Lampu jalan menyala redup ketika Anita melangkah pulang dari tempat kerja part time. Ia melirik jam di ponselnya yang sudah retak di bagian sudut. Ternyata sudah menunjukkan pukul 19.00 tepat. Waktu yang pas seperti biasa. Langit sudah gelap, hanya menyisakan cahaya biru yang menggantung lesu di balik gedung-gedung. Bahunya terasa berat, kakinya pegal setelah berdiri berjam-jam melayani pelanggan tanpa henti.
Anita menunduk mengecek pesan dari ibunya yang menanyakan apakah ia sudah dalam perjalanan pulang. Ia tersenyum tipis, lalu membalas singkat sebelum menyimpan kembali ponselnya.
Jalanan yang ia lewati tak terlalu ramai. Beberapa toko sudah menutup rolling door, menyisakan lampu neon yang berkedip pelan. Angin malam membawa bau debu dan asap kendaraan, membuat Anita menarik jaket lebih rapat ke tubuhnya. Perutnya terasa kosong, namun rasa lelah jauh lebih mendominasi.
Sebuah kaleng soda tergeletak di trotoar.
Anita meliriknya sekilas. Tanpa berpikir panjang, ia menendangnya ringan ke depan, sekadar meluapkan kejengkelan kecil yang tak sempat ia keluarkan sepanjang hari ini.
Namun di detik berikutnya, suara benturan terdengar. Diikuti dengan teriakan seseorang.
"Woiii!"
Anita langsung terhenti. Jantungnya berdegup keras. Ia hendak melarikan diri, namun orang itu sudah terlanjur memergokinya. Mau tidak mau ia harus menghadapinya.
Pria itu berjalan ke arahnya dengan tatapan tajam dan dingin.
"Kamu—"
Anita buru-buru membungkuk “Maafkan saya Tuan. Maafkan saya. Saya gak sengaja.” ucapnya panik.
Di bawah cahaya lampu jalan, raut pria itu terlihat jelas. Ekspresinya kaku, dan di pelipisnya tampak bekas kemerahan. Melihat itu, Anita menelan ludah. Terlebih lagi ia mengenali pria di depannya. Pewaris keluarga Alvarendra yang namanya sering menghiasi koran dan majalah bisnis. Pria yang fotonya kerap muncul bersama kata miliarder muda dan calon pewaris utama, Haris Alvarendra.
“Mau sengaja atau tidak sengaja, kamu tetap harus bertanggung jawab,” ujar Haris datar. “Kamu sudah bikin jidat saya luka.”
Rasa bersalah langsung menekan d**a Anita. Ia kembali membungkuk, lalu dengan tangan gemetar merogoh tasnya. Mengambil beberapa lembar uang dua puluh ribuan dan menyerahkannya pada pria itu.
“Saya… saya cuma punya ini, Tuan. Tolong diterima,” katanya lirih.
Haris menatap uang itu sekilas, lalu mengangkat alisnya tinggi.
“Cuma segitu? Mana cukup! Atau kamu sengaja lagi ngejek saya?"
Anita tersentak dan buru-buru menggeleng dengan tangan yang masih terulur. “Bukan, Tuan. Tadi Tuan bilang minta pertanggungjawaban. Saya pikir uang ini cukup buat beli obat merah sama plester.”
Haris mendengus pelan.
“Kamu pikir saya pakai plaster dan obat merah yang murahan? Uang segitu mana cukup untuk pengobatan luka di jidat saya!”
Anita menelan ludah. “Tapi saya cuma punya segini Tuan. ”
“Kamu pikir saya peduli? Itu kan salah kamu sendiri yang bikin jidat saya luka.”
Anita melirik uang yang terlihat lecek itu dengan tatapan prihatin. Lalu menarik tangannya kembali dengan perasaan berat hati dan sedikit merasa terhina. Ia ingin marah namun pria di depannya bukanlah orang sembarangan yang bisa ia marahi sesuka hati.
Tiba-tiba ia memiliki ide. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada pria itu beserta uang tadi.
"Apakah ini cukup?" Tanyanya hati-hati.
Namun reaksi Haris tetap sama. "Apa kamu gila? Hp sudah rusak begitu kamu kasih ke saya? Di jualpun gak akan laku!"
Mendengar itu, Anita jadi benar-benar kesal. Ia menarik kembali tangannya dengan ekspresi menahan emosi.
"Ini gak mau. Itu gak mau. Tuan maunya berapa? Jangan minta banyak-banyak, saya cuma orang miskin yang gak punya apa-apa. Jadi percuma saja jika Tuan menuntut uang banyak dari saya." Ucapnya dengan nafas tersengal.
Melihat hal itu, kerutan di dahi Haris semakin dalam. "Saya yang korban, kenapa kamu yang marah-marah?"
Namun Anita tidak menjawab.
Haris kemudian menghela nafas pelan. "Baiklah, saya akan kasih kamu keringanan."
Tiba-tiba Anita mengangkat wajahnya dengan mata berbinar. Perubahan raut wajah yang begitu cepat. "Jadi apakah Anda akan menerima uang saya?"
Haris menggeleng tegas. "Bukan itu."
"Lalu apa Tuan?"
"Sebagai gantinya, kamu harus jadi pelayan pribadi saya" Ucap Haris tegas.
Mata Anita melebar seketika. "Apa?"
"Selama dua puluh hari." Tambah Haris.
Anita refleks mundur setengah langkah.
“Pelayan pribadi? Selama dua puluh hari?”
“Kenapa? Kamu nggak mau?” potong Haris dingin. “Atau kamu lebih pilih saya bawa ini ke jalur hukum?”
“Bukan begitu, Tuan. Dan kenapa sampai bawa-bawa jalur hukum? Itu kan hanya luka kecil,” sanggah Anita, suaranya gemetar takut.
“Jangan remehkan luka kecil,” balas Haris tanpa emosi. “Asal kamu tahu, luka akibat kaleng pun bisa berakibat fatal. Kalau sampai terjadi sesuatu pada saya, dengan uang kamu yang segitu, yang bahkan tidak cukup untuk menangani luka ini, apa kamu siap bertanggung jawab pada keluarga saya?”
Anita terdiam. Logika pria itu terdengar masuk akal meski hatinya menolak.
“Ya, saya paham,” jawabnya lesu.
“Kalau kamu nggak mau dipenjara, besok datang ke rumah saya,” lanjut Haris sambil mengeluarkan selembar kertas dan menyodorkannya. “Ini alamatnya. Ingat, dua puluh hari. Kalau kamu nggak datang, saya akan langsung lapor polisi.”
Wajah Anita langsung pucat.
“Ambil,” ucap Haris singkat.
Dengan tangan gemetar, Anita langsung menerima kertas itu.
Pria itu langsung berbalik pergi menuju mobil mewahnya yang terparkir tak jauh dari sana. Dua orang ajudan telah menunggunya.
Anita berdiri terpaku di tempat. Setelah mobil itu menghilang, ia menarik napas panjang, dadanya terasa sesak.
Entah dosa apa yang ia lakukan hingga harus terseret ke dalam masalah sebesar ini.
Jika ibunya tahu… Anita yakin, ibunya pasti akan sangat sedih.