Bab 2 Tewasnya Sang Ibu

1494 Words
Belum lagi Kinan memberi jawaban, tampak melesat cepat beberapa jarum akupuntur, menewaskan Bidan Nilna dan dua asistennya. Ketiga perempuan tersebut jatuh ke lantai. Lantas sebilah belati menempel di sisi kanan kulit leher Kinan, tampak Almira yang menodongkan belati. Kinan menelan saliva, pupilnya bergerak-gerak ketakutan. “Tangmei*─?!” Yolanda mengenali Almira, terkejut dengan aksi si adik sepupu. Almira tidak menjawab, menarik lengan Kinan, dibawa menjauh dari Yolanda dan Mona. “Yizhinu*─!” Mona menegur Almira, “Apa yang Kamu lakukan?” dia mengenali identitas Almira sebagai keponakan kontan mendiang Joseph dari cara Yolanda memanggil. “Bomu─“ Almira menyahut, “Kinan dan Lia mengkhianati kita.” dia menjelaskan, “Lantas mereka itu─“ dilirikan mata ke Bidan Nilna dan dua asisten yang tergeletak di lantai, “Adalah kaki tangan Papa.” Imbuh dia lebih jauh. Kinan kembali menelan saliva. Ternyata Steven sudah memperkirakan dia akan berkhianat sebab Norman mengetahui dia mata Steven. “Tidak mungkin─“ Mona tidak percaya, “Kinan mengasuh Bomu dari kecil, mana mungkin mengkhianati kita. Lantas, mengapa Kamu di sini?” diamati Almira dengan heran. Saat Almira hendak memberi jawaban, dari arah pintu kamar terdengar suara tepukan tangan beberapa kali, lantas datang Norman bersama Fasan-asisten dan banyak pria bersenjata api dan tajam. Tepukan tangan tersebut membuat Almira, Yolanda, Mona dan Kinan berbarengan melihat ke Norman dan rombongan. “Luar biasa!” terdengar pula suara Norman, “Steven tua itu mengutus orang untuk menyelamatkan Yolanda, bayinya, dan Mona.” Kedua mata Almira tampak penuh amarah melihat Norman sang ayah kandung. Setelah Norman beristrikan Isala dan lahir Jeanny, Norman membunuh Evita, lantas membuang dia ke perguruan kungfu Steven. Kini si ayah hendak mencabut nyawa Yolanda, bayi Yolanda dan Mona. “Tapi─“ Norman memandang Almira, “Dia bodoh, karena mengutus satu orang saja.” Disindir Steven, “Meski orangnya cakap berkungfu.” Dipuji Almira. Almira meremas satu tangannya, merasa kemarahan kian menyelimuti dia. Ayah kandungnya menghina Steven, kakek yang sangat disayangi dia. “Paman!” sekonyong-konyong Yolanda berseru memanggil Norman, “Lepaskan dia!” memohon agar sang paman melepas Almira, “Biar dia kembali ke Yeye.” Mendengar ini Norman tertawa geli. “Hahaha!” Almira kian meremas tangannya, ingin dia bunuh si ayah yang keji ini. Menurut cerita Evita, dulu saat sang ayah miskin, hanya pegawai administrasi di distrik Los Angeles, membawa dia dan si ibu menumpang tinggal di rumah mewah Joseph. Joseph dan Mona memperlakukan mereka sangat baik. Karena tidak tahan hidup miskin dan menumpang, Norman gelap mata, meracuni Joseph hingga meninggal, lantas mengambil alih rumah dan perusahaan milik si kakak yang pebisnis sukses di Los Angeles. Lantas pria itu mengambil selir yaitu Isala, hingga lahir Jeanny. Isala menghasut Norman agar menyingkirkan Evita dan Almira, agar seluruh kekayaan Joseph hanya milik si nyonya, suami dan Jeanny. Tapi Norman tidak membunuh Almira, hanya membuang si anak di depan gerbang perguruan kungfu milik Steven “Yolanda!─” Norman berhenti tertawa, dipandang keponakannya, “Steven sudah memasukan orang kemari tanpa izin Paman, jadi Paman harus membunuh orangnya, dan melempar ke dia!” Mona hendak menukas, tapi tangan Yolanda menyentuh lengannya, sebab Yolanda melihat Almira yang akan menanggapi perkataan Norman. Mona pun diam, hanya melihat ke Almira. Keponakan Joseph ini sudah dewasa, sedang mengambil studi spesialis kedokteran, jago kungfu pula. Andai hari itu, saat Steven menjemput dia dan Yolanda, dia seharusnya memberikan Yolanda ke sang ayah, agar punya kehidupan bagus. Tapi dia tidak berani melakukan hal tersebut selain berencana mengambil kembali harta Joseph melalui Yolanda. Yolanda hanya bersekolah sampai sekolah lanjutan pertama, jadi pembantu pula. Si anak bisa ilmu pengobatan sebab dia yang mengajari. Namun belum juga Almira menanggapi, mendadak tangan Kinan menarik keluar dua jarum akupuntur dari saku depan rok, lantas dilempar ke Norman. Satu jarum menembus masuk ke permukaan di bawah pundak depan, lainnya dikibas Norman pakai satu tangan. “Akh!” Norman terpekik, langsung jatuh berlutut di lantai, wajahnya menghadap Kinan, “Ni*!─” serunya sambil menahan sakit, tidak menduga Kinam melakukan hal ini, “Serang mereka!” lantas berseru lantang ke Fasan dan para penjaga, “Bunuh saja!” Belum lagi para pria itu bergerak, beberapa jarum akupuntur mengenai syaraf gerak, lantas semua berjatuhan di lantai, mengerang kesakitan. Almira cepat mengambil bayi dari Yolanda, Kinan dan Mona segera menarik Yolanda berdiri, kemudian mereka lari keluar dari kamar. Tapi malang, saat di luar, mereka dihadang para penjaga yang menodongkan senjata api. “Kinan!─“ Almira menegur Kinan, “Kalau Kamu benar ingin menolong, maka saat saya hadapi orang-orang itu─” menunjuk para pria bersenjata, “Kamu bawa lari Tangjie dan Bomu.” Kinan hendak menanggapi, tapi dari arah belakang para pria, muncul Juan melesat di udara sambil melempar banyak jarum akupuntur ke arah tekuk dan punggung pria-pria tersebut. “Ershifu*!” Almira mengenali Juan yang dipanggilnya dengan Ershifu, tampak lega bala bantuan datang. Para pria yang terkena jarum, jatuh pingsan di lantai, dan Juan mendarat di hadapan Almira, segera mengambil bayi Yolanda, lantas menggiring para ladies melarikan diri. Steven sadar Almira tidak bisa sendiri mengeluarkan Yolanda, bayi Yolanda, Mona dan Kinan, maka diutus Juan dan Bethel, dua tangan dia. Juan menerobos masuk ke dalam pavilion, dan Bethel melumpuhkan para penjaga. Dor, dor! Dua peluru menembus punggung Kinan dan Mona, membuat kedua perempuan itu rubuh ke depan, membawa pula Yolanda tersuruk di conblock halaman. Kinan dan Mona tewas. “Bomu!” lantas terdengar jeritan Almira, “Ershifu?!” serunya kaget, sebab Juan cepat bergerak ke Yolanda, ditarik tangan cucu Steven tersebut, dibawa lari sambil menjeritin dia untuk ikut lari. Terpaksa dia lari. Di halaman, Bethel sibuk melawan para petarung yang didatangkan Norman untuk menggagalkan rencana pelarian tersebut. Siut! Satu tali tambang melesat cepat membelit pergelangan kaki kanan Yolanda, membuat perempuan malang tersebut terlepas dari pegangan Juan, terjerebab jatuh, dan diseret ke belakang. “Tangjie!” terdengar jeritan panic Almira sebab tubuh Yolanda mengenai conblock akibat diseret. Dia dan Juan segera berlari hendak menolong Yolanda yang menjerit kesakitan, tapi saying mereka dihadang para petarung yang melesat dari atap pavilion. “Tangjie!” jeritan dia kembali melengking karena melihat belati menghujam berkali tulang belikat dipunggung si kakak. “Akhh!” seiring dengan itu jeritan Yolanda membahana, dari mulutnya keluar red liquid, “Lari Tangmei!” serunya dengan napas megap-megap kesakitan sebab belati masih menusuk-nusuk tulangnya tersebut, “Aku titipkan anakku!” ujarnya dengan air mata berlinang memandang bayinya yang dalam gendongan Juan, “Katakan ke dia, aku dan ayahnya meninggal!” “Tangjie!” Almira menjerit lantang, sebab setelah mengatakan itu, Yolanda tewas mengenaskan. Bersamaan dengan itu Steven dan beberapa tentara, melesat masuk dari atas tembok, di mana mereka melemparkan bom yang langsung berubah menjadi asap hitam. “Yeye!” Almira lega melihat kedatangan Steven, tapi pinggangnya cepat disambar si kakek, dibawa melayang ke arah atas tembok. Terpaksa dia ikut kakeknya melarikan diri. Juan, Bethel dan para tentara menyusul, melesat melarikan diri membawa bayi Yolanda. ‘Tangjie─‘ Almira bicara dalam hati, air mata dia berlinang, ‘Maafkan aku, gagal menyelamatkanmu dan Bomu.’ Dia minta maaf sebab Yolanda dan Mona meninggal dibunuh Norman, ‘Aku bersumpah, seumur hidupku mengasuh anakmu dengan baik dan mengurus Yeye kakek kita.’ Dia berjanji mengurus bayi Yolanda dan Steven, ‘Aku pun bersumpah membalaskan kematianmu ke Norman.’ *** “Tidak─!” Terdengar jeritan panic Hansen, lantas pria itu terlonjak bangun. Dia berada di dalam kamarnya yang mewah di rumah megah milik Watson Salvador sang ayah si billionaire terpandang di banyak negara besar dunia. Kedua pupil pria ini bergerak-gerak, keringat mengucur dari kening, dan napas tidak beraturan. ‘Kenapa Aku mimpi perempuan itu lagi?’ dia bertanya dalam hati, sebab sejak diselamatkan sama Joey-asisten dia dan para tentara sang ayah, setiap malam bermimpi satu perempuan muda berparas Cina dan Italia. ‘Tapi tadi, begitu mengerikan.’ Ujarnya merasa bergidik, ‘Tubuh dia dihujam berkali-kali dengan belati hingga tewas.’ Menggambarkan mimpinya. Lantas dia menggelengkan kepala yang terasa sakit akibat mimpi tersebut. ‘Mengapa Aku tidak ingat apa pun kejadian setelah aku dilukai orang-orang tak dikenal itu, sepuluh bulan silam?’ dia mengeluh tidak ingat apa pun sejak dicelakai orang hingga nyaris meninggal dunia. ‘Joey juga tidak tahu apa yang kualami sejak saat itu.’ Keluh dia lagi sebab saat dia siuman dari koma tiga hari, dia bertanya ke Joey apa yang dialaminya, sang asisten menjawab tidak tahu. Dia menyibak selimut yang menutupi setengah tubuh, lantas berseru lantang. “Joey! Joey!” dipanggil asistennya. “Joey!” Tidak lama datang Joey ke kamarnya ini, tergesa mendekati dia. “Saya, Tuan.” Joey menegur Hansen, “Tuan, apa Anda mimpi buruk lagi?” dia melihat raut wajah tuannya gelisah. “Kamu siapkan air mandi dan pakaian saya.” Hansen tidak menjawab, sebab tidak perlu dijawab. Asistennya tahu dia tiap malam mimpi yang sama, meski tidak selalu buruk. “Anda mau kemana, Tuan?” “Ke tempat Kamu menemukan saya!” ~~~ Note: Ada beberapa kata dalam bahasa Mandarin yang artinya sbb: Ershifu: guru kedua dari kata er adalah dua, shifu yaitu guru. Ni: Kamu. Tangmei: adik sepupu perempuan dari pihak ayah. Yizhinu: keponakan pertama perempuan dari suami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD