BAB 18

1182 Words
Sikap acuh terus Kenzo tunjukkan sejak ia kembali menginjakkan kakinya kembali di sekolah setelah tiga hari. Masa-masa suram layaknya tahanan di rumah akhirnya berlalu juga. Meski Kenzo senang bisa terbebas dari penjara yang disebut rumah, ia sama sekali tidak antusias untuk kembali ke sekolah. Daddy-nya tak pernah main-main dengan ucapannya. Setelah ketahuan melanggar aturan di rumah, Kenzo benar-benar tidak bisa keluar masuk rumah dengan bebas. Meski tidak diawasi langsung, setidaknya ada satu atau dua pengawal yang selalu mengikutinya ke mana pun. Kenzo tidak bisa banyak protes, jika tidak ingin sang ayah lebih marah dari itu. Kenzo seperti menjadi pribadi yang berbeda. Ia yang biasanya sangat aktif dan suka bergaul, kini lebih suka menyendiri dan sibuk dengan dunianya sendiri. Farros dan Ojan yang notabennya adalah sahabat dekat Kenzo, juga merasa aneh dengan perubahan sikap remaja tujuh belas tahun itu. Kenzo memang tidak boleh dikunjungi selama masa hukumannya di rumah, tetapi mereka berdua tetap heran bagaimana bisa Kenzo berubah begitu drastis hanya dalam tiga hari. "Lo sehat, kan?" tanya Farros tanpa basa-basi kepada Kenzo ketika bel istirahat berbunyi. Kenzo yang biasanya langsung meluncur ke kantin ketika bel istirahat berbunyi, kini ia hanya sibuk mengeluarkan pemutar musik di tas lantas memutarnya menggunakan earphone. Merasa diabaikan, Farros akhirnya menarik earphone yang Kenzo kenakan hingga terlepas. Kenzo murka, matanya berkilat marah. "Lo berani nantang gue?" ujar Kenzo berang. "Gue cuma nanya kabar lo," jawab Farros berusaha tak terpancing emosi. "Asal lo tahu, lo itu berubah aneh. Semua orang ngomongin lo." "Gue enggak peduli," jawab Kenzo dingin. "Tapi gue sama Farros peduli, Ken," sahut Ojan yang tiba-tiba masuk ke kelas Kenzo dan berdiri di samping bangku sahabatnya itu. "Lo berubah. Gue sama Farros merasa enggak berguna menjadi sahabat lo." Kenzo menatap tajam Farros dan Ojan. "Bukan urusan kalian," ujarnya dingin. Ojan tertawa sinis mendengar jawaban dingin Kenzo. "Lo itu kenapa, sih? Kalau ada masalah cerita. Jangan diam saja." Kenzo merasa jengah dengan ucapan kedua sahabatnya itu. Dia hanya butuh ketenangan tanpa nasihat-nasihat yang membuatnya muak karena ia menganggap sudah mendapat stok nasihat untuk beberapa tahun ke depan selama tiga hari kemarin di rumah. Kenzo hendak melangkahkan kakinya keluar kelas hingga suara dingin Farros menghentikan langkahnya. "Sebenarnya, lo menganggap kita apa? Apakah hanya gue sama Ojan yang menganggap bahwa kita adalah sahabat?" Kenzo memejamkan matanya sejenak, meresapi semua kata-kata Farros. Mereka bersahabat lama, bahkan sudah seperti saudara. Tak seharusnya Farros meragukan hubungan mereka seperti itu, meski akhir-akhir ini Kenzo memang sedikit berubah. "Gue cuma butuh waktu," ujar Kenzo lirih sebelum berlalu meninggalkan kedua sahabatnya. Kenzo butuh ketenangan. Setidaknya ia harus bisa berpikir jernih. Karena itu, sekarang dia ada di sini, tempat paling tenang di sekolah, taman belakang ruang musik. Kenzo menyamankan diri, duduk di bawah pohon besar sembari mendengarkan musik. Entah kenapa, akhir-akhir ini dunianya semakin rumit. Kenyataan tentang Clarissa dan pertengkaran dengan daddy-nya sangat mengganggu pikirannya. Kenzo merasa Tuhan tidak adil ketika memberikan rasa cinta kepadanya. Cintanya tidak bersambut bahkan menyakitkan. Perasaan yang ia anggap cinta selama bertahun-tahun harus kandas. Namun, ada yang tidak ia pahami. Perasaannya terasa ringan setelah mengetahui kebenaran dari Clarissa. Jantungnya bahkan tidak berdebar-debar ketika terpaksa harus berdua dengan Clarissa. Kenzo mulai meragukan perasaannya sendiri. Benarkah perasaan yang selama ini ia miliki adalah cinta? Kenzo menyingkirkan pemikiran anehnya. Ia harus tenang agar semuanya tidak semakin kacau. Kenzo hampir memejamkan mata, ketika sudut matanya menangkap ada seseorang yang berjalan ke arahnya. Kenzo terlihat malas ketika mengetahui siapa sosok yang berani menghampirinya. "Ken," "Apa?" jawab Kenzo malas. Gadis bermata bulat itu meremas jemarinya karena gugup. Rara bersyukur karena ia telah lepas dari arm sling. Setidaknya sekarang dia bisa menyalurkan rasa gugup dengan jemarinya. Rara kembali memantapkan hati. Sekarang adalah waktu yang sangat tepat untuk mengatakan semuanya. "Gue mau bicara sebentar," ujar Rara hati-hati. "Biasanya juga enggak izin, kan?" Rara semakin gugup mendapat balasan dingin dari Kenzo tetapi ia tidak boleh mundur. "Tiga hari tanpa kehadiran lo, kelas rasanya sepi." Kenzo mengernyitkan dahi lantas menegakkan posisi duduknya. Ia merasa kata-kata Rara terlalu ambigu untuk orang yang tak pernah basa-basi seperti Rara. Kenzo tidak menyela. Ia tahu Rara masih ingin mengatakan sesuatu. "Maafin gue karena telah lancang mengatakan ini." Rara merasakan keringat dingin di kedua telapak tangannya. Dia tidak pernah segugup ini sebelumnya. "Selama lima tahun kita kenal, hubungan kita tak lebih dari rival. Meski lo enggak pernah menganggap hal itu, tapi itu yang gue rasakan selama ini. Kehidupan gue di sekolah, terus berputar tentang lo. Gue merasa memiliki semangat untuk terus berjuang karena memiliki lawan yang sepadan. Namun, perlahan semua mulai berubah." Rara menjeda ucapannya. Tenggorokannya terasa kering dan lidahnya sedikit kelu. Meski begitu, saat ia melihat Kenzo yang masih sabar menunggu, Rara kembali menguatkan hatinya. "Yang mulanya hati gue keras karena rivalitas, perlahan mulai lunak. Yang awalnya benci, perlahan mulai berubah menjadi suka." Rara kembali menjeda ucapannya. "Gue suka sama lo, Ken. Gue enggak tahu kapan rasa ini mulai muncul, tapi akhir-akhir ini pikiran dan perasaan gue selalu tentang lo." Kenzo masih terdiam, menatap Rara datar. Tidak ada yang tahu apa yang ada di pikiran pria berkulit putih itu. Hal ini justru membuat Rara semakin gugup dan sedikit menyesal telah mengakui perasaannya. "Gue tahu ini sangat mengejutkan buat lo. Tapi gue hanya ingin jujur dengan perasaan gue," ujar Rara lagi yang kali sudah mulai bisa mengatasi kegugupannya. "Gue tahu jika sudah ada orang lain yang mengisi hati lo. Tapi gue tahu lo sangat terluka dengan perasaan lo sendiri. Gue enggak—" "Tahu apa lo soal gue?" potong Kenzo tajam. Rara tahu jika Kenzo mulai tidak nyaman ketika ia membicarakan tentang perasaannya. "Maksud gue—" "Jangan asal ngomong jika enggak tahu apa-apa soal gue," ujar Kenzo tajam yang langsung membuat Rara ketakutan. Mata Kenzo menyiratkan kemarahan. Kenzo bangun dari posisi duduknya karena merasa sudah tidak nyaman lagi berada di sana. "Gue sama sekali enggak peduli sama perasaan lo. Tapi, gue masih berbaik hati mengatakan ini," ujar Kenzo dingin. "Lupakan semua perasaan lo itu jika enggak mau tersakiti. Meski banyak gadis cantik di sekitar gue, hati gue hanya milik satu orang. Jadi, jangan coba-coba berharap." Setelah mengatakan kata-kata menyakitkan itu, Kenzo pergi meninggalkan Rara yang masih tertegun di tempatnya. Tubuhnya mendadak kaku.Ingin rasanya Rara lari dari tempat itu tetapi tak bisa. Tanpa bisa ditahan, air mata mulai mengalir deras dari kedua matanya. Rara menangis pilu hingga membuat siapa pun yang mendengarnya akan ikut merasakan kepedihan. Sebuah lengan kekar tiba-tiba mendekap Rara. Pria itu juga ikut sakit melihat Rara menangis seperti itu. Pria itu memeluk Rara erat, sembari menawarkan kenyamanan. Ia tidak ingin Rara merasa sendiri. Ia ingin Rara merasakan kehadirannya. "Satria..." ucap Rara di sela tangisnya. Satria mengusap punggung Rara yang bergetar, mengisyaratkan bahwa ia ada di sana dan mendengarkan keluh kesahnya. "Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan kepada lelaki yang hatinya milik orang lain?" ucap Rara pilu. "Aku menyukainya. Aku mencintai lelaki itu. Bagaimana ini?" Satria memejamkan matanya, meresapi kepiluan gadis yang sangat dicintainya ini. Satria merasa menjadi orang yang tak berguna saat ini. Ia tidak bisa melakukan apa pun untuk membuat gadisnya kembali tersenyum. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya mengusap lembut punggung Rara, sembari mengingat semua kepedihan ini agar tidak terulang lagi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD