Ferdhy berusaha menenangkan istrinya. Ia merangkul tubuh ringkih Rida lalu mengusap lembut pundak wanita itu. Ia akan selalu menjadi penopang perempuan ini. "Sabar ya, Sayang. Aku yakin, sebentar lagi Aidan sadar. Berdoa terus sama Allah. Jangan terlalu dipikirkan. Ingat kehamilan kamu. Ayo duduk dulu." Rida menggeleng pelan. Pandangannya kosong. Ia tampak linglung dengan mata yang sembab, persis bak mayat hidup. "Nggak, aku mau di sini saja. Aku mau lihat Aidan sadar." Rida menepis tangan Ferdhy yang merangkul bahunya. Ia tidak ingin luluh dengan rayuan suaminya. Lelaki itu terlihat pasrah. Ia mendesah kecewa karena Rida tidak mau menurutinya. "Sayang, tolong jangan keras kepala. Kamu gak boleh egois kayak gini. Kandungan kamu juga butuh diperhatikan. Kali ini tolong nurut sama suamimu

