38

1094 Words

Aku menangis bukan karena takut kehilangan, hatiku hanya sedih, ya, hanya sebuah kesedihan yang butuh air mata untuk jatuh agar hati merasa lega. "Kau tidak mencintaiku lagi?" tanyanya memecah keheningan. Aku tak menjawab, lidahku kelu, tenggorokanku tercekat dan aku tak kuasa menjawab. "Cinta? Tentu. Tapi sudah kubilang, semuanya sudah berakhir sekarang Mas."tak mampu disembunyikan suaraku tercekat dengan kentara. Aku menangis sedih dan tak bisa menguasai perasaanku. "Tak perlu bercerai jika masih ada cinta," ucapnya lirih, sedang aku tak menjawab. Dentingan sendok yang beradu di piring Mas Alvin membuatku makin sedih memikirkan setelah perpisahan kami maka tidak akan ada yang makan seberisik dia. Kebiasaannya selalu minta ditemani dan kalau makan selalu bersemangat, sehingga sendo

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD