"Aku pulang sekarang!" seru Arya.
Lelaki tersebut mendorong tubuh Dira hingga gadis itu tersungkur ke atas lantai. Dira terus berteriak untuk menghentikan Arya, tetapi lelaki yang dicintainya itu bersikap acuh. Arya terus berjalan cepat menuju lift.
Saat pintu lift terbuka, Dira berhasil menyusulnya. Perempuan itu menggenggam jemari Arya dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Arya mengembuskan napas kasar kemudoan merangkum wajah sang kekasih.
"Aku ada urusan, Dira. Maaf tadi sudah bersikap kasar sama kamu. Tapi, tolong pengertiannya kali ini. Ya?" Arya mengusap lembut pipi Dira menggunakan ujung jempolnya.
"Tapi Mas Arya mau pulang jalan kaki? Ayo, Dira antar, Mas!"
Arya menepuk dahi. Dia tersenyum lebar karena baru ingat kalau tidak bawa mobil pagi ini. Akhirnya Arya pun menyetujui tawaran dari Dira.
Akhirnya mereka masuk mobil dan pulang. Sepanjang perjalanan tak ada kalimat apa pun yang keluar dari mulut Arya. Dira mengemudikan mobil, sementara lelaki itu terus menatap ke luar jendela sambil melamun.
"Kamu pulang duluan, ya, Dira. Aku kabari kalau masalah ini sudah selesai." Arya tersenyum sambil mengusap lembut pipi Nadira.
"Oke, Mas. Aku pulang dulu, ya? Mas cepat kabari aku. Kalau butuh bantuan bilang aja." Nadira menyentuh punggung tangan Arya yang menempel pada pipinya sambil tersenyum.
"Ketemu lagi besok, Sayang." Arya menarik lengannya, kemudian turun dari mobil.
Lelaki tersebut terus berdiri di tepi jalan sambil melambaikan tangan. Setelah mobil Nadira tak lagi tampak dalam pandangan, senyum Arya mendadak hilang. Dia bergegas balik kanan dan memasuki halaman rumah.
Ketika sampai di teras, Dela sudah menangis histeris sambil duduk di kursi rotan yang ada di depan rumah tersebut. Selain itu, terdapat beberapa buah koper yang diletakkan di depan rumah.
"Lihat kelakuan istrimu, Ar! Dia berbuat seperti ini ketika mama datang. Aku terus memencet bel, tetapi tidak ada jawaban dari dalam!" seru Dela di antara isak tangisnya.
"Mama sudah hubungi Livia? Siapa tahu dia lagi nggak di rumah!"
Dela menggeleng. Dia mengatakan kalau tidak memiliki nomor Livia. Arya menepuk dahinya kemudian merogoh saku.
Lelaki itu mengeluarkan ponsel dan mulai menghubungi Livia. Namun, Arya tidak menyangka kalau dia tidak bisa menghubungi sang istri. Lelaki tersebut berulang kali menelepon Livia dan mengirim pesan kepadanya, tetapi tidak mendapatkan respon apa pun dari perempuan tersebut.
"Kayaknya nomor Arya diblokir sama Livia, Ma!"
Arya memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku, kemudian mengusap wajah secara kasar. Keduanya memutuskan untuk tetap menunggu Livia pulang. Arya terduduk lesu di samping sang ibu dengan menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
Di sisi lain, kini Livia ada di sebuah apartemen mewah yang tidak jauh dari kantor tempat dia bekerja. Perempuan cantik itu menatap ke luar jendela sambil memandang kendaraan yang berlalu lalang di tengah kemacetan jam pulang kerja.
Livia menggenggam sebuah gelas berisi jus jeruk dan menyesapnya sesekali. Sebuah tawa sinis terukir di wajah cantiknya karena tengah membayangkan ekspresi Arya saat ini. Tak lama kemudian seorang perempuan paruh baya menghampiri Livia.
"Livia," panggil perempuan itu dengan suara lirih.
"Bunda!" seru Livia ketika balik kanan.
Perempuan tersebut meletakkan jusnya ke atas meja. Livia berjalan cepat ke arah Kurnia, lalu masuk ke pelukan sang ibu. Livia menghirup dalam arona parfum berkelas milik sang ibu.
"Maafin Livia karena tidak mendengarkan Bunda sejak awal." Suara Livia sedikit bergetar ketika mengungkapkan penyesalan di hadapan Kurnia.
"Tidak apa-apa, Via. Bunda tidak pernah menyalahkan kamu atas pilihan yang kau buat." Kurnia melepaskan pelukan kemudian merangkum wajah Livia yang kini menatapnya sendu.
"Karena ini dulu adalah keputusanmu, bunda menghargainya. Namun, jika menimbulkan masalah lain sekarang, maka kamu harus menyelesaikannya sendiri. Sebagai seorang ibu, bunda harus mendukungmu sekuat tenaga. Namun, tetap mengingatkan kamu jika dirasa apa yang menjadi keputusanmu beresiko. Sama seperti tujuh tahun lalu." Kurnia membelai rambut lurus Livia dan menyelipkannya ke belakang telinga sang puttri.
"Bunda, bolehkah Via membalas dendam kepadanya?" tanya Livia penuh harap.
"Seharusnya kamu todak perlu mengotori tanganmu, Livia. Tanpa campur tanganmu, perlahan kehidupan mereka akan hancur dengan sendirinya. Percayalah!"
"Tapi, Bunda. Livia sangat sakit hati! Livia menemani Mas Arya sejak dia masih bekerja sebagai karyawan biasa. Tapi, begitu posisinya menjadi lebih baik sekarang, Mas Arya lupa diri dan berani bermain perempuan di belakang Livia." Suara Livia kembali bergetar ketika mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh Arya.
"Bunda paham perasaanmu saat ini. Jika kamu meminta pendapat bunda, maka aku tidak setuju jika kamu balas dendam. Tapi keputusan ada di tanganmu. Ini hidupmu, Livia. Kamu sudah dewasa dan tahu betul mana yang baik dan mana pula yang buruk untuk kamu." Kurnia tersenyum lembut kepada Livia.
"Baiklah, maka aku akan membalas perbuatan mereka, Bu!"
Kurnia mengembuskan napas kasar. Dia paham sekali dengan perasaan Livia sekarang ini. Perempuan tersebut hanya bisa berharap Livia memikirkan semuanya lagi.
"Ah, bunda membawa makanan kesukaanmu! Ayo makan!" ajak Kurnia sambil berjalan ke arah meja makan dan mengeluarkan bawaannya.
Livia pun mengekor di belakang sang ibu. Dia duduk di kursi sambil menatap Kurnia yang sedang menyiapkan makan malam untuk sang putri. Setelah sekian lama tak bertemu, Livia malam itu bermanja-manja dengan sang ibu.
Keesokan harinya, Livia berangkat ke kantor diantar oleh Kurnia. Sepanjang perjalanan menuju ruang kerja Livia, semua orang menunduk hormat kepada Kurnia. Perempuan itu langsung meninggalkan Livia setelah mengantar sang putri sampai di ruang kerjanya.
"Bunda langsung pulang, Via. Ingat, kamu masih punya ibu. Jangan sungkan untuk meminta bantuan. Masalah firma ini, aku membangunnya dengan susah payah. Bunda harap, kamu segera menerima apa yang ingin kuserahkan kepadamu, Livia." Kurnia menepuk bahu Livia kemudian memeluk tubuh mungil sang putri.
"Bunda hati-hati di jalan." Livia tersenyum lebar dan melepaskan pelukannya.
Kurnia pun akhirnya berjalan menjauh ke arah lift. Livia terus menatap sang ibu hingga pintu lift tertutup kembali. Setelah sang ibu tak lagi tampak, Livia membuka pintu ruangannya.
Livia terbelalak ketika mendapati Arya sudah ada di dalam ruangan tersebut. Livia memaki dirinya sendiri dalan hati karena belum mengganti kata sandi pintu ruangannya. Perempuan cantik itu berjalan ke meja kerja dan mengacuhkan Arya seakan lelaki itu tidak ada.
"Bisa jelaskan kenapa kamu mengeluarkan barang-barangku dari rumah? Lalu, kenapa kamu menjual rumah kita? Kamu juga mengambil mobil dari bengkel, lalu menjualnya tanpa izin dariku! Apa maksudmu, ha?" teriak Arya dengan d**a kembang kempis serta mata melotot.
Livia masih tenang berpura-pura tidak mendengar semua pertanyaan sang suami. Livia membuka laptop dan mulai bekerja. Melihat sang istri mengacuhkannya, membuat Arya semakin naik pitam.
Lelaki itu beranjak dari sofa kemudian mendekati Livia. Dia menggebrak meja kerja Livia sehingga beberapa barang melayang beberapa senti ke udara dan kembali mendarat dengan posisi sedikit kacau. Livia menatap tajam Arya sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa hakmu? Bahkan ...." Livia menggantung ucapannya selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali berbicara.