"Len, apa kamu sudah tidur?" tanya Harry setelah mematikan panggilan telepon.
"Belum." jawab Alena parau.
"Kamu belum mengantuk?" tanya Harry terus berusaha mengajak Alena bicara. Harry tahu persis di dalam gudang kotor itu pasti Alena sangat ketakutan sendirian.
"Belum." jawab singkat Alena.
"Kamu butuh selimut? Tunggu sebentar, aku akan mengambilkannya untukmu!"
"Tidak perlu, Har. Kamu Pergi saja dari sini, aku tak mau kamu terkena masalah jika terus berada di sini!" ucap Alena menghawatirkan keselamatan Harry.
"Bukankah dari awal kita sudah saling berjanji untuk siap menghadapi resiko buruk yang akan terjadi? Kamu enggak perlu menghawatirkanku, Len. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kita akan selalu bersama-sama menghadapi masalah apa pun yang tengah terjadi."
Jujur dari dalam hati Alena yang paling dalam, dia sungguh sangat tersentuh dengan ucapan Harry barusan.
"Maafkan aku Harry. Maafkan aku yang egois telah ikut menyeretmu dalam kehidupan menyedihkanku."
Alena yang awalnya sudah sedikit tenang kembali menitikan airmatanya.
"Aku punya alasan sendiri kenapa aku begitu ingin mencampuri kehidupan malangmu Alena. Alesan ini tidak bisa ku jelaskan padamu. Jadi tolong, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri."
"Terima kasih, Harry. Terima kasih karena telah ada di pihakku!"
Alena mengusap air matanya sambil mengucapkan terima kasih pada Harry.
"Aku sangat senang menjadi bagian dari hidupmu. Kau tak perlu berterima kasih padaku."
Lagi-lagi Alena di buat terharu oleh ucapan Harry.
"Harry, apakah kau masih di situ?" tanya Alena memastikan. Dia mulai ketakutan ketika keadaan mulai hening.
"Ya, aku masih di sini dan akan tetap akan di sini menemanimu sampai pagi." ujar Harry.
Alena bernafas lega, dia merasa hatinya menghangat ketika Harry mulai menunjukkan sikap peduli dan perhatiannya. Dia mulai bisa memejamkan matanya meski hanya tidur beralaskan kardus bekas yang cukup kotor.
"Selamat tidur, Harry." lirih Alena.
Harry merasa tenang setelah bisa menenangkan Alena. Dia duduk dan menyandarkan kepalanya di tembok yang ada tepat di belakangnya.
"Kau pasti bisa melewati ini semua, Len." lirih Harry. Dia tak bisa memejamkan matanya. Dia takut Alena sewaktu-waktu membutuhkannya.
Mentari mulai menampakkan sinarnya. Harry bergegas menuju kamarnya sebelum ada yang melihat. Sengaja ia tak pamitan dengan Alena karena takut mengganggu tidur nyenyak Alena.
"Pagi-pagi begini, dari mana kamu Harry?"
Harry terkejut, Marni ternyata sedang menyapu halaman rumah yang masih cukup berantakan karena pesta semalam.
"Ssttt!" Harry memberi kode Marni agar diam.
"Saya berjaga di sekitar gudang, takut Mbak Dewi dan Mbak Bunga ngerjain Bu Alena." bisik Harry.
"Owh. Tapi Bu Alena baik-baik saja sekarang kan?" tanya Marni. Sebenarnya dia juga sangat menghawatirkan keadaan Alena namun takut mau mendekat ke gudang.
"Iya. Dia baik-baik saja." ucap Harry. "Aku masuk dulu ya, Bik."
"Iya, Har."
Harry kemudian masuk dalam kamarnya. Dia menukar bajunya kemudian keluar lagi untuk mencuci mobil bosnya.
"Pagi, Harry." sapa Bunga.
"Pagi, Mbak." balas Harry.
"Hari ini antarkan aku shoping, ya. Aku belum tahu daerah sini, takutnya nyasar kalau pergi sendirian." pinta Bunga dengan nada di buat manja. Harry menatap aneh ke arah Bunga, sepertinya istri ketiga bosnya punya niat tak baik pada Harry.
"Baik, Mbak." balas Harry yang baru selesai mencuci mobil.
"Bunga, ngapain di situ?" teriak Yudi yang sudah siap berangkat kerja. Yudi memang lebih suka membawa mobilnya sendiri dibanding dengan bantuan sopir. ia menerima Harry kerja karena saat itu Alena baru saja kecelakaan. Dia tak mau hal buruk terjadi lagi pada Alena jadi dia mencarikan Alena seorang sopir.
"Ini mau minta anterin Harry pergi mall." balas Bunga kemudian mendekat kearah suaminya.
"Owh, gitu. Jangan lupa nanti kalian anterin Alena makan. Kasian dia pasti lapar dari semalam belum makan." perintah Yudi pada dua istrinya.
"Dia kan lagi di hukum Mas. Ngapain juga di kasih makan. Nanti tambah ngelunjak dia." sahut Dewi.
"Bener kata Mbak Dewi Mas, kalau mbak Lena di kasih hati nanti dia tambah arogan lagi."
Harry menggeleng-gelengkan kepalanya melihat dua madu Alena mempengaruhi suami mereka.
"Kalian mau tanggungjawab kalau dia kenapa-kenapa?" geram Yudi sembari melotot.
"Masa cuma gak makan sehari dia kenapa-kenapa. Gak bakalan Mas, jangan takut!" ucap Bunga menantang tatapan tajam suaminya.
"Terserah kalian saja. Mas makin pusing mikir ini semua." ucap Yudi frustasi. Kedua istrinya tersenyum penuh kemenangan. Hari ini mereka ingin membuat Alena menderita.
Jam berganti, Harry telah bersiap mengantar istri ke tiga bosnya ke salah satu mall. Sebelum dia pergi, dia menitipkan Alena pada Marni. Dia menceritakan niat jahat kedua istri Yudi yang tak akan memberikan Alena makan hari ini. Marni mengingatkan Harry agar tidak khawatir. Dia akan diam-diam menemui Alena untuk mengantarkan makanan. Harry merasa lega mendengar ucapan Marni.
Sementara itu di kantor Yudi terkejut mendengar kabar kalau Ima resign secara tiba-tiba. Ima tiba-tiba berhenti tanpa alasan yang jelas. Tanpa berpikir panjang dia terus menyuruh bawahannya untuk mencari pengganti Ima sebagai sekertarisnya. Dia pasti akan kewalahan mengurus semua pekerjaannya tanpa bantuan Ima lagi.
Tok...tok..tok...
Seseorang mengetuk pintu ruangan Yudi. Yudi mempersilahkan dia masuk.
"Saya sudah dapatkan pengganti Ima, Pak. Sekarang dia ada di luar ruangan. Apa bapak ingin menginterview ulang dia?" tanya Rudi. Salah satu orang kepercayaan Yudi.
"Boleh juga. Saya belum puas kalau tidak menginterviewnya secara langsung." balas Yudi. Rudi kemudian keluar ruangan dan memanggil masuk seorang wanita berparas cantik dan seksi. Dia sangat tahu kalau bosnya tidak suka melihat bawahannya yang berparas biasa. Kemampuan bekerja memang bagi Yudi nomor dua. Yang pertama baginya adalah calon sekertarisnya itu berwajah cantik dan seksi. Jadi ketika mereka melakukan perjalanan bisnis keluar kota, dia bisa membawa sekertarisnya bersamanya sekalian mengerjai bawahan cantiknya itu.
"Selamat siang, Pak. Nama saya Rani."
Mata Yudi terbelalak, wajah cantik, d**a besar dan penampilan seksi wanita yang akan menjadi sekertarisnya itu cukup membuatnya b*******h. Namun dia sadar bahwa sekarang dia tengah berada dalam kantor, jika tidak habislah wanita itu Yudi buat.
"Wow! Kamu cantik banget, saya pasti akan sangat senang bekerjasama dengan wanita cantik sepertimu."
Rani tersenyum malu-malu. Harry benar, bahwa calon bosnya itu adalah lelaki kurang waras. Bukan menginterview malah lelaki itu sibuk memandang bagian d**a miliknya tanpa berkedip sedikitpun.
"Itu artinya saya--"
Yudi mengangguk kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat.
"Benar, kamu saya terima sebagai sekertaris saya."
Pura-pura senang Rani membalas uluran tangan bos gatalnya.
"Terima kasih banyak, Pak. Ini pengalaman pertama saya bekerja. Tolong bimbing saya."
Yudi enggan melepas jabatan tangan wanita cantik itu, dia mengelus punggung tangan lembut Rani. Rani yang merasa risih pelan-pelan menarik tangannya.
"Kalau begitu, apa saya sudah di ijinkan pulang?"
"Kenapa buru-buru Rani. Pulang nanti saja, saya antar kamu."
Rani tertawa dalam hati. Ternyata Yudi lebih gampangan dari perkiraannya.
"Apa tidak merepotkan Anda?" tanya Rani pura-pura memasang wajah tak enak.
"Buat wanita cantik sepertimu saya merasa tak keberatan di repotkan." ujar Yudi. Rani tersenyum penuh kemenangan.
Sejam kemudian Yudi membawa Rani. Bukan mengantarkan ke rumah Rani, Yudi justru membawa calon sekertarisnya ke hotel. Agar tidak terlihat murahan, Rani berpura-berpura menolak ajakan Yudi. Namun setelah Yudi menjanjikan Rani menjadi istri ke empatnya Rani setuju karena itulah tujuannya bekerja di perusahaan Yudi. Jadi sekertaris dan istri ke empat Yudi akan memudahkan Rani membalaskan dendam Harry.
Yudi menonaktifkan ponselnya. Dia tak peduli dua istrinya tengah risau menunggu kepulangannya. Sudah jam delapan malam namun lelaki gila perempuan itu belum juga menampakan batang hidungnya.
Harry mengendap-endap pergi ke gudang. Marni bercerita bahwa seharian tadi dia selalu di awasi Dewi jadi dia tak bisa memberikan Alena makan. Harry sangat geram mendengar cerita Marni. Bagaimanapun juga kali ini dia harus berhasil mengantarkan makanan untuk Alena.
"Len. Maaf, aku telat datang. Baru saja aku pulang mengantar Bunga pergi jalan-jalan. Kau tak marah kan?"
Tak ada jawaban dari Alena. Harry mulai panik.
"Len, kamu baik-baik saja bukan?" tanya risau Harry namun tetap tak ada jawaban. Harry yang mulai panik tentang keadaan Alena langsung mencari batu untuk merusak gembok yang mengunci pintu gudang.
Harry terus berusaha memukul gembok dengan batu. Sesekali pukulan kerasnya mengenai tangannya sendiri. Dia sudah tak mempedulikan perih tangannya yang terluka dan berdarah karena pukulannya yang sering meleset.
Gembok terbuka, dia tersenyum girang. Saat dia baru bisa membuka pintu, suara Dewi dan Bunga cukup mengagetkannya.
"Harry apa-apaan kamu!" teriak Dewi. Bunga ikut geram melihat Harry yang berusaha menolong Alena.
"Mau apa kamu kesini Harry?" sahut Bunga.
"Bu Alena sepertinya pingsan, dia tak menyahut beberapa kali panggilan saya. Saya takut terjadi apa-apa padanya!" ucap Harry. Dewi mendekat kearah Harry kemudian mengangkat tangannya untuk menampar Harry. Perih memang Harry rasakan namun dia lebih memilih tidak membalas pukulan istri kedua bosnya.
"Ini peringatan buat kamu agar tidak lancang berbuat semaumu tanpa perintah dariku!"
"Mbak, jangan kasar-kasar sama Harry!" bisik Bunga yang tak suka melihat Dewi berbuat kasar pada Harry.
"Kenapa memangnya? Kau suka dengan sopir miskin ini!" teriak Dewi. Bunga bungkam tak berani menjawab pertanyaan Dewi.
"Ibu...!" Alena mengigau memangil-manggil nama Ibunya. Harry yang sudah sangat menghawatirkan keadaan Alena berusaha mengancam dua istri majikannya.
"Mbak lihat keadaan Bu Alena. Kalau sampai dia kenapa-kenapa saya sendiri yang akan melaporkan kalian ke polisi karena telah membuat Bu Alena sakit seperti ini!"
Dewi dan Bunga saling berpandangan. Mereka takut dengan ancaman Harry yang terdengar seperti tak main-main.
Harry tak mau ambil resiko, dia langsung mendekat kearah Alena kemudian ia membuka kemejanya untuk menutupi baju seksi Alena. Untung dia memakai t-shirt didalamnya jadi dia tak perlu mengambil baju lagi
Alangkah terkejutnya Harry saat menyentuh kening Alena yang sangat panas. Wanita itu terus mengigau memanggil-manggil nama ibunya. Harry membopong tubuh Alena kemudian berhenti sekejap di depan Dewi dan Bunga.
"Saya tidak akan melepaskan kalian. Bersiap-siaplah masuk penjara karena telah membuat Bu Alena seperti ini."
Dewi dan Bunga pucat. Mereka diam tak berkutik melihat Harry membawa Alena.
Harry melajukan mobilnya di kecepatan tinggi. Dia sangat merasa bersalah karena kali ini dia juga tak bisa melindungi Alena.
Sesampainya di rumah sakit, Alena langsung mendapatkan perawatan. Harry merasa lega setelah Dokter menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan dengan keadaan Alena.
Alena di infus, Harry duduk di sebelah Alena sambil terus menggenggam tangan Alena.
"Maafkan aku, Len!" lirih Harry yang tak tega melihat Alena masih terbaring lemah. Harry sedikit mengangkat tangan Alena dan mengecup punggung tangannya.
Sudah pukul dua belas malam, tak ada seorang pun yang menjenguk Alena termasuk Yudi. Harry mendapat kabar dari Rani bahwa lelaki gila itu tengah sibuk dengannya di hotel jadi dia lebih leluasa menjaga Alena di rumah sakit. Dia sengaja tak mau mengabari Yudi karena dia masih geram dengan perbuatan Yudi yang tega-teganya mengurung Alena dan menyetujui pendapat dua istrinya yang tak mau memberikan makan pada Alena.
Pukul empat pagi, Harry tertidur diatas kursinya. Alena mulai sadar, panas di tubuhnya sudah mulai turun. Dia tersenyum saat mendapati Harry ada di sampingnya.
Entah kenapa Alena merasa Harry begitu berwibawa meski hanya seorang sopir. Dia makin lama merasa makin tergila-gila pada lelaki yang tengah tertidur menungguinya itu.
"Kau pasti sangat kelelahan Harry." ucap Alena, ingin dia meraih tangan Harry yang di perban, namun dia masih cukup lemah untuk menggerakan tubuhnya mendekat.
****
Mentari mulai menampakan dirinya. Yudi yang merasa sangat puas dengan layanan Rani kelelahan. Semalaman dia sampai tak bisa tidur nyenyak karena tak mau menyia-nyiakan keberadaan mainan barunya.
"Esok saja kau mulai kerjanya. Aku tahu kamu kelelahan." ucap Yudi, Rani mengangguk setuju.
Setelah mengantar Rani, Yudi baru membuka ponselnya. Alangkah terkejutnya dia mendapat kabar dari Dewi dan Bunga kalau Alena di rawat di rumah sakit. Bergegas Yudi menelpon Rudi untuk membatalkan rapat hari ini karena Alena sakit. Yudi kemudian menuju rumah sakit yang Dewi sebutkan dan mendapati Alena tengah mengobrol dengan sopirnya. Entah kenapa hatinya merasa sakit melihat Alena mulai akrab dengan sopirnya.
"Ehem!" Yudi berdehem, Alena membuang muka melihat suaminya datang. Sedangkan Harry lebih memilih keluar ruangan. Dia membiarkan Yudi menjenguk Alena meski hatinya sebenarnya juga tak rela. Dia pun merasa kalau dirinya mulai menjadi orang egois. Dia yang masuk dalam hubungan Alena dan Yudi tapi hatinya tak terima melihat dua orang itu ketika sedang bersama.
"Maafin Mas, Len. Mas salah karena terlalu lama menghukummu dalam gudang." ucap Yudi. Alena masih membuang muka tak menggubris permintaan maaf suaminya.
"Hari ini mas cuti bekerja demi menemanimu di sini, kamu mau memaafkanku, kan?"
Alena tetap diam, Yudi meraih tangan Alena namun cepat-cepat Alena menarik tangannya. Dia tak sudi suaminya menyentuhnya meski hanya tangannya.
"Ya sudah kalau kamu masih marah dengan Mas. Mas mau bayar biaya administrasimu dulu."
Alena masih diam tak menggubris apapun yang suaminya katakan.
Yudi kemudian keluar dari ruangan Alena, dia menitipkan kembali Alena pada Harry kemudian menuju loket pembayaran rawat inap. Alangkah terkejutnya Yudi melihat administrasi rawat inap yang sudah di selesaikan Harry. Dia tak menyangka sopirnya mempunyai uang juga.
"Pak Yudi!" panggil seseorang, dia menoleh ke arah suara.
"Pak Bram? Anda di sini?" tanya Yudi heran.
"Saya dengar dari Rudi kalau istri Anda di rawat di rumah sakit ini. Saya ikut merasa bersalah karena kejadian ini."
"Bukan salah Anda saja Pak. Saya juga salah karena membiarkan dua istri saya tak memberikan makan pada Alena seharian kemarin."
"Apa?" tangan Bram mengepal saat mendengar cerita Yudi. Bagaimanapun juga Yudi sangat keterlaluan menghukum Alena.
"Apa Anda tidak waras? Tega-teganya Anda menyetujui begitu saja ide konyol dua istri Anda."
"Pagi kemarin saya sedang malas ribut, jadi saya membiarkan saja istri-istri saya melakukan itu."
Bram menggelengkan kepalanya, "Berwibalah sedikit jadi suami Pak Yudi. Jangan lemes seperti ini kalau tak mau di tindas istri-istrimu!"
Ucapan Bram seperti sebuah tamparan bagi Yudi.
"Boleh saya menjenguk istri Anda?" lanjut Bram lagi.
Yudi diam, dia mulai merasa aneh karena Bram sepertinya bersikap terlalu berlebihan pada Alena.
Bram bisa membaca sikap tak sukanya Yudi saat dia ingin menjenguk Alena.
"Jangan salah paham. Saya hanya ingin minta maaf karena bagaimanapun juga semua terjadi berawal dari ancaman saya saat itu."
"Saya tidak keberatan kok kalau Anda ingin menjenguk istri saya." ucap Yudi berbohong.
Bram tersenyum licik melihat kebodohan lelaki yang ada di depannya. Mereka berdua kemudian menuju ke kamar di mana Alena di rawat. Harry yang menunggu di depan kamar merasa sangat geram karena melihat ada Bram bersama Yudi. Harry yakin ini akan membuat Alena kembali merasa sakit hati dan marah saat melihat lelaki itu.
"Len, lihat siapa yang datang."
Alena menoleh, matanya mendelik melihat Bram datang bersama suaminya.
"Kenapa Mas bawa dia ke sini? Belum puas Mas membuatku sakit seperti ini?" ucap Alena penuh kemarahan.
"Saya cuma ingin minta maaf. Karena kesalahpahaman kita malam itu membuatmu sakit seperti ini."
Alena tak bisa menahan amarahnya, "Suruh keluar lelaki ini atau Mas akan menyesal!" ancam Alena.
"Alena, jangan kurang ajar!"
Yudi kembali menyalahkan sikap tegas Alena.
"Sudah Mas bilang kalau Pak Bram salah satu orang penting di perusahaan Mas, tapi kamu terus bersikap kurang ajar padanya!"
Air mata menitik juga di pipi mulus Alena.
"Sudah Pak Yudi, jangan marahi istri Anda lagi. Dia mungkin masih marah sama saya." Bram pandai membaca keadaan, dia yakin Alena akan semakin terluka dan sakit hati karena ucapan kasar suaminya. Ini kesempatan bagus baginya untuk membuat hubungan suami istri itu buruk.
"Apapun alasannya dia tak boleh berbicara kasar pada Anda!" ucapan Yudi membuat Bram menyeringai kecil.
"Cepat minta maaf pada Pak Bram atau Mas akan kembali menghukummu saat kamu sembuh nanti!" ancam Yudi. Alena menatap nyalang suaminya. Harry yang menguping pembicaraan mereka ikut geram, namun dia belum bisa berbuat banyak untuk membantu Alena karena dia takut rencana besarnya akan kacau.
"Harry!" teriak Alena.
Harry yang memang tengah menguping terkejut mendengar Alena memanggilnya.
"Iya, Bu!"
Cepat-cepat Harry menyahut kemudian mendatangi Alena.
"Tolong panggilkan sekurity. Dua orang ini telah mengganggu kenyamananku sebagai pasien di rumah sakit ini!"
Tiga lelaki yang ada di ruangan Alena tercengang mendengar ucapan Alena. Harry kemudian tersenyum bangga pada sikap tegas kekasih gelapnya.
"Alena!" bentak Yudi yang tak terima karena sikap Alena makin kurang ajar menurutnya. Dia takut Bram akan tersinggung.
"Harry! cepat panggil sekurity!" teriak Alena tak kalah keras dari bentakan suaminya.
"Kita mengalah saja Pak Yudi. Malu kalau istri Anda benar-benar akan nekad!" bisik Bram, Yudi mengangguk tanda setuju.
"Mas akan memberi pelajaran lagi padamu lain kali!" ancam Yudi kemudian pergi meninggalkan Alena dan Harry.
"Kau sangat hebat sayang!" puji Harry.
Alena tersenyum, "Maukah kau menolongku sekali lagi Harry?"
"Tentu saja. Katakanlah!"
Alena menghela nafas, "Tolong bawa aku keluar dari rumah sakit ini dan bawa aku pulang ke rumah ibuku."
Harry terkejut mendengar ucapan Alena, "Keadaanmu masih lemah, Len. Aku enggak setuju."
"Aku tetap bisa pulih Harry. Ibu dan adikku akan rajin merawatku. Tolonglah!"
"Jangan meminta yang aneh-aneh, Len! Dokter juga pasti tidak akan mengabulkan permintaanmu."
Harry tetap mencoba menahan Alena agar tidak gegabah. Dia takut keadaan Alena memburuk jika nekad keluar dari rumah sakit.
"Kita tidak membutuhkan izin Dokter Harry. Kita kabur saja diam-diam dari sini!"
Harry mengalah, dia tak tega mendengar rengekan Alena yang bersih keras ingin kabur dari rumah sakit. Akhirnya Harry menuruti permintaan Alena. Mereka berdua kabur dari rumah sakit dan segera menuju rumah orang tua Alena.
"Terimakasih, Harry. Kalau saja keadaanku tidak lemah, aku sudah menciummu sebagai tanda terima kasihku!" ujar Alena menggoda Harry.
"Masih sempat-sempatnya kamu becanda hal konyol seperti ini, Len!" geram Harry yang sebenarnya masih tak setuju dengan keputusan Alena.
"Ini bukan hal konyol Harry. Melumat bibir mungilmu adalah alasan pertamaku ingin cepat sembuh. Kau tunggu saja nanti kalau keadaanku sudah sedikit membaik. Aku akan menghadiahimu sesuatu yang sulit kamu lupakan!" ucap Alena sambil tersenyum nakal. Wajah pucatnya tak membuat kecantikannya sedikitpun pudar.
Wajah kesal Harry seketika berubah jadi ceria, "Kau gila. Tapi jujur ketidakwarasanmulah yang membuat aku jatuh cinta."
Alena terkekeh, "Jadi kau siap menikah denganku Harry? Aku sudah malas bertahan dengan lelaki gila itu. Aku ingin segera mengakhirinya meskipun uangku belum terlalu banyak terkumpul."
Harry terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Balas dendamnya baru saja di mulai, haruskah ia mengakhirinya demi Alena?
Alena menatap Harry, tak sabar menunggu lelaki itu menjawab pertanyaannya.