12

1061 Words
"mengapa engkau mengejekku seperti ini?" "Bukannya baru tadi di lantai dua Ibu mengatakan padaku ingin berkenalan dengan kekasih rahasia Mas ALvin karena mungkin saja dia adalah calon menantu ideal. Aku ingin melihat sejauh apa standar ideal yang menurut ibu," jawabku sambil melipat tangan di d**a. Di hadapanku, pemandangan kecemburuan Mas ALvin terlihat jelas sementara si Mona dan Rifki sepupu Mas ALvin, bersenda gurau dengan ceria, bahkan Rifki tidak segan segan merangkul bahu Mona. "Baiklah, sudah cukup. Tolong jangan pertontonkan Sikap tak pantas di momen kesedihan orang lain. Rasanya tak sopan tertawa-tawa dengan gembira di acara tahlilan meski sesi berdoa sudah selesai," ucapku sambil mendekat dan menjauhkan tangan Rifki dari bahu mona. " ... Rifky kendalikan dirimu. Tidakkah kau merasa bahwa sikapmu akan membuat seseorang tidak nyaman?" "Siapa yang tidak nyaman? Dia hanya teman Alvin dan kami sama-sama lajang, apa yang salah." "Tolong jangan bikin malu keluarga besar dan orang tuamu, pergilah bersenda gurau ke tempat yang lain." "Baik ... baik," jawab Rifki mengalah. Dia tersenyum dan mengedipkan mata pada Mona, wanita itu membalas dengan senyum nakal, sementara Mas Alvin tidak bisa berbuat apa apa selain hanya bisa mencengkeram tangannya sendiri. Rifki dan Mona memilih untuk keluar dari ruangan itu sedangkan Mas ALvin masih berdiri di tempatnya. Aku tahu tidak akan elok Jika dia ikut bersama Rifki dan Mona selingkuhannya sementara keluarga masih berkumpul di dalam ruangan dan saling menyapa. "Apakah kau merasa tidak nyaman dengan perbuatan kekasihmu?" Suamiku tidak menjawab, Dia hanya terkejut dan melirik padaku sambil menggelengkan kepala pelan. "Itulah risiko hubungan gelap, ketika orang yang kau cintai disentuh dan dilecehkan oleh pria lain, kau tidak akan bisa membela atau mencegahnya. Posisimu serba salah karena aku berdiri di sini sebagai pasangan yang sah, sedang hatimu galau tak bisa berbuat apa apa karena tak ingin bikin malu," ujarku dengan tawa pelan. "Tolong jangan memperkeruh suasana, pergilah bergabung dengan para Tante dan Oma." "Akan pergi tidak perlu disuruh pulang aku akan pergi, aku memang tidak tahan berdiri di sampingmu," jawabku sambil menjauh. Aku sapa beberapa keluarga dengan ramah lalu bantu beberapa asisten rumah tangga untuk membereskan gelas-gelas yang berserakan di meja. Selagi sibuk dengan semua itu tiba-tiba Anakku memanggil dari lantai 2. "Bunda!" "Iya Nak...." "Aku ingin ke kamar mandi," ucapnya. "Baiklah sayang." Aku segera menaiki tangga lalu mengajak anak untuk pergi ke toilet. Setelah putriku selesai dengan keperluannya aku membawanya ke kamar untuk memasangkan kembali legging dan merapikan gamisnya. Tanpa sengaja aku melihat ke jendela gimana ada si jalang dengan sepupu Mas ALvin sedang duduk berdempetan di salah satu kursi taman. Mereka tertawa dan tak henti hentinya saling melakukan kontak fisik, baik berupa sentuhan, rangkulan ataupun sesekali kepala wanita itu menempel di baju Rifki. Aku berencana untuk memanggil ibu mertua agar dia melihat bagaimana kelakuan orang yang menurutnya akan cocok dijadikan sebagai menantu. Di saat yang kebetulan juga Ibu terlihat sedang naik dan masuk ke kamarnya. Aku menyusul ke sana karena di sana ada jendela yang juga mengarah ke arah taman depan rumah. "Ibu." "Kenapa kau menyusulku ke kamar?" "Ibu mungkin akan melihat sesuatu yang menarik dari jendela," jawabku sambil melongo ke jendela, pasangan itu masih ada di sana bahkan tertawaan mereka makin kencang saja. "Aku tidak tertarik untuk menyaksikannya," jawab Ibu sambil membuka lemari. "Sudah berhasil menggaet Mas ALvin kini dia arahkan targetnya kepada Rifki," ucapku dengan tawa sinis. "Apa?!" Ibu mungkin tidak akan suka jika keponakan kesayangannya juga terjerat kandang jadi dengan secepat mungkin Ibu menghampiri jendela dan melihat ke bawah sana. Di saat mereka sedang asyik-asiknya bercanda masalah yang tiba-tiba datang dan menarik Mona dari dekat Rifki. Aku tidak bisa mendengar percakapan apa yang mereka ucapkan namun Mas ALvin terlihat menunjuk wajah Rifki dengan geram. "Sepertinya terjadi perebutan wanita di bawah sana," ucapku. "Lalu kenapa kau diam saja dan berdiri di sini? Apa kau bangga jika pertengkaran suamimu dengan sepupunya terlihat oleh orang lain." "Ibu sendiri juga tidak berusaha untuk mengusir Mona, padahal ibu tahu dia adalah sumber masalah di rumah ini tidak bisa ke Ibu menahan diri sebentar saja?" "Kau yang harusnya menahan dirimu untuk terus mencibirku, turun ke bawah dan selesaikan masalah ini. Jika tamu-tamu sampai menyadarinya, aku tidak akan mengampuni kalian," ucap wanita yang sedikit punya sikap angkuh itu kepadaku. "Baik ... seperti yang ibu inginkan. Seperti biasa juga, hanya aku yang menyelesaikan tugas-tugas penting dan beberapa masalah rumah tangga." "Jangan terlalu membanggakan diri kau tidak tahu posisimu ke depannya!" "Terima kasih Ibu," jawabku. Sebenarnya dari semua sisi aku sudah tidak mendapatkan perlakuan yang baik. Baik dari Mas Alvin atau orang tuanya sendiri. Aku terus-menerus ... dan bertahun-tahun menerima perlakuan tidak menyenangkan serta keangkuhan ibu mertua, namun seperti biasa, kutelan sendiri pahit getir itu tanpa membicarakannya pada orang lain. Lalu, sampai kapan aku akan bertahan. Untuk apa aku bertahan? Demi apa dan apakah itu sepadan? Akankah ada secercah harapan bahwa suatu hari pintu hati suamiku akan terbuka sehingga menyadari kesalahannya dan mulai meninggalkan selingkuhannya. Ya Allah, aku bingung. Bagaimana nasib Rina dan gema setelah ini? Setelah sampai di halaman rumah, adegan Mas Alvin menatap tajam kepada Rifki masih terjadi. Tanpa dia sadari tangannya masih menggenggam tangan Mona sehingga beberapa anggota keluarga terutama sepupu yang masih muda memperhatikan hal itu dengan penuh keheranan. "Kenapa kalian berdiri di sini?" tanyaku pura pura. "Itu siapa, kenapa Mas Rifki dan Mas ALvin terlihat bersitegang?" tanya salah seorang dari sepupu muda kami. "Ah, itu hanya teman, aku akan melihatnya, kalian masuklah ke dalam," jawabku sambil memberikan senyum simpul. Remaja remaja itu mengangguk dan masuk, sementara aku segera menghampiri mereka. "Mas, singkirkan tanganmu darinya tidakkah kau menyadari orang-orang melihatmu. Apakah kau tidak tahu malu?!" "Indira, lihatlah, aku tak mengerti mengapa Alvin begitu murka ketika aku ingin mengenal lebih dekat sahabatnya. Mengapa ia posisi terlihat begitu posesif seakan-akan wanita ini adalah istri barunya?" Rifki memprotes dengan lantang, parahnya, sewaktu mengatakan itu, momennya bertepatan dengan beberapa tante yang keluar dan diiringi oleh ibu mertua yang mengantarkan mereka ke pintu depan. Mereka langsung terdiam dan memperhatikan Rifki juga Mas ALvin. "Katakan padaku apa hubunganmu dengan mona hingga kau terlihat sangat cemburu sekali?!" "Diam kamu, sikapmu yang sudah keterlaluan dan tidak pada tempatnya!" "Apakah wanita ini adalah simpananmu hingga kau cemburu sekali?!" "Jaga mulutmu!" Bugh! Tiba-tiba Mas Alvin memukul wajah Rifki sepupu terdekatnya dengan pukulan yang cukup kencang dan membuat pria itu terjengkang. Para keluarga dan Tante, langsung panik dan menghambur untuk melerai sementara aku hanya bisa menggeleng sambil menghela napas. Situasinya sudah tidak terkendali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD