Lexsa berdiri beberapa detik di ujung tangga, mencoba menenangkan detak jantungnya. Insiden barusan masih menempel jelas di kepalanya. “Tidak ada yang dapat memprediksi takdir.” gumam Lexsa, mengacak rambutnya sendiri. Ia lalu menarik napas panjang, mencoba mengalihkan fokusnya.
"Kelas musiknya," gumam Lexsa lalu mempercepat langkahnya menaiki anak tangga menuntaskan tujuan utamanya menuju lantai dua.
Lexsa mulai menaiki anak tangga perlahan, kali ini benar-benar hati-hati. Tangga menuju lantai dua ternyata terbuat dari kayu tua yang mengeluarkan bunyi “kriiit” setiap kali diinjak. Bau khas kayu bercampur aroma debu tipis tercium, membuat suasana jadi sedikit hangat dan nostalgia.
Begitu tiba di lantai dua, lorongnya lebih ramai. Ada beberapa anak muda berbaju kaos putih mungkin peserta rehabilitas yang berjalan sambil membawa tongkat lipat, beberapa diantaranya tertawa pelan ketika saling bertegur sapa. Di dinding, tergantung foto-foto kegiatan panti seperti pertunjukan musik, kelas menulis, hingga piknik bersama.
Lexsa mengikuti petunjuk yang ia dengar tadi yaitu kelas dua. Ia melangkah sambil melirik papan nama di atas pintu-pintu.
Pintu pertama bertuliskan Kelas Membaca Braille, lalu Ruang Seni. Dan akhirnya, di ujung lorong, ada papan kayu sederhana bertuliskan Kelas Musik.
Lorong lantai dua terasa sunyi di ujungnya, hanya menyisakan suara samar nada piano yang mengalun dari sebuah ruangan kelas musik. Langkah kaki Lexsa melambat, napasnya berbaur dengan debar tak beraturan di dadanya. Jantungnya memukul-mukul seperti memberi isyarat bahwa sesuatu menunggunya di balik pintu itu, suara piano yang mengalun sama seperti suara permainan piano idolanya yaitu senja.
Lexsa tiba di depan Kelas Musik, pintunya terbuka sedikit, cukup untuk bisa membuat Lexsa mengintip ke dalam. Tangan Lexsa secara refleks menahan daun pintu, jemarinya terasa dingin meski udara di lorong tak terlalu sejuk.
Sekilas pandang pertama membuatnya terpaku.
Di tengah ruangan, duduk di kursi piano hitam mengilap, adalah sosok yang sangat ia kenal. Rambutnya rapi, tubuhnya tegap meski gerakannya tidak terlalu banyak. Jemarinya menari di atas tuts dengan keluwesan yang memukau, menghasilkan alunan nada yang seolah mengisi setiap sudut ruangan. Wajahnya serius, namun ada ketenangan dalam ekspresi itu.
Lexsa membeku.
"Itu… Tidak mungkin," pikirnya. Napasnya tercekat. "Tidak… dia tidak mungkin…"
Namun mata dan telinganya tidak bisa dibohongi. Lelaki itu, lelaki buta yang tadi ia tabrak di tangga dia adalah Senja kelaki yang suara dan permainan pianonya yang selalu Lexsa idopaoan. Senja, Idola yang selama ini hanya Lexsa lihat dari layar kaca dengan menggunakan masker yang suaranya mengisi daftar putar di ponselnya, yang lagunya ia hafal di luar kepala ternyata adalah lelaki galak dan sombong yang memarahinya kemarin dan hari ini.
Sekejap, kenangan-kenangan indah tentang sosok Senja seperti menyerbu pikirannya. Wawancara di televisi, penampilannya yang terlihat hangat saat berbicara kepada penggemar dan awak media, suara tawa ramahnya di atas panggung. Semua gambaran itu selama ini menjadi alasan kenapa Lexsa begitu mengaguminya.
Namun semuanya mendadak terasa retak saat mengetahui idolanya tak serama seperti apa yang dia bayangkan selama ini.
Bayangan hangat itu terhapus, digantikan oleh sosok lelaki yang ia temui di tangga tadi, nada bicaranya dingin, sikapnya tegas nyaris ketus, tatapannya menusuk meski ia tahu lelaki itu tak dapat melihat. Rasa malu bercampur kesal menyeruak dalam d**a Lexsa, membuat tenggorokannya kering.
"Tidak… ini tidak mungkin," bisik Lexsa lagi, mencoba menolak kebenaran. Tapi setiap kali jemari lelaki itu menekan tuts piano, alunan nada yang keluar sama persis dengan yang sering ia dengar dari rekaman video konser. Begitu khas milik Senja.
Lexsa ingin memutar badan, pergi dari sana sebelum perasaannya semakin kacau. Tapi sesuatu membuatnya terpaku.
“Pak Davin, apakah kelak aku bisa bermain piano seperti Bapak?”
Suara itu datang dari seorang gadis kecil di barisan depan. Nada suaranya lugu, penuh rasa ingin tahu.
Lexsa tersentak dari lamunannya. Pandangannya terfokus pada Davin.
Lelaki itu menghentikan permainan pianonya sebentar, lalu menoleh ke arah sumber suara. Ada suara tawa tipis yang terdengar di mulut lelaki bernama Davin itu suara tawanya cukup untuk membuat murid kecil yang bertanya itu merasa diperhatikan. “Tentu saja bisa,” jawab lelaki bernama Davin itu, suaranya tenang dan dalam. “Kalau kau mau belajar dengan sabar, suatu hari nanti kau akan bermain bahkan lebih baik dariku.”
Anak-anak di kelas tersenyum mendengar jawaban itu. Beberapa saling berbisik kecil, kagum pada sang guru musik yang tampan.
Lexsa justru merasakan campuran aneh di dadanya. Kata-kata Davin terdengar tulus, tapi bayangan sikapnya di lorong dan kemarin di depan lift masih membekas terlalu kuat di benak Lexsa “Bisa-bisanya aku mengidolakan lelaki sepertinya…” batinnya, getir.
Lexsa menatapnya sekali lagi, seolah berusaha mencari celah untuk membuktikan bahwa dirinya salah, bahwa senja yang di depannya ini bukan Davin yang sama yang menabraknya. Tapi sia-sia. Gerakan jemarinya di atas tuts, gaya tubuhnya saat bernyanyi—semua terlalu identik dengan gaya idola Lexsa bernama panggung senja.
Lexsa akhirnya menarik napas panjang, lalu memutuskan mundur. Setiap langkahnya menjauh dari pintu kelas terasa berat, seakan kakinya menolak meninggalkan ruangan itu. Suara piano masih mengalun di belakangnya, semakin lama semakin sayup, tapi nadanya justru membuat d**a Lexsa terasa sesak.
Di lorong, ia berhenti sejenak, bersandar pada dinding, menutup mata. “Aku bahkan tidak tahu harus senang atau kecewa sekarang.” gumamnya.
Tapi satu hal jelas bayangan sempurna tentang idolanya tak akan pernah sama lagi.
***
Langkah-langkah ringan Davin terdengar berirama di lantai kayu kelas musik itu. Jari-jarinya yang ramping berhenti sejenak dari menekan tuts piano, membiarkan denting terakhir menggantung di udara. Ia memiringkan kepalanya sedikit, memfokuskan pendengarannya pada suara langkah yang mulai menjauh dari arah pintu kelas. Ada sesuatu yang menggelitik pikirannya.
"Gadis itu lagi? Apa yang sebenarnya dia lakukan di sini?" batinnya bergumam meski buta Davin sangat sensitif pada suara dan aroma jadi dia akan sangat mudah mengetahui keberadaan seseorang dari suara dan aroma orang itu.
Suara riuh rendah murid-murid di kelas mulai berbaur dengan percakapan kecil di sudut-sudut ruangan, tanda waktu istirahat hampir tiba. Davin menekan beberapa nada sebagai penutup, memberikan arahan singkat kepada murid-murid, lalu berdiri. Ia mengambil tongkat pandunya yang disandarkan di samping kursi, kemudian melangkah keluar kelas.
Lorong panti terasa lengang, hanya sesekali terdengar suara langkah orang berlalu. Aroma bunga mawar becampur cherry blosom samar-samar tercium di udara. Davin berhenti sebentar, mengenali aroma itu. Parfum yang sama. Aroma yang sempat ia rasakan saat gadis Lexsa menabraknya di tangga dan di lift, Ia tak tahu kenapa otaknya masih mengingat jelas detail itu aroma gadis itu. Davin sangat familiar pada aroma itu tapi ia lupa di mana ia perna mencium aroma itu sebelumnya.
Bersambung!...