BAB 12(b)

1032 Words
Mimpi buruk itu datang lagi tetapi sedikit berbeda. Rara kecil sekitar 4 atau 5 tahun tengah bermain dengan koleksi boneka beruangnya bersama seorang pria yang baru kali ini muncul dalam mimpinya. Tak lama kemudian, muncul wanita cantik dengan senyumannya yang khas membawa nampan yang berisikan s**u dan biskuit. Rara terlihat begitu bahagia dengan biskuit dan s**u yang masih hangat di tangannya. Mimpi Rara mulai berubah. Suara dobrakan pintu depan seakan mengubah suasana dengan cepat. Pria bersweter hijau yang sedari tadi bermain dengan Rara pun segera bangkit dan waspada. Sebelum Rara mengerti apa yang tengah terjadi, tubuhnya langsung digendong wanita bergaun putih memasuki kamar baca. Wanita itu mengatakan sesuatu kepada Rara. Tanpa banyak bertanya, Rara pun menganggukkan kepalanya lantas bersembunyi di balik almari yang sangat familiar bagi Rara. Adegan pun berlanjut dengan suara tembakan yang tersamarkan dengan suara petir yang sangat keras. "Aaaaaargh!" Rara terbangun dengan berteriak. Napasnya terengah-engah dan tubuhnya basah oleh keringat. Matanya terlihat gelisah. Mimpi buruk itu terasa begitu nyata, menakutkan, dan suara tembakan itu terdengar jelas seakan tepat berada di sampingnya. "Ada apa? Kenapa berteriak?" Aidan yang terbangun karena teriakan Rara mendekati adiknya yang kini terduduk di ranjangnya. Dia menatap adiknya dengan cemas. Rara yang tersadar karena ucapan Aidan langsung memeluk kakak kesayangannya itu kemudian menangis dengan keras. Rara tidak peduli jika tangisannya akan menganggu orang lain. Yang Rara butuhkan sekarang hanya pelukan Aidan untuk meredakan kegelisahan hatinya. "Rara takut, Kak," ujar Rara di sela isakannya. "Rara takut." Aidan menepuk lembut punggung adiknya. "Tidak ada apa-apa. Ada Kakak dan Mama di sini. Tidak akan terjadi apa-apa." Aidan berusaha meyakinkan Rara bahwa ada dirinya yang akan selalu melindungi dan ada di saat adiknya itu membutuhkan. Bukan hanya Aidan yang cemas melihat keadaan Rara yang rapuh seperti ini, Mama yang sejak tadi menyaksikan adegan memilukan itu pun hanya sanggup terdiam di posisinya. Wanita paruh baya itu berusaha keras menahan perasaannya karena dia tahu putri ketiganya itu sedikit tertutup. Putrinya itu akan langsung menarik diri jika merasa tertekan. Wanita yang berusia hampir setengah abad itu hanya bisa melihat dari jauh tanpa harus mencampuri usaha Aidan meski hatinya terasa sakit melihat pemandangan memilukan itu. *** Sudah hampir pagi ketika akhirnya Rara terlelap juga. Genggaman tangan Rara membuat Aidan tidak bisa beranjak dari sisi tempat tidur adiknya itu. Meski merasa tidak nyaman, tetapi Aidan rela semata-mata agar adiknya merasa tenang. "Terus terang Mama sangat mencemaskan Rara," ujar Mama lemah sembari menatap wajah Rara yang tampak tak tenang dalam tidurnya. Aidan tidak membalas ucapan mamanya. Kalau mau jujur, Aidan juga sangat mencemaskan adiknya itu. Terlebih setelah bermimpi buruk, terkadang Rara demam tinggi keesokan harinya "Kita semua tahu akar dari mimpi buruk Rara," lanjut Mama tanpa mengalihkan tatapannya dari putri kesayangannya. "Kita sudah pernah diperingatkan bahwa ingatan buruk itu perlahan akan kembali muncul. Layaknya bom waktu yang siap meledak kapan saja meski kita sudah berhati-hati dan menyimpannya rapat." "Semua itu akan menjadi rahasia jika kita tidak berniat untuk membuka semuanya," ujar Aidan datar sembari mengusap lembut punggung tangan Rara. Mama membuang napas beratnya. Dia tahu reaksi Aidan akan seperti ini. Putranya itu memang paling tidak suka jika harus mengungkit tentang masa lalu. "Mama dan Papa sudah membicarakan ini," ujar Mama hati-hati. "Rara tetap harus tahu kebenarannya. Kami akan mencari waktu yang tepat untuk menceritakan semua." "Aidan tidak setuju." Mata Aidan berkilat marah. Dia melupakan sopan santunnya kepada orang tua. Dia takut dengan kebenaran yang dimaksud orang tuanya itu. "Kita tidak tahu reaksi Rara setelah mendengar kenyataan itu. Aidan tidak mau mempertaruhkan kebahagiaan Rara. Biarkan seperti ini. Aidan mohon, Ma." "Kita tidak akan tahu jika tidak mencobanya," bantah Mama. "Rara sudah cukup dewasa untuk berhak tahu yang sebenarnya." "Aidan tetap tidak setuju. Sampai kapan pun, Aidan tidak akan membiarkan Rara lebih terluka dari ini." "Jangan egois!" Tanpa sadar Mama meninggikan suaranya. "Sikapmu ini justru akan membuat Rara semakin terluka." Aidan menundukkan wajahnya, menyembunyikan matanya yang mulai berembun. "Aidan menyayangi Rara, Ma. Bagaimana bisa kalian melakukan ini?" "Mama dan Papa juga menyayangi Rara. Kami semua menyayanginya dengan kadar yang sama seperti kamu menyayanginya. Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu?" Mama tahu jika putranya itu kini menangis dalam diam. Meski terlihat keras di luar, sesungguhnya Aidan memiliki hati yang lembut. "Kita tidak boleh egois," ujar Mama sembari meremas bahu Aidan lembut. "Rara mulai merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Banyak pertanyaan yang timbul seiring berjalannya waktu. Hanya saja, Rara tidak pernah mengutarakannya karena kita tahu sifatnya yang satu itu. Kejadian kemarin kembali mengingatkan kita bahwa Rara tidak pernah menyerah soal basket. Dia merasa basket bisa menjadikannya nomor satu. Kau tahu, kan, bagaimana Rara mati-matian menjadi nomor satu untuk membuktikan bahwa dia juga bagian dari keluarga ini? Meski tidak pernah mengeluh, Mama yakin, Rara juga merasa tertekan dengan semua omongan buruk dari orang-orang di sekitarnya." Aidan paham maksud mamanya. Dia tentu ingat bagaimana Rara sering murung karena perlakukan tidak pantas yang diterima Rara dulu. Keluarga dan kerabat yang tidak tahu menahu tentang kebenaran ini juga sering menyakiti Rara. Meski Rara mati-matian menyembunyikan kesedihannya, tetapi Aidan tidak bisa dibohongi. Adiknya itu kerap menangis setelah pulang dari acara keluarga. Tidak hanya itu saja, Aidan pernah memergoki Rara menangis di pojok kamarnya yang berantakan. Kertas-kertas berserakan dengan gambar yang tak berbentuk. Sampai sekarang, hati Aidan masih sakit ketika mengingat semua itu. Puncak dari semua itu adalah perundungan yang diterima Rara dari kakak kelasnya. Mereka tidak suka melihat Rara terlalu dekat dengan Rizky dan Aidan. Meski Rara sudah mengatakan bahwa Rizky dan Aidan adalah kakaknya, orang-orang itu tetap tidak percaya karena Rara sama sekali tidak mirip dengan keduanya. Aidan sangat marah waktu itu. Akhirnya dia meminta orang tuanya untuk memindahkan sekolah Rara. Rara pun akhirnya bersekolah di tempatnya sekarang. Rara lumayan menikmati sekolahnya sampai dia akhirnya mengenal Kenzo Adams. Meski rivalitas Rara dan Kenzo sangat tidak wajar, Aidan tidak terlalu menganggapnya serius selama Rara tidak mengalami hal-hal buruk seperti di sekolah sebelumnya. Luka di tubuh akan sembuh dengan obat yang tepat. Akan tetapi luka di hati hanya akan sembuh oleh waktu yang tidak tahu batasnya. Aidan mengakui bahwa yang dikatakan mamanya benar. Dia sama sekali tidak punya hak untuk menghalangi Rara mendapatkan kebenaran atas dirinya. Aidan tidak peduli dengan apa yang akan terjadi nanti. Baginya, Rara adalah adik kesayangannya; dulu, sekarang, dan nanti. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD