“Turunkan aku didepan sana,” Ucap Aara setelah mereka lama terdiam. Mobil itu sangat hening. “Kenapa? Tidak. Aku antar kamu sampek rumah.” Jawab Harist yang mengkhawatirkan keselamatan perempuan itu. Meskipun mereka sedang tidak baik-baik saja, tapi tidak mungkin laki-laki itu membiarkan Aara pergi sendirian. “Apasih. Aku mau beli buah buat acara nanti. Turunin nggak!” ancam Aara yang malah membuat Harist menghembuskan nafas lega. Dia kira Aara masih marah dan ingin menghindarinya. “Oh oke.” Jawab Harist seadanya. Mereka pun berhenti di toko buah yang berada dipinggir jalan raya. Aara turun dari mobil dan menuju toko buah tersebut, memilih buah segar seperti para chef yang handal. Perempuan itu mengetuk-ngetuk buah semangka. “Ada orang didalam?” ucap Harist setelah berada disamping Aa

