fadillah mendengarnya ikut tertawa karena ia melihat pacar nya yang sangat polos karena menuruti perkataan teman tita. "kamu tuh jadi anak polos banget siiih" sambil mencubit pipi tita. "emang salah ya ngay? aku pakai sistem hubungan tarik ulur?" tita penasaran apakah yang dilakukannya selama ini salah atau tidak.
fadillah memeluknya lagi "kamu kalau memang suka sama aku ya harus jujur dengan perasaan kamu" tita bingung dengan ucapan pacarnya itu. "maksudnya gimana yaaaa?" tita mengucap dengan pelan. fadillah yang mendengarnya membuatnya semakin erat memeluk tita "kalau suka ya tunjukkin suka jangan pakai tarik ulur kecuali kamu cuma berniat mainin aku, baru deeeh terserah mau pakai tarik ulur atau sistem yang lain lain".
*saat di perjalanan*
fadillah merenungkan perkataan tita
"apa gue coba-coba sistem tarik ulur juga?, biar nggak keliatan bucin banget sama dia". menginjak pedal rem karena hampir menabrak seseorang fadillah terbangun dari lamunan-nya.
wanita yang hampir tertabrak berdiri gemetaran di hadapan mobil fadillah. Fadillah berburu keluar membuka pintu mobil dan mengecek apakah ia sudah menabrak seseorang?.
"maaf mbak, saya tidak fokus menyetirnya". wanita yang berbaju gamis putih itu masih gemetaran dan diam mematung tidak membalas perkataan fadillah.
karena melihat tidak ada respon dari wanita tersebut fadillah mencoba meraih tangan wanita itu untuk membawanya ke tepi jalanan, wanita itupun tersadar dari shock-nya dan merebahkan badannya ke jalanan ia sudah tidak kuat untuk melangkahkan kakinya.
Fadillah langsung berjongkok "mbak, mbak mbak gapapa kah?" tanyanya dengan nada panik. dirasa sudah lega wanita itu menatap fadillah dan mencoba menggerakkan mulutnya tapi tidak bisa mengeluarkan suaranya karena masih dalam keadaan shock. fadillah yang melihatnya langsung menuju mobil dan mengambil sebotol air mineral dan memberi kepada wanita itu. setelah ia minum, baju gamis putihnya yang kotor pun ia bersihkan lalu ia berdiri dan mulai menanyakan ke fadillah "mas-nya ada smartphone?". ia tidak mau membahas kejadian yang baru saja terjadi. fadillah dengan sigap mengeluarkan smartphone-nya "eeeh, ada ada nih mbak" wanita itupun langsung meraih smartphone Fadillah dan jari-jarinya mengetik beberapa angka. yaaa, ia menelepon seseorang. wanita tersebut menunggu telpon-nya diangkat sedangkan fadillah mulai bingung dengan keadaan yang dia alami saat ini. mulai mencoba mencairkan suasana ia basa basi bertanya "kalo boleh tau mbak-nya orang mana?". "heeeeeem, ini dimana yaaaa?" wanita itu dari tadi tidak merespon pertanyaan fadillah, "ini di daerah lempuyang mbak" fadillah menjawabnya dengan sangat hati-hati. "heeem, saya ga tau ini dimana, tapi rumah saya sepertinya jauh dari sini".
Setelah berbincang lama, Akhirnya fadillah memberi sedikit uang untuk wanita itu pulang ke kota asalnya, karena tak searah dengan-nya.
ooh iyaa wanita tersebut bernama erlyn, dia berbadan lumayan tinggi dan berisi, warna kulitnya putih seperti orang-orang tiongkok, matanya sipit membuatnya makin seperti orang-orang tiongkok.
Fadillah melanjutkan perjalanannya menuju pulang ke rumah, saat sudah sampai ia mengecek nomor telpon yang wanita hubungi tadi, karena tidak asing dengan nomor telepon tersebut ia menanyakan kepada Tita, kenapa harus Tita yang ditanyakan? yaaa karena Erlyn saat memberi tahu rumahnya itu sedaerah dengan tita sedangkan Fadillah hanya akrab dengan tita yang di daerah tersebut.
"ping,ping,ping" beberapa pesan masuk ke smartphone tita,
chat fadillah yang sangat panjang membuat tita malas membacanya ia langsung menelepon. "kenapa dil?" fadillah mulai menjelaskan dari awal ia hampir menabrak seseorang. saat sudah selesai, tita mengerti mengapa fadillah menelepon dirinya, ternyata Erlyn adalah sahabat Tita yang ketinggalan rombongan saat pulang dari pengajian, Tita menutup telepon lalu pergi menuju rumah Erlyn.
*tiba dirumah Erlyn*
"Assalamualaikum bu" sambil mengedor pintu, karena tak ada yang menyahut Tita mencoba menelepon nomor Erlyn, saat ada yang menjawab ternyata adiknya Erlyn yang menjawab dengan suara tidak tenang, Ayah dan ibu Erlyn masih belum pulang karena mencari Erlyn yang hilang dari rombongan pengajian. tita memberi tahu kejadian yang di alami Erlyn kepada kekuarganya, keluarga Erlyn menuju kerumah mereka dan tita menunggu di rumah Erlyn sampai Erlyn pulang untuk memastikan apakah Erlyn pulang dengan selamat.
*Erlyn tiba di rumahnya*
dengan wajah memucat dan nada suara yang rendah Erlyn mengedor ngedor pintu rumahnya. jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. tita dengan wajah yang khawatir mendekati Erlyn dan mengecek apakah erlyn baik-baik saja melihat baju gamis Erlyn sangat kotor. "lyn, kamu baik-baik aja kan? kok bajumu kotor sekali". Erlyn yang malas membahas kejadian tadi sore pun berbohong, "iya aku tadi menunggu kalian menjemputku dengan berjongkok alhasil bajuku kotor".
Tita mengerutkan keningnya "kenapa dia tidak memberi tahu bahwa dia hampir di tabrak?" tita menggerutu dalam hati. "ooh iya tadi kamu ketemu cowok yaaa hampir nabrak kamu katanya". Erlyn mendengarnya kaget darimana Tita tau kejadian itu?. "haaah,kok kamu bisa tau? itu kan di lempayung". tita menyentung hidung Erlyn "lempuyang kaliiii, bukan lempayung" erlyn menggaruk kepalanya "eh iyaaa deh".
"itu laki-laki yang hampir menabrakmu adalah pacarku lyn". mendengar iru Erlyn kaget sejak kapan tita punya pacar? "haah? pacar? sejak kapan kamu punya pacar? kok kamu enggak kasih tau aku." tita merasa bersalah dia lupa memberitahu sahabatnya bahwa ia sekarang memiliki pacar.