Pagi itu, setelah pengakuan kolektif Ryan yang membakar di ruang tengah, suasana apartemen terasa berbeda. Tidak ada lagi tawa kencang atau godaan sensual. Yang ada hanya keheningan yang dipenuhi kesadaran dan penyesalan. Nu terbangun dengan perasaan segar setelah tidur nyenyak di pelukan Ryan. Ia keluar dari kamar dan mendapati Bianca, Tya, Dinda, dan Yuni Ndaru sudah berkumpul di ruang tamu, semuanya tampak serius. “Girls,” sapa Nu lembut. “Kenapa pagi-pagi sudah serius begitu?” Yuni Ndaru mewakili yang lain, berbicara dengan nada tegas. “Nu, kami sudah bicara semalam, setelah Mas Ryan masuk kamar. Kami semua sepakat. Kami harus pulang hari ini.” Nu terkejut. “Pulang? Kenapa mendadak? Romo Andreas datang sore ini, lho!” Bianca menimpali, suaranya sedikit serak. “Justru itu, Nu. Sete

