Hening yang aneh menggantung di ruang tengah apartemen Ryan. Angin dari ventilasi kecil di dapur seperti berdesir membawa aroma dupa samar, entah dari mana datangnya. Ryan duduk di kursi sofa, tubuhnya tegak tapi matanya kosong. Nu duduk di sebelahnya, menggenggam tangan Ryan erat—namun genggaman itu terasa dingin, nyaris seperti menggenggam bayangan. Tya, Yuni Ndaru, Bianca, dan Dinda berdiri di dekat dapur, saling bertukar pandang. Raut wajah mereka cemas. Di layar ponsel, Tya masih membuka video rekaman yang menjadi bukti betapa kelamnya tipu daya Dewi—ibu Nu sendiri. “Mas Ryan…” suara Nu lirih, matanya berkaca. “Kamu bener-bener nggak inget? Semua ini… bukan kamu yang mau, kan?” Ryan menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku nggak tahu, Nu. Aku cuma inget… ada wajah yang

