BAB 17(b)

1094 Words
Satria memasuki sebuah kamar di rumahnya dengan ragu. Sudah sangat lama sejak kejadian itu, Satria tidak pernah menginjakkan kakinya di kamar yang letaknya tepat di depan kamarnya. Kamar berdinding putih itu terasa sangat dingin. Meski tidak berpenghuni lagi, kamar itu masih tetap rapi. Pemilik sebelumnya memang sangat cinta dengan kebersihan. Semua barang tertata rapi di tempatnya. Tidak ada buku-buku berserakan, tidak ada baju yang digantung asal, tidak ada tas yang diletakkan begitu saja, tidak ada kabel-kabel peralatan main yang menjuntai, atau tidak ada selimut yang tak terlipat rapi. Satria tersenyum tipis. Kamar itu masih dipertahankan seolah masih ada penghuninya. Satria tahu jika ibunya mengutus seorang pelayan di rumahnya untuk mengganti seprai, selimut, dan membersihkannya secara berkala. Langkah Satria berhenti di hadapan sebuah cermin besar. Berbeda dengan Satria yang membenci cermin, pemilik kamar ini sangat menyukai cermin. Pria bersurai hitam itu tidak suka ketika melihat pantulan bayangannya di cermin. Ia selalu merasa, bayangan yang ada di cermin itu bukanlah dirinya. Seperti saat ini. Satria menatap cermin itu dan mendapati bayangan yang memang serupa dengannya tengah tersenyum sinis. Entah apa yang menggerakkan tangannya, cermin di hadapan Satria itu kini telah retak akibat tinjuan tangan kanannya. Napas Satria terengah, keringat dingin membanjiri tubuhnya, dan darah segar mengalir dari jemarinya. Tubuh Satria lemas. Ia terduduk di lantai dengan bersandar di tepian tempat tidur. Kenangan masa lalu tiba-tiba berkelebat di kepalanya bagai rol film yang diputar cepat. Dua orang anak laki-laki yang kira-kira berusia tujuh tahunan kini tengah berdiri berhadapan. Wajah mereka serupa, sama-sama tampan, tetapi salah satunya terlihat amat pucat. "Kamu mau pergi?" Anak pucat itu bertanya dengan suaranya yang lirih. Anak lain yang terlihat lebih segar dengan tuksedo hitam kecil, mengangguk antusias sembari menyunggingkan senyumnya. "Malam ini aku ada pertunjukan. Kamu tahu? Akan ada panggung besar dan penonton yang banyak. Aku juga akan bermain dengan kakak yang cantik. Nanti aku akan mengenalkan kakak cantik itu kepadamu." "Kamu sangat beruntung, Satria." Anak pucat itu kembali berujar lirih. Sebuah senyum tipis tercipta dari bibir keringnya. Satria kecil yang belum mengerti dengan arti senyuman saudara kembarnya itu, membalasnya dengan senyuman yang sangat lebar. Satria memang selalu ceria dan bersemangat. "Aku juga merasa begitu," ujar Satria bersemangat. "Aku akan membagi keberuntungan ini kepadamu. Bagaimana? Dimas senang?" Dimas menganggukkan kepalanya. Satria langsung merengkuh saudara kembarnya itu ke dalam pelukan. "Dimas tunggu di rumah, ya. Aku janji akan cepat kembali." Satria segera melepas pelukannya lantas berlari keluar dari kamarnya. Pikiran polosnya tidak pernah memikirkan hal buruk yang bisa terjadi. Kembaran Satria menatap punggungnya dengan wajah sendu tanpa Satria sadari. Tangan mungil Dimas perlahan meremas d**a kirinya yang sedikit berdenyut. Dadanya sesak dan air mata mulai bergumul di pelupuk matanya. "Sakit, Bu." *** Satria mengusap pipinya yang terasa perih karena tamparan keras ayahnya. Anak laki-laki berusia tujuh tahun itu tidak tahu mengapa sang ayah menamparnya seperti ini. Satria tidak tahu lagi apa kesalahan yang kali ini ia perbuat hingga membuat ayah yang selalu dihormatinya kini menatapnya dengan tajam dan sarat akan amarah. "Maafkan Satria, Ayah," ujar Satria lirih. Anak itu tetap meminta maaf meski ia tidak tahu apa kesalahannya. Meski Satria sudah meminta maaf sembari terisak, pria berjas mahal di hadapannya itu nampak tak tersentuh. Dia masih menatap tajam putra kandungnya. "Jangan pernah bermain piano lagi!" Ayah Satria pergi meninggalkannya setelah mengucapkan satu kalimat yang begitu menyakitkan. Satria menyukai musik. Ia sangat senang ketika bermain piano. Bagi anak berusia tujuh tahun itu, piano adalah hidupnya. Satria masih terisak di tempatnya ketika sebuah pelukan hangat mendekapnya dari belakang. "Maafkan Ibu, Sayang. Maafkan Ibu." Malam itu Satria mengetahui kenyataan bahwa saudara kembarnya tengah kritis di rumah sakit. Anak itu menyalahkan dirinya karena tidak peka dengan keadaan saudaranya yang tidak baik-baik saja sejak ia bercerita tentang konsernya di panggung yang besar. Sejak saat itu, Satria bersumpah tidak akan menyentuh atau menyinggung soal piano lagi. Setelah hampir dua minggu di rawat di rumah sakit, Dimas diperbolehkan pulang dengan banyak syarat yang diberikan dokter. Sejak saat itu, Satria cenderung lebih mengalah kepada Dimas. Satria sadar dengan posisinya. Dia yang lebih sehat dari saudaranya, harus bertindak layaknya saudara yang baik. Satria tidak pernah menolak keinginan Dimas. Dimas mulai terobsesi dengan Satria. Apa pun yang Satria miliki, Dimas juga ingin memilikinya. Apa saja yang Satria sukai, Dimas juga menyukainya. Apa saja yang Satria lakukan, Dimas juga ingin melakukannya. Sebaik-baiknya dan sesabar-sabarnya Satria menghadapi perilaku aneh Dimas, pada akhirnya ia jengah juga. Dia merasa tidak memiliki privasi atas dirinya. Terkadang Satria merasa risi ketika Dimas menatapnya. Setiap malam, Dimas pasti datang ke kamar Satria. Anak itu suka sekali melihat Satria yang tengah belajar atau mengerjakan tugasnya. Tidak seperti Satria yang bebas sekolah di sekolah umum, Dimas menjalani home schooling dengan jadwal yang diatur agar ia tidak kelelahan. Terkadang ia merasa iri pada saudara kembarnya yang bisa bebas melakukan apa pun yang ia inginkan. Jika saja jantungnya baik-baik saja, Dimas pasti juga bisa seperti Satria. "Apakah sekolah itu menyenangkan?" tanya Dimas polos kepada Satria yang terlihat sibuk mengerjakan tugasnya. Satria menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya kepada Dimas yang duduk di kasurnya. "Menyenangkan jika tidak banyak tugas." Dimas tersenyum tipis. Senyum sendu yang dapat menimbulkan rasa iba jika melihatnya. "Aku juga ingin bersekolah di sana." Satria menghela napas panjang. Ia sudah tahu arah pembicaraan saudara kembarnya. Mereka berdua sudah memasuki usia Sekolah Menengah Pertama. Satria semakin banyak tugas dan kegiatan, sedangkan Dimas masih harus puas berdiam diri di rumah. Satria kini berbalik untuk menatap saudara kembarnya itu. "Dim—" "Aku tahu," potong Dimas sebelum Satria mengeluarkan petuah-petuah yang menyinggung soal kondisinya yang lemah. "Aku hanya ingin tahu kenapa akhir-akhir ini kamu sering pulang terlambat. Sesibuk itukah di sekolah?" Satria terlihat berpikir sejenak. Ia berusaha mencari alasan yang tidak akan menimbulkan masalah nantinya. Satria sekarang bergabung dalam tim basket sekolah. Dia harus latihan setiap pulang sekolah. Hal itu yang membuatnya pulang terlambat setiap hari. Ibunya sudah tahu tetapi tidak pernah melarangnya. Wanita itu justru mendukung Satria sepenuh hati. Namun, ibunya meminta agar Satria merahasiakan hal ini dari Dimas. Ibunya tidak mau jika Dimas nantinya iri dan memaksakan diri untuk ikut hingga membuat keadaannya memburuk. "Banyak kelas tambahan di sekolah dan beberapa les yang harus kuikuti. Aku tidak ingin tertinggal dengan teman-temanku di kelas." Satria terpaksa berbohong kapada Dimas. "Seberat itukah?" Dimas bertanya lirih yang dijawab Satria dengan anggukan kepala. Dimas tersenyum melihat Satria menganggukkan kepalanya. "Kamu yang pintar saja merasa kesulitan. Bagaimana nasibku jika bersekolah di sana? Di rumah memang yang terbaik." Satria tersenyum lega mendengar ucapan Dimas. Setidaknya sekarang ia bisa berlindung di balik beratnya jadwal pelajaran tambahan yang harus diikuti. Satria berdoa semoga kebohongannya ini tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD