MCL 09 #Tia dan Ica

1753 Words
Tia yang sudah sampai di depan pintu utama berwarna coklat itu, langsung membuka kasar pintu besar itu dan melangkah masuk, "Ada apa ini? Kenapa jantungku berdetak cepat? Padahal sudah jelas dia tak suka padaku, lalu ada apa ini?" gumam Tia sambil berdiri bersandar di pintu, dan kedua tangan berada di atas jantung yang berdetak cepat. "Tia ... Apa itu kau?" Tia tersentak dan langsung menegakkan tubuhnya saat mendengar suara Aldy. "A...ada apa tuan muda? Apa anda butuh sesuatu?" jawab Tia dan membuat Aldy berjalan cepat ke arah Tia, tepatnya ke depan pintu utama. "Owh... jadi itu beneran kau. Kenapa kau pulang jam 9 malam seperti ini?" Tanya Aldy yang sudah berdiri di depan Tia. "Ba...banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan Tuan muda," jawab Tia dengan tersenyum hormat ke arah Aldy. "Oh iya ... Besok weekend, apa kau mau men-" "Maaf tuan muda, besok anak-anak akan ulangan. Saya permisi dulu," potong Tia dan langsung berjalan meninggalkan Aldy yang belum sempat menyelesaikan ucapannya. Aldy hanya bisa tersenyum miris. Padahal sewaktu kecil dulu, Tia tak pernah menghiraukannya seperti saat ini. Dengan masih tersenyum sendu, Pria yang tak kalah tampannya dari Tio itu berjalan ke arah lift. *** Sementara itu, Tia masih berjalan menuju rumah besar bagian belakang, tempat dimana jejeran gubuk kecil untuk ditinggali oleh para pekerja di rumah besar itu. Termasuk Tia dan juga Rahayu. Dari kejauhan, terlihat seorang wanita paruh baya yang tengah mondar mandir di depan teras gubuk kecilnya. Tia menyinggung senyum saat melihat raut wajah panik dari ibunya. "Ibu!" Seru Tia dan langsung membuat Rahayu yang tengah mondar mandir, menoleh ke arah suara yang sangat dia kenal menyerukan kata ibu. Tia berjalan cepat dengan kedua tangannya terbuka untuk mendapat pelukan hangat dari ibunya. Bukan pelukan hangat yang dia terima, malahan gadis itu mendapatkan pukulan pelan di kening. "Aw... aku berharap pelukan hangat ibu, bukan pukulan hangat," protos Tia dengan mengerucutkan bibirnya terlihat lucu "Dasar anak nakal. Kau dari mana hingga pulang selarut ini nak?" sembur Rahayu dan bergerak menarik lengan putrinya untuk membawa gadis itu masuk kedalam gubuk, "Apa kau sudah makan malam?" tanya Rahayu dengan sudah bernada lembut saat mereka berada di dalam gubuk. "Sudah Bu ... tadi Tia sudah makan banyak makanan di restoran bintang lima." jawab Tia dengan tersenyum dan mengusap-usap perutnya. Melihat senyum dan raut bahagia di wajah sang anak, Rahayu tak bertanya lagi, "Kalau begitu, kau mandi dan siap-siap tidur," perintah Rahayu dan bergerak menyiapkan tempat tidur untuk dirinya dan sang anak. "Siap Ibu!!" jawab Tia dengan tangan bergerak hormat. Baru Tia hendak melangkah ke kamar mandi, suara pintu di ketuk membuat gadis itu mengurungkan niatnya. Tia berjalan untuk membuka pintu yang sedari tadi di ketuk tanpa hentinya, "Sebentar!" teriak Tia marah karena, suara ketukan itu semakin membabi buta. Tia memutar knop pintu dan seketija membulatkan matanya, "Ica ... ada apa denganmu? Kenapa pakaianmu terbuka seperti ini? Dan, apa kau minum alkohol Ica? Bukankah kau bilang sibuk pemotretan?" tanya Tia dengan membabi buta membuat Ica menarik lengannya keluar rumah. Iya ... Kalian ingatkan saat Ica berbohong kalau dia banyak kerjaan tapi, itu hanya kebohongan. Buktinya tadi siang, setelah memutuskan sambungan telpon Tia. Ica mendapatkan telpon dari Sam, kekasihnya. Dia diajak berkencan dan Ica mengiyakan ajakan dari Sam. Flashback on Suara musik berdentum keras memenuhi seluruh ruangan yang di terangi dengan lampu kelap kelip, membuat ruangan itu bernuansa sedikit gelap. semua orang terlihat berjingkrak jingkrak menari, mengikuti alunan musik DJ yang di mainkan oleh seorang DJ ternama di kota ini. Terlihat juga di dalam ruangan luas itu, banyak pasangan yang tengah b******u panas tanpa ada rasa malu sedikit pun. Namun, di salah satu ruangan VIP di club itu. Terdapat dua pasangan yang tengah saling pandang penuh akan cinta. "Apa kau tidak mempunyai tempat yang lebih romantis untuk berkencan Sam?" tanya Ica, wanita cantik berkulit putih yang menggunakan baju pink berbeda dengan baju yang ia kenakan tadi siang. Baju yang wanita itu kenakan sekarang iyalah dress selutut nampak sangat terbuka. "Bagiku disinilah tempat paling romantis Ica," Jawab Sam, yang mempunyai nama lengkap Samudra Pratama dengan tersenyum menggoda, "disini kita bisa langsung b******u sayang," sambung samudra dengan tersenyum nakal. "Sam ... kau jangan bermain-main dengan ku," timpal Ica dengan mengedipkan satu matanya, "lagian kau tidak akan berani melakukan hal itu kepadaku," sambungnya seolah perkataannya itu menantang Samudra. "Kau meragukan keberanianku sayang?" Samudra menaikkan kedua alisnya dan langsung mengeluarkan senyum tampannya. "Akan aku buktikan seberapa memabukkannya ciumanku padamu, sayang," ujar Samudra dengan wajah mulai bergerak mendekati wajah Ica yang terlihat masih menantang. Ica hanya tersenyum dan ikut memajukan wajahnya sehingga kening mereka berdua menyatu, dan hidung mancung Sam menempel di hidung pesek Ica. Ica menggerakkan tangan membelai pipi Samudra yang sedikit di tumbuhi bulu halus. "Sungguh kau akan membuat ku ketagihan dengan cium-" Belum sempat Ica menyelesaikan ucapannya, dengan gerakan cepat samudra melumat bibir ranum Ica yang berwarna pink. Ica yang mendapatkan ciuman lembut tersebut, mulai membuka mulutnya untuk memberikan lidah Samudra bermain di dalam lidahnya. Samudra mulai melumat lembut bibir Ica, dan sesekali pemuda itu menggigit bibir bawah Ica. Ica mulai terhanyut dalam permainan lidah Samudra yang memabukkan. Merasakan nafas Ica mulai tersengal, Samudra melepas pagutan bibirnya dari bibi ranum Ica yang bawahnya sudah terlihat membengkak. Samudra tersenyum melihat bibir kekasihnya yang membengkak. "Bagaimana? Apa kau menikmatinya sayang." Samudra bergerak menghapus jejak basah di bibir bawah Ica dengan ibu jarinya. Ica yang mendengar itu hanya tersenyum dan pipinya merona. "Kau sangat ahli... Aku kira kau masih amatiran dalam mencumbu seorang wanita," puji Ica dengan tersenyum merona. "Ini memang pertama kali aku mencium wanita sayang, sungguh bibirmu ini sangat manis," ucap Samudra dan masih membelai bibir pink Ica. "Baiklah kita nikmati malam romantis ini sayang." sambung Samudra dan menyodorkan gelas yang berisi Vodka kepada Ica. Ica menerima gelas tersebut dan mereka berdua membenturkan gelas dan langsung meminumnya. Bibir Ica dan Samudra terus melukis senyum yang begitu sangat manis malam ini. Flashback off "husss... apa kau tidak bisa berbicara pelan Tia," ujar Ica dengan nada pelan dan itu hanya didengar oleh Tia. Ica menarik tubuh Tia hingga telinganya tepat berada di bibir Ica, "Tia ... tolong bantu aku meminta izin," bisik Ica. "Izin?" beo belum mengerti. "Iya, tolong bicara pada Papa agar aku diizinkan pergi bersama Sam besok pagi," jelas Ica dengan nada masih pelan. "Tidak Ica, aku tidak bisa membantumu. Tadi tuan muda Tio, menitip pesan. Dia bilang akan datang menemuimu besok," tolak Tia dengan membalik badan seolah tak mau. "Persetan dengan pria gendut itu, aku tidak peduli. Ayo lah Tia, aku mohon bantu aku meminta izin," mohon Ica dengan raut wajah memelas, dan itu kelemahan dari Tia. "Tap-" Tia menoleh kepada Ica dan terlihat mata memelas Ica dan membuat gadis itu tak tega menolaknya, "baiklah, aku akan mencoba membantumu meminta izin tapi, tu-" "Terimakasih Tia ... kau memang sahabat terbaikku. Aku menyayangimu," teriak girang Ica dan langsung memeluk erat tubuh Tia. Tia hanya bisa mengukur senyum saat melihat nona mudanya itu sangat bahagia, "Ica...." panggil Tia dan membuat Ica diam menatap ke arah sahabatnya, "cobalah kau temui tuan muda Tio sekali saja," pinta Tia dan langsung mendapatkan putaran mata malas Ica. "Tidak, kenapa aku harus bertemu dengan pria gendut itu," tolak Ica dan membuat Tia menghela nafas prustasi. *** Keesokan harinya, Ica sudah berdiri di depan gubuk tempat tinggal Tia. Wanita itu dengan Suara cempreng memanggil-manggil nama Tia, dan tidak lupa dia bergerak menggedor pintu gubuk itu. "Tia! Tia! Tia! Bangun!" panggil Ica dari luar rumah dengan tangan menggedor-gedor pintu. Sementara itu, Rahayu dan Tia menggeliat karena terganggu. Padahal jam masih menunjukkan pukul 5 pagi tapi, siapa orang yang sepagi ini mengusik tidur ibu dan anak itu, "Tia bangun, coba kau lihat siapa orang yang membuat kebisingan di luar," pinta Rahayu yang masih setengah sadar. "Ibu saja yang lihat sana, Tia masih mengantuk Bu," balas Tia dengan mata yang masih terpejam. "Tia! Tia! ini usah jam lima pagi. Bukankah kau berjanji untuk membantuku bersiap-siap!" Teriak Ica dari luar dan masih menggedor pintu. Teriakan itu berhasil membuat Tia membuka mata lebar. "Ya tuhan ... kenapa aku bisa melupakan itu," Gumam Tia yang sudah bangun dari tidurnya, "Iya! aku akan segera kesana nona muda!" Teriak Tia dan langsung berlari ke arah kamar mandi. Gadis itu dengan cepat membasuh wajahnya, dan langsung berlari keluar dengan tangan bergerak mencepol rambutnya asal. "Maaf Ica, aku hampir lupa." Tia meminta maaf dengan sopan dan terdapat raut bersalah di wajahnya. "Sudah tidak masalah. Cepat bantu aku menyiapkan keperluan untuk dua hari berada di puncak," pinta Ica dan langsung menarik lengan Tia untuk mengikutinya ke rumah besar. Tia yang masih menggunakan kaos hitam dan celana pendek hanya bisa mengikuti, tanpa bisa menolak sedikit pun. Sesampainya di dalam kamar bernuansa Pink milik Ica, Tia langsung melongo dibuatnya. "Ya ampun Ica, kenapa kamarmu bisa berantakan begini sih?" cerca Tia yang melihat begitu banyaknya pakaian berserakan di atas ranjang berukuran besar itu, "Ini lagi, apa kau ingin pergi membawa koper ke puncak?" Sambung Tia dan bergerak mengeluarkan kembali barang-barang yang sudah Ica masukkan kedalam koper. "Apa aku salah?" Tanya Ica dengan mengangkat kedua alisnya dan tersenyum. "Entah Nona muda. Ini juga, kenapa kau ingin membawa pakaian terbuka ke sana? Apa kau tau hawa malam disana sangat dingin?" sembur Tia dengan menggeleng-gelengkan kepala. "Itulah kenapa aku selalu membutuhkanmu sahabatku. Jadi ... aku serahkan bagian berkemas padamu, dan aku mau bersiap-siap dulu. 30 menit lagi, Sam akan datang menjemputmu." Teriak girang Ica dan langsung melangkah masuk ke kamar mandi. 30 menit berlalu Tia sudah selesai menyiapkan semua perlengkapan yang Ica butuhkan untuk dua hari di puncak. Tia duduk di atas ranjang Ica, dan matanya langsung tertuju pada Ica yang baru keluar dari dalam walk in closed. Terlihat Ica telah menggunakan hodie warna cream dengan kupluk yang tak menutupi kepalanya, dan celana jeans hitam dengan sepatu boots wanita. "Kau selalu terlihat sempurna Ica." puji Tia dengan tersenyum ke arah Ica. "Ini semua karena dirimu Tia. Kau selalu memilihkan baju yang sangat cocok untukku," Jawab Ica dan mengambil handphon di atas nakas. "Tia aku pamit dulu, Sam sudah menunggu ku di luar, dan terimakasih atas bantuan mu." Ucap Tia dengan tersenyum dan memeluk Tia. "Hati hati disana Ica, jaga diri baik-baik dan cepat lah pulang." Jawab Tia dan hanya di balas anggukan oleh Ica. Ica bergegas keluar dari dalam kamar meninggalkan Tia sendirian. Tak lupa, wanita itu membawa tas punggung yang sudah disiapkan oleh Tia tadi, "Dasar anak itu, aku kira dia tidak bisa bangun pagi." Gumam Tia dan melihat jam yang menempel di atas dinding yang sudah menunjukkan pukul 06:05 T.B.C Jangan lupa tap love, komen, bantu share yah bay bertemu di next part...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD