Nyonya Celin menatap tajam Tuan William "Kau tahu keputusanmu memberi izin pada Lexsa untuk pergi itu bisa membahayakan kondisi Lexsa," ucap Nyonya Celin marah.
Tuan William tersenyum lalu menatap ke arah ruang rawat Lexsa di dalam Lexsa terlihat senang "Lihat senyum Lexsa sekarang," ucap Tuan William membuat Nyonya Celin langsung menatap kearah ruangan di sana ia melihat Lexsa putrinya sedang tertawa dengan rona wajah bahagia.
"Itu senyuman terindah yang perna ku lihat dari Lexsa, aku memberi izin karena aku yakin dia bisa menjaga diri. Tolong kali ini izinkan Lexsa melakukan apapun yang dia inginkan tanpa pengawasan kita." Pinta Tuan William membuat Nyonya Celin luluh dan ikut memberikan izin pada Lexsa meski masih dengan berat hati.
***
Kamar Lexsa pagi itu dipenuhi cahaya matahari yang menembus tirai tipis berwarna krem. Udara hangat menguar, berpadu aroma sabun dari pakaian yang baru saja dilipat. Lexsa duduk di lantai, bersila di depan koper besar berwarna biru tua, tangannya cekatan memasukkan tumpukan baju, buku catatan, dan sepasang sepatu kesayangannya. Senyumnya merekah sejak subuh tadi.
"Lexsa, jangan lupa obat-obatnya! Sudah Mama taruh di tas kecil, jangan sampai tertinggal," suara Nyonya Celin terdengar dari ambang pintu.
Lexsa melirik sekilas, menahan senyum. "Iya, Ma. Tenang saja. aku tidak akan lupa. Aku sangat menyayangi diriku sendiri aku masih ingin hidup lebih lama jadi aku tidak akan lupa pada obat-obatanku." ujarnya sambil melipat sweater merah marun yang baru dibelinya minggu lalu tanpa Lexsa sadari perkataanya justru membuat Nyonya Celin terlihat sedih dan nyaris menitikan air matanya sebelum Nyonya Celin menghapus air matanya dengan gerakan cepat saat Lexsa menoleh kearahnya.
Dengan segera Nyonya Celin mengalihkan topik. "Minumnya juga jangan telat. Tiga kali sehari. Kalau kepalamu mulai terasa sakit, langsung minum obat yang kapsul biru itu. Dan—"
"—dan jangan makan sembarangan, jangan tidur terlalu malam, jangan…," Lexsa melanjutkan sambil menirukan nada ibunya, membuat sang ibu berdecak.
"Dasar anak ini. Kau itu kalau di rumah saja suka lupa, apalagi di kota orang."
Lexsa menutup koper dengan sekali dorong, menguncinya rapat, lalu berdiri dan memeluk ibunya erat. "Aku janji, Ma. Semua akan baik-baik saja."
***
Satu jam kemudian, Lexsa bersama kedua orang tuanya sudah berada di bandara. Riuh rendah suara pengumuman keberangkatan bercampur derap langkah para penumpang membuat suasana sedikit kacau. Lexsa memegang boarding pass-nya erat-erat.
"Ma, Pa… terima kasih telah mengizinkanku pergi, aku berjanji akan menjaga diri dengan baik disana."
Nyonya Celin mengangguk, tapi matanya berkaca-kaca masih berat untuk melepaskan anak gadisnya. "Jangan lupa video call atau telpon setiap malam."
"Iya, aku janji," jawab Lexsa, lalu melangkah masuk ke area keberangkatan, sesekali menoleh sambil melambaikan tangan kearah kedua orang tuanya.
Penerbangan memakan waktu satu jam. Dari jendela pesawat, Lexsa memandangi hamparan awan putih yang mengapung bagaikan kapas. Dadanya dipenuhi rasa berdebar—antara gugup dan bersemangat. Ini pertama kalinya ia bepergian jauh sendirian, tanpa pengawasan orang tua.
Begitu mendarat, aroma khas kota tujuan langsung menyambutnya—perpaduan udara lembab yang segar dan bau dedaunan hijau. Di area penjemputan, seorang gadis berwajah ceria melambai-lambaikan tangan.
"Lexsa!"
Itu Nadin, sepupu Lexsa. Mereka berpelukan singkat sebelum Nadin mengambil alih koper besar itu.
"Udah siap jadi anak rantau?" goda Nadin sambil mendorong koper menuju parkiran.
"Tentu saja," jawab Lexsa penuh semangat lalu keduanya masuk ke dalam mobil dan Nadin mulai mengemudikan mobil meninggalkan bandara.
Perjalanan menuju apartemen memakan waktu hampir setengah jam. Kota ini sibuk, tapi punya pesona tersendiri. Gedung-gedung tinggi berdiri di antara deretan kafe kecil yang tampak hangat.
Hingga akhirnya mereka tiba di apartemen yang disewa orang tua Lexsa yang terletak di lantai enam sebuah gedung modern. Lorongnya bersih, lampu-lampu temaram menciptakan suasana nyaman. Namun, begitu Nadin menekan tombol lift dan pintu terbuka, Lexsa langsung melangkah keluar begitu sampai di lantai enam—dan di situlah kejadian itu terjadi.
Brakk!
Lexsa menabrak seseorang dengan cukup keras hingga tubuhnya sedikit terdorong mundur.
"Jalan Pake mata!" Suara kasar nan dingin seorang lelaki terdengar tajam membentak Lexsa.
Lexsa terkejut. Lelaki itu berdiri tegak, wajahnya tampan tapi kaku, matanya menatap kosong kearah kejauhan. Sebuah tongkat lipat berwarna hitam tergenggam di tangannya. Dia… buta? pikir Lexsa.
"Maaf aku tidak sengaja," ucap Lexsa cepat berharap lelaki itu memaafkannya.
"Tidak sengaja? Kau pikir minta maaf bisa membuat kakiku tidak sakit lagi karena kau menabraku tadi." nada suaranya sinis, seperti menusuk telinga Lexsa.
Lexsa mengerutkan dahi. "Ya ampun, kau galak sekali. Aku sudah minta maaf dengan tulus kau masih saja mengomel seperti emak-emak yang kehilangan taperwernya. Lagian aku tidak sepenuhnya salah. Kau yang—"
"Kau yang menabrak ku!" potong lelaki itu cepat
Lexsa mendengus. "Iya, tapi—"
"Bisa-bisanya kau mengatakan bahwa itu bukan sepenuhnya salahmu sudah jelas-jelas itu salahmu. Lain kali jalan pakai mata."
Mata Lexsa membulat lalu mendengus sebal. "Dimana-mana jalan itu pake kaki bukan mata. Aku memang salah telah menabrakmu dan aku minta maaf tapi responmu keterlaluan. Lagi pula aku juga tidak tahu kau berdiri di pintu lift seperti itu."
Nadin yang sejak tadi menonton mulai menahan tawa mendengar perdebatan Lexsa dan lelaki itu "Lex, udah ayo kita masuk saja," bisiknya.
Tapi Lexsa masih tak terima akan perlakuan kasar lelaki itu. "Jika semua orang di dunia ini galak sepertimu maka aku yakin kejadian sepelepun akan membuat pertengkaran hebat." Ucap Lexsa sinis
"Dan aku yakin jika semua orang ceroboh sepertimu, maka akan banyak yang masuk rumah sakit akibat ulahmu." balas lelaki itu sebelum mereka beradu tatap atau lebih tepatnya Lexsa yang menatap, sementara lelaki itu tak membalas tatapan Lexsa. Melihat raut wajah lelaki itu Entah kenapa, meski menyebalkan, ada sesuatu di wajahnya yang membuat Lexsa sulit mengalihkan pandangan.
Akhirnya, lelaki itu mendengus, lalu melangkah pergi sambil mengetukkan tongkatnya ke lantai. Suara langkahnya perlahan menghilang di ujung lorong. Melihat adegan itu Lexsa tersentak dan mulai merasa bersalah begitu mengetahui bahwa lelaki itu benar-benar buta.
"Sepertinya dia salah satu penghuni sini juga," kata Nadin sambil mendorong koper ke arah pintu apartemen Lexsa.
Lexsa mengangguk setengah hati, tapi pikirannya belum lepas dari sosok lelaki itu, rasa bersalah Lexsa semakin besar.
***
Pagi itu, Lexsa sudah rapi dengan kemeja putih sederhana, celana bahan hitam, dan rambut yang diikat rapi ke belakang. Hari ini adalah hari penting, hari interviewnya sebagai pekerja sosial di sebuah pusat rehabilitasi tuna netra. Ia memeriksa jam di ponselnya dan langsung mengerutkan dahi.
"Aduh, telat!" gerutunya.
Tanpa membuang waktu, ia meraih tas, mengunci pintu apartemen, lalu setengah berlari menyusuri lorong menuju lift. Bunyi ketukan hak sepatunya bergema, seolah menandakan kepanikan yang mulai merayap di dadanya.
Namun, langkahnya terhenti mendadak saat melihat di depan pintu lift, berdiri sosok yang membuat ingatannya langsung kembali ke pertemuan tidak menyenangkan kemarin—lelaki buta itu. Ia tegak berdiri seperti patung, tubuhnya sedikit condong ke depan, tongkat lipat di tangan kirinya menyentuh lantai dengan ujung yang mantap. Wajahnya terangkat sedikit, seolah ia tengah mendengarkan sesuatu yang orang lain tak bisa dengar.
Lexsa menahan napas, melangkah pelan, berharap kehadirannya tak disadari.
"Dia berdiri seperti itu membuatku merinding… mirip arwah gentayangan penunggu pintu lift," pikir Lexsa sambil melirik cepat ke arahnya.
Sekilas, ia mengamati garis wajah lelaki itu—rahang tegas, hidung mancung, bibir tipis yang terkatup rapat dan tubuh bak atlit "Dia tampan… tapi sayang buta," batinnya, sebelum buru-buru mengalihkan pandangan ketika pintu lift berbunyi ting! dan terbuka.
Tanpa pikir panjang, Lexsa melangkah masuk. Lelaki itu pun ikut masuk tanpa suara berlebih, hanya bunyi lembut tongkat yang dilipat sebelum ia berdiri tegak di sisi kanan lift.
Lexsa menekan tombol “Lobi” dengan cepat.
Dari ekor matanya, ia melihat lelaki itu meraba dinding panel tombol lift. Gerakan jarinya teratur, seolah ia sudah menghafal posisi setiap tombol. Lalu, tanpa ragu, ia menekan tombol “Lobi” yang sudah ditekan Lexsa sebelumnya.
Lexsa memutar bola mata, menghela napas panjang. Ia kembali menekan tombol “Lobi” sekali lagi.
Lift mulai bergerak turun. Hening tak ada suara tercipta, Lexsa menatap lelaki buta itu dan ingin kembali meminta maaf namun ia segera mengurungkan niatnya takut respon lelaki itu akan sama seperti kemarin.
Pintu lift berbunyi ting! saat sampai di lobi. Lelaki itu melangkah keluar lebih dulu, tongkatnya terentang kembali. Lexsa menyusul di belakang lelaki itu menjaga jarak aman tapi sebelum ia bisa melangkah menjauh, lelaki itu berhenti dan berkata tanpa menoleh:
"Aroma parfummu terlalu menyengat membuat indra penciumanku sakit." Ucap Lelaki itu seakan mengetahui itu Lexsa.
Lexsa berdiri menganga dengan wajah kaget tak percaya bahwa lelaki itu akan mengomentari dirinya pagi ini, Lexsa mengangkat tinjunya melakukan gerakan ingin meninju lelaki yang saat ini sudah berjalan menjauhinya itu.
"Yeah Tuhan beri aku kesabaran setebal baja." gumam Lexsa lalu kembali melangkah meninggalkan loby.
bersambung!...