Summer menyeret tubuhnya ke kamar, membenamkan wajahnya di bantal, lalu menangis sebanyak yang ia inginkan.
Dia telah melakukan semuanya, tapi rasa percaya dari keluarganya tak pernah sekalipun ia dapatkan. Ia telah mengikuti keinginan mereka untuk pindah ke Northcaster sejak tujuh tahun lalu, menenggelamkan mimpi-mimpinya, dan menjadi sesuatu yang dimodifikasi sesuai keinginan orangtuanya, tapi tetap saja—semua perjuangannya tak pernah menjadi sesuatu yang berkesan.
"Tidak apa-apa, semua masih bisa diperbaiki. Tidak apa-apa, Summer."
Entah seberapa banyak kebohongan yang ia tekan kepada diri sendiri, seolah itu wajar sehingga membentuk sebuah kebiasaan. Meski jiwa dan raganya hancur, ia akan tetap mengatakan bukan apa-apa.
"Aku akan bergegas agar semuanya lekas terselesaikan, agar ayah berhenti marah kepadaku."
Ia membulatkan tekadnya, bangkit berdiri seraya menyeka air mata. Benda itu telah membuat bantalnya basah, tapi baiklah, bukankah ia kuat selama ini?
Kekesalannya terhadap tindakan kurang ajar Josh telah terabaikan berkat amukan sang ayah.
Summer sempat berniat menceritakan apa yang terjadi dengannya malam itu, tapi begitu vonis dijatuhkan—ia tak bisa melakukan keinginannya lagi, ia menelan semua kalimatnya dan membentuk benjolan panas di tenggorokannya.
***
"Ha ... b******n, ini." Josh mendesah seraya mengusap cipratan darah di sekitar wajahnya. Ia menatap dingin seonggok manusia yang terbaring di lantai dengan tangan dan kaki terikat. "Berikan aku sarung tangan baru."
Ia melepas sarung tangan kulit berwarna hitam setelah ternoda darah orang lain, membuangnya begitu saja dan mengambil sarung tangan baru dari sebuah kotak yang disodorkan Logan, sekretarisnya.
"Dudukan dia di kursi."
Dua anak buah selain Logan ikut menonton eksekusi yang dilakukan Josh beberapa saat lalu, keduanya bergegas membangunkan paksa pria berambut ikal tersebut—yang mungkin kesadarannya tersisa separuh—sebelum mendudukannya di kursi pesakitan.
Josh menyelipkan sebatang rokok di sudut bibirnya, membiarkan Logan menyalakan pemantik api, kemudian asap mengepul di ruangan dengan ventilasi tinggi mirip jeruji penjara.
Ruangan ini berdebu, beraroma apak dan terkadang logam—seringkali terjadi saat seseorang dieksekusi, bahkan bekas-bekas noda darah yang mengering menempel di dinding kusam, sedangkan darah di ubin akan hilang setelah disemprot air.
Josh mendekati pria itu, berhenti selangkah di depannya. Apa pun yang ia lakukan seringkali membosankan, tapi ia menikmatinya karena puncak kekuasaan.
Pria itu, selain wajahnya, tubuhnya juga lebam pada beberapa titik, hidung serta bibirnya mengeluarkan darah akibat hantaman pipa besi, kedua pergelangan kakinya patah setelah diinjak oleh Josh, tapi matanya masih bisa terbuka untuk menatap seseorang yang sudah mengamuk kepadanya seperti anjing gila.
"Kau tahu, agar anak buahmu tetap bergantung dan mengikuti segala keinginanmu—kau harus bersikap loyal kepada mereka, terutama tentang uang. Jadi ...." Ia meniupkan asap rokoknya pada wajah pria itu, membuatnya terbatuk-batuk. "Aku akan melakukan hal yang sama kepadamu meskipun kau bukan siapa-siapa bagiku."
Kemudian, Logan mendekat dan menyerahkan selembar kertas bertuliskan nominal uang yang cukup besar.
"Kudengar istrimu sedang mengandung anak kedua, dan anak sulungmu bersekolah di TK, tapi mengapa—" Josh menyisir rambutnya ke belakang dengan gerakan frustasi. "Mengapa kau bekerja untuk b******n seperti Damien Luce dan mengabaikan keluargamu, huh!"
Nama itu seperti serangga yang ingin Josh injak hingga hancur berkeping-keping.
"Aku akan tetap memberi kompensasi karena telah membuat ayah dari anak-anak tak berdosa itu menjadi seperti ini." Josh melipat cek di tangannya dan memasukan benda itu pada saku celana si pria ikal. "Pastikan membiayai persalinan calon anak keduamu, karena Damien pasti takkan membayarmu sebab telah gagal menjalankan misi."
Josh hampir selesai dengannya saat memutar arah dan berjalan menuju pintu ganda bersama Logan, sejenak ia berhenti untuk mengatakan sesuatu yang membuat si pria ikal semakin gentar dan gemetar tak terkendali, bahkan berteriak memohon ampun sekuat tenaga.
"Potong lidahnya."
Setelah pintu ditutup rapat, teriakan akhir paling menyayat terdengar, membuat burung-burung mirgan yang hinggap di sekitar pohon ek dan willow berterbangan karena terkejut, memekakan telinga siapa pun yang mendengar jeritan pilu seseorang di balik dinding gudang tua siang itu.
***
Daun-daun maple kering yang memenuhi aspal tersapu ke udara saat roda mobil menggilas aspal dalam tempo kencang, menembus kesunyian perjalanan sepanjang meninggalkan gudang tua di pelosok hutan tersebut.
Aroma musim gugur tercium di sana-sini, sorot keemasan semakin memudar dan berhamburan menjadi setumpuk kenangan, bersiap menyambut musim semi berikutnya.
Josh Stuart, duduk anggun di kursi penumpang, tampak lesu dan bosan saat menopang sisi wajahnya dengan siku bertumpu pada bingkai jendela mobil yang terbuka.
Logan sempat melirik spion bagian dalam, memastikan tuannya siap menerima sesuatu yang hendak ia bagikan.
"Tuan, saya membawa dokumen yang Anda inginkan." Ia menoleh ke belakang dan mengulurkan sebuah map.
Josh mengubah posisi, menerima benda itu dan membukanya. Ekspresi stoik yang sempat bertahan—perlahan berubah, ia menyeringai mengamati setiap kata dari laporan tersebut.
"Saya juga mendengar bahwa Patricia Luce kembali lebih cepat ke Northcaster, kemungkinan Nona Patricia menemui Anda besok."
Senyum Josh semakin lebar. "Tentu, semakin cepat semakin baik."
"Sejak mengetahui alasan kematian ibunya, dia meradang, tapi tetap harus menahan diri untuk bergerak."
"Ya, lagipula sampah seperti ayah tirinya memang pantas diinjak-injak."
Supir di antara mereka bergeming, membiarkan pembicaraan di sekitarnya menguar ke udara.
"Serta, berikan salinan dokumen ini kepada lembaga hukum dan media." Josh melanjutkan. "Pastikan para saksi yang terlibat bertindak sesuai rencana, dan semuanya harus terjadi besok, dengan sempurna."
"Baik, Tuan."
Josh menunduk, memperhatikan telapak tangannya sendiri tergenggam dan terbuka.
Ia semakin bersemangat menunggu hari-hari selanjutnya, seseorang sempat terlepas dari genggamannya tujuh tahun lalu, tapi sebentar lagi dia akan mendatanginya secara sukarela menggunakan sepasang kaki jenjangnya yang cantik, memenuhi pikiran serta dirinya lagi sehingga siapa pun takkan bisa merebutnya kembali.
***