"Se-sebenarnya ...." Livia tampak ragu ketika hendak menjawab pertanyaan dari sang sahabat.
Livia menarik napas panjang dan mengembuskannya melalui bibir. Dia tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya. Sandra terlihat mengerutkan dahi ketika menatap sang sahabat.
"Aku mau menawarkan kerja sama untuk bantuan hukum, San." Livia sedikit tersenyum kikuk ketika mengucapkan kalimat tersebut.
Sandra melongo dan terdiam sejenak. Akan tetapi, beberapa detik kemudian perempuan cantik itu tertawa terbahak-bahak sambil memegang perut yang hampir kram. Livia langsung menatap sekelilingnya sambil tersenyum kecut.
"Kamu bercanda, Via? Mereka pasti sudah memiliki pengacara sendiri sejak perusahaan itu berdiri! Pastinya lebih profesional dari kamu! Pak Reza pasti sudah memiliki pengacara dengan pengalaman belasan tahun yang mengurus semua masalah hukum! Ada-ada saja kamu ini!" Sandra menghentikan tawanya kemudian kembali menyesap kopinya.
"Ya, siapa tahu, San. Namanya juga usaha!" Livia mengaduk americano dingin dan menyedot cairan hitam itu menggunakan sedotan.
"Ya sudah, good luck m, deh, Via! Sudah, ya? Aku mau ketemu sama salah satu partner papa! Aku akan mengirimkan detail 3 jadwal Pak Reza setelah ini melalui pesan!" Sandra beranjak dari kursi.
Dua perempuan cantik itu berpamitan dan saling menempelkan kedua pipi. Sandra kembali memakai kacamata hitamnya lalu melambaikan tangan kepada Livia. Tentu saja perempuan tersebut membalas lambaian tangan sang sahabat.
Begitu Sandra keluar dari kafe, senyum Livia mendadak sirna. Dia mulai berkemas dan ikut beranjak dari sana. Langkahnya semakin mantap untuk melancarkan aksi balas dendam dan menghancurkan kehidupan Arya serta Nadira.
Livia terpaksa berbohong kepada Sandra. Dia tidak mungkin mengatakan semuanya secara terang-terangan kepada sang sahabat. Sandra tahu kemelut rumah tangganya dan mendukung Livia untuk bercerai dengan Arya, tetapi rencana balas dendam ini hanya akan dia simpan untuk diri sendiri.
"Permisi, Mbak." Livia menemui seorang resepsionis dari perusahaan milik Reza.
"Iya, Bu ada yang bisa saya bantu?" tanya perempuan cantik bernama Tiara itu.
"Saya pengacara dari Firma Hukum Hutomo. Saya ingin bertemu dengan Pak Reza, bisa?" tanya Livia sambil menyodorkan kartu nama kepada resepsionis.
"Apakah Ibu sudah membuat janji dengan bapak?" tanya Tiara sopan dan ramah.
"Ah, belum. Tapi saya sudah menghubungi asistennya melalui teman saya yang merupakan kekasih dari asisten pribadi Pak Reza," jelas Livia rumit sehingga membuat sang resepsionis mengerutkan dahi.
"Saya akan menghubungi Pak Anton kalau begitu, Bu." Tiara mulai memegang gagang telepon dan berbicara melalui benda itu.
Akan tetapi, bukannya Anton yang datang, justru dua orang petugas keamanan berseragam hitam yang menghampiri Livia. Kedua pria itu berniat untuk mecekal lengan Livia, tetapi perempuan itu terus berontak.
"Tunggu, Pak! Saya bukan penipu! Saya benar-benar sudah menghubungi Anton melalui Sandra!" teriak Livia sambil menahan lengan para petugas keamanan yang hendak mencekal tangannya.
"Mbak, kenapa nggak coba hubungi Pak Anton dulu untuk memastikan? Kenapa malah memanggil satpam! Aku laporkan sama Pak Reza, ya!" teriak Livia sambil menuding Tiara.
"Maaf, kami memiliki SOP. Saya juga bekerja di sini sudah lebih dari lima tahun, Bu. Jadi, paham betul gelagat penipu seperti, Anda."
"Penipu katamu! Orang cantik, rapi, wangi, pemberani sepertiku kamu bilang penipu?" Livia terkekeh kemudian menggulung lengan blazer-nya.
Tiara menggerakkan kepalanya sebagai kode kepada petugas keamanan. Tanpa menunggu lebih lama lagi, dua lelaki bertubuh kekar itu langsung menyeret Livia menjauh dari meja resepsionis. Livia terus memberontak dengan menendang udara.
Sampai akhirnya salah satu sepatunya terlepas dan melayang ke udara. Dari arah pintu masuk, terdengar suara teriakan mengaduh karena ternyata sepatu Livia mendarat tepat di atas kepala Reza.
"Waduh, mati aku!" gumam Livia dengan mata terbelalak.
"Lepaskan perempuan itu!" seru Anton sambil mengecek kondisi atasannya yang terus memegang kepala.
"Pak Reza! Maafkan saya, Pak! Saya tidak sengaja!" Livia langsung berlari ke arah Reza.
Livia berjalan sedikit pincang karena hanya memakai sebelah sepatu hak tinggi. Sialnya lagi keseimbangan Livia goyah karena hak sepatu yang dia pakai tersangkut pada karpet. Tubuh Livia limbung.
Beruntungnya Reza menangkap tubuh mungil pengacara cantik itu dengan sigap. Tatapan keduanya bertemu. Livia menelan ludah ketika memandang wajah tampan Reza yang sudah berumur lebih dari 40 tahun itu.
Reza mwnatap perempuan itu dengan tataoan yang sulit diartikan. Keduanya kembali berdiri tegap ketiga Anton verdeham. Saat melohat sekeliling, kini oara karuawan yang bwrlalu lalang menatap keduanya sambil tersenyum dan berbisik.
"Ma-maaf, Pak. Saya ceroboh!" Livia terus menunduk beberapa kali.
Ketika melihat sebelah sepatunya yang kini sudah tergeletak di atas lantai, Livia langsung memukul kepalanya. Anton terlihat menyembunyikan senyum di dalam telapak tangan. Livia pun bergegas mengambil sepatu itu dan memakainya agar tidak lagi berjalan pincang.
"Anton sudah menceritakan niatmu datang ke sini. Aku ada rapat sebentar, silakan bicarakan dengan Anton." Reza berjalan lebih dulu menuju lift, sementara Livia terus menatap punggung lelaki tersebut hingga tertelan oleh besi pengangkut tersebut.
Anton kembali berdeham untuk mendapatkan Livia kembali fokus dengannya. Livia akhirnya menoleh sambil tersenyum tipis. Anton membuka lengannya dan meminta Livia untuk berjalan mengikutinya.
Mereka berjalan ke lobi yang ada di sudut bangunan. Anton memanggil office boy untuk membuatkan minuman, sebelum akhirnya lelaki tersebut membuka pembicaraan.
"Dunia memang sempit. Sandra sering bercerita tentang kamu, tapi kita belum pernah bertemu."
"Sudah pernah bertemu sebelum ini, bukan?" Livia menaikkan satu alisnya ketika meralat ucapan Anton.
"Ah, iya. Malam itu, ya. Saat kamu hampir jadi jenazah," ejek Anton.
Livia menyipitkan matanya, lalu menyandarkan punggung pada sofa. Tak lama berselang, office boy datang dengan membawa dua cangkir teh. Anton menyesap minuman tersebut sebelum akhirnya kembali membuka pembicaraan.
"Membahas soal apa yang dikatakan Sandra, apa kamu yakin ingin menjadi partner untuk perusahaan ini?"
Livia langsung mengangguk mantap. Anton menarik napas kemudian mengembuskannya perlahan. Lelaki itu menautkan jemarinya dan duduk dengan tubuh condong ke depan.
"Aku sudah memberitahukan niatmu kepada Pak Reza. Beliau memberimu satu kesempatan. Kami memiliki masalah dengan perusahaan starterup yang baru saja mulai beroperasi."
"Benarkah? Masalah apa?" tanya Livia antusias.
"Iya, kami mendapati salah satu ide aplikasi belanja online milik kami dicuri. Bahkan mereka memakai nama yang sama. Kami sudah membiarkan mereka dan merelakan aplikasi itu. Tapi, apa kamu tahu? Mereka justru menuntut balik perusahaan kami karena tak lama setelahnya kami meluncurkan aplikasi serupa, tetapi memiliki fitur yang lebih inovatif!" ujar Anton menggebu-gebu.
Terlihat urat sekitar mata Anton semakin menonjol. Urat leher lelaki itu juga tampak tegang, ditambah napas yang memburu. Livia tersenyum lembut ketika melihat ekspresi Anton.
"Sabar, aku paham kalau orang sabar itu pasti kesel. Tapi, harus sabar dulu. Aku harus melihat data yang ada dan mempelajarinya. Semoga perusahaan ini bebas dari tuntutan dan tidak dianggap bersalah di depan pengadilan."
"Tentu saja kami ada di pihak yang benar!" seru Reza.
Livia menoleh ke arah sumber suara. Kini Reza menatap perempuan itu dengan tatapan tajam. Rahangnya tampak mengeras dengan jemari yang mengepal kuat di samping tubuh.
Mati aku! Aku sudah menyinggung Pak Reza! Livia menelan ludah kasar ketika mendapati raut wajah penuh amarah pada Reza.