reply

1052 Words
Tiga petugas ambulan berseragam orange, dari rumah sakit milik Yayasan, berlarian begitu melihat Dokter Jang dibantu Ha Joon dan Yo Han keluar dari sekolah menuju halaman. Dengan sigap dan telah terbiasa saat keadaan darurat, mereka mendorong bangsal ke mobil kemudian memindahkan Seo Joon ke bangsal khusus yang hanya tinggal didorong masuk kedalam mobil. Tabung oksigen serta selang yang melekat di mulut Seo Joon juga dimasukkan dengan mudah. Yo Han dan Ha Joon menunggu diluar, mereka merasa tidak ada lagi hal yang perlu dibantu, sambil mengamati. Dokter Jang berbalik lagi begitu melihat kedua siswanya hanya berdiri mematung seperti orang bodoh. Satu kakinya sudah masuk, kedua tangannya memegang sisi mobil terdekat. Dokter Jang menyumpahi, rok ketatnya yang menyulitkan dia melompat ke dalam mobil dan memperlambat geriknya . "Kalian berdua cepat masuk!" Dokter Jang sudah duduk. Menunggu keduanya masuk. "Tapi bukan kami yang mem—" ucapan Ha Joon terpotong, ekspresi galak Dokter Jang cukup menjelaskan sesuatu menakutkan akan terjadi pada mereka jika berani membangkang. Ha Joon dan Yo Han beradu pandang, akhirnya Yo Han maju terlebih dahulu, melompat masuk mengambil posisi duduk didepan bangku Dokter Jang, disamping mayat Seo Joon —maksudnya tubuh Seo Joon. Di belakang Ha Joon menyusul sambil menggerutu. Mobil melaju kencang meninggalkan sekolah, riuh rendah bisikan demi bisikan dari kumpulan siswa yang berdiri tidak jauh dari halaman terdengar berkumpul jadi satu, mengiringi kepergian mobil ambulan hitam mengilat berlogo panah yang membawa tiga anak yang paling tidak pernah dipikirkan murid lain akan bersinggungan. Saling bertanding spekulasi siapa yang paling menarik. Gerutuan Ha Joon menghilang begitu mobil ini melaju di jalan utama. Mobil ini dirancang sangat lembut dan tingkat kenyamanan tinggi. Tidak terguncang sama sekali meskipun supir melakukan manuver mendadak guna menghindari jalanan yang cukup padat atau segerombol mobil lambat dengan tulisan SEDANG BELAJAR tertulis besar-besar dipapan atas atap mobil. Ha Joon membayangkan membawa pacar-pacarnya berkencan didalam mobil ini, sambil menonton film dan menikmati sepaket popcorn rasa karamel kesukaan Ha Joon. Serta hal-hal manis lainnya. Dokter Jang tidak mengurangi awasnya pada Seo Joon. Berkali-kali dia mengecek pada alat kecil yang memiliki jarum menunjuk angka-angka tertempel dibawah tabung oksigen. Yo Han terkagum-kagum memandangi Dokter Jang, tanpa henti memastikan Seo Joon bisa bernapas. Dia tidak pernah merasa dikhawatirkan seperti itu. Terbesit dibenaknya untuk melakukan hal yang sama seperti Seo Joon. Mengaduh sakitnya, kemudian Dokter Jang atau siapapun memegang tangannya, menatapnya intens sambil mengharap kesembuhannya. Yo Han menggeleng-geleng kuat berusaha mengenyahkan pemikirannya. Jika aku menunjukkan kelemahan, bukan dokter yang akan memperhatikan tapi malaikat maut, benaknya. Tidak ada rasa kasihan untuk orang seburukmu Yo Han, lanjutnya. Dia memilih memalingkan wajah dari pemandangan didepannya ke jalanan di luar kaca hitam. Itulah kehidupan Yo Han, jalanan panas. "Dokter yang akan menanganinya, memerlukan kronologi kejadian. Kenapa Seo Joon bisa seperti ini?" Pertanyaan Dokter menarik kembali mereka kesadaran mereka. Yo Han menatap Ha Joon, menyuruhnya bercerita tanpa suara. "Jadi aku dan beberapa yang lainnya keluar dengan perasaan lega dari kantor kepala sekolah. Kami—" "Intinya saja!" Ha Joon diam, seingatnya dari novel yang dia baca cara mengawali cerita ya seperti itu. "Jadi Na Hyun mendorong atau menendang" "Menendang" sahut Yo Han. Ha Joon mengerutkan dahi. "Bukan mendorong." "Sudah ku bilang menendang!" "Aku yakin mendorong!" Ha Joon tidak mau kalah. Mereka saling menatap sengit. Dokter Jang memutar bola matanya. Jengah. Dia meluruskan tangannya, meremas jarinya-jarinya. Tulang-tulang bergemeletuk. "Jadi menendang atau mendorong?" tanya Dokter Jang. Matanya menatap liar keduanya ditambah seringai yang sekilas mirip orang sinting. Yo Han sering melihat tatapan itu. Dia menelan ludah. "Ah. Mungkin ya mungkin" Ha Joon gugup. "Na Hyun menggebrak bangku Seo Joon cukup keras sampai Seo Joon terjungkal dan menghantam meja didepannya." Yo Han menarik napas. "Setelah itu Seo Joon terus memegangi dadanya sampai dia jatuh lembek ke lantai" lanjutnya. Meski takut, Yo Han berusaha tetap tenang. Dia terlatih berpura-pura. Tidak ada yang bisa dipercayainya didunia ini, termasuk Dokter sekolahnya. Dia tidak boleh menunjukkan kelemahan. Ditolong oleh empat orang cewek dan satu cowok tukang teriak-teriak, sudah cukup membuatnya merasa malu sampai ke kuku kaki. "Dimana Na Hyun sekarang?" Keduanya menggeleng, tidak tahu. Dokter Jang menatap mereka tajam, mencari tahu apakah mereka berbohong atau tidak. Keduanya memang tidak tahu. Begitu mereka keluar kelas, mereka belum melihat Na Hyun. Dokter Jang menghela napas. Dia tidak perlu bertanya mengapa seorang cewek bisa membuat seorang cowok terbaring sekarat. Dia pernah menyaksikan sendiri betapa mengerikannya Na Hyun. "Tetap saja. Dia harus bertanggung jawab untuk masalah yang ditimbulkannya." "Aku rasa itu tidak akan terjadi." Entah mengapa Yo Han yakin sekali. Ha Joon yang duduk disampingnya menoyor bahunya. "Sok tahu" sindir Ha Joon. "Tadi aku dengar soal saham Na Hyun pada sekolah ini. Dan mobil ini diluarnya punya logo yang sama dengan sekolah kami. Berarti ini satu yayasan bukan?" Yo Han memastikan. Dokter Jang mengangguk. Ha Joon masih tidak mengerti si Yo Han bicara soal apa. "Kurasa juga dia tidak mau repot-repot meminta maaf pada orang yang sudah memancing amarahnya" Dokter Jang beralih memandang Seo Joon yang tertidur. Tangannya masih diatas d**a, tapi tidak lagi menekan-nekannya. "Dia memang punya saham besar di setiap perusahaan yang memiliki logo sama. Mungkin kau benar, dia tidak akan mau bertanggung jawab. Anak itu.. " Dokter Jang memijit pangkal hidungnya. Kepalanya pening sebelah. Seolah tanggung jawabnyalah mendidik Na Hyun menjadi anak manis. Dia tidak mengerti Na Hyun, sama seperti yang diharapkan Na Hyun. Baginya tidak perlu orang lain memahaminya. Jarak mereka tinggal beberapa meter lagi. Beberapa perawat berseragam sudah menunggun didepan. Begitu mobil hitam mengilap ini berhenti, mereka segera berlari kepintu belakang yang berisi pasien. Mendorong keluar bangsal dari dalam mobil, berlarian membawanya keruang gawat darurat. Disana sudah menunggu dokter yang dipercayakan Dokter Jang beserta peralatan lengkap yang tidak dipahami Yo Han. Apalagi Ha Joon. "Uh aku tidak suka bau rumah sakit. Tidak romantis" Ha Joon berkomentar sambil lalu, namun tetap melangkah masuk. Yo Han ragu-ragu berdiri bimbang. Dokter Jang dan yang lainnya sudah menghilang di balik kelokan. Dia menatap gedung putih yang amat besar. Lebih besar daripada yang dipikirkannya. Orang-orang lalu lalang. Kelip lampu besar menerangi tiao inci ruangan. Yang berseragam atau yang tidak. Wajah-wajah lelah berkeliaran di luar dan di dalam rumah sakit. Semuanya sibuk. Membuat Yo Han terlihat seperti anak linglung yang menyedihkan. Dia memberanikan masuk. Tempat lemah, suara-suara dipikirannya memperingati. Baiklah, mari kita lihat selemah apa tempat ini, balasnya pada suara-suara itu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD