“Buat aku simpan. Sayangkan sepatu seharga lima ratus juta dibuang begitu saja,” jawabku yang menaruh high heels itu. “Lain kali jangan beliin aku sepatu high heels seperti ini. Aku tidak mau kakiku sakit.” “Selama kamu hamil aku pasti membelikannya,” sahutnya. “Terserahlah,” ucapku dengan pasrah. Setelah itu aku mulai membersihkan make-up di wajah. Aku melihat Darren melalui cermin. Tubuh kekarnya dibalut dengan kemeja putih yang ketat membuat wajahku bersemu merah. Oh... Tuhan apakah ini nyata buatku? Dahulu aku sering menggodanya ketika di sekolah. Kadang aku mengajaknya kencan. Pria dingin itu sekaligus guru matematika sekarang sudah sah menyandang status sebagai suamiku. Apakah ini yang dinamakan jodoh? Jika teringat malam kelam itu memang sakit. Tapi kenapa Darren tidak

