7. Rahasia Kecil

1584 Words
Delucia beranjak, mendekati sang adik yang masih berdiri diam di tengah pintu. Menepuk pundak adik perempuannya dan bertanya. "Ada apa, Xaviera? Apa yang sedang kau pikirkan? Kau dari mana?" Xaviera menggeleng lalu memamerkan cengirannya, tersenyum seolah tak ada hal apa pun yang terjadi dengannya. "Tidak ada, aku hanya ingin mengukur seberapa cepat aku bisa berlari dari jarak jauh sampai ke rumah, ternyata aku cukup handal," katanya dengan bangga. Semua orang menatapnya dengan wajah gemas lalu tertawa. Delucia mengelus pucuk kepala adiknya. "Dasar bayi besar." Xaviera makin melebarkan cengirannya. Namun tak ada yang tahu dibalik tawa semua orang itu, ada satu orang di antaranya yang menyadari kebohongan Xaviera. Gadis kecil itu berpamitan dengan semua kakaknya, berjalan menuju ke arah kamar di lantai dua. "Aku masuk ke kamar terlebih dahulu, piring kotorku masih tertinggal di dalam." Tak lupa memamerkan kembali senyum lebarnya. Melalui tatapan matanya, Xaviera seolah memberikan isyarat ke salah satu orang yang ada di sana untuk ikut dengannya. Setelah sampai di dalam kamar, tak lama seseorang mengetuk pintu dari luar. Xaviera langsung membuka pintu dan menutupnya rapat setelah orang itu masuk. Mengunci pintu dan menarik orang yang ia panggil dan menuntunnya ke tengah kamar. Keduanya duduk di atas kasur kamar Xaviera. "Jadi ada apa sebenarnya? Aku tahu ada yang tidak beres denganmu," tanyanya pada Xaviera. Gadis itu mengembuskan nafasnya, melirik ke kanan dan ke kiri, takut jika seseorang mengintip. Setelah dirasa aman ia baru menceritakannya. "Aku melihat sekelompok iblis yang baru datang ke pulau ini, mereka dalam jumlah banyak dan memiliki persenjataan lengkap. Aku yakin mereka datang untuk mencariku, lebih tepatnya benda pusaka yang kumiliki," jelasnya setengah berbisik. Mendengar penjelasan Xaviera, ia terkejut. Bahkan ia akan berteriak jika mulutnya tak segera dibungkam oleh sang adik. "Jangan bercanda, kau tahu sendiri jika pulau ini dilindungi dengan mantra penghalang untuk menghalau iblis. Tidak mungkin mereka bisa masuk begitu saja," balasnya. Xaviera menatapnya dengan tatapan yang serius. Dari sorot matanya, ia tahu jika adik perempuannya ini berkata dengan sungguh-sungguh. "Jadi kau tidak berbohong?" Xaviera menggangguk yakin. "Lalu kenapa kau hanya memberitahukan hal ini padaku? Kita harus beri tahu yang lain agar bisa segera membuat rencana." Ia beranjak akan meninggalkan kamar adiknya, tetapi Xaviera menghentikan langkah kakak perempuannya tersebut. Ia menggeleng dan memohon kepada kakaknya agar tidak membocorkan hal ini terlebih dahulu pada yang lain lewat sorot matanya. "Kenapa aku harus merahasiakannya dari yang lain? Mereka akan membantu kita, kita harus bersatu agar bisa mengalahkan pasukan iblis itu," kesalnya. Seketika ia menjadi teringat sesuatu. "Tunggu, apa katamu tadi? Iblis itu datang dengan kapal mereka? Pulau ini memiliki mantra untuk mencegah iblis masuk dan mantranya tidak akan bekerja jika seseorang dari dalam memanggil mereka untuk masuk, benar?" Xaviera mengangguk, ia tersenyum karena kakaknya sudah mulai mengerti maksudnya. "Jadi maksudmu salah satu dari mereka berempat telah berkhianat?" Xaviera kembali mengangguk. "Aku belum yakin dugaanku ini benar atau tidak, tapi untuk saat ini hanya itu yang terpikirkan olehku, tetapi seseorang bilang padaku jika mantra penghalang memiliki mantra penangkal dan dugaanku yang selanjutnya adalah mereka telah menemukan mantra untuk menangkal sihir itu." Sang kakak menatap kedua netra adiknya lalu bertanya, "Mengapa kau memberitahukan hal ini padaku dan bukannya pada yang lain di saat mereka terkadang malah sering menuduhku melakukan hal buruk terhadapmu?" Xaviera balas menatap kakaknya, memegang jemari kakak perempuannya dan menyalurkan kehangatan. "Hanya kau yang kupercaya, Kak Airia. Tidak ada yang melebihi dirimu. Kau yang selalu menjagaku meski dari kejauhan sejak kita tiba di sini. Hanya kau yang paling protektif padaku meski caramu berbeda dengan yang lain." Hati Airia menghangat mendengarnya. Ia sering salah sangka terhadap adiknya, sering bersikap sinis ketika hatinya tengah terbakar api cemburu, tetapi Xaviera selalu berpikir positif padanya. Ia tak tahan dan memeluk adiknya dengan erat. "Terima kasih karena telah mempercayaiku," bisiknya tepat di telinga sang adik. "Kita harus mencari tahu terlebih dahulu bagaimana mereka bisa berada di pulau ini dan apa tujuan mereka. Setelah kita mengetahuinya kita baru akan memberitahukan pada yang lain perihal ini, setuju?" Airia mengangguk setuju. "Jangan sampai rahasia kecil kita diketahui oleh orang lain. Kalau begitu aku akan pergi agar yang lain tidak curiga." Airia beranjak, pergi dari kamar adiknya lewat balkon kamar dan melompat ke atap rumah. Berjalan di atas dan melompat turun tepat di balkon kamarnya yang juga terletak di lantai dua. Tanpa mereka sadari seseorang juga ikut mencuri dengar permbicaraan keduanya di balik pintu kamar Xaviera. Setelah Airia pergi, ia juga menghilang dari sana. ***** Hari berganti dengan cepat, matahari yang tadinya bertahta di atas langit biru kini telah digantikan oleh cantiknya cahaya rembulan purnama. Malam ini sangat terang karena kehadiran bulan yang terlihat sangat dekat serta taburan ribuan bintang yang menemani dewi malam. Xaviera masih sibuk membolak balik buku yang ia bawa dari kerajaan sebelum mereka pindah ke pulau ini. Ia membaca satu per satu mantra penangkal yang kemungkinan digunakan oleh para iblis untuk menerobos masuk ke dalam. Buku itu hanya berisi mantra dari ilmu sihir murni, bukan ilmu sihir hitam. Dan sudah hampir tiga jam ia berkutat namun tak menemukan hasilnya. Ia lelah, neletakkan buku yang dipegangnya ke lantai lalu mmbaringkan tubuh di dekat buku sambil memejamkan mata karena pusing membaca ribuan halaman dari kitab tebal tersebut. "Apa ini? Aku tidak menemukan petunjuk apa pun, apakah mereka menggunakan sihir hitam atau yang lainnya? Tapi ibu bercerita padaku jika sihir murni tidak bisa ditembus dengan sihir hitam," gumamnya setengah berpikir. "Aarrgghhh." Xaviera mengacak rambutnya sendiri karena frustasi. Hampir saja ia berteriak untuk mengurasi stres, tetapi ketukan di pintu membuat kewarasannya kembali. "Siapa?" tanyanya setengah berteriak. "Ini aku, Delu. Makan malam sudah siap," balas gadis yang ada di luar. "Baik, Kak. Aku akan turun sepuluh menit lagi, makan duluan saja, nanti aku menyusul," ujarnya sambil merapikan buku-buku yang berserakan di lantai. Xaviera kembali meletakkan bukunya ke rak sesuai dengan angka agar mudah mencarinya. Setelahnya ia merapikan sedikit penampilannya yang acak-acakan dan keluar, turun dan ikut makan malam bersama para saudaranya. Gadis itu mengambil jatah makan malamnya dan kembali ke kamar, ia bilang ia akan makan malam di dalam kamar. Semua orang tampak heran dengan perubahan sikap Xaviera yang tiba-tiba. Mereka merasa gadis itu seolah tengah menyembunyikan sesuatu. "Apa Xaviera menyembunyikan sesuatu dari kita? Aku merasa tingkahnya sedikit aneh," lirih Lavina yang memang lebih peka dari yang lain. "Aku juga merasa begitu, ia seolah tengah menyimpan sesuatu dan enggan memberitahukannya pada kita," balas Delucia agak berbisik. "Hei, apa yang kalian katakan? Tidak mungkin Xaviera menutupi sesuatu apalagi dari dirimu, Delu," ketus Airia. "Bagaimana denganmu, Blade?" Lavina menatap lelaki itu. Blade menghentikan acara makan malamnya dan menatap ke arah ketiga gadis itu bergantian. "Menurutku Xaviera biasa saja." Lalu melanjutkan makannya tanpa merasa terganggu. Lavina, Airia dan Delucia langsung mengarahkan pandangannya ke Luke. Lelaki itu langsung tersedak ketika sadar ia diamati. "Apa?" kesalnya lalu pergi dari ruang makan. "Kenapa dia begitu sentimental? Kita hanya menatapnya bukan?" sinis Lavina. "Sudahlah, sebaiknya kita segera selesaikan makan malam dan membersihkan sisanya," potong Delucia sebelum Lavina membuka mulut lebih lama lagi. Airia yang sedari tadi mengawasi mereka tampak bingung. "Siapa yang berkhianat? Tidak mungkin mereka mengkhianati Xaviera. Semuanya tampak normal dan tidak ada yang mencurigakan," pikirnya. Ia mengendikkan bahu dan kembali makan setelahnya, hanya sekali mengawasi tentu tidak akan mendapat hasil yang maksimal pikirnya. ***** Xaviera tengah berdiri di balkon kamarnya, memandangi langit malam yang penuh bintang. Gadis itu menyandarkan diri di pembatas balkon dan memejamkan kedua mata. Ia memainkan sihir kecil, membuat kembang api kecil dari dalam telapak tangan yang kemudian meletus ke atas langit. Tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan suara benda jatuh yang kencang. Xaviera segera membuka netranya dan menemukan Luke terjatuh di lantai balkon kamarnya. Menatap lelaki itu dengan raut terkejut. "Apa yang kau lakukan?" Luke berdiri dan menepuk pakaiannya yang sedikit kotor lalu berjalan menghampiri Xaviera. "Aku terjatuh dari atap, apa kau tidak bisa melihatnya?" balasnya sinis. Xaviera memutar bola matanya jengah. Kembali ke posisinya dan bermain kembang api lagi. "Aku sedang bermain kembang api dan tadi aku menutup mataku, jadi tidak bisa lihat," katanya dengan ketus. Luke berdeham, "Kau sendiri kenapa tidak masuk ke dalam? Hari sudah malam dan udara di luar semakin dingin. Jangan sampai kau sakit." Xaviera melirik ke arah Luke sekilas. Tumben sekali lelaki itu menaruh perhatian kecil untuk dirinya. Luke yang seolah bisa menebak jalan pikiran Xaviera buru-buru meralat kalimatnya. "Maksudku kalau kau sakit pasti Blade akan menyalahkanku lagi." Tanpa menanggapi perkataan dari Luke, Xaviera berjalan masuk ke kamarnya. Meninggalkan lelaki itu sendirian di balkon. Ia hendak menutup pintu balkonnya sebelum Luke akhirnya menahan gadis itu dan. "Selamat malam, jangan lupa kunci pintunya," ucapnya lalu melompat turun ke lantai bawah. Xaviera mengerjapkan netranya berulang kali. "Ada apa dengan lelaki itu? Kenapa mendadak bersikap lembut padaku?" Gadis itu terheran. "Tidak kusangka lelaki sedingin es seperti dirinya bisa bersikap ramah," katanya setengah meledek yang entah ditujukan pada siapa. Xaviera buru-buru menutup pintu balkonnya karena udara yang dingin dari luar semakin menusuk sendinya dan membuat tubub gadis itu agak sedikit kaku. Mengunci pintu sesuai dengan pesan Luke tadi sebelum lelaki itu pergi. Xaviera langsung melompat ke atas tempat tidurnya dan menarik selimut sebatas perut. Ia duduk dan mengeluarkan kalung pemberian sang naga tadi padanya. Memperhatikan bentuk dari kalung tersebut dengan membolak-baliknya. Tidak ada yang tahu jika Xaviera sudah bertemu dengan naga penjaga Sierra selama beberapa kali. Gadis itu bahkan sudah berlatih untuk mengaktifkan benda pusaka yang disimpan di dalam tubuhnya. "Haruskah aku mengatakan hal ini?" tanyanya pada diri sendiri sambil menatap ke arah kalung. Xaviera mengendikkan bahu lalu berbaring, menarik kembali selimutnya dan memejamkan kedua matanya, bersiap untuk mengunjungi pulau kapuk. to be continue ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD