“Apa yang kamu lakukan di sini?” James mengabaikan Evelyn dan melangkah menuju mejanya.
“Bekerja. Aku asistenmu sekarang.”
“Ruanganmu di sebelah sana.” James menunjuk ruangan Evelyn dengan dagunya. Dia tidak mau menatap Evelyn. Tidak. Ini akan semakin rumit. Kalau sampai Anastasya tahu dia memperkerjakan mantan kekasihnya, ini akan menjadi masalah bagi hubungannya dengan Anastasya.
“Tentu, aku akan ke sana, James. Ijinkan aku menyapamu terlebih dahulu.”
“Kamu mau aku memecatmu sekarang?” Ancam James dengan nada dingin.
“Kamu kenapa? Setelah lama kita tidak bertemu ini yang kamu ucapkan padaku? Aku butuh pekerjaan, James. Dan adikmu memberitahu lowongan pekerjaan ini. Aku sangat senang mendapatkan pekerjaan yang layak sekarang.”
“Bukannya kamu di London.”
“Aku harus menghemat kalau di London. Aku memilih bekerja denganmu daripada di London. Kantor penerbitan bangkrut dan aku bekerja serabutan. Aku bekerja di restoran, supermarket dan freelance menulis artikel di sebuah website. Kamu mengizinkan aku bekerja di sini kan?”
James berpikir sejenak.
“James?”
“Begini,” James mulai luluh. “Jangan pernah katakan pada siapa pun bahwa kita pernah menjalin hubungan. Anggap kita tidak mengenal satu sama lain. Selama rahasia itu terjaga selama itu pula aku bisa mengizinkanmu bekerja di sini.”
Evelyn tersenyum lebar. “Tentu.”
“Kamu bisa kembali ke ruanganmu dan kerjakan tugas-tugasmu.”
“Ya,” sahut Evelyn lalu beranjak pergi ke ruangannya.
***
“Dia mengizinkan aku bekerja di sana, Suzanne.” Evelyn tersenyum karena James yang dingin itu akhirnya memberikannya kesempatan untuk merebutnya kembali dari Anastasya.
“Kakakku itu sebenarnya orang baik. Tapi dia sangat membenci keluarga Sneden.” Suzanne mengaduk kopi di cangkirnya.
“Menurutmu, apakah James tidak mencintai Anastasya itu?” Evelyn bertanya serius. “Kalau James tidak mencintai Anastasya, aku punya kesempatan yang lebih baik tapi kalau James mencintai Anastasya, aku harus berkerja ekstra untuk mendapatkan perhatiannya lagi.”
Suzanne menerka-nerka dalam hati. Apakah kakaknya mencintai Ana? Dia tidak yakin soal perasaan James. “Aku tidak tahu. Aku hanya ingin kakakku tidak menikah dengan Anastasya. Aku akan merasa bersalah kalau sampai terjadi apa-apa pada wanita itu.” Suzanne menatap Evelyn. “Kamu sendiri apakah masih punya perasaan untuk kakakku?”
Evelyn tersenyum malu-malu. “Kupikir aku sudah tidak mencintainya, tapi tadi aku melihatnya lagi dan perasaan itu muncul lagi. Dia selalu terlihat tampan dan mempesona.”
Suzanne merasa ketampanan kakaknya adalah kutukan. Kutukan karena bisa mendapatkan wanita manapun dengan mudah termasuk Anastasya. Dan James sudah berusaha meluluhkan Ana hingga akhirnya Anastasya mencintai James.
“Aku penasaran dengan Anastasya itu. Apakah dia cantik?”
“Ya, cantik. Tapi tidak secantik dirimu, Evelyn. Kamu wanita tercantik yang pernah dikencani kakakku.”
Evelyn kembali tersipu malu. “Kamu tahu, Suzann, aku meyakini hal itu karena James memang mengakui itu dulu sebelum kami berpisah.”
“Aku sedang berpikir bagaimana cara menyingkirkan Anastasya. Perlukah aku melakukan sesuatu yang lebih ekstrem?”
“Maksudmu, Evelyn?”
“Membuat James tidak berminat sama sekali pada Ana.”
“Aku tidak mengerti.”
“Menjebak Anastasya.”
“Jebakan seperti apa?”
“Ya, membuatnya tidur dengan pria lain apalagi?!” Evelyn memelotot pada Suzanne hingga Suzanne membeku sesaat. Nada tinggi Evelyn membuatnya ngeri.
Apakah Evelyn wanita yang tepat untuk kakaknya mengingat wanita itu pernah tinggal di London dan entah apa yang dilakukannya di sana. Meskipun mengaku kerja keras untuk melunasi hutang-hutangnya tapi tetap ada keraguan setelah ide gila yang dikatakan Evelyn. Ditambah seakan Evelyn mendesak agar Anastasya segera berpisah dengan James.
***
Anastasya menatap poto keluarganya di album poto yang dimilikinya pada tahun 1991 saat itu album poto ini diberikan orang tuanya untuk kakaknya. Tapi, kemudian berpindah tangan menjadi miliknya setelah dia lahir ke dunia.
“Bagaimana dengan Suzanne?” tanya Emma sambil menggigit apel hijau.
“James bilang Suzanne akan menyerah.” Anastasya menutup album potonya dan meletakkannya di atas meja. “Menurutmu apakah aku perlu menemui Suzanne?”
“Tidak usah. Itu urusan James. Aku takut Suzanne makin membencimu. Kamu bisa titip kue buatanmu pada James untuk Suzanne.”
Anastasya mengangguk setuju dengan ide Emma.
“Apa kamu benar-benar mencintai James? Bukan karena Noah meninggalkanmu begitu saja kan?”
“Tidak. Aku memang tertarik pada James dan aku sudah mencintainya. Dia membuatku selalu bahagia. James memintaku agar aku segera pindah ke mansion.”
“Wow!” mata Emma membelalak. “Bagus. Aku akan sering datang ke mansionmu dan mengganggu kalian berdua di sana setiap malam. Haha!”
Anastasya menyikut lengan Emma. “Aku tidak akan mengizinkanmu melakukannya.” Canda Ana diselingi tawanya yang renyah.
“Ah, aku akan merindukanmu nanti kalau kamu menikah dengan James.”
“Yang pasti beban hidupmu berkurang.” Kata Ana.
“Ya, kamu benar. Aku tidak perlu mengkhawatirkanmu. Aku juga tidak perlu mengurusimu bayi besar.”
Mereka terbahak secara bersamaan.
***
Suzanne melihat Evelyn membuka lemari pakaiannya. “Apa yang kamu lakukan, Evelyn?” tanya Suzanne mencoba untuk menenangkan diri.
“Mencari pakaian yang menarik perhatian James.” Evelyn masih mencari-cari pakaian di dalam lemari Suzanne tanpa takut dicurigai.
“Aku tidak memiliki pakaian yang seksi. Kakakku pasti tahu kalau kamu mengenakan pakaianku.”
“Nah!” Evelyn menoleh pada Suzanne.
“James akan mempertanyakan masalah baju yang kukenakan. Lalu aku akan menjawab milik Suzanne. Aku tidak punya baju lagi. Saat itu James akan bersimpati padaku. Dan dia akan membelikan aku baju. Aku mengajaknya berlama-lama menghabiskan waktuku di luar kantor. Bagaimana menurutmu?
“Iya, itu ide yang bagus. Kamu harus mengenakan baju yang sering aku pakai.”
“Yang mana?”
“Ini,” Suzanne mengeluarkan dress model vintage.
“Ah, seleramu memang seperti ini ya?” tanya Evelyn yang membuat Suzanne tersinggung.
“Kenapa dengan seleraku?”
“Dress ini tidak terlihat seksi sama sekali.”
“Aku sudah bilang padamu aku tidak punya pakaian yang seksi kan.”
Evelyn menarik dress vintage dari tangan Suzanne dengan kasar. “Ah, sudahlah. Aku butuh uang dan harus melunasi hutang-hutangku.”
Suzanne membeku sesaat. Dia sudah merasa tidak menyukai Evelyn. Evelyn gegabah dan bertindak sembrono. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Membatalkan perjanjiannya dengan Evelyn dan membiarkan James menikahi Ana atau tetap mempertahankan Evelyn?
“Evelyn,” kata Suzanne.
“Apa lagi?”
“Aku tidak suka kamu masuk ke kamarku begitu saja dan mencari bajuku tanpa izin dariku.”
Hening.
Suzanne dan Evelyn saling melempar tatapan.
“Dan soal jebakan untuk Anastasya, aku tidak setuju. Aku tidak mau kakakku menganggap Ana sebagai w************n. Tugasmu hanya merebut kembali kakakku tanpa rencana yang kotor. Tak masalah kalau kamu tidak berhasil yang penting kamu sudah berusaha melakukannya.”
Evelyn menyeringai angkuh. “Dengar, aku benar-benar butuh uang dan aku harus menyingkirkan Ana secepatnya.”
“Berapa yang kamu butuhkan saat ini aku akan membayarmu.”
“Berapa pun uang yang kamu janjikan itu kurang, Suzanne. Hutangku lebih besar dari uang yang kamu janjikan.” Jeda sejenak. “Aku harus menikah dengan James.”
“Bukankah uang yang aku berikan sudah banyak? Kamu butuh berapa lagi?” Suzanne mulai khawatir.
“Aku harus menikah dengan James.” Bukan jawaban melainkan sebuah keinginan.
“Kamu keterlaluan. Aku tidak menyuruhmu menikah dengan kakakku. Kamu akan menghambur-hamburkan uang kakakku. Aku tidak sudih, Evelyn.”
“Kamu bilang sendiri tidak ingin James menyiksa Anastasya kan dan kamu menyuruhku untuk merebut kembali James. Semua sudah terlambat, Suzann. Aku ingin James menjadi milikku seutuhnya. Aku ingin James menikah denganku.”
Mendadak Suzanne merasa sesak napas.
“Dulu kamu tidak seperti ini.”
“Aku punya hutang banyak. Aku harus melakukan ini untuk menyelamatkan hidupku.”
Suzanne menggeleng-gelengkan kepala seakan menolak Evelyn.
***