Chapter 3 : Go Home

1540 Words
"Kesalahan terbesar adalah bertemu dengan Arkan kemarin," gumamnya sambil menendang kerikil di depan sepatunya. Ia merasa sangat kesal pada Arkan sekarang karena menyuruhnya berdiri berlama-lama di sini, panas pula. "Kesalahan?" tanya Arkan tiba-tiba yang membuat Milan terkejut lalu membenarkan posisinya berdiri menghadap Arkan. Entah mengapa dia suka muncul tiba-tiba dan sepertinya dia juga suka mengerjai orang. "Lo gak berasa ditungguin ya? Ngaretnya udah sampe setengah jam, gila lo!" sungut Milan kesal. Demi menjaga reputasi dan harga dirinya ia rela menunggu seseorang yang bahkan tidak ia kenal. Memang lucu ketika martabat memperbudak manusia hingga mau melakukan apapun demi menjaga atau mendapatkannya. "Gue gak nyuruh lo nunggu 'kan? Gue bilang gue bakal nunggu lo," jawab Arkan membenarkan apa yang sebenarnya ia ucapkan tadi siang. Milan berdecak kesal karena Arkan sangat menyebalkan. Bahkan dia seperti tak menghargai waktunya yang terbuang percuma hanya untuk menunggu manusia tak tahu diri itu. "Gue udah nunggu lama di sini dan lo masih bisa bilang kayak gitu? Gak tahu diri!" ujarnya dengan nada kesal. Entah mengapa mulutnya sangat gatal untuk mengomeli Arkan sekarang. Seharusnya ia tadi pulang saja dan melihat drama korea di rumah. "Denger ya, bukannya gue gak tahu diri tapi lo yang terlalu percaya diri dengan omongan lo," jelas Arkan lagi. Ia sedang enggan berdebat dengan Milan sekarang karena itu bisa memancing emosinya. "Gue percaya lo emang kayak gitu," jawabnya yang membuat tatapan Arkan berubah, Milan melihatnya dengan tajam tapi ia yakin tatapan Arkan jauh lebih tajam. Dia berubah seakan ada sosok monster atau apapun itu dalam dirinya. "Udah?" tanya Arkan. Singkat tapi mampu membuat dahi Milan berkerut berlipat-lipat. "Sekarang biarin gue yang bicara," ujarnya setelah melihat respon Milan yang diam saja dan tak lagi mengomel. Arkan melangkahkan kakinya selangkah di depan Milan. Sehingga posisi mereka lebih dekat. "Gue kesini bukan mau denger omelan lo tapi mau ngasih hukuman buat lo karena udah ngambil name tags gue," ujarnya yang membuat Milan kembali teringat insiden sore itu. Dia memang mengambil name tagsnya karena ia kira itu bentuk balas dendam yang pas karena Arkan telah melibatkannya hari itu. "Gue ngela--" "Jangan disela," potong Arkan sebelum Milan menyelesaikan ucapannya. Gadis itu mengumpat dalam hatinya dan merutuki kesalahannya karena bisa berurusan dengan Arkan. "Tutup mata dan telinga untuk Markolevi," ujar Arkan dengan raut wajah serius seakan ini adalah hidup dan mati yang harus segera diatasi. Milan mengerutkan dahinya bingung, hukuman macam apa itu? "Lo suruh gue buat bohong?" tanya Milan dengan polosnya. "Apa kata-kata gue kurang jelas?" tanya Arkan, Milan menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Kenapa Markolevi? Bukannya apa tapi gue gak ada hubungan sama perkumpulan lo itu, lagi pula kenapa gak yang nguntungin lo aja? Biasanya disuruh jadi babu, pengikut, atau apa gitu," tanya Milan. "Lo itu kuncinya, lagi pula lo mau jadi babu gue hm?" tanya Arkan yang membuat Milan seketika tersenyum kecil lalu menggeleng. Lebih baik ia tidak berurusan dengan dia lagi daripada menjadi babu Arkan yang harus terus bersama laki-laki itu. "Oke gue terima," jawab Milan. Arkan mengangguk lalu pergi dari sana meninggalkan Milan sendirian. "Arkan!" panggil Milan tiba-tiba yang membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya lalu berbalik. "Maaf buat yang kemarin," ujarnya tapi laki-laki itu tak membalasnya justru mengacuhkannya kemudian berlalu pergi. Meski ia kesal setengah mati dengan Arkan, paling tidak ia sudah meminta maaf karena insiden kemarin yang membuat Arkan dihukum tadi siang. ×× Pulang sendiri dengan jalan kaki adalah sensasi luar biasa, mobil milik Milan harus masuk bengkel karena dua ban belakangnya bocor dan ada kesalahan pada mesinnya. Sehingga ia harus mengorbankan waktunya lagi untuk jalan kaki sampai ke rumah. Kedua orang tuanya pun tidak bisa menjemput karena sedang tidak ada di rumah. Bisa saja ia naik ojek tapi ia terlalu trauma dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Kebetulan yang tidak pernah Milan duga sebelumnya. Jadi solusi terbaik adalah jalan kaki. Sudah setengah perjalanan, kakinya yang tidak bisa diam itu menendang semua benda yang ada di depannya sampai salah satu benda yang ia tendang mengenai seseorang. Milan mendongakkan kepalanya melihat kaleng minuman itu mengenai laki-laki yang tak jauh darinya. Milan mengenalnya, meski tidak dekat tapi ia tahu siapa itu. Andreas. "Wah ada Milan, kok sendirian? Om Wildan gak jemput?" tanya Andreas yang entah mengapa nada bicaranya itu membuat Milan tidak nyaman. Selain itu ada dua orang laki-laki di belakang Andreas yang menatapnya seakan ia adalah santapan empuk. "Gak pa-pa, gue duluan, maaf tadi kalengnya kena lo," ujarnya lalu segera pergi tapi tangannya segera dicekal yang membuatnya menghentikan langkahnya lalu berbalik. Ia mengenal Andreas karena dia adalah tetangganya. "Gue bisa anter lo pulang," ujarnya seraya tersenyum. Kedua laki-laki di belakang Andreas juga ikut tersenyum yang membuat Milan makin curiga. Ia melepaskan tangan Andreas dari pergelangan tangannya. "Gak makasi, gue bisa pulang sendiri," ujarnya dingin. Kenapa hari ini begitu menyebalkan? Ia lebih memilih menghapalkan Undang-Undang atau TAP MPR daripada berurusan dengan anak-anak nakal sepanjang hari. "Andreas!" Keempat pasang mata itu beralih pada laki-laki yang sedang duduk di atas jok motor besarnya sambil menatap Andreas tajam. Milan mengerutkan dahinya lalu menyadari jika itu adalah Arkan. Bagaimana dia bisa tahu jika ia sedang di sini? Sementara Arkan sudah pulang sekitar lima belas menit yang lalu? Pandangan Andreas beralih pada Milan lalu melihat gadis itu dari atas sampai bawah yang membuat Milan tidak nyaman. Laki-laki itu tersenyum lalu kembali menatap Arkan. "Jadi ini selera anak haram ya? Gue mau tahu seberapa bagusnya dia," ujarnya lalu mendekatkan diri pada Milan. Arkan memutar bola matanya malas, ia  segera memarkirkan motornya lalu menghampiri Andreas ketika laki-laki itu memegang kedua tangan Milan. Ia tersenyum miring sebelum kepalan tangannya mendarat tepat pada rahang laki-laki itu yang membuatnya tersungkur. "Gue gak mau main kasar tapi lo yang mulai duluan," ujarnya pada Andreas, laki-laki itu menyeka darah yang mengalir di ujung bibirnya. Ia terluka lagi untuk kedua kalinya oleh Arkan. Tangannya mengepal erat ketika amarah yang ia rasakan menguasai seluruh tubuhnya. Sementara Arkan segera menarik pergelangan Milan lalu menyuruhnya naik ke atas motor. Tanpa waktu lama, Arkan melajukan motornya meninggalkan tiga manusia yang tengah terbakar amarahnya di sana. Di atas motor ini, Milan bisa merasakan seberapa menyeramkan dan sedingin apa Arkan. Perkataan orang-orang itu tidak sepenuhnya salah. Ia baru menyadari jika Arkan tak selamanya menyebalkan hanya dalam beberapa hal saja ia tampak seperti laki-laki yang baik. Tiba-tiba Arkan menepikan motornya lalu melepaskan jaket hitam yang ia pakai kemudian diberikannya pada Milan. Gadis itu mengernyitkan dahi bingung. "Buat apa?" tanya Milan. "Gue juga cowok," jawabnya yang membuat pipi Milan seketika berwarna merah muda. Bodohnya dia karena tidak menyadari jika sekarang ia tengah naik motor besar. Tangannya segera mengikatkan jaket tersebut di pinggangnya dengan bagian yang panjang menutupi paha sampai di bawah lutut. "Udah," ujarnya lalu Arkan kembali melajukan motornya. Diam-diam Milan tersenyum, ini karena sifat Arkan yang diam-diam hangat seperti selama ini tebungkus oleh gengsi. Anenya ia tidak bisa membuktikan kebenaran ucapan Aileen tentang sifat kasar Arkan pada perempuan. Ia juga perempuan kan? Akan aneh jika Arkan malah menganggapnya selain itu. "Ikut gue sebentar," ujar Arkan pada Milan dari balik helm hitamnya. "Kemana?" tanya Milan, tapi tidak ada jawaban. Ia jadi merasa sedikit takut di atas jok motor ini, semoga saja Arkan tidak membawanya ke tempat yang aneh-aneh dan mengantarnya pulang dengan selamat. Arkan menghentikan motornya di depan sebuah rumah cukup mewah berwarnya abu-abu. Milan segera turun dari jok motornya lalu disusul dengan Arkan. Milan rasa ini rumah Arkan. "Tunggu sebentar," ujarnya sebelum masuk ke dalam rumah. Milan mengangguk. Banyak pertanyaan silih berganti melewati otaknya ini, tapi hampir semua pertanyaan tidak memiliki jawaban yang pas. Tak lama kemudian Arkan keluar dari rumah itu sambil membawa sebuah tas berwarna hitam besar yang Milan tebak adalah tas sekolahnya tadi karena sebelumnya Arkan tidak membawa tas. "Lo mau pergi dari rumah?" tanya Milan yang melihat volume tas Arkan menjadi lebih besar. Laki-laki itu tidak menjawabnya, lagi. Lalu tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang memanggil nama Arkan. Milan dan Arkan segera menengok lalu menemukan pria paruh baya yang sedang berjalan menghampiri mereka. "Bokap lo?" tanya Milan lagi tapi tidak ada jawaban. "Mau kemana lagi kamu?" tanya pria paruh baya itu dengan nada cukup tinggi yang mengejutkan Milan. Arkan maju beberapa langkah dan menyuruh Milan tetap di belakangnya. "Mama udah gak ada lagi di rumah, percuma kalau saya tinggal di rumah ini," ujarnya tegas yang membuat pria dia depannya itu menaikkan kedua ujung alisnya seperti orang yang sedang marah. Milan menatap punggung Arkan dari belakang, ia tidak tahu jika laki-laki itu menghadapi masalah seperti ini sendiri. "Pantas saja, anaknya keras kepala karena wanita yang melahirkannya juga memiliki perilaku yang buruk," ujarnya membuat Arkan mengepalkan tangannya hingga rahangnya pun ikut mengeras. Ia benci mengakui jika pria itu adalah ayahnya. "Seharusnya wanita itu tidak bertemu dengan Anda sehingga saya juga tidak akan menjadi anak Anda," balasnya lalu ia mengajak Milan pergi dari sini. Entah mengapa ia menjadi tidak enak kepada Arkan sekarang. Seharunya ia tidak mendengar ataupun melihat kejadian tadi karena itu bersifat privasi. "Rumah lo di mana?" tanya Arkan, Milan menunjuk pada sebuah gapura di depan yang tak jauh dari mereka sekarang. Setelah sampai di depan rumah, Milan segera turun dari motor lalu melepaskan jaket milik Arkan yang melingkar di pinggangnya. "Makasi jaket dan tumpangannya," ujar Milan. "Lain kali hindari Andreas," ujar Arkan lalu kembali melajukan motornya pergi dari sana. Milan melihat punggu Arkan yang berlalu menghilang kemudian tersenyum. "Kak, Zidan lapar," ujar seorang remaja laki-laki yang tiba-tiba berdiri di belakangnya. Milan sedikit terkejut mendapati adikknya itu sedari tadi berdiri di belakangnya, ia tersenyum kemudian mengajak adiknya itu masuk ke dalam. Dia tidak seburuk itu batin Milan ××
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD