Terungkapnya Sebuah Kebenaran Tiga hari kemudian. Rintik gerimis mulai berjatuhan dari langit. Mentari yang tersenyum sejak tadi pagi. Kini terhalang oleh awan hitam yang pekat. Hujan mulai semakin besar. Frekuensinya bertambah kencang. Clarisa melirik jam tangan yang melingkar manis di tangan kirinya. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang. “Maaf lama nunggunya yah?” “Mama, engga lah. Ada apa yah? Kayanya tadi mama di telepon mau ngomongin hal penting?” ternyata Clarisa janjian dengan ibu Nelly. Clarisa memang sudah menganggap ibu Nelly sebagai ibunya. “Loh Clara di sini juga?” tiba-tiba ada Satria datang juga. “Eh Sat, sini duduk. Mama sengaja mengajak kalian berdua ke sini,” Satria duduk berhadap-hadapan dengan Clarisa. “Gini loh, dari pada kalian pacaran terus. Apa engga sebai

