Bab 2. Pengantin Pengganti

1383 Words
Tak ada raut wajah bahagia, tak ada sebuah tawa—perempuan dengan balutan gaun pengantin itu memperlihatkan wajah penuh paksaan kepada setiap tamu yang menaiki altar dan bersalaman dengan dirinya. Dia menjinjing gaun pengantinnya, melirik sekilas—tanpa minat pada pria yang 30 menit lalu telah resmi menjadi suaminya. Zricho Kayser Teriaz, pria berusia 36 tahun yang dia ketahui sebagai paman dari Jazziel—sosok yang merawat Jazziel sejak kecil. Elara tak pernah bertegur sapa dengan pria itu, tetapi sekarang pria itu justru menjadi suaminya yang sah di mata hukum dan agama. Menarik napas panjang, Elara mulai merasa lelah. Kaki yang ditopang oleh spool heels dan gaun pengantin yang cukup berat menempel sempurna di tubuhnya. Elara kembali melirik Zricho, berharap pria itu sedikitnya peka dan menaruh rasa peduli. Akan tetapi, itu hanya angan-angan Elara saja, kenyataannya Zricho masih sibuk menyalami tamu dengan wajah datar. "Ini serius suamiku modelan dia? Kaku dan cuek gini?" Elara membatin, lalu dia memilih untuk langsung duduk tanpa mengatakan apa pun—Elaea bahkan melempar tubuhnya dengan kasar. "Tuhan bercandanya enggak lucu!" gerutu Elara dengan suara kecil. Perempuan itu mendongak, menatap Zricho dengan lekat. Di usianya yang menginjak kepala tiga, Elara akui suaminya ini cukup tampan—tubuh tegap dan kekar, bola mata pria itu tajam, warnanya hitam pekat, perpaduan dengan kelopak mata tebal yang membuat tatapan Zricho terlihat serius dan juga tajam. Lengannya dipenuhi tato berwarna hitam, bold, dan maskulin dengan bentuk presisi dan terkadang terlihat terlalu minimalis. Pandangan Elara kembali beralih pada wajah Zricho, menatap alis tebal, tegas pria itu, dan sedikit turun di ujung, membawa kesan galak meskipun Zricho lebih banyak diam. Hidung pria itu besar, tegas, batangnya lurus dan kuat—ditambah lagi dengan rahang tegas dan garis wajah yang terlihat sempurna. Terlalu lama mengagumi wajah sempurna sang suami, Elara tidak sadar jika Zricho mulai menyadari ada yang memperhatikan dirinya dengan intens dan lekat. Saat pria itu menoleh dan mata mereka bertabrakan, Elara langsung membuang muka dengan cepat—dia terbatuk kecil, respons kikuk yang jelas spontan Elara lakukan. Perempuan itu mengusap dadanya, jantung Elara berdebar keras di dalam sana. Sementara itu, Zricho masih menatap sang istri—tenang, tak banyak bicara, tetapi cukup mengusik ketenangan Elara. "Kenapa melihat saya segitunya?" Pertanyaan itu masuk ke telinga Elara, menggelitik gendang telinganya. Elara akhirnya menatap Zricho, tatapan sebal yang menyatu dengan wajah kesal perempuan itu. Dia memberengut kesal, menatap tak suka pria itu. "Dih?! Geer banget, ngapain juga natapin kamu!" kilah Elara, lalu kembali membuang muka. Saat Zricho ingin menyahuti pernyataan Elara, seorang perempuan dengan dress biru berlari menuju altar. Tatapan penuh rasa bersalah dan tak tega itu menyatu, dibaca dengan jelas oleh Zricho detik itu juga. Perempuan itu memeluk Elara yang masih duduk, pelukannya erat dan terlalu sulit dipisahkan. Perempuan itu masih memeluk Elara, dia diam—tanpa suara, membiarkan Elara mencerna sendiri apa yang baru sadar terjadi di hidupnya setelah sekian lama dia mencoba bersikap biasa saja. "El." Panggilan lirih itu hanya mampu didengar keduanya. Rasa sesak kembali menghimpit d**a Elara, udara diraup rakus oleh perempuan yang hatinya tengah rapuh itu. Sementara perempuan dengan rambut blonde—semakin mempererat pelukannya. Dia juga memberikan usapan lembut di punggung sang pengantin, meski tak bersuara, tetapi dia berusaha untuk menenangkan sang pengantin. "Kenapa Jazziel sejahat itu, El? Aku salah apa?" Pertanyaan itu terdengar lebih lirih dari panggilan yang tadi diutarakan. Ciela Atarine Penesha, perempuan yang berstatus sahabat dekat Elara sejak mereka duduk di bangku menengah pertama itu menghela napas panjang. Dia melonggarkan pelukan mereka, Ciela memandang Elara dengan tatapan lembut—hangat dan menenangkan. Ibu jari Ciela bergerak, menghapus air mata yang membasahi pipi Elara yang sedikit berisi itu. "Kamu nggak salah, Ra. Ini murni kesalahan dia, bukan kamu. Jadi berhenti salahin diri kamu, ya?" tutur Ciela dengan nada lemah lembut dan pelan. Elara menarik napas panjang, cairan kuning yang hampir saja menyentuh bibirnya kembali masuk ke dalam lubang hidungnya. Dia mengusap wajahnya yang basah, tanpa peduli riasannya akan rusak nantinya. Tanpa perempuan itu sadari, Zricho sedari tadi menatap Elara—tatapan yang terlalu sulit dijelaskan dan dibaca. Pria itu akhirnya membuang muka saat Ciela menoleh ke arah Zricho dengan wajah tenang dan begitu ramah, perempuan dengan rambut lurus sepinggang itu seolah menyambut hangat kehadiran Zricho di hidup Elara. Ciela menghela napas panjang. Dia menarik tangan Elara untuk berdiri, perempuan itu kembali memeluk tubuh Elara—menyalurkan sebuah kehangatan dan kasih sayang yang saat ini Elara butuhkan. "Aku tau ini bukan hal yang gampang, Ra. Kamu jangan pernah lupa tanggung jawab kamu sebagai istri, ya. Kalau nanti om-om itu nyakitin kamu, kamu hantam aja kepalanya atau bilang aku," kata Ciela, suaranya terdengar lembut dan tengah bergurau meskipun sedikit. Elara mengangguk patah-patah, dia mengelap air matanya dengan tisu secara perlahan. Pelukan itu terlepas, Ciela beralih berdiri di hadapan Zricho. Dia menatap Zricho dengan tenang, tatapan Ciela cenderung datar dengan mata yang berkedip pelan setiap beberapa detik. "Jangan sakitin Elara, saya tahu kalian menikah bukan karena cinta, tapi saya harap kamu bisa perlakuin Elara dengan baik." Ucapan Ciela terdengar dingin dan penuh ancaman, tanpa mengatakan apa pun—dia turun dari altar dengan elegan. Elara menoleh—kepala perempuan itu sedikit mendongak, bersamaan dengan itu—Zricho juga menoleh dengan kepala tertunduk. Tatapan mereka bertubrukan, keduanya saling pandang dalam diam. Sampai Elara lebih dulu tersadar dan langsung membuang muka, dia meremas sisi gaun pengantin yang dia kenakan sampai kusut. Wajah Elara memanas, memerah. Sementara itu, Zricho tampak santai dan tenang, seolah tak ada yang salah di antara mereka. *** Kamar pengantin itu sedikit hening, tak ada suara yang terlalu berisik dan ramai. Lampu menyala terang, cahayanya menyebar dengan rata ke seluruh ruangan. Ranjang dihiasi oleh kelopak mawar yang dibentuk seperti hati, lalu di depan ranjang—sebuah tulisan "Forever Starts Tonight" ditata rapi dengan lampu hias. Di depan cermin yang cukup besar—memantulkan bayangan seluruh tubuh, tanpa cela dan terlalu sempurna. Elara menatap pantulan dirinya sendiri—rambut sepinggang digerai dengan gaya curly. Bola mata besar, gelap, dengan kelopak yang jatuh tipis—berhasil membuat tatapan Elara terlihat datar, tetapi intens. Iris perempuan itu bersih, hampir hitam, kontras dengan warna kulit yang pucat dan halus. Hidung perempuan itu tidak mancung maupun pesek, tetapi cukup simetris dengan batas lurus dan ujung halus. Bibir atas Elara tipis, tetapi sedikit lebih penuh di bagian bawah—menciptakan kesan seksi yang menarik perhatian. Helaan napas Elara terdengar di kamar royal suite yang hening itu. Elara mengambil micellar water, menghapus riasan wajahnya yang sudah sejak pagi tadi menempel di wajahnya. Wajah tanpa riasan itu tak sedikit pun membuat kecantikan Elara berkurang, dia justru terlihat polos dan menggemaskan di waktu yang sama. "Kamu mandi, sudah malam." Suara itu tiba-tiba muncul bersamaan dengan pintu kamar mandi yang terbuka. Elara reflek menoleh, mata perempuan itu melotot karena terkejut. Dia buru-buru mengalihkan pandangan—menatap lantai. Ujung telinga Elara memerah, diikuti oleh wajahnya yang terasa panas. Dia menggerutu pelan, mengutuk diri sendiri yang salah tingkah hanya karena melihat Zricho keluar dari kamar mandi tanpa apa pun, selain handuk kecil yang melilit di pinggangnya. Elara bahkan dapat melihat bentuk tubuh sempurna suaminya dengan banyak tato yang ada terlukis di tubuh pria itu. "Kenapa menunduk? Kamu tidak mau mandi?" tanya Zricho, nadanya terdengar sinis dan bercampur kesal. Elara buru-buru mengangguk. Dia menarik napas panjang, menahan perlahan—lalu mengembuskannya dengan pelan. Dia mengangkat kepala, menatap Zricho yang tengah mengambil pakaian dari koper yang diantarkan anak buahnya. Elara memandang ragu punggung lebar itu, dia meremas tangan kanannya sedikit kuat. Menarik napas panjang, perempuan itu memberanikan diri untuk berdiri—dia melangkah mendekati sang suami. Tatapan Elara ragu, gestur tubuhnya tak bisa berbohong bahwa dia tengah gugup sekarang. "Apa yang mau kamu bicarakan?" Suara Zricho terdengar, pelan dan datar. Pria itu sama sekali tak menoleh, dia mengambil celana pendeknya dengan santai. Berbanding terbalik dengan Elara yang tersentak karena terkejut Zricho tahu dia kini berada di belakang pria itu. "Em ... itu ... ki—kita nikah tanpa cinta, gimana kalau kita cerai aja? Eh atau kita buat kontrak perjanjian?" cerocos Elara, dia gelagapan, suaranya bergetar, dan ritme ucapannya terlalu cepat. Zricho membalikkan badan. Tatapan pria itu berubah tajam, seolah siap menghunus jantung Elara. Tubuh Zricho berbalik cepat. Tatapannya langsung turun dan mengarah pada Elara yang memandang takut, tatapan Zricho berat dan juga tajam—membuat udara di antara mereka terasa menyempit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD