BAB 9

2791 Words
            Anastasya sampai di mansion James. Emma meminjamkannya gaun yang memiliki belahan rendah di dadanya. Gaun yang panjangnya hingga mata kaki namun di bagian samping kanan ada belahan yang sampai di atas lutut hingga Anastasya merasa tak nyaman. Apalagi warna gaun ini begitu mengerikan warna merah. Bayangkan warna merah yang seksi ditambah belahan d**a rendah dan belahan samping pahanya yang membuat Ana lebih memilih melepaskan gaunnya. Emma bilang ini adalah gaun keberuntungan. Bahkan Emma mendukung hubungan baik antara James dan Anastasya. James tampak kagum sesaat pada Anastasya. Ana menyulut gairah James yang nyaris mati karena terlalu lama tertidur. Tapi, James tentu harus tahu batasan meski dia tidak bisa memungkiri akan kehilangan kendali. Anastasya melambaikan tangan sambil tersenyum. “Hai,” sapa Ana ramah. “Hai,” balas James. “Mari masuk.” James berjalan lebih dulu dari Ana dia memperkenalkan isi dari mansion mewahnya. “Sebenarnya ketika aku menikah nanti aku ingin istriku tinggal di sini. Dia lebih baik tinggal di sini dibandingkan di rumah.” “Semoga istrimu adalah wanita baik, James—eh,” Ana membungkam mulutnya karena telah lancang menyebut nama bosnya. “Tak apa. Aku lebih suka kamu memanggilku dengan James. Panggil saja seperti itu.” James menatap Ana sejenak dengan tatapan yang tak biasa. “Kamu cantik.” Pujinya yang sukses membuat Anastasya tersipu malu. James tampak sangat berbeda dari biasanya. Sikap dingin, arogan, angkuh dan acuh tak acuhnya lenyap bagai ditelan bumi. Kini dia tampil sangat tampan dan menawan dengan keramahan, kehangatan dan senyumannya. “Lebih baik kita duduk di pinggir kolam renang. Rasanya aku ingin sekali berenang malam ini.” “Kamu mau berenang malam-malam begini?” “Kamu mau ikut?” Anastasya menggeleng. “Aku tidak bawa baju lagi.” “Ya, lebih baik kamu tidak usah berenang dan aku pun demikian. Ayo, ikut aku.” Mereka sampai di pinggir kolam renang dimana di sana tersedia sofa panjang berwarna abu-abu tua dengan meja yang di atasnya di isi dengan sampanye dan beberapa camilan. “Mari kita bersulang.” James mengangkat gelas yang sudah diisi sampanye. Dia dan Anastasya bersulang dan kemudian menenggak habis isi gelasnya. “Aku tak pernah menceritakan ini pada siapa pun.” James memulai. Dia menoleh pada Anastasya kemudian tersenyum miris. “Kematian orang tuaku membuat aku dan Suzanne mengisolasi diri. Aku fokus membangun bisnisku demi kenyamanan hidup untuk Suzanne. Aku tidak suka orang-orang tahu soal kematian orang tuaku dan hanya kamu yang tahu ini, Tasya.” Dia menambah segelas sampanye lagi. James juga menuangkan botol sampanye pada gelas Anastasya. Dia dan Anastasya kembali menenggak sampanyenya. Mereka berkali-kali menghabiskan sampanyenya. James sedikit mabuk saat dia menghabiskan beberapa botol sampanye. Ana menolak ketika gelas yang diisi keempat kali oleh James diberikan kepadanya. Anastasya tidak ingin mabuk. Karena dia selalu dan akan mudah mabuk kalau dia terus-menerus minum. James menatap Anastasya. “Sebab inilah aku memutuskan untuk membatasi diri dengan orang lain. Tapi, aku merasakan sesuatu yang berbeda saat aku melihatmu. Aku langsung menarikmu menjadi asistenku. Aku tahu aku bukan pimpinan yang baik dengan melakukan hal-hal seperti itu tanpa mengikuti SOP yang berlaku di perusahaan. Tapi, aku ingin mengenalmu lebih dekat.” “Tapi, kamu seperti membenciku, James.” “Tidak. Aku tidak membencimu. Kamu sangat manis. Aku tidak mungkin bisa membencimu.” James mengatakan demikian namun tatapannya tampak seakan ingin membunuh Anastasya hingga Anastasya ingin segera pergi dari mansion mewah James. “Kenapa kamu menghapus pesan Noah diponselku?” tanya Anastasya penasaran. James tersenyum sinis. “Kamu tidak melihat bagaimana cara pria itu membawamu pergi kencan saat kamu bekerja?” Anastasya ternganga karena James tahu dia dan Noah pergi berkencan saat dia masih bekerja. “Kamu tahu aku—“ James mengangguk. Tangannya terangkat ke atas kepala Ana dan membelai lembut kepala Anastasya. “Dia bukan pria baik. Dia memiliki beberapa kekasih selain dirimu, Tasya. Dia juga punya kekasih di Italy. Dia pergi ke Italy kan?” tanya James dengan senyum mirisnya. Anastasya tidak bisa percaya pada James begitu saja. “Tidak mungkin.” Anastasya menggeser duduknya hingga berjarak dengan James. “Oke, tunggu.” James mengambil ponselnya di atas meja. Dia memperlihatkan sebuah poto. “Lihatlah, biar kamu dapat menilainya.” Anastasya ternganga melihat poto Noah di Italy bersama dengan seorang wanita yang mencium bibirnya. *** Anastasya menenggak botol sampanye terakhirnya. Dia sudah agak pusing tapi kekesalannya pada Noah membuatnya ingin terus minum. James menyeringai. Dia senang melihat Anastasya yang percaya padanya ditambah wanita itu tampak sangat berantakan. James tentu senang dan menyukai apa yang dilihatnya. “Mau lagi?” tanyanya. “Aku tidak ingin mabuk. Nanti aku tidak bisa pulang.” “Tidak usah pulang.” Kata James santai. “Hah?” Anastasya memiringkan kepalanya mendengar pernyataan James. “Di sini saja.” “Besok aku kerja. Kalau aku terlambat gajiku akan dipotong kan. Aku tidak mau gajiku dipotong aku ingin...” “Ingin apa?” James menatap lekat Anastasya. `           “Resign.”                  Hening. Mereka hanya saling menatap satu sama lain dan menikmati keheningan yang menyelimuti atmosfer di antara mereka. Angin menerbangkan anakan rambut Anastasya. “Kenapa?” “Aku tidak ingin bekerja denganmu. Kamu aneh. Kadang baik dan kadang jahat.” James menyentuh dagu Anastasya dan mengangkat dagunya hingga wajah Anastasya sejajar dengan wajahnya. “Hei, aku sudah berubah.” “Aku sudah melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan untukmu. Aku sudah menyelidiki tentang Noah dan dia memang tidak layak bersanding denganmu.” James memiringkan kepalanya sambil secara perlahan memajukan wajahnya hingga dia dapat merasakan bau manis sampanye dari napas Anastasya. James meraih bibir Anatasya untuk kedua kalinya. Anastasya bergeming. Dia tak merespons apa pun tapi James tetap melanjutkan menikmati bibir mungil Anastasya. Tak peduli bagaimana respons asistennya itu. Yang jelas dia suka dan dia mau. Otaknya menuntun lidah James ke telinga Anastasya. Anastasya masih tidak berkutik apa-apa. Dia tidak tahu harus merespons bagaimana. Dia masih sadar akan dirinya dan masih menyadari James yang tidak mabuk sepenuhnya. Pria itu melakukannya secara sadar. Anastasya merasa ganjil dengan apa yang dilakukan James. “Anastasya Sneden...” bisiknya di telinga Anastasya dengan suara sensual yang sangat berbahaya. *** Anastasya berusaha menyadarkan dirinya dari sebuah mimpi. “James,” dengan napas memburu dia menjauh dari James. “Kita tidak mabuk kan?” “Tidak.” jawab James dingin. “Aku rasa ini sudah terlalu malam. Aku harus pulang.” “Kenapa? Kamu masih meragukan kejantananku?” canda James dengan seringai lucu yang menghiasi wajahnya. “Ti-tidak.” Anastasya meresponsnya dengan serius. James terbahak melihat ekspresi serius dan ketakutan Anastasya. “Aku rasa kita tidak perlu meneruskan apa-apa. Aku tidak ingin orang-orang di kantor terus membicarakan kita.” “Kenapa kamu mempedulikan itu?” “Aku tidak suka cara mereka menatapku.” Anastasya menunduk sedih. “Tapi, aku selalu suka caramu menatapku, Tasya.” Anastasya mendongak, menatap mata James. “Kamu hanya bercanda, James.” “Siapa yang mengatakan aku bercanda? Aku selalu serius dengan perkataanku. Kalau aku bercanda aku tidak akan memperkenalkanmu pada Suzanne. Kalau aku bercanda aku tidak akan pernah menyiapkan mansion ini untukmu.” Anastasya tercengang. Kalimat terakhir James seakan menuntutnya. “Apa maksudmu?” “Ini mansion yang aku beli saat aku mengantarkanmu pulang. Rumahmu mungil dan jelek. Aku ingin kamu tinggal di sini. Bersamaku.” “Aku tidak memintamu untuk membelikanku mansion. Aku bahagia hidup di rumahku yang jelek.” “Aku mencintaimu, Anastasya.” Kalimat itu keluar begitu saja dari kedua daun bibir James seperti bintang jatuh yang meluncur begitu saja. *** Anastasya masih memiliki kendali saat James mengatakan cinta padanya malam itu. Dia memikirkan dan mengulang-ngulang kalimat itu di pikirannya. Mungkinkah James memang mencintainya? Apa yang istimewa dari Anastasya hingga membuat James menginginkannya? Membelikan mansion untuknya? Ini di luar bayangan Anastasya. Tidak mungkin pria itu benar-benar menginginkannya kan? Apalagi sikap Suzanne pada Ana begitu keterlaluan. “Heh, kenapa kamu masih di sini? Tidak bekerja?” tanya Emma mengambil puding milik Anastasya di atas meja. “Aku sedang sakit. Kepalaku pusing.” “Ah, kamu ini, James tidak akan mempemasalahkannya. Bilang saja kamu sakit. Ayo, hubungi dia. Dia pasti sedang merindukanmu di kantor. Dia pasti masih membayangkan—“ “Aku tidak memberitahunya.” sela Anastasya. “Heh, itu akan membuatnya khawatir setelah percintaan kalian semalam.” Anastasya menatap tajam Emma. “Kenapa? Apa yang terjadi semalam?” Emma mendekatkan wajahnya pada wajah Anastasya seakan hendak mencium Ana. “Semalam tidak terjadi apa-apa.” Anastasya merapikan rambutnya yang memang sudah rapi. “Kamu menghindari percakapan ini, Ana.” Kata Emma dengan suara berbisik yang membuat Anastasya geli mendengarnya. Anastasya mendorong Emma menjauhi wajahnya. Dia menggigit bibir bawahnya. Semalam memang tidak terjadi apa-apa kan selain ciuman. Dia tidak ingin melakukan lebih dari hanya sekadar ciuman. James bisa saja menjebaknya membuat seolah-olah Noah adalah pria berengsek sehingga Ana berpaling pada James. Tapi apa motif James melakukan ini semua? Benarkah karena dia memang mencintai Anastasya? “Kenapa kamu diam seperti ini sih? Sungguh, aku punya waktu lima menit sebelum membuat makanan dan pergi bekerja.” Ana akhirnya menceritakan semuanya kepada Emma yang tampak sangat takjub akan cerita Anastasya. Namun, sama seperti Anastasya, Emma pun merasakan kejanggalan yang aneh. Apakah benar Noah seperti itu mengingat rekam jejak Noah di kampus bukanlah seorang pria berengsek. Rasanya tidak mungkin Noah seperti itu. “Soal mansion itu kalau aku jadi kamu aku tidak akan menolaknya.” Emma tersenyum lebar. “Seberapa mewah mansion itu?” lanjutnya dengan mata menyala-nyala seakan dia akan tinggal di mansion James. “Sangat mewah. Desain interiornya begitu menakjubkan belum lagi perabotan yang terkesan sangat mahal. Aku rasa perabotan di sana kalau memiliki nyawa akan keberatan kalau aku menggunakan mereka.” “Hahaha!” Emma terbahak mendengar celetukan Anastasya yang terkesan inferior. “Kita tidak bisa meragukan James. James tentu benar-benar menyukaimu kalau dia memberikanmu mansion itu.” “Dia memintaku untuk menjadi istrinya.” Ana mengatakannya seakan James memintanya berubah menjadi anjing peliharaan. “Astaga, Ana, itu luar biasa. Dia berani berkomitmen. Oke, semuanya terserah padamu. Mungkin kamu memang mencintai Noah dan tidak bisa melupakan Noah. Tapi, James tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia menawarkanmu hidup yang lebih baik. Dia menawarkanmu menjadi Nyonya di istananya.” Emma berkata dengan nada cepat sehingga Ana agak susah mengerti kata-katanya tapi dia paham akan inti perkataan Emma. “Bagaimana dengan Noah? Aku masih tidak percaya dia seperti itu.” “Aku akan cari sesuatu.” “Sesuatu apa?” “Bukti. Akan coba kutelusuri. Aku akan mempertanyakan mantan-mantan Noah dan bertanya alasan mereka berpisah.” *** James menelpon Anastasya berkali-kali tapi wanita itu tidak mengangkatnya. Meski begitu, James tahu kalau hal ini tentu saja membuat Anastasya dilema. Pengkhianatan Noah dan kehadirannya yang menawarkan cinta baru selalu membuat wanita mana saja merasakan hal yang sama. Waktu untuk berpikir. Waktu untuk memutuskan kekasihnya dan menerima cinta baru yang lebih indah. James yakin Ana masih memikirkan kejadian semalam. Ana memiliki kontrol yang sulit dikendalikan. Kalau saja Anastasya mabuk berat dia pasti akan berakhir di atas ranjang James. Tapi wanita itu cukup sulit ditaklukan meskipun dia sendiri menyerahkan dirinya dengan datang ke mansion James. Seperti sebuah permainan tarik tambang—mengulur waktu hingga pada di saat tertentu salah satu tim akan menyerah dan kalah. James bisa dipastikan menang setelah poto ciumannya dengan Anastasya tersebar di kantornya sendiri. Anastasya tidak akan bisa menolak James. Skenarionya seperti itu dan seharusnya begitu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD