lakukan? Bisakah ia melindungi keluarga dari semua ini? Dugaan Genta yang berpikir bahwa Ki Sukmo sumber segala bencana adalah salah. Sayektilah teror sesungguhnya!