Abla

1040 Words
Siang itu dibawah paparan pendingin ruangan, Ha Joon bersumpah akan selalu mengagumi Na Hyun, begitu melihat Na Hyun menghampiri direktur itu. Dengan cukup kuat, dia menendang kaki sofa yang diduduki direktur. Kopi dalam cangkir yang sudah menyentuh bibir si direktur tumpah mengenai bajunya. Si direktur menyebalkan, mengipas-ngipas kemejanya. Wajahnya memerah malu. Tendangan itu memang tidak menimbulkan rasa sakit, tapi cukup menyiratkan kalau Na Hyun tidak takut pada siapapun. Terserah setinggi apa jabatannya. Mereka berempat dan Pak Kim—kecuali Hyeri dan Ibu kepala sekolah, terpesona menatap Na Hyun. Na Hyun pergi meninggalkan ruangan tanpa merasa perlu izin. Min Joo tertawa, menepuk-nepuk bahu Ha Joo saat Na Hyun sudah hilang di balik pintu berukiran burung nuri. Min Joo menyusul Na Hyun sambil tertawa girang. Dia sempat mengambil cola kaleng yang belum terbuka, berada diatas meja kerja kepala sekolah. Yo Han dan Yu Ri berpandang-pandangan, binggung apa yang mereka lakukan. Ikut membangkang seperti Na Hyun dan Min Joo atau tetap disini menunggu Hyeri. Ha Joon bertanya tanpa suara pada Pak Kim seolah berkata, aku kabur tidak nih? Pak Kim melirik kepala sekolah menunggu keputusan. Ibu Kepala Sekolah tetap diam, matanya melotot, nafasnya berderu kencang menahan emosi. Hanya karena didepannya masih ada murid-muridnya, dia harus menjaga wibawa. Kalau tidak, puh, meja kerjanyapun sudah dibalik-balikan dari tadi. "Jika tidak ada yang perlu Ibu bicarakan lagi, aku izin undur diri. Mubazir waktuku berdiri lama-lama disini." Tanpa menunggu jawaban kepala sekolah, Hyeri beranjak pergi. Ha Joon bisa bernapas lega. Mereka bertiga mengikuti Hyeri dari belakang. Tiba-tiba Hyeri menghentikan langkahhya, berbalik. Hampir saja Yu Ri menabraknya. "Masalah Yo Han biar kami saja yang mengurusnya" kata Hyeri tanpa ekspresi. "Dengan cara apa? Apa yang kalian bisa lakukan selain berkelahi?" Ibu Kepala Sekolah berkata seperti sedang bicara kepada anak umur tiga tahun. Yo Han berkedip, merasa seperti dia yang sedang dibicarakan saat ini. Hyeri tidak marah, atau mengepalkan tangannya seperti Na Hyun. Dia setenang air danau yang menyembunyikan buaya ganas didalamnya. Dengan eskpresi datar yang sama, dia menjawab, "Tidak. Tapi kami akan bertarung," ucapnya seperti ultimatum. Tidak mau dibantah. Hyeri lekas berbalik, berjalan cepat menuju koridor. Dia cukup yakin kalau Kepala sekolah mereka semakin mendidih saat ini. Sekilas matanya bertatapan pada Direktur yang masih menyeka noda kopi dibajunya saat lewat. Sesampainya mereka bertiga di kelas, anak-anak bergeliut-geliut. Bisik demi bisik terdengar. Mereka bertiga tidak ambil pusing, kembali ke meja masing-masing. Na Hyun dan Min Joo sudah kembali lebih dulu. Na Hyun terlihat sibuk membersihkan sisa darah yang mengering di wajahnya dengan tisu yang diambilnya begitu saja dari salah satu teman sekelasnya yang membawa tisu. Teman sekelasnya tidak keberatan, ah, lebih tepatnya takut keberatan. Na Hyun membagi tisu yang masih bersih dengan cara melemparnya pada Ha Joon dan yang lainnya. Mereka tidak sakit hati di lempar begitu, dipikiran mereka, justru lebih aneh jika Na Hyun memberinya dengan lembut ditambah pula senyum manis. Ha Joon mungkin akan sangat senang sampai bisa menembus atap sekolah jika disenyumi sekali saja oleh Na Hyun. Tapi dari tadi dia dapat senyum kok, senyum sinis tepatnya. Yang lain sibuk menggosok-gosok, menyeka wajah, dan tangan mereka menjadi lebih bersih. Yu Ri histeris sekali melihat tampang yang jauh menyedihkan. Pipinya yang ditabur perona merah pipi, sekarang hanya warna biru keunguan yang terlihat. Riasan matanya rusak. Bibirnya yang memang sudah merah merona, kini makin merah oleh darah dari bibirnya. Rambutnya acak-acakan, kusut dan sulit disisir. Dia sudah tidak ingat lagi cara menjaga tatanan rambutnya. Ketika Yu Ri mendatangi meja Ha Joon sambil mengulurkan tangan, Ha Joon baru ingat kalau cermin yang Yu Ri titip masih dipegang Pak Satpam. Yu Ri menyuruhnya mengambil, tapi Ha Joon beralasan kalau kakinya sakit. Dia tidak sepenuhnya berbohong. Yu Ri melihat kaki Ha Joon yang memang bengkak dan biru di tulang kering. Mungkin dia sempat tertendang tadi. Ketika Yu Ri mendatangi meja Ha Joon sambil mengulurkan tangan, Ha Joon baru ingat kalau cermin yang Yu Ri titip masih dipegang Pak Satpam. Yu Ri menyuruhnya mengambil, tapi Ha Joon beralasan kalau kakinya sakit. Dia tidak sepenuhnya berbohong. Yu Ri melihat kaki Ha Joon yang memang bengkak dan biru di tulang kering. Mungkin dia sempat tertendang tadi Ketika Yu Ri mendatangi meja Ha Joon sambil mengulurkan tangan, Ha Joon baru ingat kalau cermin yang Yu Ri titip masih dipegang Pak Satpam. Yu Ri menyuruhnya mengambil, tapi Ha Joon beralasan kalau kakinya sakit. Dia tidak sepenuhnya berbohong. Yu Ri melihat kaki Ha Joon yang memang bengkak dan biru di tulang kering. Mungkin dia sempat tertendang tadi Ketika Yu Ri mendatangi meja Ha Joon sambil mengulurkan tangan, Ha Joon baru ingat kalau cermin yang Yu Ri titip masih dipegang Pak Satpam. Yu Ri menyuruhnya mengambil, tapi Ha Joon beralasan kalau kakinya sakit. Dia tidak sepenuhnya berbohong. Yu Ri melihat kaki Ha Joon yang memang bengkak dan biru di tulang kering. Mungkin dia sempat tertendang tadi Ketika Yu Ri mendatangi meja Ha Joon sambil mengulurkan tangan, Ha Joon baru ingat kalau cermin yang Yu Ri titip masih dipegang Pak Satpam. Yu Ri menyuruhnya mengambil, tapi Ha Joon beralasan kalau kakinya sakit. Dia tidak sepenuhnya berbohong. Yu Ri melihat kaki Ha Joon yang memang bengkak dan biru di tulang kering. Mungkin dia sempat tertendang tadi Ketika Yu Ri mendatangi meja Ha Joon sambil mengulurkan tangan, Ha Joon baru ingat kalau cermin yang Yu Ri titip masih dipegang Pak Satpam. Yu Ri menyuruhnya mengambil, tapi Ha Joon beralasan kalau kakinya sakit. Dia tidak sepenuhnya berbohong. Yu Ri melihat kaki Ha Joon yang memang bengkak dan biru di tulang kering. Mungkin dia sempat tertendang tadi Ketika Yu Ri mendatangi meja Ha Joon sambil mengulurkan tangan, Ha Joon baru ingat kalau cermin yang Yu Ri titip masih dipegang Pak Satpam. Yu Ri menyuruhnya mengambil, tapi Ha Joon beralasan kalau kakinya sakit. Dia tidak sepenuhnya berbohong. Yu Ri melihat kaki Ha Joon yang memang bengkak dan biru di tulang kering. Mungkin dia sempat tertendang tadi Ketika Yu Ri mendatangi meja Ha Joon sambil mengulurkan tangan, Ha Joon baru ingat kalau cermin yang Yu Ri titip masih dipegang Pak Satpam. Yu Ri menyuruhnya mengambil, tapi Ha Joon beralasan kalau kakinya sakit. Dia tidak sepenuhnya berbohong. Yu Ri melihat kaki Ha Joon yang memang bengkak dan biru di tulang kering. Mungkin dia sempat tertendang tadi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD